
Denis masih tidak percaya kalau Amanda sudah bekerja, walaupun hanya sebagai OG. Denis merasa bersalah kalau dulu ia pernah memberikan alamat palsu padanya.
Denis mencoba mencari tahu dimana sebenarnya Amanda bekerja. Hari itu, Denis mengunjungi kantor Lingga, karena mereka telah melakukan kerja sama.Wina melihat suaminya itu telah berpakaian rapi.
" Nanti pulang kerja jam berapa, Mas ?" tanya Wina.
" Belum tahu, emang kenapa?"
" Kita makan diluar yuk ?"
" Tiap hari makan di luar, emang kamu ga bosan?"
" Masak sendiri yang bosan, Mas."
" Win, bukanya saya mau melarang kamu, tapi makan diluar itu ga sehat, apalagi harus tiap hari. "
" Saya ga tahu masak, Mas !"
" Belajar. Kamu bisa belajar, sampai kapan kamu harus begini makan diluar terus ?"
" Mas Denis mulai perhitungan ya?"
" Saya bukan perhitungan. Kamu itu orang kesehatan, masa kamu masalah gini aja ga tahu sih ?"
" Mas Denis payah, hiks..hiks..hiks..!"
" Saya ga perduli kamu mau nangis. Kalau kamu ga bisa di ingatin, terserah kamu."
Denis pun pergi meninggalkan Wina. Denis mulai bosan dan jenuh dengan sikap Wina. Ya, Denis mulai menyesal menikah dengan Wina. Sifat Wina yang semena - mena membuat Denis harus selalu sabar.
Semua ini karena pilihan kedua orang tuanya. Mereka mendesak Denis harus menikah dengan Wina, dengan dalih Wina seorang sarjana kesehatan.
Padahal dulunya Denis berharap bisa menikahi Amanda, tapi sayangnya Denis tidak menerima restu dari kedua orang tuanya.
Sejak pertemuannya dengan Amanda, Denis semakin memikirkan Amanda. Ia tidak perduli lagi dengan Wina, ia pun berniat akan mencari tahu dimana keberadaan Amanda. Denis masih ingat kalau Amanda pernah mengatakan tinggal di Jalan Krakatau, Denis pun mulai mencari dimana Jalan yang di maksudkan itu.
Denis pun tiba dikantor Lingga. Lingga menyambutnya dengan penuh kehangatan. Mereka berdua pun asyik bercerita membahas masalah pekerjaan.
Setelah selesai tanda tangan kontrak kerja, Denis pun berpamitan. Di lobi kantor, Denis bertemu dengan Amanda. Denis melihat kalau Amanda sedang bersih - bersih.
" Itu Amanda..!" Denis pun menghampirinya.
" Manda ?"
Amanda pun menoleh ke arah suara yang memanggilnya.
" Mas Denis ? Mas Denis ngapain disini ?"
" Saya ada keperluan sama pemilik perusahaan ini, Manda !"
" Oh Pak Lingga ?"
" Ia, Pak Lingga, ternyata kamu kerja di kantornya ya? wah hebat kamu Manda. "
__ADS_1
" Hebat apanya, Mas ?saya cuma OG kok, Mas. " ucap Amanda dengan nada sedih.
" Mau OG mau apa pun itu, kamu harus tetap bersyukur, Manda. Diluar sana masih banyak yang ga seberuntung kamu !"
" Ia Mas, makasih ya ! oh ya gimana mbak Wina?"
" Wina baik - baik aja. "
Denis dan Amanda pun asyik bercerita, tanpa diketahui mereka berdua, Lingga melihat mereka. Lingga melihat kalau keduanya sangat akrab sekali. Lingga terus memantau mereka, hingga Denis mengeluarkan sesuatu dari dalam dompetnya, yaitu sebuah kartu nama.
" Manda, ini kartu nama saya, disini ada alamat kantor dan rumah, kalau kamu ada waktu, kamu bisa mampir ya !"
Amanda pun terdiam.
" Kamu ga usah takut, ini ga alamat palsu kok. Saya minta maaf sama kamu, kalau dulu saya kasih alamat yang salah, kamu tahu kan kedua orang tua saya?"
" Ia, Mas...!"
" Ya uda saya pamit ya, jaga kesehatan kamu, baik - baik kerja disini ya !"
" Ia, Mas. "
Denis pun pergi meninggalkan Amanda. Berat rasanya meninggalkan Amanda, ingin rasanya Denis selalu ada disampingnya. Amanda pun melanjutkan pekerjaannya. Air matanya pun membasahi kedua pipinya. Lingga melihat kalau Amanda menangis.
