
" Lita ada - ada aja deh, pake mau comblangin Amanda segala, kayak ga ada kerjaan aja. Kira - kira Amanda mau ga ya? yang aku tahu, teman - teman Lita itu emang good looking semua sih ! Kenapa juga jadi aku mikirin Amanda ? aku cemburu ? ga ah...!" gerutu Lingga.
Lingga melanjutkan lagi pekerjaannya. Dan tak terasa waktu pun berlalu. Dua tahun ia meninggalkan perusahaan, dan banyak sekali pekerjaan yang harus ia selesaikan.
Lingga menghabiskan waktunya sampai malam hari. Ia terus bekerja. Hingga pukul 23.00 malam, ia pun beranjak pulang. Lega rasanya karena pekerjaannya selesai.
Ternyata di luar hujan sangat deras sekali. Mau tak mau Lingga tetap pulang. Jalanan sudah tampak sepi. Kendaraan tidak begitu banyak berlalu lalang. Lingga melajukan mobilnya dengan perlahan - lahan.
Lingga mulai menguap, ia mulai kantuk. Matanya tidak bisa lagi diajak kompromi. Laju kendaraannya semakin kencang dan tak beraturan. Dan tiba - tiba saja ia menabrak sesuatu.
Braaaakkkkk...
Citttttt.......Lingga menghentikan laju mobilnya. Ia pun sadar dari rasa kantuknya.
" Astaga ? sepertinya aku nabrak sesuatu ?" Lingga buru - buru melepaskan seat beltnya. Ia segera turun.
Ia melihat ada seorang wanita yang terduduk menangis sambil memegang lututnya yang sakit. Lingga sangat ketakutan. Malam - malam begini, di saat hujan datang, ada seorang wanita dijalan sendirian.
" Ma..maaf..saya ?" ucap Lingga terbata - bata.
" Kamu itu kalau jalan lihat - lihat dong !" ucap wanita itu.
Lingga menarik nafasnya dalam - dalam. Pikirannya sempat kalut, Lingga mengira wanita itu adalah makhluk halus.
Lingga langsung mengambil kotak P3K dari dalam mobilnya. Ia mencoba mendekati wanita itu. Karena rambut panjangnya yang terurai, wajah wanita itu tidak terlihat olehnya ditambah lagi keadaan malam yang gelap, tak asa lampu jalanan.
Lingga duduk di sampingnya. Ia melihat darah segar mengalir dari lututnya. Ia mencoba mengobatinya.
" Oh ya, gimana kalau kamu masuk ke mobil saya aja, ini kan hujan, percuma juga saya ngobatin kaki kamu !" pinta Lingga.
Mendengar suara yang semakin jelas itu, Amanda menghentikan tangisnya.
" Mas Lingga ????" gumam Amanda.
Karena di jalan itu tidak ada lampu jalan, keadaan pun gelap, Amanda mencoba kabur. Ia langsung lari, ia berharap Lingga tidak melihat wajahnya. Walaupun kakinya terasa sakit, ia tak perduli. Ia tak mau bertemu dengan Lingga lagi.
__ADS_1
" Hey, kenapa lari ? kaki kamu belum saya obatin !!!" teriak Lingga.
Lingga pun panik. Ia mengejar wanita itu yang tak lain adalah Amanda.
Lingga pun dapat mengejarnya. Ia langsung menarik tangan Amanda.
" Kamu kenapa ? kamu ga kasihan sama kaki kamu? luka nya tambah parah kalau tidak segera di obati. Oke, saya minta maaf, karena saya uda mencelakai kamu. Ijinkan saya mengobati kaki kamu !"
Hujan semakin deras. Keduanya pun basah kuyub. Amanda menangis. Akhirnya ia dapat kembali mendengarkan suara pria yang sudah rela meninggalkannya selama dua tahun.
" Hujannya makin deras, rumah kamu dimana? biar saya antar pulang !"
Lagi - lagi Amanda masih saja diam. Ia mencoba tenang walaupun sebenarnya hatinya sakit. Hanya air mata yang mengalir membasahi kedua pipinya.
Lingga memberanikan dirinya melihat wajah wanita yang ada dihadapannya itu.
Amanda terus saja menunduk. Ia tak mau Lingga melihatnya.
" Saya minta maaf," ucap Lingga mencoba mendekatkan wajahnya .
Lingga terkejut mendengarkan suara itu. Suara yang masih ia ingat dalam benaknya.
" Amanda ????" gumam Lingga
Lingga langsung mengangkat dagu Amanda.
" Amanda ??? jadi kamu Amanda ???" tanya Lingga tak percaya. Karena keadaan malam itu gelap, tidak ada penerangan lampu sama sekali, Lingga semakin mendekatkan wajahnya, ia mencoba memastikan apakah itu benar Amanda atau bukan.
