I Need Your Love

I Need Your Love
Bab 43" Amanda Positif Hamil "


__ADS_3

Sudah hampir seminggu kabar dari Amanda tidak ada sama sekali. Lingga tidak tahu lagi harus mencarinya kemana. Ia sangat kesulitan untuk berkomunikasi pada Amanda, sebab ponsel pemberiannya pun dikembalikannya.


Lingga pun tidak punya pilihan, kepura - pura'an Mamanya semakin menjadi - jadi. Dengan berat hati, Lingga pun menuruti ke mauan Mamanya , menikah dengan Nadine.


Semua telah dipersiapkan. Akad nikah pun dilaksanakan. Lingga sama sekali tidak memberitahukan masalah pernikahannya pada Rani. Ia menutup rapat - rapat masalah ini.


Hari yang dinantikan pun tiba, Lingga dan Nadine telah duduk di depan penghulu. Lingga masih berharap Tuhan memberikan mujizat padanya. Ia ingin Amanda kembali padanya.


Ternyata penantian Lingga adalah sia - sia. Lingga merasa sangat kecewa. Papa nya melihat kalau Lingga sedang tidak baik - baik saja. Lingga merasa sedih, begitu juga Papa nya, beliau lah paling sedih harus merelakan anaknya menikahi gadis yang tidak dicintai sama sekali. Papanya sangat tahu betul bagaimana perjuangan Lingga untuk mendapatkan Amanda.


Semua ini sudah jalan dari Tuhan. Pak Chandra hanya berharap, kelak mereka berdua dapat dipertemukan dengan waktu yang baik.


Akhirnya Lingga dan Nadine sah menjadi suami istri. Nadine dan keluarganya sangat bahagia sekali , akhirnya anak semata wayangnya itu, Nadine menikah dengan laki - laki mapan, smart dan benar - benar menantu idaman keluarga mereka.


Tidak hanya keluarga Nadine yang sangat bahagia, Mama Nania juga turut merasakan bahagia. Tapi tidak dengan suaminya, suaminya begitu sangat keberatan, karena Papanya Lingga lebih memilih Amanda dibanding Nadine.


Ucapan selamat pun diucapkan silih berganti oleh para tamu undangan. Lingga masih saja merasa khawatir dan bertanya - tanya kemana Amanda pergi.


****


Diam - diam Amanda pulang ke desa. Ia sangat merindukan neneknya. Ia melihat kalau makam neneknya sudah tidak terurus, diatas makam itu ia melihat banyak tumpukan sampah, ia pun menangis melihat keadaan rumah neneknya yang sudah rata dengan tanah. Pak Bagas menghancurkan rumah tua itu.


Amanda terus menangis. Ia membersihkan makam itu. Amanda menemui Pak Bagas, karena semua hutangnya telah lunas, Amanda ingin mengambil tanah milik neneknya itu.


Tapi sayangnya, Pak Bagas tidak mau memberikan tanah itu, alasannya hutang Amanda masih ada. Mendengar itu Amanda merasa sangat terpukul, ia sangat kecewa pada Pak Bagas. Dengan berat hati, ia pun mengiklaskan tanah itu. Amanda sama sekali tidak mempunyai harta yang bisa untuk menghidupi kebutuhannya. Dengan terpaksa, ia pun harus kembali ke kota, ia harus mencari pekerjaan agar dapat menyambung hidupnya.


Amanda mencari tempat tinggal yang baru, ia tidak mau kembali ke kosan itu.


Sudah hampir dua minggu, Amanda tidak datang bulan. Ia merasakan tubuhnya semakin lemas. Rasa khawatir pun menyelubungi hatinya.


Pola makan nya juga semakin menurun, mencium aroma masakan pun Amanda tidak bisa. Perutnya semakin mual. Amanda mulai takut, ia takut kalau ia positif hamil.


Dengan memberanikan diri, ia pergi ke apotik untuk membeli testpack.


Berjam - jam ia menunggu hasil testnya. Perlahan - lahan ia memberanikan dirinya melihat hasilnya. Dan ternyata garis dua, Amanda positif hamil.


Amanda menangis histeris. Ia takut bagaimana dengan kehamilannya ini. Amanda tidak tahu harus bagaimana, apakah ia memberitahukan pada Lingga atau tidak.


Amanda mencoba tenang menghadapi masalah ini. Tidak mungkin bayi ini lahir tanpa adanya seorang Ayah. Mau tidak mau, Amanda pun harus memberitahukannya pada Lingga.


Apapun yang terjadi, Amanda sudah siap dan ikhlas, jika ia harus menerima makian dari orang tua Lingga.


Hari itu juga Amanda memberanikan dirinya pergi kerumah Lingga dengan membawa hasil testpacknya.


Amanda pun tiba dirumah itu, ia melihat banyak papan bunga bertengger dipinggir jalan. Amanda membaca satu persatu papan bunga itu. Bagai disambar petir di siang bolong, Amanda harus menerima kenyataan , kalau Lingga dan Nadine telah menikah.

