I Need Your Love

I Need Your Love
Bab 50" Nadine Jatuh Cinta "


__ADS_3

Akhirnya Papa dan Mama Lingga kembali ke LN, dikarenakan sudah banyak pekerjaan yang menumpuk. Pagi itu, Mama Nania tidak melihat adanya Nadine .


" Nak, Nadine kemana ?" tanya Mama Nania.


" Semalaman ga pulang, ga tahu kemana,"


" Astaga nak, ya ditanya dong! masa hanya Manda aja yang kamu perhatikan, Nadine itu istri kamu lho, gimana kalian bisa akur kalau masalah perhatian aja diatara kalian ga ada."


" Penting ya?"


" Lingga, Mama ga mau tahu, pokoknya kamu sama Nadine itu ga boleh pisah, kamu harus tetap bersamanya. "


Tiba - tiba saja, Nadine pulang kerumah. Ia mendengarkan kegaduhan antara Mama mertuanya dan suaminya.


" Ga Ma, saya akan mengurus perceraian kami. " ucap Lingga lantang.


" Apa? kenapa sih kamu itu keras kepala? kenapa kamu mau pisah sama Nadine? kenapa ?"


" Diantara kita berdua ga ada kecocokan, "


Lingga melihat kalau di balik dinding ruang tamu, ada Nadine.


" Biarlah Nadine mendapatkan yang terbaik."


Lingga langsung meninggalkan Mama nya. Nadine pun langsung menghampiri Mama mertuanya itu.


" Ma, apa yang dikatakan mas Lingga itu benar, diatara kita berdua itu ga ada kecocokan,"


" Ga Nadine, kalian itu ga boleh pisah. Oh ya, semalaman kamu ga keliatan, kamu dari mana ?"


" Hhmm..anu Ma, saya kerumah Mama ( Nadine berbohong ) Ma, saya mau bilang kalau mas Lingga itu ?" Nadine tidak melanjutkan ucapannya. Nadine tidak mau mengatakan masalah pada anak sulungnya itu.


" Kenapa dengan Lingga ? nak, kami ga mau lihat kalian berdua itu pisah, kalian saling mencintai kan?"


" Kalau aku bilang, sebenarnya aku ga cinta sama anaknya, yang ada nanti Mama mertua ku ini pasti akan menyuruh Lingga untuk selalu mawas diri, dan akhirnya aku ga bisa menguasai semua hartanya. " gumam Nadine.


" Kami berdua saling mencintai kok, Ma. Mama tenang aja."


" Baiklah nak, kalau begini kan , kami pulang ke LN bisa tenang. "


Jam sudah menunjukkan pukul 14.35, waktunya Lingga mengantar Papa dan Mamanya kebandara.


" Nadine, kamu ikut ya ngantar Mama dan Papa ke bandara !"


" Pengen sih, Ma. Tapi ?"


" Ga usah pake tapi - tapian, kalau mau ikut ya uda, kalau ga ikut juga ga papa ," ucap Lingga sedikit ketus.


Akhirnya Nadine pun ikut mengantarkan Papa dan Mama mertuanya itu. Setelah cipika cipiki, akhirnya mereka pun pulang.


Di sepanjang jalan, Nadine dan Lingga selalu diam. Tidak ada cerita, pembahasan masalah keluarga juga tidak ada.


Jarak dari bandara kerumah cukup jauh. Nadine merasa kelaparan.


" Mas kita makan yuk !"


" Hhmmm...!"

__ADS_1


" Kok jawabannya cuma hhhmm sih ? kita makan di resto favorite keluarga aja, mas. Disana enak - enak lho makanannya. "


Nadine pun memberitahukan tempat dimana letak resto itu. Setelah mencari tempat duduk, mereka pun langsung memesannya.


Ketika Lingga memilih menu untuk dirinya, Nadine minta ijin pergi ke toilet. Karena menggunakan high heels, dan lantai resto itu juga baru saja dibersihkan, Nadine terpeleset. Dan tiba - tiba saja, ada seorang pria yang langsung menolongnya. Lingga melihat keduanya, ia hanya cuek dan tidak perduli.


" Makasih ya, kamu uda nolongin saya !"


" Sama - sama , lain kali kamu hati - hati. "


Melihat pria tampan yang ada dihadapannya itu, Nadine sepertinya menyukai pria itu. Tinggi, kekar, tampan, sedikit berkumis tipis. Nadine terus menatap pria itu.


" Hei...mbak, kenapa melamun ?"


" Ohh..ga..ga..saya ga melamun. Oh ya kita belum kenalan, boleh kenalan kan ?"


" Boleh."


" Nama saya Nadine, nama kamu siapa ?"


