
Malam pertama itu sangat berarti dan begitu indah buat mereka berdua. Kebahagiaan terpancar dari pengantin baru itu. Ibarat perangko, yang tak bisa dilepaskan. Lingga ingin selalu ber cinta dengan Amanda. Lingga tidak mau, masa - masa pengantin baru nya di ganggu.
Sedangkan mama Nania, ia terus menangis. Suaminya sudah mencoba untuk membujuknya, tapi sayangnya tidak berhasil juga. Dan jalan satu - satunya, pak Chandra memutuskan akan kembali ke LN.
" Mama ga mau ikut pulang !!! " ucap Mama Nania dengan rasa kesal.
" Kenapa ? mama mau tetap disini ?"
" Ia..."
" Alasannya ?"
" Mama mau mengawasi si Amanda itu, enak dong dia, tenang - tenang aja dirumah ini."
" Ya ampun mama, mereka itu uda nikah, ma. Mama ga boleh ikut campur urusan rumah tangga mereka !"
" Lingga itu anak kita, anak mama. Mama ga mau, si Amanda itu menguasai harta Lingga, pa. Kayak ga tahu aja sih jaman sekarang, orang seperti Amanda itu hanya mengincar harta Lingga."
" Ma, memfitnah lebih kejam dari membunuh, mama ga boleh menuduh gitu. Mereka berdua itu saling mencintai, "
" Pokoknya, mama ga mau pulang. "
" Huffff...terserah lah..!"
Pak Chandra merebahkan tubuhnya di atas kasur. Ia begitu lelah, banyak beban pikirannya.
Sebagai menantu, dan belum punya asisten rumah tangga, Amanda lah yang mengambil alih tugas di rumah itu.
Sore itu, Amanda sedang di dapur. Ia memasak untuk makan malam. Amanda paling jago soal masak memasak.
Lingga menghampirinya istrinya itu ke dapur. Ia tak mau jauh - jauh dari Amanda.
Diam - Diam, dari belakang Lingga memeluknya sangat erat sekali.
" Sayang...!" ucap Lingga sambil menciumi leher istrinya itu.
" Mas, saya lagi masak lho !"
" Ya ga papa kamu sambil masak aja,"
" Nanti gosong dong, hahahah...!"
" Kalau gosong, kompornya yang mas marahi, bukan kamu. "
Lingga terus menciumi leher Amanda, tangannya ntah menjulur kemana - mana. Lingga meminta Amanda untuk menghentikan kegiatannya sementara. Lingga berusaha mencium bibir istrinya itu, dan tiba - tiba saja, pak Chandra berdiri di depan pintu dapur.
" Ehhmmm...ehhmmm...ehhmmm...!"
Amanda melihat kalau bapak mertuanya ada di depan pintu dapur. Amanda langsung mendorong Lingga.
" Massss....ada bapak !" bisik Amanda pada Lingga.
" Kamu ga usah bohong !"
" Masssssss...di pintu ada bapak," ucap Amanda lagi.
Wajah Amanda sudah memerah bak kepiting yang kena rebus. Ia begitu malu pada bapak mertuanya.
" Lingga, emang nya ga bisa nunggu malam? sabar dikit napa !" ucap papa Lingga.
Mendengar suara papa nya ada di belakang nya, Lingga terdiam bak seperti patung manekin yang tak bisa bergerak sama sekali. Jantungnya berdetak sangat cepat, untuk membalikkan tubuhnya saja, ia tak sanggup.
" Lingga, papa mau bicara sama kamu !"
" Ya - ya - ya pa !" ucap Lingga terbata - bata.
Papa nya pergi meninggalkan ruangan dapur itu. Amanda menepuk pundak Lingga.
" Masssssss....uhhhh...gara - gara mas Lingga ini, jadi malu kan di lihat bapak !"
__ADS_1
" Hahaha, maaf ya sayang. Mas ga tahu dibelakang ada papa, "
" Aduhh mas Linggaaaaaa...ya uda temui bapak sekarang !"
Lingga menganggukan kepalanya. Lingga buru - buru menemui papa nya.
" Pa !"
" Lingga, papa ingin bicara sama kamu !"
" Ada apa, pa ?"
" Mengenai mama mu,"
Lingga menarik nafasnya dalam - dalam.
" Kenapa lagi dengan mama ?"
" Nak, papa ga mungkin terlalu lama disini. Mama mu ga mau ikut pulang ke LN. Jadi, papa ga tahu harus membujuknya gimana !"
" Ya uda, untuk sementara biar aja mama disini, "
" Lingga, maafkan papa ya !"
