
Pagi - pagi sekali, Lingga dan Amanda sudah pergi meninggalkan villa itu. Seperti kata Lingga, mereka akan pergi ke desa untuk nyekar ke makam nenek Amanda.
Perjalanan kali itu memang cukup melelahkan , tapi karena di sepanjang jalan banyak tempat pemandangan, Lingga tetap semangat.
" Mas, kalau capek, kita istirahat dulu ya !"
" Ga papa sayang, mas masih semangat kok. "
Lingga melihat kalau stok bahan bakarnya sudah mulai menipis. Lingga mengira, di sepanjang jalan pastilah ada tempat pengisian bahan bakar.
Ia terus melajukan mobil itu dengan kecepatan tinggi, berharap ia dapat menemukan tempat pengisian bahan bakar. Dan tiba - tiba saja mobil pun mogok.
" Nooooo.....!" ucap Lingga panik.
" Masss ????"
Lingga malah tersenyum. Ia tak mau membuat Amanda merasa khawatir.
" Habis bahan bakarnya, hahahaha...!" tawa Lingga.
"Jadi piye to, mas ?" tanya Amanda dengan cemas.
" Bus atau kendaraan lain ada ga ke desa kamu ?"
" Ada mas, tapi ?"
" Tapi apa?"
" Koyo ngono to mas, bus ne mas!" ucap Amanda sambil menunjuk salah satu bus yang lewat.
Lingga malah tertawa. Merasa lucu baginya. Bus yang sudah berumur tua dan bisa dibilang sudah tidak boleh beroperasi lagi.
" Kita naik itu ?" tanya Lingga.
" Ia mas, gimana ? ya kalau ndak mau, ya ndak apa - apa, lain kali aja kita ke desanya !"
" Ga sayang, ya uda kita naik bus itu aja !"
Lingga langsung mendorong mobilnya ke tepian. Ia langsung meminta bantuan pada masyarakat setempat agar menitipkan mobilnya dirumah mereka.
Bus kedua pun tiba. Lingga dan Amanda langsung menaikinya. Sudah setengah perjalanan. Bus itu tidak ada sama sekali pendinginnya. Panas, debu jalanan masuk kedalam bus itu.
" Mas, mau minum ?"
" Boleh, "
Amanda memberikan sebotol air mineral. Jalanan ke desa itu sangat rusak parah, jalanan banyak berlobang hingga membuat bus sedikit oleng.
Wajah Lingga sudah tampak kotor. Amanda hanya bisa tertawa melihat calon suaminya itu.
" Jalannya serem juga ya !" ucap Lingga sambil tertawa.
__ADS_1
" Ia, mas. Maaf ya mas, kalau uda buat kamu repot gini ."
" Repot gimana ? ga papa sayang."
" Mas ngantuk ga ?"
Lingga menganggukan kepalanya. Amanda memberikan bahu nya untuk sandaran calon suaminya itu. Ia mengusap - ucap kepala Lingga, hingga Lingga tertidur pulas.
Mereka pun tiba di desa itu. Desa yang sejuk dan asri. Lingga sangat terpesona akan keindahan desa itu.
Gunung yang menjulang tinggi, banyak pepohonan, di sepanjang jalan banyak padi yang telah menguning. Anak - anak kecil sedang menggembalakan kawanan sapi dan domba mereka. Rerumputan hijau di Padang yang membuat suasana pedesaan semakin indah untuk di pandang.
Lingga sangat kagum sekali.
" Sayang, ini desa kamu ?"
" Ia mas, gimana ?"
" Wahhh....bagus banget,"
Lingga mengeluarkan kamera digitalnya. Ia terus membidik pemandangan yang sangat indah itu.
Amanda sangat senang sekali melihat Lingga, ternyata Lingga tidak mengeluh, malah Lingga sangat senang. Lingga seperti anak kecil , ia sangat kegirangan. Maklum, di kota ia tidak bisa menemukan pemandangan yang sebagus di desa itu. Udara desa yang dingin, membuat Lingga tidak memperdulikannya, ia terus saja membidikkan kameranya dan menelusuri desa itu.
Di pinggiran jalan, terdapat anak sungai yang airnya sangat jernih sekali.
" Jadi pengen berenang !" canda Lingga.
" Nanti disana ada tempat untuk renang, mas. tempat nya bagus sekali. Mas pasti suka. "
" Masih mas, 1 km lagi !"
" Apa ? 1 km lagi ? kamu yang bener ?"
" Ia mas, kenapa? mas uda capek ?"
" Sedikit, hehehe..!"
" Kita istirahat aja ya !"
Amanda dan Lingga isitrahat sejenak di bawah pohon ceri yang sangat rindang. Lingga melihat kalau buah ceri itu sangat banyak sekali buahnya. Bukan malah istirahat, Lingga kembali sibuk dengan kamera digitalnya.
" Mas, minum dulu !"
" Ntar sayang, nanggung ni !"
Amanda hanya bisa geleng - geleng kepala melihat Lingga. Mereka terus berjalan. Hingga tiba lah dirumah nek Ijah, tetangga mereka dulu.
