
Lingga dan mama Nania pun pergi. Lingga merasa terpukul dan ia sangat sedih dikarenakan papa nya sakit.
" Ma, mama yang sabar ya !"
" Gimana mau sabar, papa kamu lagi sakit sekarang. Mama pusing, nak. Tambah lagi istri kamu gitu, "
" Kita doakan papa ya, pasti papa akan sembuh !"Mama Nania semakin menangis.
****
Seorang ibu tidak akan pernah bisa begitu saja melupakan anaknya . Sekalipun mereka mempunyai masalah, pastilah ada rasa khawatir. Diam - diam Ibu Sekar menghubungi mantan suaminya, ia meminta agar mereka berdua menemui Amanda.
Mantan suaminya langsung menyetujuinya. Kedua orang tua Amanda pun berniat untuk segera menemui Amanda dan mereka ingin meminta maaf pada anak semata wayangnya itu.
Kala itu, Amanda sedang kurang enak badan. Ia sendiri dirumah itu. Bel rumah berbunyi. Dengan langkah tertatih - tatih, ia membuka pintu rumah itu.
Clekkkkk...
Begitu pintu rumah dibuka, Amanda sangat terkejut sekali. Ia melihat ada ibu dan seorang pria yang tampan dihadapannya.
" Ibu ????"
" Manda !!!"
Amanda melihat kearah seorang lelaki tinggi semampai, wajahnya sangat mirip dengan diri nya. Pria itu tersenyum.
" Siapa dia, bu ?" tanya Amanda.
" Ini ayah kamu, Manda !"
" Ayah ?"
" Ia, saya adalah ayah kamu. Kamu apa kabarnya ?" ucap ayah Amanda.
" Manda, kok badan kamu jadi kurusan gini ?" tanya ibu Sekar.
Amanda pun menangis. Ia menangis bukan karena merindukan sosok kedua manusia itu. Tapi ia menangis karena perbuatan kedua orang tuanya yang sudah tega meninggalkan dirinya dan neneknya.
" Amanda, kami kesini mau minta maaf sama kamu, nak !" ucap ibu Sekar.
" Maaf ? begitu enak nya kalian berdua mengatakan maaf pada saya. 25 tahun kalian meninggalkan saya, dan sekarang kalian datang hanya dengan kata maaf. Segampang itu kah ?"
__ADS_1
" Kami khilaf." ucap ayah Amanda.
" Ayah bilang khilaf ?" Amanda kembali menangis.
" Manda, kami sangat menyesal, nak. Hidup kami ga bahagia , karena kami dihantui rasa bersalah. " ucap ibu Sekar.
" Mungkin saya bisa memaafkan ayah dan ibu. Tapi, nenek ? nenek wanita tua yang ga bisa apa - apa, begitu teganya kalian meninggalkannya. Hidup nenek susah, nenek harus banting tulang demi cucu nya ini. Dimana hati kalian ? dimana yah - bu !"
Ayah dan ibu Amanda diam tak bisa berkata - kata.
" Sekarang ayah dan ibu, sudah punya keluarga , kalian hidup mapan, kalian bahagia. Kalian ga punya hati,"
"Manda, beritahu kami, dimana makam nenek mu. Ayah dan ibu akan pergi kesana, kami ingin ziarah, Manda !"
Amanda masih saja menangis.
" Buat apa kalian kesana? ga ada artinya lagi ."
" Manda, kami ingin minta maaf pada nenek, ibu saya."
" Ga ada artinya, bu. Ketika nenek masih hidup, sehat, kalian ga pernah menanyakan kabarnya, keadaannya. Sekarang kalian seenaknya aja mau minta maaf pada orang yang uda meninggal."
" Ia, saya emang keras kepala. Itu semua karena ayah dan ibu. Kalian lah yang telah membentuk karakter saya jadi seperti ini. Kalau kalian ga suka, kalian bisa pergi dari sini."
" Sombong kamu sekarang ya Manda, kamu pikir mentang - mentang uda nikah sama Lingga, hidup kamu akan enak selamanya ? hahhh???" bentak ibu Sekar.
" Kalian yang mengajarkan saya seperti ini !" teriak Amanda.
Plaaakkkk...sebuah tamparan mendarat di pipi kiri Amanda.
" Itu hadiah buat kamu, karena kamu uda terlalu sombong sama orang tua kamu sendiri."
Amanda mencoba menahan tangisnya.
