
Lita penasaran gimana sekarang reaksi kakaknya setelah Reza mencoba mendekati Amanda. Lita menghubungi Reza, ia ingin tahu gimana tentang kepura - pura'an hasil rencana mereka.
" Mas, gimana tentang Amanda ?"
" Hahaha, Amanda ya ?"
" Malah ketawa, saya serius lho, masih dilanjuti ga?"
" Ya masihlah, tapi akhir - akhir ini, Manda ga masuk kerja. Katanya sih lagi keluar kota. "
" Oh gitu. Trus gimana reaksi mas Lingga ?"
" Sepertinya sih ga suka lihat saya. Tapi, saya mau kasih tahu sama kamu, kalau saya mulai suka sama Amanda. "
" What ???? suka sama mbak Manda ? ga boleh mas Rezaaaaa....!"
" Kenapa ga boleh ?"
" Mbak Manda itu milik mas Lingga, gimana sih ?"
" Lha , tapi kan ceritanya mereka ga sama lagi,"
" Astaga, mas Reza ????pokoknya ga boleh suka sama mbak Manda ."
" Ta, tapi beneran saya itu suka sama Manda, saya ga perduli latar belakang kehidupannya gimana, tapi yang jelas saya tu seperti nya jatuh cinta sama Amanda."
" Jangan dong !"
" Maaf, Ta. Tapi, perasaan saya ga bisa di bohongi,"
Lita langsung menutup telponnya. Lita ga terima kalau Reza menyukai calon kakak iparnya itu. Biar gimana pun, Amanda dan Lingga harus hidup bersama.
****
Amanda dan Lingga akhirnya kembali ke kota. Di sepanjang jalan, Amanda terus termenung, ia takut karena kedua orang tua Lingga akan datang ke Indonesia.
Rencana pernikahan mereka pun tidak lama lagi.
" Kenapa melamun ?" tanya Lingga.
" Mas, saya takut !"
"Takut apa ?"
" Saya takut kalau orang tua mas Lingga ga akan setuju dengan keputusan kita ini, "
" Hhmm...ga usah dipikirin, biar itu menjadi urusan mas. Sekarang, gimana caranya minta restu dari ibu kamu, ibu Sekar. "
" Saya akan coba, mas !"
Lingga menganggukan kepalanya.
****
" Pa, perasaan mama ga tenang, mama kepikiran terus sama Nadine. "
" Sabar, Nadine pasti akan bebas."
" Oh ya pa, mama mau minta tolong sama papa, masalah Amanda jangan sampai Nadine tahu. Mama takut, pa. Mama ga mau, karena masalah ini, mereka jadi saling membenci. "
" Emang kenapa kalau Nadine tahu? biarin aja, malah papa akan beritahu Nadine, siapa itu Amanda. Maaf ma, papa tidak suka kalau mama terus bicara tentang anak itu."
" Maafkan mama, pa. Tapi ?"
" Tapi apa? mama ga bisa melupakan Amanda ? kalau bisa, Amanda suruh pergi dari kota ini, papa ga akan pernah menganggap dia anak mama, jangan pernah berharap, papa akan bisa sayang sama dia. "
Ibu Sekar menangis.
" Ini semua salah mama, pa. Mama uda tega ninggalin dia, hiks..hiks..hiks..hiks...!"
" Ini bukan salah, mama. Ini salah mantan suami mama itu, dia ga bisa membahagiakan mama. Jadi, papa mohon, jangan lagi berhubungan sama si Manda itu, papa ga sudi. "
__ADS_1
****
Mereka pun tiba di kota J. Lingga langsung mengantar Amanda ke kosannya.
" Istirahat lah, " Lingga mencium kening Amanda, lalu ia pun pergi.
Amanda masih tidak yakin, apa yang baru saja ia alami. Apakah Lingga benar - benar ingin menikahinya atau tidak.
Kedua orang tua Lingga pun tiba di Indonesia. Papa dan mama Lingga datang ke Indonesia atas permintaan Lingga.
Lingga tidak ingin memberitahukan rencana baik itu pada kedua orang tuanya. Ia ingin memberitahukannya ketika sudah tiba di Indonesia.
Lingga akan membawa Amanda ke hadapan kedua orang tuanya. Di depan orang tuanya, Lingga akan melamar Amanda.
Lingga tidak mau lagi mempermainkan perasaan Amanda.
Siang itu, Lingga lah yang menjemput kedua orang tuanya dari bandara. Papa dan mamanya sangat bahagia begitu melihat Lingga sudah begitu sehat.
" Nak, ada apa sih kamu menyuruh papa dan mama datang ke Indonesia ? apa ada yang penting ?"
" Nanti kita bicara dirumah aja ya, ma !"
Lingga menambah kecepatan mobilnya. Mama Nania tidak tenang, perasaannya semakin khawatir.
Tidak hanya papa dan mama nya saja yang penasaran, Lita adiknya itu pun sangat penasaran dengan kakaknya itu.
Mereka pun tiba dirumah.
" Pa - ma, istirahat lah dulu, saya akan pergi sebentar. "
" Kamu mau pergi kemana ?" tanya mama Nania.
" Nanti mama akan tahu. Papa dan mama istirahatlah. "
Lingga langsung meninggalkan rumah itu.
" Aneh tu anak, ada apa sih sebenarnya ? lama - lama sakit kepala mama nih !"
