I Need Your Love

I Need Your Love
Bab 79" Pergi Ke Villa "


__ADS_3

" Pa - Ma, apa perjodohan dengan Jack ga bisa di batalkan?" tanya Tasya dengan berlinang air matanya.


" Kenapa, nak ? apa yang membuat mu harus membatalkan perjodohan ini ?" tanya Mama nya.


" Saya ga bisa menerima Jack, Ma. Saya mencintai Lingga. Ntah kenapa, sepertinya hati ini ga buat Jack. Selama hampir 2 tahun, saya bisa mendalami sifat Lingga. Lingga itu jauh lebih baik, Ma - Pa."


" Cha, ini sudah ketetapan oma dan opa mu, kita ga bisa membatalkannya, nak. Jack itu anak yang baik, sabar. Pelan - pelan pasti kamu akan bisa menerimanya. "


Tasya pun menangis.


****


Seperti janjinya, Pak Alvan dan Ibu Sekar menemui Lingga di kantornya. Pak Alvan harus membuang semua egoisnya dan bisa menahan sikapnya untuk bisa meminta maaf pada Lingga. Walaupun sebenarnya hatinya sakit atas perlakuan Lingga terhadap Nadine ketika mereka dulu pernah bersama.


Pagi itu Lingga baru saja selesai meeting. Tiba - tiba, ia dikejutkan suara yang tak asing lagi baginya.


" Selamat pagi, Lingga !" sapa Pak Alvan.


Lingga sama sekali tidak menjawab sapa'an mantan mertuanya itu.


" Lingga, hiks..hiks..hiks..!" Ibu Sekar menangis.


" Kalian mau apa ?"


" Lingga, saya tahu mungkin ini berat buat kamu, tapi saya mau memohon maaf untuk semua perbuatan yang dilakukan Nadine, putri saya. Lingga, Nadine sekarang lagi hamil, saya memohon sama kamu, maafkanlah Nadine, tolonglah bebaskan putri saya, saya mohon Lingga !"


" Segampang itu kalian minta maaf,"


" Hanya kamu harapan kami, nak. Saya mohon !"


" Biarkanlah Nadine tetap disana, dia harus mempertanggung jawabkan atas perbuatannya. Kalian pernah berpikir ga sih ? Nadine itu wanita smart, mandiri, tapi bisa sebodoh itu mencelakai orang, dan kalian datang kesini hanya untuk meminta maaf dan menarik kasus ini. Kalian tahu, penyebab dari perbuatan Nadine itu apa? saya harus kehilangan calon anak saya, saya kehilangan kedua mata saya, saya harus mengalami kesakitan karena lumpuh pada kedua kaki saya. Sekarang kalian datang dengan santainya hanya bilang minta maaf, maaf dan maaf. Saya ga akan menarik kasus ini, dan saya ga akan memaafkan Nadine, sampai kapan pun. Mengerti kalian ? sekarang pergilah dari sini, hari ini saya sangat sibuk sekali. Jadi, tolong jangan ganggu saya."


" Linggaaaaa...Ibu mohon, nak !"


" Jangan pernah memohon sama saya, saya ga akan pernah kasihan pada manusia seperti kalian. Pergilah, sebelum saya meluapkan amarah saya !"


Air mata Pak Alvan mengalir. Ia sangat menyayangkan atas sikap Lingga terhadap Nadine. Kalau bukan karena Nadine hamil, Pak Alvan juga tidak akan mengemis permohonan maaf kepada Lingga.


Semua ini dilakukan mereka karena anak yang dikandung Nadine.


Akhirnya mereka pun pergi dengan tangan kosong tanpa ada balasan dari Lingga. Tak ada sedikit rasa kemanusiaannya , tak ada rasa kasihnya kepada Nadine. Lingga benar - benar kecewa.


" Arrggghhhhh.....!!!" teriak Lingga. Lingga benar - benar marah, semua karena Nadine, hidupnya jadi hancur berantakan.


Tiba - tiba, Lingga mengingat Amanda. Ia mengingat ketika Amanda hamil anaknya, dulu semua berjalan dengan baik adanya, saling menyayangi, saling mencintai dan sekarang dirinya dengan Amanda sudah ada jarak. Lingga tidak yakin, apakah Amanda mau menerimanya lagi atau tidak. Jalan satu - satunya adalah mengajaknya menikah. Lingga akan segera melamar Amanda. Ia akan memberanikan dirinya untuk mempersunting wanita yang selalu di ingatannya itu.


Sepulang dari kantor, Lingga mampir di resto dimana Amanda bekerja. Waktu masih berpihak padanya, Lingga dapat bertemu Amanda.


" Hai...!"

__ADS_1


" Mas, ngapain kesini ?"


" Ada yang mau saya bicarakan sama kamu,"


" Ya uda bicara aja !"


" Ga enak kalau disini. Saya akan minta ijin sama Pak Angga,"


" Jangan, nanti saya dimarahi!"


" Ga usah takut. " Lingga menghubungi Pak Angga dan ia meminta ijin agar bisa membawa Amanda sebentar saja. Pak Angga pun memberikan ijin padanya.


Lingga membawa Amanda ke suatu tempat.