Amanda begitu senang melihat nek Ijah. Mereka berdua pun berpelukan. Amanda meluapkan tangisannya. Ia kembali teringat akan neneknya.
Lingga hanya bisa mengelus punggung Amanda, ia juga ikut bersedih, karena Lingga tahu bagaimana perjalanan hidup Amanda.
__ADS_1
" Nek, perkenalkan, ini mas Lingga !"
" Hai nek, saya Lingga, calon suami Amanda. "
" Koe calon suami Manda ? ganteng pisan hehehehe !"
" Hahaha, nek Ijah bisa aja bercanda," ucap Lingga.
" Nek, rumah peninggalan nenek kan sudah ndak ada lagi, boleh kan kita berdua numpang nginap disini nek ?"
" Ya boleh atu nak, nenek senang sekali. Tapi , ya beginilah kondisinya, kamu kasih tahu sama calon mu. Nenek lihat calon mu itu sepertinya orang kaya ya ?"
Amanda hanya tersenyum.
" Saya orang biasa aja kok nek," ucap Lingga sambil memegang kedua tangan nek Ijah.
Nek Ijah, wanita tua yang sama nasibnya seperti nenek Surti, ditinggal oleh anaknya, ia hanya tinggal bersama cucu nya yang sudah beranjak dewasa. Rangga, anak laki - laki yang tangguh yang sekarang duduk di bangku SMA.
Nasib Rangga sangat beda dengan Amanda. Nek Ijah masih sanggup untuk menyekolahkan Rangga. Beda dengan nek Surti, nek Surti sama sekali tidak sanggup menyekolahkan Amanda, hingga Amanda hanya mengenyam pendidikan sampai di bangku SMP saja.
Masyarakat banyak yang tahu kepulangan Amanda dan Lingga ke desa. Banyak yang tak suka melihat kepulangan mereka, dikarenakan iri karena Amanda sekarang semakin cantik dan bernasib baik , termasuk orang tua Wina, mereka sangat tidak suka kepulangan Amanda ke desa.
Orang tua Wina pun memfitnah Amanda, pastilah Amanda memakai guna - guna agar pria seperti Lingga tertarik padanya.
Amanda hanya bisa bersabar mendengarkan ucapan ayah Wina itu. Amanda dan Lingga pun melihat kondisi makam neneknya. Makam yang sudah tidak terurus. Amanda menangis di depan makam itu. Ia meluapkan semua masalah yang dihadapinya.
Amanda juga menceritakan kalau ia sudah bertemu dengan ibu dan ayahnya. Amanda belum saja rela atas kepergian neneknya. Karena hanya neneknya lah yang ia miliki.
Melihat hal itu, Lingga pun ikut bersedih.
" Nek, saya Lingga. Saya adalah calon suami cucu nenek, Amanda. Saya dan Amanda datang kesini, saya mau minta ijin dari nenek, ijinkan saya menikahi cucu nenek, Amanda. Saya janji Nek, di depan makam nenek, saya akan selalu setia padanya, saya akan selalu menjaganya, saya akan selalu mencintainya suka atau pun duka. Nek, saya juga akan berjanji, sebelum saya dan Amanda kembali ke kota, kita akan perbaiki makam nenek, supaya nenek lebih tenang. "
Amanda terus saja menangis. Lingga tidak tega melihat calon istrinya itu bersedih terus. Sesuai janjinya, hari itu juga, Lingga meminta bantuan pada warga agar ikut membantu untuk memperbaiki makam nenek Surti.
Makam yang usang itu, tidak terurus itu, kini sudah tampak bersih dan rapi. Ukiran batu nisan, dari bahan yang sangat mahal pun mereka berikan untuk nenek Surti, agar nenek Surti lebih tenang dan bahagia dengan rumah barunya.
" Mas, makasih banyak ya !"
" Untuk apa terimakasih ? bukannya ini tanggung jawab mas juga ? nek Surti nenek kamu, itu artinya nek Surti itu adalah nenek mas juga. Manda, kamu itu uda banyak mengajarkan arti dewasa buat mas, dan mulai sekarang, mas juga harus bisa memberikan kasih sayang mas untuk kamu. Dan sekarang tinggal ibu dan ayah kamu. Mas mau , sebelum kita menikah, kita minta ijin dan doa restu dari mereka."
Amanda kembali bersedih.
" Kamu ga usah takut, mas akan temani kamu, kita akan berusaha dan kalau mereka tidak mau memberikan restunya, ya sudah. "
" Ya sudah apa mas ?"
" Kita nikah aja, gampang kan ?"
" Masalah ibu Nania ?"
" Itu akan menjadi urusan mas, Manda. Kamu ga usah pikirkan. Yang kamu pikirkan, gimana nanti anak kita, berapa jumlahnya, siapa namanya , gimana ?" ucap Lingga tersenyum.
__ADS_1
" Hahaha, mas Lingga ada - ada aja,"
Lingga pun tertawa lepas, Ia memeluk wanitanya itu sangat erat.