
Denis melihat kalau Amanda bersedih. Sepertinya Amanda menyembunyikan sesuatu yang Denis tidak ketahui.
" Kamu kenapa ?" tanya Denis sembari memegang tangan Amanda.
Amanda melihat kalau Denis menggenggam erat tangannya.
" Saya ?saya ga papa, mas !"
" Kamu yakin ? oh ya kamu pulang kerja jam berapa? saya mau ngomong sesuatu sama kamu, bisa ?"
" Ngomong apa to, mas ?"
" Ada yang penting mau saya bilang ke kamu, itu pun kalau kamu mau. Tapi saya berharap, kamu itu ya harus mau. Gimana ?"
Amanda tersenyum.
" Manda, kamu itu ga pernah berubah, kamu tetap cantik, kamu itu anak yang baik,"
" Hahaha, mas Denis ada - ada aja, mujinya berlebihan,"
" Ga Manda, kalau lah dulu Ayah dan Ibu setuju sama kamu, pasti kita akan bahagia, mungkin juga kita uda punya anak, hehehe..!"
Amanda mencoba menahan air matanya.
" Oh ya, kamu pernah ga pulang ke desa ziarah ke makam nenek?"
" Ga mas, saya belum pernah pulang ,"
" Ya uda , kalau kamu ada waktu, kita pulang,"
Amanda tersenyum. " Benar, mas ?"
Denis menganggukkan kepalanya.
" Makasih banyak ya mas, "
" Sama - sama, oh ya..kamu mau lanjut kerja kan? nanti saya tungguin kamu ya !"
" Ia mas, saya permisi ya mas !"
Amanda pun pergi meninggalkan Denis. Denis terus melihat Amanda. Denis merasa sangat senang sekali, akhirnya ia dapat melihat senyum manis dari wanita cantik itu.
****
__ADS_1
Lingga dan keluarganya mendapatkan kabar yang sangat baik. Ada seorang pendonor mata yang akan mendonorkan matanya kepada Lingga. Dan hari itu juga, Lingga dan keluarga langsung datang kerumah sakit di mana Lingga akan mendapatkan pendonor mata itu. Tasya juga ikut menemani Lingga. Setelah berbincang - bincang pada dokter, akhirnya Lingga akan segera melakukan operasi pada kedua matanya.
Betapa bahagianya keluarga Lingga mendapatkan kabar baik ini, itu artinya Lingga akan segera kembali bisa melihat. Tasya, dokter yang selalu menemani Lingga, juga ikut merasakan bahagia atas kabar baik ini.
" Kamu akan bisa melihat kembali, bersyukurlah ," ucap Tasya pada Lingga.
Lingga tersenyum. Ia memegang erat kedua tangan Tasya.
" Ini semua berkat kamu, kamu lah yang uda banyak membantu saya, makasih ya !"
" Sama - sama,"
Lingga kembali tersenyum. Ia sudah tak sabaran ingin segera melihat, apalagi melihat Tasya, wanita yang selalu ada untuk dirinya.
" Pa, Lita sedikit kecewa sama mas Lingga."
" Kenapa ? bukannya kamu senang kalau kakak mu itu bakalan bisa melihat kembali ?"
" Senang si senang, Pa. Tapi, Lita ingat sama mbak Amanda. Mas Lingga sama sekali ga mau ngabari kebahagiaan ini sama mbak Amanda. Mas Lingga tega bener, Pa. Sekarang dia uda lupa sama mbak Amanda."
Pak Chandra terdiam.
" Ntahlah, Papa juga ga tahu mau ngomong apa. Papa ga tahu mau berbuat apa. Itu hak nya Lingga. Kita ga bisa menghalanginya. "
" Kamu mau benci sama kakak kamu ? silahkan !" ucap Mama nya sedikit jutek.
" Kenapa sih Mama ?"
" Lita, Mama sangat bersyukur kalau mas kamu itu uda lupa sama wanita kampung itu. Mama sih pengennya Tasya dan Lingga segera nikah, mereka berdua serasi, tampan dan cantik. Pengusaha terkenal dan seorang dokter. Pas kan ? emang kamu ga malu, punya ipar kayak si Amanda itu ? ga ada sekolah, miskin lagi. Kalau hanya cantik doang, ga penting zaman sekarang, nak. Kamu lihat dong bibit, bebet dan bobotnya si Manda itu, Mama malu punya mantu kayak dia, mau dibuat dimana wajah Mama ini? Mama ga mau tahu, selesai operasi mata Lingga, Tasya dan Lingga langsung tunangan. "
" Apa - apa'an sih Mama? ga bisa gitu dong ? Mama pernah mikir ga sih perasaan mbak Manda itu gimana? Ma, mbak Manda itu pernah hamil anak mas Lingga, itu artinya mbak Manda itu ga perawan lagi, masa Mama tega sih biarin mbak Manda hidup seperti itu ?"