" Terserah kamu mau dendam sama kami, kami datang kesini baik - baik, tapi kamu bersikap seperti ini, ga ada etika mu sama sekali. Pantesan aja hidup mu susah, karena nyatanya kamu sombong." ucap ibu Sekar.
" Trus mau ibu apa?"
" Saya sangat menyesal telah melahirkan anak seperti kamu. Ayo mas kita pergi dari sini !" titah Sekar pada mantan suaminya itu.
" Ga ada gunanya kita berdebat seperti ini, Manda. Kami kesini, karena kami sadar akan kesalahan kami. Maafkan kami, kalau kami Uda menelantarkan kamu dan ibu. Kami mengakui semua kesalahan kami, makanya kami datang kesini mau minta maaf sama kamu. Kami salah besar, dan itu mungkin ga bisa kamu terima gitu aja, berat memang. Tapi, itulah jalan yang harus kita lalui. Manda, kamu uda nikah, perjalanan rumah tangga ga hanya sampai disini, masih panjang nak. Ayah dan ibu hanya ingin lihat kamu bahagia, kalau pun dulu kami meninggalkan kamu, ijinkan kami untuk bisa membimbing mu, mengajari mu , bahkan menyayangi mu, ya walaupun sekarang kami uda punya keluarga yang baru. Itu artinya, kita masih satu nak, masih keluarga. Kami ga akan meninggalkan kamu, kami akan tetap mencintai dan menyayangimu. Maafkan kami ya nak !"
__ADS_1
Amanda menangis. Ia kembali mengingat neneknya, nenek Surti wanita tua yang telah membesarkannya. Perihnya kehidupan harus mereka lalui bersama. Tanpa ada kasih sayang , bantuan dari orang yang mereka sayangi. Jangankan ayah dan ibu nya, sanak saudara pun tidak pernah perduli atau bahkan tidak pernah menanyakan kabar Amanda dan neneknya. Semua menghilang bagai ditelan bumi.
Amanda tidak bisa melupakan perihnya kehidupan yang ia lalui. Sakitnya mencari nafkah, dikucilkan, dihina bahkan di rendahkan karena tidak pantas untuk hidup.
Melihat ayah dan ibu nya sudah mempunyai keluarga yang lengkap, Amanda merasa cemburu, karena baginya hidupnya tidak adil. Kasih sayang yang diberikan ayah dan ibu nya kepada keluarga barunya, membuat ia sangat iri. 25 tahun, Amanda tidak pernah merasakan kasih sayang dari kedua orang tua. Sebutan ayah dan ibu yang sangat ia rindukan, tidak pernah ia ucapkan.
Amanda benar - benar merasa hidupnya hancur. Ditambah lagi ibu Nania yang belum bisa menerima dia sebagai menantunya.
Perihnya kehidupan, harus ia jalani dan ia terima. Ia tak tahu sudah berapa banyak air mata itu mengalir.
Sekarang ia harus melihat kedua orang tua nya ini hidup bahagia dengan pasangannya masing - masing. Ntalah, apakah Amanda bisa melupakan semua masalah ini atau tidak.
Amanda pun memberitahukan kepada ayah dan ibu nya dimana letak makam neneknya.
" Nak, terimakasih banyak ya, semoga kamu bahagia selalu. Pintu rumah ayah selalu terbuka untuk kamu, kapan aja kamu datang kerumah, silahkan ! ayah akan meluangkan waktu ayah buat kamu. "
Amanda hanya diam. Hanya air matanya yang mengalir tak menentu. Tapi tidak dengan ibunya, wanita itu hanya bisa memalingkan wajahnya, sesekali ia sibuk memainkan ponselnya.
Wajah sinis itu selalu ia tunjukkan kepada anaknya itu.
Amanda tidak menyangka, waktu mempertemukan mereka. Amanda terus menangis.
Drrttt...drrttt...drttt...
Amanda buru - buru langsung mengambil ponselnya. Ia melihat nama si penelpon, ternyata suaminya.
" Massss....!!!"
" Gimana kabar kamu sayang ?"
" Baik mas. Gimana kabar bapak, mas ?"
" Besok kita pulang, papa dirawat di Indonesia aja, sayang !"
" Ia mas, besok hati - hati dijalan ya mas !"
" Ya sayang, mas kangen sama kamu, mmmuaachhh...!"
" Manda juga mas,"
Lingga langsung menutup telponnya. Air matanya berlinang.
__ADS_1