Pak Chandra hanya bisa mengelus dada, ia juga bingung akan sikap anaknya itu.
" Mas, kita mau kemana ?"
" Papa dan mama uda datang, jadi kamu harus ikut kerumah sekarang juga."
" Bapak dan Ibu uda datang ? waduhhh....!!"
" Kenapa ?"
" Saya takut, mas !"
" Uda ah...ga usah takut. Ayo buruan pergi."
Lingga membawa Amanda kerumahnya. Wajah Amanda sudah terlihat pucat pasih. Ia sangat ketakutan. Apalagi akan bertemu dengan ibu Nania.
Ia tahu, kalau ibu Nania tidak menyukainya.
Lingga tahu apa yang membuat Amanda cemas tak beraturan itu. Mamanya, ya..karena mama Nania.
" Kamu ga usah takut sama mama, mama itu pasti akan bisa menerima kamu, kamu harus yakin. "
" Saya ga yakin, mas !"
" Ga boleh ngomong gitu, harus optimis dong, masa kamu mau nyerah gitu aja !"
Amanda mencoba kuat, dan berusaha tegar. Tibalah mereka dirumah itu.
Amanda semakin takut untuk turun dari dalam mobil. Lingga hanya bisa tersenyum.
" Mama itu seperti monster ya sampai segitu takutnya kamu ?" ledek Lingga.
" Massss...!"
__ADS_1
" Ga kenapa - napa sayang, turunlah. Kamu harus yakin. Semua ini demi kita, demi kebahagiaan kita. "
Amanda hanya menganggukan kepalanya. Amanda pun turun dari dalam mobil itu. Ia mengikuti langkah Lingga dari belakang.
Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, mereka berdua langsung saja masuk.
Mereka berdua mendapati papa dan mama nya yang sedang duduk melamun di ruang keluarga.
" Pa - ma !"
Papa dan mama Lingga langsung menoleh.
" Lingga - Amanda , kalian ?" ucap papanya.
Amanda langsung memberikan salam kepada kedua orang tua Lingga.
" Selama sore, pak - ibu !" ucap Amanda menundukkan kepalanya.
" Amanda ? kamu Amanda, nak ?" tanya pak Chandra.
Amanda dan Lingga saling berpandangan.
" Ia, pa. Ini Amanda. "
" Amanda , kenapa kamu sekarang kurusan, nak ?"
Amanda hanya bisa diam dan menunduk. Matanya mulai berkaca - kaca.
" Lingga, kenapa kamu bawa Amanda kerumah ini ?" tanya Mama Nania sedikit jutek.
" Ma - pa, duduklah. Saya mau bicara !"
Papa dan mama Lingga duduk , mereka berdua saling berpandangan. Tidak mengerti apa maksud dari semua ini.
" Pa - ma, maafkan saya kalau saya sudah terlalu memaksa papa dan mama harus datang ke sini. "
" To the point aja, Lingga !" ucap papanya.
" Pa - ma, saya akan menikahi Amanda, jadi saya mohon ijinnya, pa - ma, restui kami berdua. Amanda adalah pilihan terakhir saya, pa - ma !"
Mendengarkan ucapan Lingga, papa dan mama nya saling berpandangan. Pak Chandra langsung tersenyum.
" Kamu yakin akan menikahi Amanda, nak ?" tanya papa nya.
" Sangat yakin ,pa !"
" Dan kamu Manda, apakah kamu bersedia menikah dengan anak saya ini ?"
" Ia, pak. Saya bersedia menikah dengan mas Lingga. "
" Apakah kalian masih saling mencintai ?"
" Masih pak, kita berdua masih saling mencintai." jawab Amanda tegas.
" Ia, pa. Kita berdua tidak bisa dipisahkan, karena kita berdua saling mencintai dan menyayangi."
" Mantappp...papa suka dengan keputusan kalian. Papa akan merestui kalian berdua."
Lingga sangat senang sekali, karena papanya memberikan restu padanya. Tapi tidak dengan mamanya. Mama Nania sepertinya kurang setuju, wajahnya sangat kesal sekali.
" Ma, gimana dengan Mama ? apakah mama merestui saya dan Amanda, ma ?"
Mama Nania hanya bisa diam. Matanya mulai berkaca - kaca.
" Jangan tanyakan itu pada mama, mama ga bisa menjawabnya ."
" Kenapa ma ?"
" Kamu tahukan Lingga , dari dulu mama itu ga suka sama dia, kenapa juga kamu tetap mempertahankan dia ???? apa ga ada lagi wanita di dunia ini yang bisa kamu jadikan istri kamu ? kenapa harus dia ? kenapa Linggaaaaaa.....!" teriak Mama Nania.
" Ma, cukup ma..., Mama ga boleh ngomong gitu sama Lingga, jaga dong perasaan Amanda , ma !" ucap pak Chandra dengan tegas.
__ADS_1
" Mama disuru menjaga perasaan Amanda ? emangnya Amanda ini siapa , pa? asal kalian tahu, mama ga akan pernah merestui Lingga menikah dengan Amanda, sampai kapan pun, ga akan pernah !"
Mama Nania pergi masuk kedalam kamar. Belum bisa ia menerima Amanda sebagai calon menantunya. Ntahlah...hanya waktu yang bisa menjawabnya.