
Amanda mulai membersihkan semua peralatan makan, dan diam - diam, Ibu Sekar menemui Amanda di dapur. Dengan alasan, Ibu Sekar ingin mengambi air minum.
" Nama kamu siapa ?" tanya Ibu Sekar.
Suara yang tidak asing ditelinga Amanda. Ia menghentikan pekerjaannya.
" Maaf, kalau saya uda menganggu kamu. Oh ya nama kamu siapa? saya pernah lihat kamu, tapi saya lupa dimana ya?" tanya Ibu Sekar lagi.
" Nama saya Amanda, Bu !"
" Amanda ? " namanya sama seperti anak saya, Amanda. " gumam Ibu Sekar.
" Ia Bu, saya pernah kerja di kantor Pak Alvan, sebagai OG, Bu !"
" Oh ya, saya baru ingat. Pantasan aja wajah kamu ga asing. Oh ya, saya boleh nanya ga?"
" Nanya apa, Bu?"
Belum saja Ibu Sekar bertanya, tiba - tiba Nadine menghampiri mereka.
" Mama ?"
Ibu Sekar kaget akan kehadiran Nadine.
" Nadine? sayang, kamu mau ngapain? kamu perlu sesuatu?" tanya Ibu Sekar.
" Ga, saya mau perlu sama Manda, Ma !"
" Oh, sama Manda ya? ya uda Mama kedepan dulu, "
Ibu Sekar meninggalkan mereka berdua di dapur. Ia selalu bertanya, apakah Amanda ini anak kandungnya atau bukan ? tapi mengapa resep sambal buatannya sama persis seperti resep sambal buatan Ibu nya?
Perasaannya semakin tidak tenang. Ia pun akan mencari tahu, siapa sebenarnya Amanda.
" Manda, kamu ga kerja lagi dikantor mas Lingga ?" tanya Nadine.
" Masih, Bu. Saya masih kerja dikantor Pak Lingga."
" Hebat kamu ya, jadi orang kepercayaan mas Lingga !''
" Kepercayaan gimana, Bu? Pak Lingga cuma minta tolong kok Bu untuk bantu - bantu dirumahnya."
Lita menguping pembicaraan mereka berdua. Lita kurang menyukai sifat Nadine. Padahal baru saja mereka saling mengenal. Tapi ntah mengapa sepertinya ada yang lain dari Nadine.
" Awas kamu ya, jangan dekat - dekat sama mas Lingga !" ancam Nadine.
" Emang kenapa Bu kalau dekat - dekat sama Pak Lingga?"
" Dia itu calon saya, calon suami saya. Jadi, ga ada seorang pun yang boleh deketin dia, ngerti kamu?"
" Hehehe inje, Bu !"
Nadine langsung pergi. Amanda hanya bisa tersenyum.
" Bu Nadine ada - ada aja, ngapain juga curigaan sama saya, lahh...saya ini siapa? cuma babu, ya ndak mungkin to suka sama Pak Lingga, hahahaha...ada - ada aja Bu Nadine !" ucap Amanda sambil tertawa terbahak - bahak.
" Jodoh itu ada ditangan Tuhan, mbak. Yang ga mungkin bisa jadi mungkin !" ucap Lita mengagetkan Amanda.
" Ehh..mbak Lita ?"
" Kenapa? kaget ya? hehehe...!"
" Ya gitu deh, mbak !"
" Kenal sama mbak Nadine ?"
" Kenal, mbak. Dulu saya pernah kerja di kantornya, jadi OG."
" Gimana sifatnya?"
__ADS_1
" Hhmm..baik mbak, "
" Oh gitu. Ya uda, mbak Manda lanjuti aja lagi kerjaannya, saya mau ke depan. "Lita pun pergi. Amanda melanjutkan pekerjaannya lagi.
Pak Alvan meminta pada keluarga Lingga agar mereka semakin mempererat silahturahmi, dan ia juga meminta agar mereka secepatnya membicarakan antara Nadine dan Lingga.
" Lingga, gimana nak? apakah ada keinginan mu untuk segera menikahi Nadine ?" tanya Papa nya.
Lingga hanya diam.
" Lingga, ayo dijawab dong, nak !" pinta Mama nya.
" Maaf, saya bukan menolak untuk bisa bersama dengan Nadine, tapi kan kita berdua itu masih aja baru kenal, gimana kalau kita berdua itu, dikasih waktu untuk saling mengenal dulu."
Nadine hanya bisa diam. Ia tidak bisa berkata - kata, Lingga sepertinya mematahkan semangatnya.
" Nak Lingga kami menghargai semua keputusan mu, tapi kami sangat berharap, kalian itu bisa hidup bersama. " ucap Pak Alvan.
" Ia Om. Itulah harapan kita semua, kasih saya waktu, karena saya ga mau Nadine nanti kecewa melihat sikap saya, jadi untuk Nadine, bersabarlah. Kamu bisakan ?"
Nadine menganggukkan kepalanya. Ia mencoba tersenyum di hadapan Lingga dan keluarganya. Tapi siapa sangka , di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, ia sangat kecewa atas ucapan Lingga.
Keluarga Nadine pun segera melangkahkan kakinya untuk kembali pulang. Papa dan Mamanya kurang menyetujui keputusan yang diambil oleh Lingga.
