
Kluk...kluk..kluk..kluk...kluk...kopi pun habis.
" Hmmm..kopi nya enak, Pak !" ucap Amanda sambil tersenyum dan meletakkan cangkir kopi itu di atas meja kerja Lingga.
Lingga hanya bengong melihat tingkah laku Amanda. Ia tak menyangka kalau Amanda senekat itu di hadapannya.
'' Manda ?"
" Kenapa, Pak?"
" Kamu ? itukan bekas saya ? kamu ga risih, gitu ?"
" Ga, Pak. Bapak sehat kan? ga ada sakit menular kan? sayang di buang Pak !"
" Astaga, Manda ?"
" Hehehe, maaf ya Pak !" ucap Amanda malu - malu.
Lingga mencoba tersenyum karena ia merasa lucu melihat tingkah Amanda. Lalu Lingga mengambil tissue dan memberikan pada Amanda.
" Di bibir mu ada bekas kopi !" ucap Lingga sambil memberikan tissue itu. Amanda menerimanya dan membersihkan sisa kopi di bibirnya.
" Pak, saya ijin dulu ya kebelakang, makasih ya Pak !" Amanda langsung pergi meninggalkan Lingga. Lingga hanya bengong dan garuk - garuk kepala melihat sikap dan tingkah laku karyawannya itu.
Lingga kembali tersenyum. Ia pun tertawa lepas karena mengingat kelucuan Amanda.
" Aneh, kok jadi mikiri anak itu ?" ucap Lingga.
Dan tak berapa lama, ponselnya berdering. Lingga melihat nama si penelpon. Ternyata Nadine. Lingga pun menjawabnya.
Nadine kembali mengingatkan agar Lingga tak lupa akan undangan makan malamnya. Lingga pun mengiyakan tawaran itu.
Tak terasa waktu pun berlalu. Jam sudah menunjukkan pukul 17.00 sore. Itu artinya jam pulang kerja. Amanda belum bisa pulang. Ia masih membersihkan seluruh ruangan kantor.
Lingga menghampiri Amanda di pantry.
" Manda !" panggil Lingga.
" Bapak ? ada apa, Pak ?"
" Saya mau bicara sama kamu !"
" Ya, Pak !"
Lingga mengeluarkan sebuah amplop dari dalam tas kantornya.
" Ini gaji kamu bulan ini !" ucap Lingga sambil memberikan amplop tersebut.
" Tapi, Pak ?"
" Tapi apa?"
" Pak, bukannya saya bulan ini ga terima gaji ya ? saya kan punya utang sama Bapak !"
" Uda saya potong !"
" Oh gitu ya, Pak. Trus utang saya kapan selesainya ya, Pak ?"
" Utang kamu itu ga akan pernah selesai. Kamu tahu kenapa? karena baju saya itu mahal sekali harganya, jadi, kamu akan selamanya bekerja dengan saya !"
" Selamanya ?" tanya Amanda terkejut.
" Ia. Kamu akan selamanya bekerja dengan saya. Kamu tahu, saya itu berbaik hati lho mau ngasih gaji kamu. Karena saya tahu, kamu itu hidup susah."
Amanda terdiam. Sejenak ia mengingat akan hutang - hutangnya pada Pak Bagas. Amanda mulai kebingungan, gimana dengan hutang - hutangnya itu. Apakah ia harus jujur pada bos nya itu ?
" Manda, kamu kenapa ?"
__ADS_1
" Ga, Pak. Saya ga kenapa - napa, Pak !"
" Kamu jangan pulang dulu, kamu harus bersihkan seluruh ruangan kantor ini, ngerti ?"
" Ia Pak, saya ngerti !"
Lingga meninggalkan ruangan itu. Amanda duduk dan ia pun menangis. Ia segera membuka isi amplop itu. Amanda sudah pasrah, berapa pun ia di gaji.
Perlahan Amanda membuka amplop itu. Dan betapa terkejutnya ia, ketika melihat uang sebanyak itu. Ia menghitung uang yang ada didalam amplop itu. Uang itu sebanyak 6.000.000 ( enam juta ).
" Ahh...uang ini banyak sekali ? Pak Lingga ga salah ngasih ?" Amanda langsung pergi keluar dan ia berlari mencari atasannya itu.
" Pak Linggaaaaa.....!" Amanda terus memanggilnya.
Ternyata Lingga mendengarkan suara Amanda. Lingga belum pulang dari kantor. Ia tak tega meninggalkan Amanda sendirian di kantor itu. Lingga pun keluar dan menghampiri Amanda.
" Manda? kamu kenapa teriak - teriak?"
" Bapak ? Bapak belum pulang ?"
" Belum, saya masih lembur. "
" Pak, Bapak ga salah kasih gaji saya ?"
" Salah kasih ? salah kasih gimana ? kamu kurang uangnya ?"
" Bukan, Pak. Malah uangnya kelebihan !"
" Kelebihan ?"
" Ia, Pak."
Amanda langsung mengeluarkan uang yang ada di amplop itu.
" Ini, Pak. Uangnya kelebihan."
Lingga melihat amplop itu.
