
Keesokan paginya, Lingga melihat kalau Nadine masih tertidur di sofa. Tiba - tiba saja, ia melihat kalau ponselnya berdering. Awalnya Lingga mengabaikan suara dering ponsel itu. Lagi - lagi ponselnya berdering. Akhirnya Lingga melihat siapa yang menghubungi Nadine di pagi hari.
Lingga melihat nama tertera di layar ponsel " Honey ". Lingga pun menjawabnya.
" Sayang, kenapa lama sih ngangkat telponnya ? kamu baik - baik aja kan? nanti malam kita party lagi ya sayang !" ucap David dari sebrang sana.
Lingga hanya diam, ia hanya bertanya siapa pria yang di maksudkan honey itu. Sekarang Lingga punya alasan kuat untuk segera menceraikannya. Lingga mematikan ponselnya. Lalu ia mengirim pesan menanyakan dimana tempat party nanti malam. David pun segera memberitahukan tempat dan alamat yang ingin mereka tuju.
Lingga tersenyum. Lingga berkesempatan membaca semua isi pesan dari David. Dan ia melihat ada sebuah video. Lingga memutar video itu, ternyata isi videonya adalah sebuah rekaman Nadine dan David yang sedang bercinta.
Lingga hanya mengelus dada, ketika melihat aksi keduanya. Nadine begitu buasnya. Lingga tak menyangka, kalau istrinya itu seganas itu dalam bercinta. Lingga hanya tertawa. Semua video dan pesan dikirim balik ke ponsel Lingga, supaya semakin kuat untuk bukti agar mereka bisa pisah.
Tidak ada alasan lain, hanya ini lah jalan Lingga untuk segera pisah dari wanita yang tidak dicintainya itu. Setelah di copy paste, Lingga meletakan ponsel itu seperti semula. Lalu ia pergi.
Seperti biasa, sebelum ia pergi ke kantor, ia akan mampir di rumah baru Amanda. Ia akan memastikan calon istrinya itu dalam keadaan baik - baik saja. Sebelum pergi, ia mampir ke toko bunga , Lingga membeli beberapa tangkai bunga mawar berwarna - warni, karena ia tahu Amanda itu sangat menyukai bunga, terlebih bunga mawar. Setelah selesai membeli ia pun pergi kerumah itu.
Lingga tiba dirumah itu, ia buru - buru keluar dari dalam mobilnya. Ia menekan bel rumah itu beberapa kali. Lingga menyembunyikan bunga mawar itu dibelakang tubuhnya.
Tak berapa lama, Amanda membukakan pintu rumah itu.
" Selamat pagi, nona cantik!" sapa Lingga sambil memberikan bunga itu kepada Amanda.
" Pagi juga, mas. Bunga mawar, mas? ini buat saya mas?"
" Ya ialah, ini buat kamu."
" Ohhh...apik tenan mas kembange, suka banget saya mas !"
" Apik? artinya ?" tanya Lingga sambil membuka dasi kerja nya, lalu ia masuk kedalam rumah itu.
" Bagus mas. Mas uda sarapan belum ?"
" Belum sayang. Oh ya gimana tadi malam tidur nya ? nyenyak ga ?"
" Nyenyak mas. " jawab Amanda tersenyum manis.
Lingga memandangi wajah Amanda. Kedua mata Lingga tidak berkedip memandangi wanita yang ada dihadapannya itu. Ia tahu kelemahan wanita yang ada dihadapannya itu. Amanda paling tidak bisa di tatap berlama - lama, karena Amanda itu adalah anak yang pemalu, sangat pemalu. Ntah siapa pun yang menatapnya, Amanda tidak akan nyaman. Ia langsung menundukkan wajahnya, dan wajah cantik itu langsung memerah bak kepiting direbus.
" Jangan gitu dong mas ngeliatnya, saya malu, mas !" ucap Amanda tertunduk malu.
Lingga tersenyum.
__ADS_1
" Lihat mas dong !"
Amanda hanya menggelengkan kepalanya.
" Kita uda lama kenal, dan sebentar lagi mas akan jadi suami kamu, kenapa kamu harus malu ?"
Amanda masih terdiam.
" Gimana nanti kalau kita sudah menikah? trus kamu ikut tugas keluar kota atau ke luar negeri? apa kamu mau seperti ini terus ?"
" Saya malu mas,"
" Kamu cantik, hati kamu juga cantik, jadi kamu ga usah minder gitu. Oh ya, mas mau sarapan, kamu masak apa?"
Lingga pergi menuju dapur. Amanda pun merasa lega, akhirnya Lingga tidak terus - terusan menatap wajahnya.