Lingga memeluk erat papanya itu. Amanda harus menelan rasa pahit, karena mama Nania selalu mengawasinya. Amanda menjadi risih.
Lingga tidak dapat berbuat banyak, ia hanya bisa meminta pada Amanda untuk selalu bersabar. Kehidupan Amanda pun tidak pernah tenang, ada saja masalah yang menimpanya.
****
Waktu berlalu, Amanda semakin mendapatkan perlakuan kasar dari ibu mertuanya. Apalagi, Amanda tidak punya pekerjaan sama sekali. Mama Nania selalu mengawasi gerak gerik Amanda di rumah itu.
Amanda takut mengatakan pada suaminya kalau mama Nania selalu berbuat kasar padanya. Amanda hanya bisa menahan kesabaran.
Pagi itu, setelah Lingga pergi kerja, Amanda langsung beberes rumah. Mama Nania melarang Lingga untuk memperkerjakan art dirumah anaknya itu.
" Manda, kamu harus bersihin semua isi rumah ini, sampai bersih dan jangan sampai ada debu dimana - mana. Kamu ngertikan ?"
Tak terasa hari sudah siang. Amanda juga sudah selesai mengerjakan pekerjaan rumah.
Ting...tong..ting..tong...
" Mandaaaaaa....bukain tu pintu, sepertinya ada tamu !" titah mama Nania.
Amanda segera berlari ke arah pintu. Dengan cepatan ia membuka pintu rumah itu.
Ckleeeekkk...
" Hai....!" sapa Lingga.
" Mas Lingga ? kok cepat banget pulangnya ?"
" Emang ga boleh cepat pulang ya ?"
" Ya tumben aja, mas !"
" Kangen sama kamu. Mama mana ?"
"Ada di dalam tuh !"
" Kamu belum mandi ya ?"
Amanda tersenyum dan ia menggelengkan kepalanya.
" Ya ga bisa dong !"
" Ga bisa apa?"
" Hehehe,"
__ADS_1
" Kenapa ketawa ?"
" Uda ah cepatan masuk kamar, mas tunggu ya !"
Lingga langsung pergi menuju ke arah kamar. Amanda masih diam berdiri, ia hanya bisa tersenyum melihat sikap suaminya itu.
" Mandaaaaaa, siapa yang datang ?" teriak mama Nania.
" Mas Lingga, bu !"
Mama Nania menghampiri Amanda.
" Kenapa dia pulang lebih awal ?"
" Ehhmmm...anu bu, katanya ada berkasnya yang ketinggalan,"
" Ya uda sana temani suami kamu, bantu cari berkasnya !"
" Ia, bu."
Amanda langsung cepat naik ke atas. Perasaannya sangat gugup sekali.
" Mas !"
" Sayang, mama lihat kamu ga naik ke atas ?"
" Lihat lah, mama nanya kenapa mas cepat pulang ?"
" Trus kamu jawab apa?"
" Ada berkas mas yang ketinggalan,"
Lingga tersenyum. Dengan cepat ia langsung menyambar bibir manis istrinya itu.
" Mas, tapi saya belum mandi. Saya mandi dulu ya !"
" Nungguin kamu mandi kelamaan, ntar jadi mengeras seperti pasta gigi. Sekarang aja ahh, ntar aja kamu mandinya !"
" Mas, tapi saya bau keringat lho !"
Lingga tidak perduli apa kata istrinya itu, dengan buasnya ia terus mencumbui Amanda.
" Massss, pintu kamarnya !"
Lingga menarik nafasnya dalam - dalam. Terpaksa ia harus menghentikan aksinya. Ia menutup pintu kamar itu dan menguncinya. Permainan pun dimulai.
Selesai memberikan jatah buat suaminya, Amanda langsung bergegas mandi. Lingga tersenyum melihat istrinya itu kini sudah segar kembali. Tapi tidak dengan Amanda, wajahnya sedikit cemberut.
" Kenapa cemberut ?"
" Ga enak sama ibu, mas !"
" Basah rambutnya ?
Amanda menganggukan kepalanya.
" Ga papa, mama juga pernah muda. Mama maklum kok !"
" Tapi ga gini juga mas, siang - siang, sengaja pulang dari kantor, hanya minta jatah,"
Lingga tertawa lepas.
" Ga papa lah, kan sama istri sendiri. "
" Mas uda makan belum ?"
" Belum, yok kita makan !"
" Saya malu mas, "
__ADS_1
" Ga papa, nanti mas cari alasan yang masuk akal, uda ah..yok turun !"
Amanda dan Lingga pun turun. Wajah Amanda sudah terlihat sangat pucat sekali. Ia begitu malu kalau ibu mertuanya melihat diri nya habis selesai mandi.