" Ia, Pak. "
" Ini tidak kelebihan. Ini buat kamu !"
" Lah, kok banyak sekali, Pak ?"
" Kamu lunasi dulu hutang - hutang kamu dikampung !"
Mendengar ucapan Lingga, Amanda pun sangat terkejut. Mengapa atasannya itu tahu kalau ia punya banyak hutang di kampung ?
Amanda menangis dihadapan Lingga.
" Bapak kok tahu saya punya hutang dikampung ?"
" Saya pernah lihat diary kamu, waktu saya mampir di kosan kamu. Saya membaca semua isi diary kamu itu. Disitu kamu mencatat jumlah utang kamu. Kenapa harus lari dan meninggalkan hutang, itu ga baik Manda. Sekarang pakai uang itu, kamu bayar utang kamu semua. Masalah utang kamu ke saya, nanti kita bicarakan baik - baik."
Amanda semakin menangis. Ia begitu malu pada atasannya itu. Ia pun langsung duduk bersujud di hadapan Lingga. Tapi Lingga langsung mengangkat pundaknya .
" Makasih banyak ya, Pak !"
" Ga usah bilang makasih sama saya, tapi ber terimakasih lah pada waktu. "
Amanda terdiam. Ia terus menangis.
" Saya membantu kamu, bukan karena ada maksud apa - apa, tapi saya kasihan aja sama kamu. Kamu datang dari desa, ga punya pendidikan, ga punya keluarga di sini. Di kota itu hidup keras, jadi kamu harus baik - baik, bisa menjaga diri."
Amanda semakin menangis. Ia jadi teringat akan nenek Surti.
" Pak, saya janji , saya akan lebih giat lagi bekerja. "
__ADS_1
" Pegang ucapan kamu, karena saya mau bukti bukan janji. Sekarang kerjalah. Semua ruangan kantor harus sudah rapi, bersih. Habis itu kamu baru bisa pulang. "
Lingga kembali masuk ke ruangannya. Amanda masih saja menangis. Ia segera melakukan apa yang di perintah atasannya itu.
Amanda pun bersemangat untuk membersihkan seluruh ruangan kantor itu. Selesai membersihkan ruangan kantor Amanda pun bergegas pulang.
Begitu Amanda pulang, Lingga juga ikut pulang. Sore itu Lingga mandi di kantor. Karena ia akan pergi ke rumah Nadine untuk menghadiri undangan makan malam.
Amanda melihat kalau Lingga sudah tampak rapi dan wangi sekali.
" Bapak mau kemana ?" tanya Amanda.
" Saya ada acara. "
" Wah...Bapak wangi sekali. "
" Makasih."
Lingga langsung pergi. Amanda masih saja menunggu bis di sebuah halte yang tak jauh dari tempat kerjanya.
Kebetulan Rani pun pulang kerja. Ia melihat Amanda duduk melamun di halte.
Tin..tin..tin..tin..suara klakson motor Rani mengejutkan Amanda.
" Rani ? kamu uda pulang kerja ?"
" Ngapain melamun, Manda ?"
" Hehehe, ga ada yang melamun. "
" Manda, kebetulan kamu ada disini. Temani aku yok !"
" Mau kemana ?"
" Ke mall."
" Ke mall ? ngapain ?"
" Numpang tidur !" jawab Rani ketus.
" Hahaha, kamu ada - ada aja. "
" Ya shopping lah !"
" Cieee...yang baru gajian !"
" Ia, saya mau traktir kamu makan. Kamu belum pernah kan masuk ke mall?"
Amanda menggelengkan kepalanya.
" Ya uda buruan naik, kita otw sekarang !"
Amanda dan Rani pun langsung pergi ke mall terdekat. Dengan menaiki sepeda motor, Rani dan Manda segera tancap gas.
Mereka berdua pun tiba di mall tersebut. Mall yang sangat besar. Betapa bahagianya Amanda dapat menginjakkan kakinya di mall tersebut.
" Wahhh..rame sekali, Ran !"
" Ia dong, ini mall terbesar di daerah sini. Mall para sultan. "
" Sultan ? Sultan apa? emang disini ada istana ya ?"
" Uuuhhh...Manda, sultan itu artinya orang kaya, orang yang punya duit banyak. Sekarang kita lihat - lihat baju yok !"
Rani mengajak Amanda memasuki salah toko pakaian yang sangat terkenal itu. Disana mereka melihat pakaian - pakaian ber merk terkenal.
Rani yang harus menjaga penampilannya, ia pun membeli beberapa pakaian yang bagus dan mahal.
__ADS_1
Amanda hanya melihat - lihat saja. Ia membantu Rani mencarikan pakaian yang pas untuknya.
Di sela - sela mereka mencari pakaian, dan tak sengaja Amanda bertemu dengan Denis dan Wina. Amanda sangat heran melihat kedekatan mereka berdua. Mereka saling bergandengan tangan. Sesekali Denis mengelus rambut panjang milik Wina. Mereka berdua sangat dekat sekali. Amanda belum tahu kalau mereka berdua sebenarnya telah menikah.