
Amanda sangat senang sekali karena dapat bertemu dengan Denis dan Wina. Amanda langsung menghampiri mereka berdua dan menyapanya.
" Mas Denis - Mbak Wina...!"
Denis dan Wina menghentikan langkahnya. Mereka berdua menoleh kearah datangnya suara. Suara itu pun tak asing di telinga mereka berdua.
" Manda ? kamu ada disini ?" tanya Wina.
" Ia, mbak Win. Mbak apa kabarnya ?"
Wina dan Denis saling menatap.
" Saya kabar baik. Oh ya, saya perlu bicara sama kamu, Manda !"
" Boleh, mbak. Manda juga mau bicara sama Mbak. Kalau begitu Manda ijin dulu ya mbak sama teman Manda. Itu dia !" sambil menunjuk Rani yang sedang sibuk mencari - cari baju.
Setelah meminta ijin pada Rani, Manda pun mengikuti mereka berdua. Mereka memasuki salah satu cafe di mall tersebut. Setelah mendapatkan tempat duduk yang nyaman, akhirnya Wina pun membuka pembicaraan mereka.
" Manda, kamu tahu kan masalah yang kamu hadapi di desa?" tanya Wina dengan tegasnya.
" Ia, mbak. Maaf ya mbak, tapi ?"
" Manda, ga gitu juga caranya. Kamu lari dari desa ninggalin hutang yang banyak. Kamu uda gila ya ? main lari gitu aja !"
" Mbak, tapi Manda ga punya pilihan lain, hanya itu yang Manda tahu. Manda ga punya uang, orang desa juga ga ada yang mau kasih pinjam ke Manda, mbak !"
" Makanya kamu itu jadi orang bisa dipercaya, biar orang desa baik sama kamu."
" Ia mbak, Manda minta maaf. Tapi tenang aja mbak, sekarang Manda uda ada uangnya. Manda kasih sama mbak aja ya ?"
" Kenapa harus sama saya?"
" Mbak, Manda ga bisa pulang ke desa lagi, Manda uda kerja. "
" Kerja ? kerja dimana ?" tanya Denis penasaran.
" Manda kerja di perusahaan, mas !"
" Jadi apa ?" tanya Wina
" OG, mbak."
Wina pun tersenyum. Senyumannya seperti mengejek Amanda.
" Makanya kamu itu sekolah, biar bisa kerja enak di kota." ucap Wina.
" Kalau lah nenek Manda punya uang banyak, Manda juga pengen sekolah tinggi, mbak. Manda juga ga mau hidup susah, mbak !"
" Mana uangnya ?" tanya Wina
Amanda segera mengambil uang itu dari dalam tasnya.
" Ini, mbak. Utang Manda itu 5 juta, mbak. Ini ada 6 juta, sekalian sama bunga - bunganya."
__ADS_1
" Jadi sekarang lunas ya?" tanya Wina sambil menerima uang itu.
" Ia, mbak. Hutang Manda uda lunaskan, mbak?"
" Tapi maaf Manda, rumah nenek mu uda jadi hak milik Ayah saya !"
" Apa ? rumah nenek jadi milik Pak Bagas?"
" Ia, karena kamu ga bayar hutang kamu, Ayah saya jadi nya mengambil hak atas rumah itu !"
" Tapi kenapa ga ijin sama Manda, mbak ?"
" Ijin? mau ijin sama kamu? kamu aja lari, semua orang ga tahu keberadaan kamu dimana ?"
Amanda pun terdiam . Ia mencoba menahan tangisnya.
" Mbak, jadi makam nenek, gimana ?"
" Makam nenek kamu aman kok, ya kan mas ?"
Denis hanya menganggukan kepalanya. Amanda melihat kedekatan mereka. Ada sebuah cincin melingkar di jari manis kedua nya.
" Mas Denis dan mbak Wina, uda nikah ya?"
Denis dan Wina kembali saling menatap.
" Kamu jelasin gihh, mas !" titah Wina.
Denis tersenyum.
Mendengar itu Amanda merasa sedih. Padahal ia berharap Denis itu menyukainya. Ternyata selama di desa, Denis itu hanya menganggap Amanda teman biasa tidak lebih.
Harapan Amanda, pergi ke kota adalah karena Denis. Denis pernah memberikan janji, jika ke kota segera memberitahukan kepada Denis. Tapi sayangnya, Denis memberikan alamat palsu. Awalnya Amanda sangat kecewa, tapi apa daya, ia pun sadar kalau ia bukanlah tipe wanita idaman Denis.
" Wahhh...selamat ya mas - mbak, semoga bahagia selalu, langgeng sampai maut memisahkan,"
" Makasih Manda. Oh ya, kamu tinggal dimana?" tanya Denis .
" Saya tinggal di Jalan Krakatau, mas. Kalau mas dan mbak Wina ada waktu, silahkan mampir mas - mbak !"
