
Lagi - lagi Lingga diam. Mau marah, tapi mulutnya tak dapat berkata - kata. Lingga mengambil sapu tangan dari saku celananya, dan memberikannya pada Amanda.
" Hapus air mata kamu !" sambil memberikan sapu tangan itu.
Tapi sayangnya, Amanda membuang sapu tangan pemberian Lingga. Ia melemparkannya ke tong sampah yang ada disampingnya.
Amanda pun pergi meninggalkan Lingga. Lingga melihat sikap Amanda ketika membuang sapu tangan miliknya.
Kedua matanya pun berkaca - kaca. Ini semua karena kesalahannya, tapi Lingga masih saja keras kepala, ia belum mau meminta maaf pada wanita itu. Sifat egoisnya kembali seperti yang dulu, ntah mengapa Lingga kembali merubah sifat dirinya.
Ia pun pulang dengan hati yang kecewa. Bukan Lingga namanya, ia akan mencari jalan gimana caranya wanita itu bisa luluh lagi padanya.
Tiba - tiba saja, Tasya menghubunginya. Lingga tidak mau menjawab sama sekali , ia mengabaikan ponsel tersebut.
Lingga menarik nafasnya dalam - dalam. Lingga mengeluarkan kartu tanda pengenal dirinya. Ia melihat tahun kelahirannya. Tidak muda lagi untuk usia seperti dirinya. Seharusnya ia sudah menikah dan memiliki anak.
Kembali Lingga menatap kosan itu. Lalu ia pun pergi.
Amanda mendengar kalau mobil milik Lingga sudah pergi, ia pun keluar dari dalam kamarnya. Amanda menangis.
" Apa sih mau mu, mas ? kenapa kamu bisa setega ini sama aku, hiks..hiks..hiks..hiks...!
Amanda mengambil sapu tangan itu, lalu membawanya masuk. Di dalam kamar kosannya, Amanda membersihkan sapu tangan itu, ia mencucinya sampai sapu tangan itu bersih.
" Ya Tuhan, maafkan hamba karena hamba sudah menyakiti perasaan mas Lingga, hiks..hiks..hiks....!"
****
Akhirnya Nadine di tetapkan sebagai tersangka. Ibu Sekar tidak terima dengan semua ini, apalagi kondisi Nadine yang sedang hamil.
Lita pun merasa kasihan. Tapi ia tetap menjalankan hukum yang berlaku. Lita hanya mengatakan kuncinya hanya Lingga dan Amanda. Jika mereka mau memaafkan, kasus ini tidak akan terus berlanjut.
Ibu Sekar dan Pak Alvan pun menemui Lingga. Mereka menceritakan bagaimana keadaan Nadine sekarang. Dan ternyata Lingga tidak bisa begitu saja memaafkan mereka. Apalagi mengingat Lingga harus kehilangan mata dan kelumpuhan pada kakinya.
Ibu Sekar pun sampai bersujud memohon ampun kepada Lingga, agar Lingga dapat menarik kasus tersebut. Hal itu pun diketahui oleh kedua orang tua Lingga. Pak Chandra dan Ibu Nania, sangat kecewa sekali kepada keluarga Alvan. Mereka tidak mau memaafkan Nadine. Mereka mau kasus tersebut tetap dilanjutkan.
Ibu Sekar pun mencari Amanda. Ia mencoba meminta bantuan pada anaknya itu. Dan akhirnya ia dapat menemui Amanda.
Saat itu Amanda sedang bekerja. Ibu Sekar langsung meminta ijin pada pemilik restoran itu agar di pertemukan dengan Amanda.
Amanda menemui Ibu Sekar. Ia pun terkejut ada apa gerangan Ibu nya datang untuk menemuinya.
" Mandaaaaa....!" Ibu Sekar langsung menangis. Ia mencoba memeluk Amanda, tapi Amanda menolaknya.
" Maaf, Bu. Baju saya kotor. Ibu kenapa nangis ?"
" Manda, Ibu mau minta bantuan kamu,"
__ADS_1
" Bantuan apa, Bu ?"
" Manda, Nadine sekarang ada di kantor polisi, dia di tahan. Kamu tahu, Nadine lagi hamil, hamil anak David. Ibu minta sama kamu, tarik kasus ini, Ibu mohon !"
Amanda pun diam.
" Jadi benar Nadine yang melakukan ini semua, Bu ?"
Ibu Sekar menganggukan kepalanya.
" Nadine pantas ada disana, Bu !"
" Kamu ngomong apa sih ?"
" Bu, biarkan Nadine ada disana, Nadine layak tinggal disana. Itu semua karena kejahatannya. Ibu tahu, karena Nadine, mas Lingga harus kehilangan kedua matanya, kedua kakinya lumpuh, dan saya Bu ? saya harus kehilangan anak yang saya kandung. Jadi, menurut saya Bu, biarkan Nadine ada disana, agar dia tahu, upah dari perbuatannya itu apa, dan secepatnya dia bertobat , Bu. "
" Kamu sombong banget sih jadi orang !"