" Mau sampai kapan kamu melajang seperti ini, Lingga ?" tanya Papa nya.
" Kenapa, Pa?"
" Keputusan mu itu salah. Papa lihat Nadine itu anak yang baik, sopan. Apalagi yang kurang sama dia, nak ?"
" Bener nak, Mama aja begitu pertama melihatnya langsung suka, anaknya cantik lagi !"
" Tapi ga dengan Lita, Pa - Ma !"
" Kamu masih anak kecil, belum ngerti masalah orang dewasa !" ucap Lingga pada adiknya itu.
" Ga Lita namanya kalau ga bisa baca mimik wajah orang, mas !"
" Kita mau taruhan berapa? saya yakin Nadine wanita yang di puja - puja Mama, itu ga sebaik apa yang kalian lihat. Pegang ucapan Lita Pa - Ma."
" Uda ah, ga usah bahas Nadine, mulu." ucap Lingga.
Semua terdiam. Diam - diam Lita mengirim pesan ke ponsel Lingga. Isi pesannya adalah...
..." Amanda "...
Ting...pesan tersampaikan. Lingga membuka ponselnya. Ia membaca isi pesan tersebut. Lingga heran, mengapa Lita mengirim pesan hanya Amanda. Lingga membalasnya.
..." Kenapa dengan Amanda ?"...
Ting...pesan terkirim. Lita langsung membuka ponselnya.
..." Ga tahu juga sih, ntah kenapa kok tiba - tiba saya kepikiran mbak Amanda."...
Ting...pesan terkirim ke Lingga. Lingga langsung membaca pesan tersebut.
..." 🤦"...
" Kalian kenapa sih? sibuk pegang ponselnya mulu, Papa dan Mama dicuekin !" ucap Papanya.
" Sorry, Pa !" Lita langsung pergi ke kamar. Satu persatu pergi ke kamar. Tinggalah Lingga sendiri diruang tamu itu. Lingga memastikan lagi kalau mereka sudah tidur. Lingga langsung menemui Amanda.
" Uhukkk..uhukkk...uhukkk...!" suara batuk Lingga menganggu konsentrasi Amanda.
" Bapak? ada apa?"
" Kamu belum tidur ?"
" Belum Pak, masih ada kerjaan dikit lagi."
__ADS_1
Lingga duduk. Ia mengacak - ngacak rambutnya.
" Buatin kopi !"
" Uda malam to Pak ?"
" Ga usah ngebantah, kalau disuru ya dibuatin !"
Amanda langsung membuatkan kopi kesukaan bosnya itu.
" Ini kopinya Pak !" Amanda meletakkannya dihadapannya. Lalu ia pergi.
" Kamu mau kemana?" tanya Lingga.
" Istirahat Pak,"
" Duduk disini, temani saya ngopi."
" Hah? nemani Bapak ngopi? tapi saya uda ngantuk, Pak !"
" Ga ada ngantuk - ngantuk, pokoknya kamu temani saya ngopi malam ini."
" Astaga Bapak ?"
" Kenapa? ga suka? mau gaji kamu, saya potong lagi ?"
" Ga Pak. I..i..ia..ia saya duduk Pak."
" Wajahnya ga usah gitu, pake cemberut - cemberut. Biasa aja !"
Amanda mencoba tersenyum. Amanda duduk di samping Lingga. Kedua matanya mulai tidak stabil, ia semakin mengantuk. Lingga melamun, ntah apa yang ia lamunkan.
Amanda melihat kalau kopi yang ia buatkan itu, sama sekali tidak diminumnya. Amanda mencoba diam. Waktu pun berlalu, tak terasa sudah pukul 01.30 dini hari Lingga masih saja melamun .
" Pak, Bapak niat ga sih mau minum kopinya. Kita dari tadi di dapur terus, sampai kapan kita di dapur Pak? Bapak ga lihat uda jam berapa ini?"
Lingga memalingkan wajahnya, ia melihat jam dinding dapur. Ia tertawa.
" Emang kenapa?"
" Pak, saya uda ngantuk."
" Manda ?"
" Ya Pak,"
" Kamu ?"
" Kenapa Pak?"
" Kamu uda punya pacar?"
" Hahaha..."
" Kenapa ketawa ?"
" Mana ada yang mau sama saya, Pak."
" Oh..." tanpa dilihat Amanda, Lingga meletakkan posisi ponselnya dan ia mencoba merekam. Lingga langsung bangkit dari tempat duduknya. Ia menarik Amanda. Dan ia langsung menciumi bibir wanita itu. Amanda sangat terkejut dengan kelakuan bosnya itu. Amanda mencoba melawannya, tapi tenaganya tidak begitu kuat melepaskan tubuh Lingga.
Amanda meronta - ronta, tapi Lingga terus saja menciumi bibir miliknya. Rekaman itu menggunakan timer, ketika timernya habis, Lingga pun menghentikan reaksinya.
" Bapak jahat !" ucap Amanda menangis.
Lingga langsung menutup mulut Amanda menggunakan tangan kanannya.
" Jangan berisik Manda, saya minta maaf, saya khilaf. "
" Bapak jahat !" Amanda pun langsung pergi ke kamarnya.
__ADS_1
Lingga terseyum. Ia tahu sekarang apa yang harus ia perbuat untuk Nadine.