" Manda, kamu ngapain malam - malam gini ada di jalan sendirian ? kamu uda gila ? kamu mau di ganggu preman - preman itu lagi ?" bentak Lingga.
Amanda terus diam.
" Jawab Manda ? kamu ngapain di jalan hujan - hujanan? mau ngapain??? hahhhh?????" bentak Lingga lagi.
Amanda pun menangis.
__ADS_1
" Jadi gini kerjaan kamu sekarang ??? ga nyangka, ternyata kepolosan mu itu menipu semua orang. Baru tahu saya, ternyata kamu memanfaatkan wajah kamu yang cantik itu untuk memikat pria lain, gila kamu Manda !" Lingga menuduh Amanda yang bukan - bukan.
Amanda semakin menangis. Ia merasa sedih karena Lingga telah menuduhnya.
" Kamu pikir hujan - hujan begini, ada pria hidung belang yang lewat dari sini ? ya uda kamu tunggu aja !"
Lingga langsung pergi meninggalkan Amanda. Ia kembali masuk ke mobilnya. Amanda masih saja diam. Ia terus menundukkan kepalanya. Air matanya tak kunjung henti. Selama dua tahun, setelan mereka bertemu, kata fitnah lah yang terucap dari bibir pria yang dinanti - nantikannya itu. Lingga sangat tega sekali, ia sungguh keterlaluan.
Lingga melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, ia tak perduli Amanda ada di jalan itu sendirian. Hujan semakin deras, petir terus mengeluarkan suara kekuatannya. Lingga mengingat kenangan dulu, dimana Amanda pernah di ganggu preman - preman. Hampir saja nyawanya tak tertolong. Rasa iba nya pun menghampiri pikirannya.
Lingga menghentikan laju mobilnya. Ia memutar arah. Lingga semakin khawatir dengan Amanda. Laju mobilnya pun semakin cepat.
Tibalah di tempat dimana mereka tadi bertengkar. Lingga langsung keluar dari dalam mobilnya, ternyata Amanda tidak ada disana. Lingga sangat khawatir sekali.
" Amandaaaaaaa......kamu ada dimana ?"
Lingga terus saja mencari dan memanggilnya. Ketika ia berjalan, tiba - tiba saja ia tersandung, kakinya menyentuh sesuatu.
Lingga pun langsung mengambil ponselnya. Ia menyalakan ponselnya dan ternyata itu adalah Amanda , Amanda tidak sadarkan diri. Ia tergeletak di sisi jalanan itu. Melihat itu, Lingga pun panik.
" Manda ?? bangun Manda, bangunnnnn....Manda bangun...Mandaaaaaaaaa......!!" teriak Lingga. Ia memeluk tubuh Amanda, yang sudah tampak kaku dan dingin. Lingga langsung membawa Amanda kerumah sakit. Wajahnya sangat pucat sekali. Bibirnya pun sudah tampak kebiruan.
Karena jalanan sepi, Lingga dengan cepat membawa Amanda. Dan tibalah mereka di rumah sakit. Perawat langsung membawa Amanda keruangan IGD.
Lingga terus saja khawatir. Ia tidak akan pernah memaafkan dirinya jika terjadi sesuatu pada Amanda. Ia merasa bersalah telah meninggalkannya seorang diri di jalan itu. Jika Lingga tidak segera datang, ia tak tahu lagi bagaimana nyawa Amanda.
Lingga mencoba memberitahukan pada Lita. Tapi sayangnya ponsel adiknya itu tidak aktif. Ia melihat jam, ternyata sudah jam 01.00 dini hari.
Sudah ada 2 jam Amanda di ruangan itu. Dokter belum ada sama sekali memberitahukan bagaimana keadaan Amanda. Perasaan Lingga semakin tidak tenang. Ia sangat khawatir.
Lingga tidak perduli lagi pada dirinya. Baju yang basah kuyub, membuatnya menggigil, tapi ia mencoba tetap kuat.
" Ya Tuhan, apa yang uda aku lakukan sama Amanda ? setega itu aku sama Amanda? bahkan perasaannya pun tak ku perdulikan lagi ? ampuni aku Tuhan !!!" ucap Lingga, tak terasa air matanya tumpah ruah.
" Ternyata aku ga bisa melupakan dia gitu aja, perasaan ini masih sama seperti yang dulu, kalau aku selalu khawatir keadaannya, aku ga bisa jauh dari nya, karena sebenarnya hidup ku dan hidupnya itu uda nyatu," ucap Lingga menghapus air matanya.
__ADS_1