" Wah..kamu masak nasi goreng seafood ya? hhmm..wangi sekali ,"
" Ia mas. Ya uda, saya buatin sarapannya ya !"
Amanda pun sibuk menghidangkan sarapan untuk Lingga.
****
Nadine masih saja belum sadar betul dari tidurnya. Rasa kantuk masih menghampirinya. Nadine baru sadar, ia tadi malam sedikit mabuk, dan ia juga mengingat apa yang mereka lakukan bersama David.
Tubuhnya terasa sakit, begitu juga kepala dan **** * nya. Ia sangat pusing sekali. Ia mengambil kembali ponselnya, ia melihat sudah banyak pesan masuk dari David.
Nadine membaca semua isi pesan itu. Lagi - lagi David mengajak kencan. Nadine pun langsung mengiyakan ajakan David.
Dunia serasa milik mereka berdua. Baru saja tadi malam David mengajaknya kencan, dan sampai harus membuat Nadine tidak perawan lagi. David begitu membuatnya terbuai, ia sangat puas akan sentuhan - sentuhan David. Nadine tidak akan melupakan begitu saja kencan pertama mereka tadi malam. Nadine sangat menyukainya. Ia tidak perduli, keperawanannya harus David yang menikmatinya terlebih dahulu.
Nadine segera mandi, ia harus pergi ke kantor. Ia tak mau kalau Papa nya marah padanya, karena keterlambatannya kerja. Ia melihat ke kamar Lingga, Lingga juga sudah tidak ada.
Selesai mandi, Nadine mengemasi semua barang miliknya. Ia mengambil koper dan memasukkan semua pakaiannya kedalam koper itu. Lalu ia pun pergi.
****
Selesai sarapan, Lingga langsung pergi ke kantor. Begitu Lingga pergi, Amanda juga pergi ke pasar. Ia harus membeli semua keperluan dapur.
Jarak dari rumah kepasar tidak begitu jauh. Amanda berjalan kaki karena ia ingin sekalian berolah raga. Keinginannya, kelak ia melahirkan secara normal. Jadi dokter menyarankan agar sering berjalan supaya memudahkan persalinan nanti.
__ADS_1
Tibalah Amanda di lampu merah, ia hendak menyebrang jalan. Dari dalam mobil, Ibu Sekar melihat anaknya itu. sepeti tak percaya, apakah itu Amanda atau bukan ? ibu Sekar melihat kalau perut Amanda membesar, seperti orang hamil .
Ibu Sekar meminta kepada sang supir, agar ia turun di lampu merah. Supir pribadinya itu pun nurut apa kata majikannya itu. Ibu Sekar turun dari mobil dan ia berlari mengejar anak nya itu.
" Amandaaaaa...!"
Ibu Sekar terus mengejarnya, ia terus memanggil anaknya itu.
" Amandaaaaaa......!"
Mendengar namanya dipanggil seseorang, Amanda pun menoleh kearah suara.
" Ibu ?" Amanda sangat ketakutan, ia buru - buru pergi. Ia takut kalau Ibu nya melihat perutnya yang semakin membesar.
" Amandaaaaa....tunggu Ibu !!!!"
Ibu Sekar semakin menambah kecepatan larinya, sayangnya Amanda tidak bisa berlari dengan cepat, karena kondisi kehamilannya.
Amanda merasa lelah. Nafasnya tersengal - sengal. Amanda pun mengalami kram pada perutnya.
" Manda ?" Ibu Sekar memegang perut anaknya itu.
Amanda hanya diam.
" Kamu uda nikah? sama siapa? kenapa kamu ga kabari Ibu? sekarang kamu uda hamil?"
Lagi - lagi Amanda diam.
" Manda, siapa suami kamu? kenapa kamu begitu cepat menikah ? trus suami kamu dimana ? jawab Manda !!"
" Suami Manda kerja, Bu !"
" Kerja ? jadi sekarang kamu tinggal dimana ? trus kenapa kamu tadi menghindar dari Ibu? kenapa?"
" Ibu itu kan ga sayang sama Manda, makanya Manda menghindar."
" Menghindar bukan malah menyelesaikan masalah, "
" Uda ya Bu, Manda mau pergi. "
" kamu mau kemana? "
__ADS_1
" Manda mau pulang Bu, Manda capek , Manda mau istirahat. "
Amanda pun langsung pergi meninggalkan Ibunya. Ibu Sekar tidak tinggal diam, dia penasaran bagaimana kehidupan Amanda. Diam - diam ibu Sekar mengikuti Amanda dari belakang. Ia ingin tahu dimana sekarang anak sulungnya itu tinggal.