
" Astaga, Mandaaa...???" Rani langsung berlari memeluk Amanda, Amanda menangis histeris. Rani memeluk erat Amanda. Rani juga ikut menangis. Rani pun menjadi geram dengan sikap Ibu nya itu.
" Hey, wanita sombong, kalau mau cari ribut, jangan disini !"
" Kamu jangan ikut campur urusan saya !"
" Selagi anda berurusan dengan Manda, saya berhak ikut campur. Ga ada yang boleh menyakiti hati Amanda, sekalipun kamu Ibu nya, ngerti kamu ?"
" Kamu itu ga sopan banget ya, sombong banget jadi orang !"
" Kalau kamu sopan, saya juga bisa sopan, kamu mau saya laporin ke polisi?"
Ibu Sekar pun mulai takut. Rani berdiri , ia memandang seluruh tubuh Ibu Sekar itu.
" Ohh jadi ini Ibu Sekar, Ibu yang uda tega ninggalin anaknya waktu masih bayi, demi uang ia rela lupa segalanya ! Ibu itu seorang perempuan, perempuan itu lebih peka keperasaan, Bu. Gimana perasaan Ibu ketika Ibu melihat Amanda tumbuh menjadi gadis yang ga punya apa - apa, ga pernah mendapatkan kasih sayang ? saya mau nanya sama Ibu, gimana kalau itu terjadi sama Nadine ? anak kebanggaan Ibu yang selalu Ibu agung - agungkan itu? gimana, Bu? sekarang rahasia Ibu, sudah ada ditangan kami berdua, bisa ajakan saya kasih tahu ke suami Ibu yang kaya raya itu ? supaya Ibu di buang jauh - jauh dari kehidupannya karena masa lalu Ibu, gimana ? Ibu mau ?"
" Kamu pikir saya takut ancaman kamu ?"
" Mau Ibu apa sekarang ? Ibu mau Amanda pergi jauh dari kehidupan Ibu, Nadine atau Pak Lingga ? saya ga akan biarkan itu terjadi, Bu. Saya lah orang yang akan selalu ngedukung Manda untuk hidup bahagia dengan pilihannya. Jadi, ga ada seorang pun yang bisa macem - macem sama Manda. Kalau ada yang berani, itu artinya orang itu harus berhadapan sama saya, pahamkan Bu?"
" Kamu jangan main - main sama saya !"
" Saya ga takut dengan Ibu, Ibu Sekar. Silahkan pergi dari sini, atau saya akan panggil orang - orang yang ada di kosan ini untuk menyeret Ibu Sekar cantik yang tak punya hati ini, gimana ? mau dipanggilin ?" Merasa direndahkan, Ibu Sekar pun pergi dari kosan itu.
" Manda, kamu ga papa kan ?"
Amanda masih saja terus menangis. Rani hanya bisa memeluknya. Ia sangat kasihan pada sahabatnya itu.
****
" Ma, Manda uda pergi dari rumah, sekarang Mama bisa pulang !"
" Tapi kepala Mama makin sakit, nak. Mama lemas banget, tubuh Mama sakit semua,"
" Lingga, sakit apa sih Mama kamu ini ?" tanya Papanya.
" Ntah lah Pa, kata dokter juga sakitnya, sakit langka. Bingung Lingga, Pa !"
" Mau Mama apa ? Mama mau makan apa? biar Lingga beliin ?"
__ADS_1
" Mama ga mau makan, Mama cuma pengen kamu cepatan nikah sama Nadine, kasih Mama cucu !"
" Astagaaaaa....permintaannya ada - ada aja sih !" ucap Papa Lingga.
Lingga pun kebingungan.
" Papa mau bicara sama kamu !" pinta Pak Chandra. Mereka berdua pun pergi keluar.
" Lingga, Papa ga bisa terus - terusan seperti ini, kerjaan Papa itu banyak. Papa pusing hanya ngurusi masalah sakit Mama mu itu !"
" Jadi mau gimana? Lingga juga pusing, Pa !"
" Ya udalah , kamu turuti aja kemauan Mama kamu itu, pusing Papa. Setiap malam ngigau Nadine. Nadine terus, pusing ah...!"
" Pa, gimana dengan Amanda ?"
" Ntahlah, nak. Kalau Papa lihat Amanda itu memang sangat baik, anaknya tulus. Tapi, gimana dengan Mama mu? apa Mama mu mau nerima dia?"
Lingga sangat kebingungan. Ia hanya bisa berharap Amanda segera hamil, karena itulah jalan satu - satunya agar Mama nya mau menerima Amanda sebagai menantunya.