" Ia, kami akan mampir. "
Ketiganya asyik bercerita, dan tidak terasa hari semakin malam. Rani pun telah selesai shopping. Ia memanggil Amanda dan mengajaknya pulang.
Dengan wajah yang masih teramat sedih, Amanda pun harus pergi meninggalkan Denis dan Wina.
Di perjalanan, Amanda hanya bisa diam. Sesekali, ia menyeka air matanya yang mengalir. Mereka pun tiba di parkiran sepeda motor.
Rani dan Amanda pun pergi meninggalkan mall tersebut. Di perjalanan, tanpa sepengetahuan Rani, Amanda terus menangis. Ia merasa sedih sekali, karena pria yang diharapkannya telah menikah dengan wanita lain.
***
Lingga merasa senang sekali bisa dapat bercerita dan bersenda gurau dengan keluarga Nadine. Ia tak menyangka kalau Mama nya Nadine begitu baik dan sangat pintar sekali memasak.
__ADS_1
" Tante, masakannya enak sekali, saya suka. Saya belum pernah makan makanan seperti ini, " puji Lingga.
" Hahaha, kamu tahu ga mas, Mama memang paling the best kalau soal masak - memasak, " ucap Nadine.
" Biasa aja Nak Lingga, dulu tante tinggal di desa, orang tua tante itu jago juga masak, mungkin nurun ke tante, nak !"
" Wah..hebat banget tante. Tante keren deh..!" puji Lingga lagi.
Sejenak Ibu Sekar mengingat akan putri nya yang dulu ia tinggal ketika masih bayi. Rasa bersalah itu masih melekat pada dirinya.
..." Apa kabarnya Manda sekarang ya? wajahnya pasti cantik !" gumam Sekar....
Makan malam kali ini, sangatlah special. Karena Pak Alvan menjodohkan Lingga dengan Nadine. Lingga tidak langsung menolaknya dan tidak juga menerimanya. Ia ingin menjalaninya terlebih dahulu.
Dengan permintaan Lingga yang seperti itu, Nadine pun menurutinya saja. Nadine juga sangat senang sekali dapat bertemu sedekat dan sehangat itu pada Lingga. Dimata Nadine, Lingga adalah pria yang sangat sempurna.
" Nak Lingga, sering - seringlah mampir ke mari, pintu rumah ini akan selalu terbuka untuk mu, nak !" ucap Pak Alvan.
Lingga pun tersenyum .
" Ia, Pak. Makasih banyak ya Pak, tante, Nadine. "
" Ga usah panggil saya dengan sebutan Pak dong, nak. Panggil om aja, gimana ? mungkin kalau kita lagi meeting mungkin sebutan itu bisa dipakai, tapi kalau diluar jam kerja, mungkin sebutan itu kita sematkan aja dulu, hehehe !"
" Hahaha..boleh..boleh..saya setuju, Pak..eh..om..hahaha !"
Akhirnya Lingga pun berpamitan. Dan tak lupa juga Lingga mengundang keluarga Nadine untuk berkunjung kerumahnya. Mendengar tawaran dari Lingga, Nadine sangat senang sekali.
" Hati - hati dijalan ya nak Lingga, kalau uda sampai dirumah kabari ke kita !" pinta Pak Alvan.
" Baik, om. Saya permisi ya !"
Lingga pun meninggalkan rumah keluarga Nadine. Diperjalanan ia senyum - senyum mengingat undangan makan malam itu. Mobil mewah itu terpaksa harus berhenti, dikarenakan lampu merah.
Lingga melihat arloji dipergelangan tangan kirinya, jam sudah menunjukkan pukul 21.30 malam. Ia pun melihat sekelilingnya banyak pengendara yang menghentikan laju mobilnya karena lampu merah.
Ciiitt....sepeda motor itu berhenti pas disamping mobil mewah milik Lingga. Lingga pun menoleh ke samping dan ia melihat kalau pemilik sepeda motor itu adalah Rani, pemilik kosan dimana Amanda tinggal.
Lingga juga melihat ada Amanda duduk di belakang. Buru - buru Lingga membuka kaca mobilnya.
" Manda? kamu baru pulang kerja ?"
Amanda pun langsung menoleh ke arah suara yang memanggilnya.
" Bapak ?"
" Kamu baru pulang kerja ya ?"
" Ga, Pak. Saya habis jalan - jalan bareng Rani !"
Lingga pun terdiam dan kembali menutup kaca mobilnya. Lampu hijau telah menyala, Rani langsung tancap gas, ia tak mau berlama - lama dekat dengan pria sombong itu.
" Hati - hati, Ran !"
__ADS_1
" Tenang aja Manda, kita aman kok, saya ga suka kita dekat - dekat sama bos kamu yang sombong itu !"
Amanda hanya menganggukkan kepalanya. Lingga melihat kalau Rani begitu cepatnya membawa sepeda motor itu.