I Need Your Love

I Need Your Love
Bab 34 " Denis Titip Salam "


__ADS_3

Hubungan Denis dengan Wina tidak berjalan mulus, mereka semakin sering bertengkar. Wina semakin menunjukkan sikapnya yang arogan. Ia tidak perduli pada perasaan Denis.


Denis memergoki kalau Wina ketahuan selingkuh dengan pria lain. Denis tidak langsung mengambil langkah untuk menceraikannya. Ia mengikuti permainan istrinya itu.


Denis tetap tenang walaupun sebenarnya perasaannya sangat hancur. Tuhan teramat baik pada Denis, akhirnya Tuhan menunjukkan siapa sebenarnya Wina.


Siang itu, Denis mendatangi kantor Lingga, dengan alasan ingin bertemu dengan Lingga karena ada hal yang sangat penting. Padahal sebenarnya, Denis ingin sekali bertemu dengan Amanda, karena ada rasa rindu yang sangat mendalam.


Denis merasa kecewa karena ia tidak dapat bertemu dengan Amanda. Lingga melihat dari raut wajahnya kalau Denis teramat sedih.


" Denis, saya boleh nanya sesuatu kan?" tanya Lingga.


Denis menganggukkan kepalanya.


" Kamu punya hubungan apa sama Amanda?"


" Hubungan? ga ada. Kita hanya satu kampung aja,"


" Kita uda lama saling kenal, saya mau kamu jujur, kamu ada masalah?"


Denis menggelengkan kepalanya. Wajahnya tertunduk sedih.


" Cerita sama saya, siapa tahu saya bisa bantu kamu !"


" Ini masalah istri saya, Lingga !"


" Kenapa dengan istri kamu?"


" Dia ketahuan selingkuh,"


" Selingkuh? istri kamu selingkuh?"


Denis menganggukan kepalanya.


" Trus kamu mau cari Manda untuk apa? sebagai pelarian?"


" Ga, Lingga. Manda itu anak yang sangat baik, sopan dan dia apa adanya. Pertama saya bertemu dengannya, saya langsung jatuh hati sama dia. Karena ga ada wanita di dunia ini seperti Manda, anak yang apa adanya. Tapi, karena terhalang restu kedua orang tua saya, saya gagal meminang Amanda. Padahal, saya sangat mencintainya. Semua itu karena kehidupannya Amanda, dia tidak memiliki apa yang di inginkan kedua orang tua saya, dan pada akhirnya, mereka menjodohkan saya sama Wina, saya terpaksa harus menikahinya. Semua itu demi orang tua saya. Saya laki - laki pengecut, saya ga bisa mempertahankan orang yang saya sayangi. Dan sekarang saya sangat menyesal. Dan saya tahu hidup Manda ga seberuntung wanita lain pada umumnya, dia harus banting tulang demi sesuap nasi. Saya benci sama diri saya sendiri,"


" Jadi kamu pernah menyukai Amanda?"


Denis menganggukkan kepalanya.


" Saya merindukan anak itu,"


" Den, Amanda sekarang kerja dirumah saya !"


" Apa? Amanda kerja dirumah kamu?"


Lingga menganggukkan kepalanya.


" Kenapa dia harus kerja dirumah kamu? apa disini kerjaannya ga becus ?"


" Bukan karena itu, saya lah yang minta Amanda itu kerja dirumah, karena kamu tahu kan, rumah sebesar itu ga ada yang ngurus, ga ada yang bersihin,"


" Jadi apa boleh saya bertemu Amanda dirumah kamu?"


" Boleh dong, kapan aja kamu boleh datang kerumah. Pintu rumah selalu terbuka untuk kamu,"


" Makasih banyak ya Lingga, kamu emang teman yang baik,"


" Sama - sama. Tapi, menurut saya kamu selesaikan masalah kamu secepatnya sama istri kamu,"

__ADS_1


Lagi - lagi Denis menganggukkan kepalanya. Akhirnya Denis dapat bertemu lagi dengan Amanda.


****


Amanda pun selesai membersihkan rumah itu. Lalu ia segera istirahat, karena tidak ada lagi yang harus ia kerjakan.


Amanda mengambil fhoto kedua orang tuanya. Ia melihat senyum kedua orang tua nya itu. Amanda menangis.


" Seandainya Ayah dan Ibu tahu, anak Ayah dan Ibu ini sudah besar. Ayah - Ibu, kalian ada dimana? Manda ingin sekali melihat kalian berdua, Manda janji ga akan mengganggu kehidupan kalian, Manda hanya ingin melihat wajah Ayah dan Ibu aja. Manda dulu pernah janji sama nenek, Manda ga akan mengusik kalian !"


