
Setelah menempuh perjalanan jauh, akhirnya Lingga dan keluarga tiba di Indonesia.
Amanda menangis melihat bapak mertuanya yang terbaring sakit. Ia pun bertekad akan mengurus bapak mertuanya dengan penuh kasih sayang.
Lingga pun sibuk mencari seorang perawat untuk mengurus papa nya itu. Tapi , Amanda meminta kepada suaminya, agar diri nya lah yang terjun langsung untuk mengurus bapak mertuanya itu.
" Nanti kamu capek sayang !" ucap Lingga.
" Ga, mas. Ini uda tanggung jawab saya. Sebisa mungkin saya akan mengurus bapak, semoga bapak cepat sembuh."
Mendengarkan ucapan Amanda seluruh keluarga Lingga pun terdiam. Terlebih Mama Nania. Ia menangis.
" Amanda !" panggil mama Nania.
Mama Nania memegang kedua tangan Amanda.
" Kamu yakin mau mengurus mertua kamu yang sakit ini? kamu ikhlas ?" tanya mama Nania.
" Saya ikhlas, bu !"
" Kamu sanggup ?"
" Saya sanggup, bu. 25 tahun saya merindukan sosok seorang ayah, kasih sayang ayah, tapi saya ga pernah mendapatkannya. Sekarang, Tuhan kasih bapak mertua buat saya, bapak yang sangat baik, perhatian. Kalau bukan karena pertolongan bapak, mungkin saya ndak bisa masuk ke dalam keluarga ini, bu. Bapak lah yang sudah berjasa untuk hubungan saya dan mas Lingga. Bu, ijinkan saya mengurus bapak, bapak bukan hanya sebagai bapak mertua saya aja, melainkan uda seperti bapak kandung saya sendiri. " ucap Amanda, ia pun menangis.
Karena melihat Amanda menangis, semua keluarga pun jadi ikut menangis. Sontak saja, semua terkejut melihat sikap mama Nania. Mama Nania langsung memeluk erat Amanda.
" Maafkan saya selama ini, karena saya uda selalu kasar sama kamu ." ucap mama Nania pada Amanda.
Lingga dan Lita sangat terkejut mendengarkan ucapan mama nya itu. Mereka berdua tidak menyangka kalau mama nya berani mengakui kesalahannya.
Lita pun ikut menangis. Ia langsung memeluk papanya. Pak Chandra, seorang pengusaha yang terkenal dan sangat baik itu, kini harus menghabiskan waktunya di kursi roda. Stroke yang membuatnya harus seperti ini.
Ia harus meninggalkan semua perusahaan yang ada di Amerika, sepenuhnya Lingga lah yang akan mengurusnya.
Lingga tidak perduli harus bolak - balik Indonesia - Amerika untuk memantau perusahaan mereka. Lingga ingin membalas semua kebaikan papa nya selama ini.
" Ma, terimakasih banyak ya, karena uda mau menerima Amanda sebagai mantu mama," ucap Lingga pada mama Nania.
Mama Nania pun menangis.
" Selama ini, kedua mata mama dibutakan oleh kejahatan. Mama bodoh, nak. Mama ga bisa lihat mana yang baik dan yang tidak baik. Ini cobaan dari Tuhan, supaya mama bisa sadar akan kebaikan Amanda."
Mama Nania kembali mendekati Amanda, ia kembali memeluknya.
" Mama minta maaf ya !"
" Saya juga minta maaf ya, bu !"
Keduanya saling berpelukan erat dan menangis. Mama Nania mencium kening Amanda. Melihat hal itu, Lingga sangat senang sekali.
" Pa, papa lihat sendirikan, sekarang mama dan menantu kesayangan papa ini, uda baikan. Papa senang kan ?" ucap Lingga sambil menangis.
__ADS_1
Pak Chandra hanya bisa menangis, ia tak dapat berkata - kata. Mama Nania pun langsung memeluk suaminya itu.
" Kita akan bahagia, pa - ma !" ucap Lingga.
Hari demi hari berlalu, sesuai janjinya, Amanda lah yang terus merawat bapak mertuanya itu. Ia mengurus bapak mertuanya itu dengan penuh kasih sayang. Tak ada kata lelah, letih bahkan mengeluh untuk mengurus pria paruh baya itu. Lingga dan ibu mertuanya, mereka berdualah yang selalu memantau perusahaan mereka. Sesekali mama Nania pergi ke Amerika untuk melihat perkembangan perusahaan mereka.
