
" Hahaha...mbak ini ada - ada aja, moso minta ajari masak sama saya?"
" Saya serius lho ! oh ya, ga usah panggil mbak dong ! Gimana mbak, mau kan ajari saya masak ? soalnya saya ga tahu masak, mbak !"
" Tapi ?"
" Tapi apa?"
" Cuma masakan kampung lho, mbak !"
" Mbak, kita itu walaupun tinggal di LN, kita tetap suka makanan khas kita sendiri. Malah kita itu sering kangen makan makanan Indonesia. Disana itu makanan Indonesia mahal, mbak. Bagusan masak sendiri."
Amanda dan Lita pun asyik bercerita di dapur. Sementara Lingga dan kedua orang tuanya sibuk membahas masalah pekerjaan dan masa depan Lingga.
" Jadi gimana nak, kenapa sampai sekarang kamu itu belum mau nikah juga?" tanya Papa nya.
" Belum ada jodoh, Pa !"
" Tapi dengar - dengarnya, anak teman Papa, Pak Alvan itu, ada anak gadisnya lho, bener kan Pa?" tanya Mama Lingga.
" Ia, Alvan kan uda stay di Indonesia. Dulu dia di Arab Saudi, Ma. Makanya dia kenal dengan istrinya itu disana."
" Kalian uda pernah ketemu kan?" tanya Papa Lingga pada Lingga anak sulungnya itu.
" Uda, Pa. Nama anaknya Nadine. Nadine sebagai direktur keuangan di perusahaan Pak Alvan. "
" Gimana, kalau besok malam, mereka kita undang makan malam disini, gimana Pa?" tanya Mama Lingga.
" Boleh, Papa juga uda kangen sama mereka. Gimana Lingga ? kamu setujukan ?"
Lingga hanya menganggukkan kepalanya.
" Nak, Mama pengen makan durian, pesen dong !" pinta Mama Lingga.
" Oke...!"
Lingga memesan buah durian, seperti biasa mereka punya tempat favorite untuk memakan durian. Tak berapa lama pesanan pun datang. Papa, Mama dan Lita sedang asyik memakan buah durian. Lingga teringat akan Amanda. Lingga mencoba permisi alasan ada kerjaan. Diam - diam, Lingga menemui Amanda. Lingga melihat kalau Amanda masih di dapur. Ia sudah mulai mengantuk.
Sampai malam tiba, Lingga tidak memberitahukan dimana kamarnya. Amanda hanya bisa rebahan di meja makan dapur.
" Manda !"
Amanda sudah tertidur. Lingga membangunkannya.
" Manda, bangunlah !"
Amanda pun bangun dari tidurnya.
" Bapak ?"
__ADS_1
" Kamu uda ngantuk ya?"
Amanda hanya menganggukkan kepalanya.
" Kamu mau ga durian?"
" Ga, Pak. Terimakasih !"
" Ga boleh nolak, mau gaji kamu dipotong? uda duduk disini, kita makan bareng !"
Lingga mencoba membuka durian itu, tapi sayangnya jari telunjuknya terkena durinya. Amanda langsung kaget melihat darah segar keluar dari ujung jari telunjuk itu. Amanda langsung memegang tangan Lingga dan menghisap darah yang keluar itu. Lingga pun kaget. Ia tak menyangka Amanda mau melakukannya. Tidak ada rasa jijik, ia trus menghisapnya sampai darah itu tidak keluar lagi.
" Uda Pak, jari tangan Bapak ga berdarah lagi !"
" Manda ?"
" Maaf Pak, tapi kata nenek saya, kalau di hisap gitu, darahnya ga akan keluar lagi. Maaf ya, Pak !"
Lingga sangat kagum akan perhatian Amanda. Pria itu semakin luluh melihat wanita desa yang selalu saja dimarahinya itu.
" Makasih banyak ya !"
Amanda hanya menganggukkan kepalanya.
" Kita makan durian yok, ini enak lho..!" ucap Lingga.
Tatapan Lingga begitu sangat dalam, membuat Amanda jadi salah tingkah.
" Maaf, Manda. Hhmm...kamu habisin aja, permisi !" Lingga buru - buru meninggalkan Amanda seorang diri. Setiap dekat Amanda ada perasaan yang lain di hatinya. Jantungnya selalu berdetak sangat cepat sekali, ia selalu gugup di depan wanita cantik itu.
Amanda menghabiskan buah durian itu. Lalu ia membersihkan ruangan dapur. Sudah jam 23.45, sampai malam itu juga Lingga belum ada memberitahukan dimana ia akan tidur.
Amanda masih menunggunya di dapur. Ia tak mau menanyakan langsung padanya. Ia sangat takut, apalagi melihat Mama nya Lingga, sepertinya ia kurang menyukai Amanda.
Akhirnya keluarga Ningrat dapat beristirahat dengan tenang. Lingga melihat kalau lampu dapur masih menyala. Ia kembali sadar kalau disana ada Amanda.
" Manda...hhmmmm, ikut saya, saya akan antarin kamu ke kamar !"