Amanda juga mengambil fhoto neneknya, nenek yang telah rela berkorban demi kebagiaannya.


" Nek, Manda kangen nenek ! pasti nenek sangat senang berada di surga, ya kan, nek? nek, doakan Manda ya , kelak Manda bisa mengambil tanah milik nenek, dan Manda juga janji kalau Manda ada uang, Manda akan perbaiki makam nenek. Manda sayang banget sama nenek."


Air mata itu pun kembali mengalir menumpahkannya di fhoto ukuran yang tak begitu besar.


Tak terasa sore hari pun tiba. Amanda sedang sibuk di taman depan, ia sedang menyirami bunga dan tumbuhan yang lainnya.


Lingga pun kembali dari kantornya. Ia melihat kalau Amanda ada disana.


" Eh...Bapak uda pulang ?"


Lingga diam. Ia melihat kalau kedua mata Amanda sedikit bengkak.


" Mata kamu kenapa?" tanya Lingga.


" Mata saya, Pak? emang kenapa mata saya, Pak?"


" Itu agak bengkak !"


" Oh, mungkin karena efek tidur siang tadi, Pak. "


" Ada yang kirim salam sama kamu !"


" Denis,"


" Mas Denis ? Bapak ketemu dimana?"


" Senang banget kek nya kamu dapat salam dari Denis,"


" Hehehe, ia Pak, karena mas Denis itu orangnya baik, "


" Jangan - jangan kamu suka lagi sama dia!"


" Hahahah...ga lah Pak, saya dan mas Denis itu hanya berteman saja, Pak !"


" Tapi sebenarnya dia itu suka sama kamu kok,"


" Oh gitu,"


Lingga langsung pergi meninggalkan Amanda. Amanda masih tidak percaya apa yang diucapkan majikannya itu.


Sikap Lingga tidak lagi seperti biasanya, ia semakin dingin dan semakin suka marah - marah pada Amanda. Amanda tetap sabar, karena ia mengingat semua hutang - hutangnya.


Amanda mulai merasa jenuh tinggal dirumah itu. Ia tidak punya teman cerita. Amanda mengambil uang yang di tabungnya. Ia menghitung uang itu, ingin sekali ia membeli sebuah ponsel.


Amanda menemui Lingga diruang kerjanya. Ia melihat kalau Lingga sedikit tidak begitu sibuk. Ia memberanikan diri menemuinya.


Tok..tok..tok..


Tok..tok..tok..

__ADS_1


" Masuk !" titah Lingga dari dalam ruang kerjanya.


Amanda langsung membuka pintu itu.


Ckleeekkk...


" Malam Pak, maaf menganggu ya Pak !"


" Ada apa?"


" Pak, boleh ga besok saya ke tempat Rani, soalnya ada yang perlu !"


" Perlu apa?"


" Ehhmm...anu Pak ,"


Amanda tidak ingin memberitahukannya pada Lingga keinginannya ingin membeli sebuah ponsel. Ia takut dan malu pada Lingga.


" Kalau ditanya itu dijawab, Manda !"


" I..i..ia Pak, saya kangen sama Rani !"


" Kamu kangen sama Rani?"


Amanda menganggukkan kepalanya.


" Kamu ga boleh keluar, kamu dirumah aja."


" Lho kenapa saya ga boleh keluar, Pak?"


" Nanti kamu di hasut - hasut lagi sama si Rani itu,"


" Ya ndaklah, Pak. Rani itu anak yang baik to, Pak !"


" Baik apanya? dia aja mau berbohong !"


" Ya weslah Pak, kalau ndak dikasih keluar."


Amanda langsung pergi meninggalkan ruangan itu. Ia kesal akan sikap Pak Lingga, terlalu mengekangnya.


" Apa sebaiknya saya kasih tahu aja ya pengen beli ponsel ? tapi kok saya takut yo, takut uangnya kurang," ucap Amanda.


Lingga keluar dari ruangannya. Ia menemui Amanda.


" Mandaaaa...!!!"


Amanda langsung berlari,


" Ya, Pak? Bapak manggil saya ?"


" Ia, saya manggil kamu. Ya da saya temani kamu ke rumah Rani,"


" Ndak usah Pak, ga jadi."


" Kenapa ga jadi ?"


Amanda terdiam, ia menjadi sedih.


" Kamu kenapa Manda?"


" Ga kenapa - napa, Pak !"

__ADS_1


" Sebenarnya kamu mau ngapain kerumah Rani?"


Amanda langsung pergi meninggalkan Lingga. Ia menutup pintu kamarnya. Didalam kamar ia menangis. Amanda tiba - tiba saja bersedih. Ia merasa jenuh akan kehidupannya.


__ADS_2