__ADS_1


Amanda melihat rumah mewah nan besar itu, masih terpampang bunga - bunga yang indah. Ia mendekati rumah itu. Amanda pun kembali menangis. Ternyata Lingga benar - benar menikah dengan Nadine. Penyesalan pun terjadi, tapi apa boleh buat , semua ini demi kesembuhan Mama Nania.


Dari kejauhan, Papanya Lingga melihat kalau Amanda ada diluar. Pak Chandra langsung menghampirinya.


" Amandaaaa.....!!!"


Amanda pun menoleh. Amanda menghapus air matanya.


" Manda ?"


" Maaf Pak, kalau saya ?"


" Manda, kamu mau ketemu sama Lingga ?"


Amanda menganggukan kepalanya.


" Manda, Lingga ?"


" Ia Pak, saya tahu. Selamat untuk mas Lingga ya Pak !"


" Kamu kemana aja selama ini? Lingga terus mencari mu, baiklah kalau kamu ga mau cerita. Kamu sekarang tinggal dimana? siapa tahu Lingga punya waktu untuk ketemu sama kamu ?"


" Ga usah Pak, saya ga mau menganggu mas Lingga,"


" Ga Manda, biar jangan ada rasa sakit hati diantara kalian!"


" Kamu dimana tinggal, nak ?"


Amanda pun memberitahukan alamat tempat tinggalnya.


" Nanti Bapak beritahu sama Lingga ya !"


Ternyata Mama Nania melihat mereka. Mama Nania pun geram. Ia langsung keluar menghampiri suaminya dan Amanda.


" Papa ? Manda ? kamu mau apa, Manda ?"


" Ma, ada barang milik Amanda yang tertinggal, Manda mau ngambil barang itu !"


" Alah..alasan aja ! ehh..Manda, asal kamu tahu ya, Lingga dan Nadine itu uda menikah, jadi kamu ga usah menganggu mereka lagi, ngerti kamu ?"


" Ma, jangan kasar gitu, dong !"


" Ga papa dong, Pa. Biar anak ini tahu, dia kira Lingga itu beneran suka sama dia ,"


" Ya uda jangan ribut terus, Amanda datang kesini mau mengambil barangnya, tapi Papa bilang, tunggu Lingga aja, "

__ADS_1


" Tau ahh...! yang penting dia jangan pernah datang lagi kerumah ini, "


" Ga, Bu. Manda ga akan datang kerumah ini. Kalau begitu, Manda pamit ya Pak - Bu !"


Amanda menahan tangisnya. Amanda tidak punya nyali memberitahukan tentang kehamilannya pada orang tua Lingga.


****


Ternyata pernikahan Lingga dengan Nadine masuk ke surat kabar. Rani pun mengetahuinya kalau mereka telah menikah. Betapa hancur hati sahabatnya itu, selama ini yang ia tahu Lingga dan Amanda saling mencintai.


Ingin sekali Rani bertemu dengan Amanda. Tapi ia tidak tahu dimana sekarang Amanda tinggal.


Rani tidak menyangka, ternyata Lingga segampang itu meninggalkan Amanda. Begitu cepat Lingga melupakan sahabatnya itu.


****


Malam itu, keluarga Lingga makan malam bersama. Mama Nania sudah tampak sehat.


" Lingga dan Nadine, kalian punya rencana kemana untuk honeymoon kalian ?" tanya Mama Nania.


Lingga terdiam. Ia melirik Papanya.


" Ma, kita berdua belum ada rencana tuk pergi honeymoon, Ma !"


" Lho kenapa ?"


" Mas Lingga sepertinya sibuk banget, Ma !"


" Lingga, kamu gimana sih ? lebih penting kerjaan ya dari pada istri sendiri ?"


Lagi - lagi Lingga tampak diam seribu bahasa.


" Mama ga mau tahu, pokoknya kalian itu harus cepat pergi honeymoon, biar Mama dapat cucu !"


" Ma, kenapa juga Mama yang ngotot sih ?" tanya Pak Chandra.


" Ya ia dong, Pa. Kita itu uda tua, uda seharusnya kita punya cucu, lihat tu teman - teman bisnis Papa, semua uda pada punya cucu, "


" Terserah deh,"


" Mama yang sabar ya, kita pasti akan kasih cucu buat Mama !" ucap Nadine meyakinkan.


" Nadine, Mama itu sangat beruntung punya mantu seperti kamu, uda cantik, baik dan pengertian. Lihat tu Lingga, istri begini itu susah lho ngedapatinnya !"


" Lingga, selesai makan, Papa mau bicara sama kamu!"

__ADS_1


Lingga hanya menganggukkan kepalanya.


Sesuai janjinya, selesai makan malam, Lingga pun menemui Papanya.


__ADS_2