" Sombong dari mana Bu ? apa yang harus saya sombongkan ? seharusnya Ibu nanya itu ke Nadine bukan ke saya."
" Pantesan aja kamu ga nikah - nikah, hidup mu susah ternyata karena ke angkuhan mu."
" Angkuh ? sekarang saya nanya sama Ibu, kalau Ibu di posisi saya pada waktu itu , bagaimana perasaan Ibu ?"
" Ya uda kamu ga usah buat perumpamaan, kalau kamu ga mau bantu Nadine, terserah. Tapi ingat, hidup mu ga akan bahagia,"
" Ibu ngancam saya ? Ibu nyumpahin saya ? seperti ini kah Ibu yang melahirkan saya?"
Amanda hanya diam. Ia mencoba menahan air matanya.
" Ibu nyesal melahirkan kamu, kamu anak durhaka, anak ga tahu diri. " ucap Ibu Sekar dan ia pun langsung pergi.
Mendengar semua makian dari Ibu nya, Amanda pun menangis.
****
Lita telah menyelesaikan kasus yang menimpa kakaknya itu. Dan sudah saatnya ia kembali lagi ke Amerika. Berat rasanya harus meninggalkan kakaknya, apalagi Amanda. Amanda banyak mengajarkan arti kehidupan dan kesederhanaan kepadanya.
Sebelum pulang, Lita ingin mampir di resto dimana Amanda bekerja. Ia mengajak kakaknya untuk makan disana.
Lingga belum saja mengetahui kalau Amanda bekerja disana. Karena permintaan adiknya, akhirnya Lingga pun ikut. Lita masih berharap, Amanda dan Lingga dapat kembali bersama. Karena Amanda adalah wanita yang paling baik untuk kakaknya. Lita yakin, kedua nya masih mencintai.
Dan malam itu, Lita tidak ada sama sekali memberitahukan kepada Amanda kalau mereka akan datang ke resto itu.
Mereka berdua pun tiba di resto itu. Lita mencari - cari keberadaan Amanda. Akhirnya Lita meminta pada pelayan yang lain untuk memanggil Amanda.
Pesan tersebut pun di sampaikan. Amanda heran, siapa yang mencarinya. Ia mulai khawatir, apakah Ibu nya yang mencari dia ?
__ADS_1
Amanda pun menemui orang yang dimaksud. Betapa kagetnya Amanda, ketika ia melihat Lita dan Lingga ada disana.
" Mbak Mandaaaaa....!" panggil Lita.
Jantungnya mulai berdetak cepat, mengapa Lita tahu kalau ia bekerja di resto itu ? Amanda pun menemui mereka.
" Lita ???"
Lingga melihat kalau Amanda sudah berada di hadapan mereka. Lingga melihat pakaian yang di pakai Amanda.
" Manda ? kamu kerja disini ?" tanya Lingga merasa heran.
Amanda hanya menundukkan kepalanya.
" Mbak, maaf ya kalau kita berdua uda menganggu, mbak !" ucap Lita.
" Ga..ga..ga papa kok Lita, hhmm....saya senang kalian ada disini !"
" Makasih ya mbak, oh ya, silahkan duduk mbak !"
Amanda melihat Lingga. Lingga terus saja melihat ke arah Amanda. Mereka berdua pun terus saling berpandangan.
" Mbak - mas, uda dong pandang - pandangnya, sekarang duduk gih...!"
Amanda dan Lingga langsung duduk. Mereka berdua duduk bersampingan.
" Oh ya, kalian mau pesan apa?" tanya Amanda.
" Ga usah repot - repot." ucap Lingga sambil memonyongkan bibirnya. Amanda melihat sikap yang dilakukan Lingga.
" Mbak, karena kasus yang menimpa mbak dan mas Lingga uda selesai, besok saya mau kembali ke Amerika."
" Kok cepat sekali, Lita ?"
" Ia, disana kerjaan saya tu uda numpuk, banyak yang mau dikerjakan, mbak. Mbak, saya mau minta sama mbak, saya titip mas Lingga, boleh kan ?"
Amanda langsung menoleh ke arah Lingga.
" Mbak, sebenarnya saya ga pengen ngomong seperti ini, tapi bolehkan saya titip mas Lingga ?"
" Tapi ?"
" Kamu apa - apa'an sih Lita ? emangnya mas itu anak kecil , yang harus di titipin segala ?"
" Ya ga gitu juga, mas. Tapi kan ? kalau boleh jujur, saya pengen sekali melihat mbak sama mas Lingga itu bisa hidup bersama, bisa bahagia bersama. Buat mas Lingga, hilangkan ego mu, mas. Minta maaflah sama mbak Amanda !"
" Kamu apa - apa'an sih ? kalau seperti ini , mas pulang sekarang. Katanya tadi mau makan, kok jadi ngomongin yang aneh - aneh,"
__ADS_1
" Mas, bisa dewasa dikit napa, sih ? Lita lagi ngomong, mbok yang di dengerin, " ucap Amanda.
Lingga pun diam. Ia merasa malu pada Amanda.