Ternyata Lita, adik Lingga mengetahui permasalahan yang dihadapi kakaknya itu. Lita sangat mendukung keputusan kakaknya . Tapi, ia juga tidak yakin dengan Mamanya. Mereka tahu, Mamanya itu adalah tipe wanita yang keras kepala, keinginannya harus bisa selalu terpenuhi.
Hari itu juga Lingga menemui Amanda. Ia ingin tahu apakah Amanda sudah telat haid atau belum. Ia tidak perduli lagi dengan harga dirinya, ia tidak ingin meninggalkan Amanda.
Lingga mencoba menghubungi ponselnya, tapi ponselnya itu tidak dapat dihubungi. Lingga menunggu wanita idamannya itu sampai sore hari. Dan sampai sore hari juga, Amanda belum juga kembali ke kosannya.
Semua semakin khawatir kemana perginya Amanda. Rani mencoba mengetuk - ngetuk pintu kamar kosannya, tapi sayangnya pintu itu tidak dibuka. Rani mencoba membuka pintu itu, ternyata pintu itu tidaklah dikunci. Mereka semua pun masuk. Rani menemukan secarik kertas di meja kecil itu.
Isi suratnya...
" Ran, tolong jangan cari saya dulu, saya mau menenangkan hati dan pikiran saya. Ini ada surat yang saya lipat, tolong kamu berikan sama mas Lingga ya...! saya akan selalu merindukan mu, terimakasih banyak untuk semua kebaikan mu dan Ibu selama ini, saya janji suatu saat saya akan kembali untuk melihat kalian semua...peluk cium dari saya... !" Amanda.
Rani menangis membaca isi surat itu.
" Mandaaaaaa.....!!!!!" teriak Rani.
" Ran, kenapa dengan Manda ?" tanya Lingga.
Rani memberikan surat itu pada Lingga. Lingga membuka isi surat itu.
__ADS_1
Isi suratnya....
Semoga mas Lingga dalam keadaan sehat ya..!
Mas, maafkan saya, saya bukan bermaksud ingin menyakiti perasaan mas Lingga. Tapi , saya ingin Ibu Nania itu sehat selalu. Penuhi keinginan Ibu Nania, mas ! Mas ga mau kan melihat Ibu sakit? Manda sayang sama Ibu Nania, mas, makanya Manda pergi, Manda ga ingin membuat Ibu kecewa, Manda ingin melihat Ibu dan Bapak bahagia selalu.
Jaga kesehatan mas Lingga ya ! jangan telat makan. Oh ya, hutang Manda, Manda janji akan segera melunasinya, hehehe..!
Sekali lagi, Manda minta maaf ya, mas. Jangan pernah marah sama Manda, inilah yang terbaik untuk kita berdua. Semoga mas Lingga selalu bahagia ya...!"
Amanda
Lingga menangis. Baru kali ini ia merasakan kesedihan yang amat mendalam. Lingga mengoyak surat itu. Ia sangat kecewa pada Amanda. Amanda tidak bisa memperjuangkan cintanya. Ia menyerah begitu aja.
Lingga pun pergi meninggalkan kosan itu. Ia pergi mencari Amanda.
" Mandaaaaaaaaaaa.....kamu jangan pergiiii...!!!"
Lingga menambah kecepatan mobil itu, ia pergi ke setiap terminal bus - bus yang ada dikota itu. Karena hari sudah semakin malam, ia pun kembali kerumahnya. Ia lemas tak berdaya.
" Lingga, kamu kenapa, nak ?"
" Saya kecewa , Pa !"
" Kenapa Lingga ? apa yang terjadi ?"
" Amanda pergi, dia pergi meninggalkan saya, Pa !"
" Dia pergi kemana?"
" Ga tahu, Pa."
" Sudahlah nak, itu artinya Amanda bukan jodoh mu, ikhlaskan dia pergi."
" Saya ga bisa ikhlas , Pa. Wanita yang pertama mengisi hati Lingga itu Amanda, Pa. Lingga ga bisa lupa gitu aja, Manda itu uda terlalu sabar menghadapi sikap Lingga, Pa."
" Kenapa sampai seperti ini kamu, nak? kenapa kamu sangat menginginkannya ?"
" Hidup Manda itu ga seperti kebanyakan wanita pada umumnya, Pa. Dia banyak mengalami penderitaan, Pa !"
__ADS_1
" Apa yang terjadi pada Amanda, nak ?"
Lingga pun menceritakan tentang kehidupan Amanda yang sebenarnya, dan ia juga menceritakan siapa sebenarnya Ibu Sekar. Pak Chandra hanya bisa mengelus dada, ia tidak menyangka kalau Ibu yang melahirkannya bisa setega itu pada Amanda.