" Nama saya, David. "


" Oh David, nama yang bagus !"


" Makasih ya. Nama kamu juga bagus."


Nadine semakin jatuh hati melihat tatapan pria tampan itu, jantungnya semakin berdetak kencang.


" Oh ya, tadi kayaknya ponsel saya jatuh ya?"


" Ah, masa sih ? mas David bisa ga misscall ke nomor saya, kira - kira ponsel saya ada dimana ya ?"


" Berapa nomornya ?"


Dengan cepat Nadine memberitahukan nomor ponselnya itu.


Derrrrttt..dertttt...derttt...


" Ya ampun, ternyata ponsel saya ada ditas saya, " jawab Nadine tertawa lepas.


" Kamu sih, pelupa banget jadi orang,"


" Ini nomor kamu kan ? nanti saya save ya,"


" Boleh, nanti saya call kamu, sekarang pergilah ke toilet !"


Nadine hanya mengangguk dan ia pun pergi. Ia selalu tersenyum mengingat ketika David memegang tangannya.


Setelah selesai dari toilet, Nadine kembali duduk bersama Lingga. Lingga tahu apa yang baru saja ia lakukan. Tapi ia tidak perduli.


" Makanan mas mana ?" tanya Nadine ketika melihat piring milik Lingga tidak ada lagi di hadapannya. Sementara, makanan miliknya sudah tiba.


" Uda keburu habis."


" Kenapa mas ga mau nungguin saya?"


" Penting ya nungguin kamu? suruh aja pria itu ( sambil menunjuk David ) yang nunggui kamu makan, saya permisi. "

__ADS_1


" Mas, jangan pergi !"


Lingga tidak mengindahkan panggilan Nadine. Ia terus saja pergi dan meninggalkan Nadine di resto itu. David melihat kalau Nadine bersedih. David pun menghampirinya sambil membawa makanannya.


" Hai, boleh duduk disini ?" tanya David.


" Mas David ? kamu ?"


" Ga boleh ya duduk disini ? oke kalau gitu, saya balik lagi aja ke meja saya."


" Hahah, boleh dong mas, mas David boleh duduk disini. Makasih ya, uda mau nyamperin saya."


David menarik kursi itu dan ia pun duduk di hadapan Nadine.


" Dia siapa kamu ?" tanya David


" Yang mana ?"


" Yang tadi pergi ninggalin kamu,"


" Oh, dia ?"


" Suami kamu ?"


" Ya, dia suami saya. "


" Enak ya kamu uda nikah, uda punya anak berapa ?"


" Enak apanya ? kita belum punya anak, mas !"


" Kok bisa ?"


" Harus ya di ceritain?"


" Ya ialah. Harus itu, hahaha..!"


Melihat David tertawa, Nadine semakin menyukainya. Nadine pun terang - terangan menceritakan bagaimana nasib rumah tangganya. Mendengarkan cerita Nadine, David merasa sedih.


" Berati kamu jarang dapat belaian dong ?" tanya David tersenyum tipis.


" Hahaha,"


" Kenapa ketawa ?""


" Ga usah dibahas disini dong, malu !"


" Kenapa harus malu, kita uda dewasa. "


David dan Nadine terus bercerita. Mereka berdua semakin akrab dan tidak merasa canggung lagi. Sementara Lingga pergi ke rumah yang baru saja ia beli untuk Amanda. Lingga kembali melihat keadaan rumah itu. Tidak terlalu besar, tidak terlalu kecil juga. Rumah yang bagus, asri dan minimalis.


Lingga tahu bagaimana sifat Amanda. Amanda bakalan tidak mau menerima rumah itu. Ia pun mencoba cari jalan gimana Amanda mau tinggal dirumah itu. Lingga pun menyuruh anak buahnya untuk memberitahukan kepada Amanda, bahwa Amanda mendapatkan undian sebuah rumah dari salah satu produk bahan makanan.


Lingga menyuruh anak buahnya itu untuk datang kerumah Amanda. Dengan membawa surat resmi mendapatkan hunian dari salah satu produk makanan yang selalu di beli Amanda.


Lingga mengikuti anak buahnya itu dari belakang. Ia tidak mau kalau Amanda mengetahui ini semua. Pastilah Amanda akan marah.


Suruhan Lingga itu pun tiba dirumah Amanda. Ia melihat kalau pintu kosan itu tertutup rapat. Ia selalu mengikuti arahan dari Lingga. Anak buahnya itu terus mengetuk pintu kosan itu. Lingga sudah tidak sabar ingin melihat reaksi Amanda. Lingga pun minta maaf harus membohonginya.

__ADS_1


__ADS_2