" Kita mau kemana ?" tanya Amanda.


" Uda ikut aja."


Amanda mulai tidak tenang. Ia takut kalau Lingga mencelakainya. Perjalanan hampir memakan waktu selama 2 jam. Dan akhirnya mereka pun tiba di sebuah villa yang sangat indah. Tempatnya sepi. Di sekeliling villa, terdapat banyak pohon cemara.


" Kita ngapain kesini ?"


" Kamu nanti akan tahu. Buruan turun !"


" Saya ga mau turun, saya takut. "


" Hufff..gimana sih ! buruan turun !"


" Astaga Manda...????? kamu ngomong apa barusan ? siapa juga yang mau mencelakai kamu ? siapa juga yang mau membunuh kamu? emang saya ada tampang pembunuh ya ?"


Amanda menangis.


" Tu kan, sikit - sikit nangis. Dasar cewek."


Lingga turun dari dalam mobil. Ia langsung berjalan menuju villa itu. Hari mulai tampak gelap. Dengan berat hati, Amanda pun ikut turun.


Cklekkkk.....


Pintu villa terbuka. Ruangan itu gelap gulita. Lingga langsung menghidupkan seluruh lampu yang ada di villa itu. Tampaklah villa itu sangat indah sekali. Ruangan yang sangat bersih.


Lingga merebahkan tubuhnya di sebuah sofa yang berukuran sangat besar itu. Ia merasa lelah. Amanda masih saja bingung, mau ngapain mereka di villa itu. Pikirannya mulai negatif thinking.


Krukk..kruk...kruk...perutnya mulai keroncongan. Sepertinya ingin di isi amunisi makanan.


Amanda melihat Lingga sudah tertidur pulas. Amanda sangat ketakutan. Villa yang sangat luas, sepi dan tak ada rumah satu pun.


" Mas, bangun mas...!" Amanda terus membangunkan Lingga, tapi Lingga tidak mau bangun dari tidurnya.


Karena merasa semakin takut, Amanda pun ikut merebahkan tubuhnya di samping Lingga. Ia tidak bisa tidur. Pikirannya campur aduk. Antara takut, bingung, semua bersatu padu.

__ADS_1


Ingin pergi meninggalkan villa itu, tapi sayangnya Amanda tidak tahu jalan pulang. Apalagi menuju villa itu , harus melewati beberapa pohon pinus dan hutan kecil.


Amanda juga kepikiran, apakah di villa itu ada binatang buas ?


Jam sudah menunjukkan pukul 20.00 malam. Lingga pun bangun dari tidurnya. Ia melihat kalau Amanda ada di sampingnya.


" Astaga, Manda ? hufff....!" Lingga menggerakkan seluruh tubuhnya. Sangat lelah rasanya, sepertinya tulang belulangnya remuk satu persatu.


Angin malam semakin menusuk kalbu, karena berada di puncak, udara malam itu sangat dingin sekali. Amanda mulai kedinginan. Lingga mengambil jas yang ia kenakan tadi sore. Ia menyelimuti tubuh wanita itu.


Lingga bergegas mandi. Ia menuju kamar di salah satu villa nya itu. Air dingin itu pun mengguyur seluruh tubuhnya hingga membuat tubuhnya segar kembali.


Amanda pun bangun dari tidurnya. Ia melihat kalau Lingga sudah tidak ada disampingnya. Amanda sangat ketakutan, apalagi pintu villa itu terbuka lebar. Diluar sangat gelap sekali. Tanpa berpikir panjang, Amanda berlari sekencang - kencangnya sambil menyebut nama Lingga.


Amanda masuk ke salah satu kamar, dimana Lingga sedang mandi.


" Mas Linggaaaaaaaaaa....mas dimana ?"


Amanda membuka semua ruangan itu, ia terus mencari Lingga. Langkah Amanda terhenti ketika ia melihat sebuah pintu yang tertutup rapat. Amanda pun membukanya.


" Aaahhhhhhhh.....!"


Amanda membuka pintu kamar mandi itu, dimana Lingga sedang mandi tanpa sehelai benang pun.


Amanda sangat terkejut, ia menutup kedua matanya.


" Kamu kenapa ?" tanya Lingga.


" Tutup dulu !"


" Apanya yang mau ditutup?"


" Itu kamu !"


Lingga tersenyum.


" Bukanya kamu dulu uda pernah melihatnya ?"


Amanda pun terdiam. Lingga menurunkan kedua tangan Amanda. Jantungnya mulai berdetak kencang. Nafasnya tersengal - sengal.


" Manda !"


Tangan Lingga mulai meraba seluruh lehernya. Ia merapikan rambut Amanda yang sedikit berantakan. Hingga membuat Amanda tidak bisa berkutik.


Lingga mendekatkan wajahnya, tapi Amanda mencoba menjauhinya.


" Jangan mas, "


" Kenapa ?"

__ADS_1


Amanda mencoba pergi, tapi Lingga dengan sigap menarik tangan Amanda. Ia mendorong tubuh Amanda hingga mendekap ke dada bidang milik Lingga.


Hanya nafas keduanya yang terdengar. Lingga mulai mendekatkan bibirnya, tapi Amanda masih saja menolaknya.


__ADS_2