Malam itu Lingga sengaja tidur dibawah, ia menyuruh Amanda tidur dikamar sebelahnya.
" Ini kamar kamu !" ucap Lingga.
" Pak, kamarnya besar tenan to, Pak !"
" Ia, semua kamar dirumah ini besar - besar, biar puas boboknya !"
Amanda sangat kagum sekali bisa tidur di kamar yang besar, kasur yang empuk. Selama hidupnya, ia tidak pernah tidur di kasur yang empuk. Hanya beralaskan tikar saja.
" Hhmm...Manda, saya ? saya tidur di sebelah, kalau ada apa - apa, kamu panggil saya aja !"
__ADS_1
" Inje, Pak !"
Lingga pun pergi. Tapi perasaannya tidak tenang. Lagi - lagi ia memikirkan Amanda. Karena sudah terlalu ngantuk, Amanda sampai lupa menutup pintu kamarnya. Lingga kembali ke kamar itu, ia ingin memastikan apakah Amanda sudah tidur atau belum. Ternyata Amanda sudah tidur sangat lelap sekali, sampai ia lupa menutup pintu kamarnya. Lingga melihat kalau pintu kamar itu belum tertutup rapat.
****
Keluarga Nadine mengetahui kedatangan orang tua Lingga. Nadine sudah tak sabar ingin segera bertemu dengan mereka. Mereka pun mendapatkan undangan makan malam kerumah Lingga.
Mama Lingga menyuruh Amanda untuk memasak makanan yang sangat lezat. Lita, adik Lingga ikut membantunya di dapur. Karena ia juga ingin belajar memasak. Lingga melihat kedekatan mereka. Sepertinya mereka berdua seumuran, bathin Lingga. Lingga sangat senang Lita, adiknya itu punya keinginan untuk belajar masak.
Tak lupa Amanda selalu menghidangkan sambal resep dari neneknya. Sambal itu juga adalah kesukaan Ibu Sekar, Ibu nya Amanda.
Akhirnya keluarga Nadine pun tiba dirumah itu. Keluarga Lingga menyambutnya dengan penuh kehangatan. Mama Lingga sangat terpesona begitu melihat Nadine, Nadine wanita yang sangat cantik sekali.
Makan malam pun segera dimulai. Nadine melihat kalau di sana ada Amanda. Wajah Nadine berubah seketika melihat mantan OG nya itu. Ia tidak menyukai kalau di sana ada Amanda.
" Mas, kenapa harus ada Manda disini?" bisik Nadine pada Lingga.
" Emang kenapa? saya yang minta supaya Manda ada disini selama Papa, Mama dan Lita tinggal dirumah ini. Kamu tahu kan, saya itu ga punya art. Jadi, siapa yang mau beres - beres dirumah?"
" Ia sih, tapi kenapa juga harus cewek kampung itu?"
" Come on Nadine, saya ga punya pilihan, hanya Manda yang saya tahu. "
" Tapikan, mas bisa bilang ke saya, saya yang akan carikan art nya !"
" Maaf, saya ga mau merepotkan kamu. Ya uda, kita makan dulu, nanti kita bahas masalah ini !"
Mereka semua sangat menikmati makan malam itu. Ibu Sekar melihat kalau sambal yang ada di meja makan itu, sepertinya tidak asing baginya. Ia mengambilnya dan mulai memakannya.
" Sambal ini? sambal ini persis sama buatan Ibu ku. Tak seorang pun tahu resep ini, hanya Ibu ku yang tahu. Apakah Ibu ku ada disini?" gumam Ibu Sekar.
Ingin sekali rasanya ia bertanya siapa yang memasak makanan ini semua, tapi enggan rasanya. Lagi - lagi Amanda hanya bisa mengintip mereka. Mereka semua tertawa bersama. Mereka saling bercerita. Apalagi ia melihat kalau Lingga sangat akrab sekali dengan Nadine.
Air matanya pun berlinang. Amanda sangat merindukan neneknya. Ia teringat waktu tinggal di desa, mereka berdua selalu makan bersama, duduk di atas tikar yang sudah mulai rapuh, hanya makanan sederhana, tapi begitu sangat nikmat karena menikmatinya bersama orang yang dicintainya.
Amanda juga memperhatikan Ibu Sekar, wanita itu sangat cantik sama cantiknya seperti Nadine. Perutnya sudah mulai lapar, tapi tiba - tiba saja, Mama Lingga memanggilnya. Amanda langsung berlari.
" Manda, sambalnya habis ya?" tanya Mama Lingga.
" Ia, Bu. Sambalnya habis, maaf Bu !"
Sontak saja Ibu Sekar langsung melihat Amanda. Ia memperhatikannya.
" Kamu yang buat sambal ini ya?" tanya Ibu Sekar.
" Ia, Bu !" jawab Amanda.
Pak Alvan melihat kalau Amanda disana, ia langsung menatap Nadine. Lita melihat sikap keluarga Nadine. Ia tahu kalau mereka tidak menyukai adanya Amanda disana. Lita dapat membaca mimik wajah mereka berdua.
__ADS_1