" Emang Mama pikirin Manda itu mau perawan atau ga perawan lagi ? salah dia dong, siapa suruh dia mau jadi wanita murahan, di hamili Lingga mau aja, salah dia dong ga bisa jaga harta bendanya, enak aja..!"
" Ga boleh gitu, Ma. Gimana itu kalau terjadi sama Lita ?"
" Makanya kamu itu Mama buat sekolah tinggi, biar ga goblok kayak si Manda itu, "
" Astaga Mama. Pa, jelasin dong sama Mama, ga bisa gitu aja ninggalin mbak Manda, kasihan mbak Manda Pa."
" Ma, apa yang dikatakan Lita itu benar, Mama ga boleh gitu. Seharusnya Mama itu kasih tahu ke Lingga agar Lingga bisa kembali pada Manda. "
" Enak aja, ga bisa dong. Mama maunya Lingga sama Tasya menikah. "
__ADS_1
" Lita kecewa sama Mama, Mama itu ga adil, Mama itu egois. "
" Terserah, "
Mama Nania tidak perduli pada perasaan Lita ataupun Amanda. Setelah menanda tangani surat persetujuan untuk operasi, akhirnya Lingga akan menjalani operasi pada matanya.
Diam - diam Lita memberitahukan pada Amanda, rencana operasi pada kakaknya itu. Mendengar kabar baik itu, Amanda sangat senang sekali. Tapi, dibalik kabar baik itu, Amanda tidak mau terlalu berharap lagi pada Lingga. Amanda sempat kecewa, Amanda mengira, Lingga lah yang akan memberitahukan kabar baik itu. Amanda menangis. Bertahun - tahun ia menantikan kabar dari Lingga, tapi nyatanya Lingga sama sekali tidak mau mengabarinya lagi. Ntah apa salahnya, hingga Lingga jadi membecinya.
Sepulang kerja, Amanda pun menepati janjinya, ia ingin bertemu dengan Denis. Denis mengajak Amanda ke sebuah cafe yang tak jauh dari tempat kerja Amanda.
Denis berharap, lamarannya di terima oleh Amanda. Denis menutup kedua mata Amanda. Perlahan - lahan Denis menuntun Amanda sampai ke sebuah taman yang berada di lokasi cafe tersebut.
Ternyata taman itu sudah di hiasi dengan bunga - bunga mawar yang berwarna - warni. Banyak balon bewarna - warni juga, di sepanjang jalan menuju taman dihiasi lilin yang sudah di nyalakan.
" Manda, saya hanya minta sama kamu, kamu mau jawab ia atau tidak dan itu adalah hak kamu, saya tidak akan memaksakannya."
" Opo to mas, buat penasaran aja, "
" Coba buka mata kamu perlahan - lahan, dan saya mau jawaban kamu sekarang juga,"
Amanda pun melakukan apa yang di suruh Denis. Ia membuka kedua matanya perlahan - lahan. Dan Amanda melihat sebuah tulisan yang bertuliskan....
" Apakah kamu mau menikah dengan saya ? jawab ya atau tidak !"
Amanda mencoba membaca tulisan itu berulang kali, ia sangat terkejut dengan semua ini.
" Manda, tolong jawab, saya mau tahu jawaban kamu, "
Amanda pun menangis.
" Mas Denis ?"
" Jawablah, ya atau tidak. Saya butuh jawaban kamu, "
Amanda pun menangis.
" Kamu kenapa nangis ?"
" Mas Denis, bukannya saya ga mau menikah dengan mas Denis, tapi ?"
" Tapi apa?"
Amanda diam. Ia tidak tahu harus mau berkata jujur atau tidak masalah dirinya dengan Lingga. Apalagi ia pernah hamil anak dari Lingga. Amanda bingung, mau berkata apa pada Denis. Ia takut kalau Denis akan menghinanya dan jadi membecinya.
__ADS_1