Malam tiba, Amanda masih saja bergulat di dunia perdapuran. Lingga melihat kalau Amanda masih saja sibuk.
" Sayang, ini uda malem !" ucap Lingga sambil memeluk Amanda dari belakang .
" Ia mas, nanggung dikit lagi. "
" Kamu pasti capek ya ?''
" Capek mas, kalau badan saya itu terus dipeluk gini, ya saya ndak bisa kerja,"
" Hahahaha...maaf deh !"
" Ayo cepat kita ke kamar," pinta Lingga.
Amanda langsung melihat jam dinding yang ada didapur.
" Mas, masih jam 21.00 lho, "
" Besok - besok mas percepat deh jam nya !"
" Kenapa di percepat ? ihh...jahat mas nya !"
" Mas, ini bapak mau minum obat dulu, "
" Ya da, sini mas yang kasih obatnya. "
" Makasih ya, mas !"
" Tapi janji ya, habis ini cepat masuk kamar !"
" Iaaaaa massssss..." Amanda tersenyum manis pada suaminya itu.
Lingga menemui Papanya , karena sudah saatnya papa nya harus minum obat.
" Malam pa !"
Lingga melihat kalau papa nya itu sedang melamun.
" Pa, papa kenapa ? papa minum obat dulu ya !"
Pak Chandra hanya bisa menganggukan kepalanya. Pak Chandra menulis pesan di secarik kertas yang telah di sediakan.
" Amanda mana ?"
Lingga membaca pesan tersebut. Lingga membalas pesan tersebut.
__ADS_1
" Amanda masih di dapur pa, lagi beberes dapur. "
Begitulah terus, papa dan Lingga saling bertulis pesan. Jam sudah menunjukkan pukul 22.00 , saatnya papa nya untuk tidur. Lingga menyelimuti papa nya itu.
" Selamat tidur ya, pa !" Lingga mencium kening papanya itu.
Lingga kembali ke dapur. Ternyata Amanda sudah tidak ada disana. Lingga menuju ke kamar, ia melihat kalau Amanda baru saja selesai mandi.
" Sayangggg.....!" Lingga langsung memeluk Amanda dari belakang. Amanda yang masih mengenakan handuk itu, sontak saja ia kaget.
" Mas, gimana bapak ? Uda mas kasih kan obatnya ?"
" Uda dong. Tadi bapak nyariin kamu, "
" Oh ya ?"
" Hhmmm...!"
" Kenapa mas ?"
" Pengen bercinta sama kamu ."
Amanda tersenyum. Ia pun menganggukan kepalanya. Permainan pun dimulai.
" Sayang, besok mas harus pergi ke Amerika lagi, ada yang harus mas audit. Kamu baik - baik disini ya !"
" Ia mas,"
" Kamu yang sabar ya, sayang ! mas tahu keinginan kamu itu apa, pasti Tuhan akan jawab doa kita ,"
Amanda menganggukan kepalanya.
****
Akhirnya, Nadine bebas dari tahanan. Ia pun kembali dapat menghirup udara segar. Papa, mama dan suaminya telah menjemputnya.
Ibu Sekar menangis. Ia langsung memegang perut yang semakin hari semakin membesar itu. Dan kini sudah bulannya untuk Nadine akan melahirkan.
Begitu juga David, ia langsung memeluk istrinya itu. Ia menangis karena tidak bisa membebaskan istrinya itu.
David mengusap perut yang semakin membesar itu. Dan sudah saatnya , Nadine dibawa ke rumah sakit.
Ternyata David telah mempersiapkan semuanya untuk persalinan istrinya itu. Kamar dan dokter telah tersedia.
Nadine hanya bisa menangis. Pernah terlintas dalam benaknya, kalau David akan meninggalkannya. Nyatanya, David tetap setia sampai ia bebas dari tahanan.
Nadine tak henti - hentinya mengucapkan syukur, untuk kesetiaan suaminya itu. Hampir 9 bulan Nadine di tahanan, banyak support dari sang suami untuk dirinya.
Mereka pun tiba di rumah sakit. Dokter dan team bedah pun langsung siap siaga . Dan hari itu juga, Nadine akan menjalani operasi secarnya.
Tangis bahagia itu pecah ketika suara tangisan seorang bayi mungil hadir di tengah - tengah mereka. Anak laki - laki tangguh, hadir di keluarga David dan Nadine. Betapa bahagianya keluarga Alvan melihat hal itu.
__ADS_1