" Dia pacar kamu?" tanya Lingga.
Mendengar ucapan Lingga, Amanda langsung menghapus air matanya. Amanda menggelengkan kepalanya.
" Kenal, Pak !"
" Kenal dimana ?"
" Mas Denis satu kampung dengan saya, Pak. "
" Oh..begitu. Ya uda lanjutkan pekerjaan mu !"
" Pak, hari ini saya ga lembur kan?"
" Kamu mau kemana?"
"Hhmmm..anu Pak, saya ?"
" Mau kerumah Denis? "
" Ga, Pak."
" Kalau ga kemana - mana, ya uda kamu lembur ?"
" Sampai kapan saya lembur, Pak?"
" Sampai semua hutang kamu lunas, ngerti ?"
Lingga pun pergi. Amanda kembali menangis. Setiap hari ia harus lembur, dan ia sama sekali tidak pernah mendapatkan upah dari hasil lemburnya. Amanda mulai lelah dengan semua ini.
__ADS_1
Selesai membersihkan semua ruangan, Amanda istirahat. Perutnya mulai keroncongan. Amanda mengambil bekal makan siangnya. Ia duduk di kursi pantry. Ia mulai makan sesuap demi sesuap. Tak terbayangkan baginya hidup menderita dari kecil hingga beranjak dewasa. Seketika ia pun mengingat akan Ibu kandungnya.
Air matanya terus mengalir membasahi kedua pipinya. Sesekali air mata itu mengenai makanannya. Amanda tidak punya siapa - siapa lagi, ia begitu merindukan Nenek Surti.
Diam - diam Lingga mendatangi ruang pantry. Ia melihat kalau Amanda sedang makan sambil menangis. Lingga hanya diam, ia memperhatikan Amanda yang sedang makan. Dalam benaknya, mungkin berat masalah yang dihadapi Amanda.
" Manda !" panggil Lingga.
Sejenak Amanda menghentikan makanannya. Buru - buru ia memasukkan tempat bekalnya ke kantong plastik dan menyimpannya ke dalam laci meja pantry.
" Bapak? Bapak mau kopi atau teh ?" tawar Amanda.
Lingga hanya menggelengkan kepalanya.
"Kamu uda selesai makan?"
" Hhmm..uda Pak, saya uda selesai makan. "
" Kamu keruangan saya sekarang !"
Amanda mulai takut. Wajahnya berubah menjadi pucat pasih. Kedua tangannya mulai bergetar. Ia sangat takut kalau Pak Lingga akan memecatnya. Lingga pun meninggalkannya.
Amanda mengambil air mineral dari dalam laci pantry. Ia mulai menegukkannya perlahan - lahan. Hatinya semakin cemas. Jantung nya berdetak kencang seakan mau copot.
Amanda pun pergi ke ruangan bos nya itu. Perlahan ia mengetuk pintu ruangan itu. Setelah di persilahkan masuk, Amanda pun memasuki ruangan yang besar dan sejuk itu.
Amanda berdiri di hadapan Lingga. Ia menundukkan kepalanya.
" Manda, kamu tahu apa kesalahan kamu?" tanya Lingga dengan tegasnya.
Amanda mulai gemetaran, kedua kakinya seperti mati rasa, ia tidak dapat bergerak sedikit pun.
" Maaf, Pak. Tapi, saya ga sengaja membuat ember itu ditengah - tengah,Pak !"
" Kamu mau saya pecat ?"
" Jangan Pak, saya mohon, Pak !"
" Kamu tahu Nadine kan?"
" Tahu, Pak."
" Kamu hampir saja mencelakainya, kalau terjadi apa - apa sama Nadine, gimana? "
" Saya minta maaf, Pak !"
" Hanya maaf saja ga cukup, Manda ! kamu itu orangnya ga pernah fokus. Kamu punya masalah? kalau kamu punya masalah, tinggalkan masalah mu di kosan mu, jangan bawa - bawa masalah mu ke tempat kerja. Saya itu baik banget lho sama kamu, kamu itu uda saya tolongin. Hutang kamu gimana? "
" Uda saya bayar kok, Pak."
" Uang yang kamu pakai, akan diganti dengan potongan gaji kamu tiap bulan. Ngerti ?"
Sejenak Amanda terdiam. Ia hanya menganggukkan kepalanya. Amanda tidak tahu ntah sampai kapan hutang nya kepada Lingga akan selesai.
__ADS_1