
Lingga mencoba mengingat semua kejadian itu. Ia pun mengingat Amanda. Lingga mencoba memanggil nama Amanda. Perawat yang menjaga Lingga, langsung menghubungi keluarganya.
Mendengar Lingga terus menyebut nama Amanda, Mama Nania pun sangat kesal.
" Nak, ini Mama, sayang !"
" Tinggalkan saya sendiri, saya mau Amanda, Ma. Bukan Mama."
" Nak, Amanda uda pulang, karena dia uda sehat."
" Uda sehat? trus anak saya, Ma ? anak saya uda lahir, Ma ? laki - laki atau perempuan? saya mau pulang, saya mau lihat anak saya, Ma !"
Mama Nania diam, ia tidak bisa menjawab pertanyaan Lingga.
" Ma, Mama masih disanakan? Mama kenapa diam? jawab saya, Ma !"
" Nak....!" Mama Nania menangis, ia pun pergi.
Diam - diam, Amanda datang ke kamar itu. Ia hanya bisa mengintip Lingga dari kaca jendela ruangan itu. Amanda menemui perawat yang bertugas malam itu, ia menanyakan kapan Lingga akan dipindahkan keruang rawat inap. Perawat itu pun mengatakan jika keadaan Lingga sudah pulih betul, Lingga akan segera dipindahkan.
Mendengar penjelasan perawat itu, Amanda sangat senang sekali. Karena kalau Lingga sudah dipindahkan ke ruang rawat inap, Amanda bisa leluasa melihat keadaan Lingga.
Malam semakin larut. Mama Nania pun meninggalkan Lingga seorang diri. Amanda tidak bisa tidur malam itu. Diam - diam tanpa sepengetahuan perawat, Amanda masuk ke ruangan Lingga. Amanda duduk di sampingnya. Amanda menangis.
Lingga terbangun dari tidurnya. Ia mendengar kalau ada yang menangis di sampingnya.
" Kamu siapa ?" tanya Lingga.
" Mas, ini saya Amanda,"
" Amanda?sayang, kamu gimana, kamu sehatkan ? gimana anak kita ? dimana dia sekarang ?"
Amanda menangis.
" Sayang, kamu ada dimana ?"
Amanda langsung memegang tangannya.
__ADS_1
" Mas, saya ada disini. "
" Sayang , anak kita gimana ?"
Amanda kembali menangis.
" Kamu kenapa menangis ? kata Mama kamu uda sehat, trus anak kita gimana ? kenapa kamu ga bawa dia kemari?"
" Ga mas, saat ini dia ga bisa bersama kita, Tuhan lebih sayang sama dia,"
" Apa ? kenapa kamu ga bisa jaga dia ? kenapa Manda ????"
Amanda pun semakin menangis.
" Mas, maafkan saya, mas...hiks..hiks..hiks..!"
Amanda menciumi kedua tangan Lingga. Lingga pun menghempaskan tangannya.
" Pergi kamu sekarang, saya ga mau lihat kamu lagi !"
" Kamu ga bisa menjaga dia, "
" Mas, tapi ini kan karena murni kecelakaan, bukan karena saya sengaja,"
" Diammm..., sekarang kamu pergi keluar. Kalian semua uda buat saya kecewa, kalian jahat."
" Mas Linggaaa....insaf mas, ini karena rem mobil mas rusak,"
Lingga pun menangis.
" Kenapa ini harus terjadi ? apa karena ini hukuman dari Tuhan karena uda menceraikan Nadine ?"
" Ga, mas. Ini bukan hukuman dari Tuhan. Tuhan kasih cobaan karena kita kuat, semua ini untuk menguji iman kita. Tuhan sayang sama kita, mas."
" Kalau Tuhan sayang, kenapa saya bisa seperti ini ? kenapa ????"
" Mas, yakinlah dibalik ini semua, ada rencana indah yang Tuhan berikan untuk kita. Jangan pernah putus asa, semua akan baik - baik aja, mas. "
__ADS_1
" Kamu bisa ngomong seperti itu, karena bukan kamu yang ngalamin. Coba kalau kamu di posisi saya, pasti kamu ga akan terima dengan semua ini !"
" Mas, dari kecil saya hidup susah, saya pernah ngalamin sampai di titik terendah, saya dan nenek saya pernah sama sekali ga punya uang untuk makan, menahan lapar, menahan hinaan dari orang - orang, tapi saya selalu kuat mas, sabar. Dibalik semua masalah, ada jalan keluar. Kalau sekarang mas mengalami seperti ini, ga bisa melihat, ga bisa berjalan, mas harus yakin, ada mujizat dari Tuhan untuk mas Lingga. Tuhan mau merubah hidup mas jadi lebih baik lagi. Mas, saya akan ada selalu untuk mas. Saya akan merawat mas sampai masa tua mas Lingga, itu pun jika mas menginginkan saya, saya bersedia mas, hiks..hiks..hiks..hiks...!"
" Manda ?"
" Ia mas, saya ga punya siapa - siapa lagi. Ibu, Ibu lebih sayang sama keluarganya, sama Nadine. Ibu pernah bilang, Ibu malu punya anak seperti saya, Ibu ga pernah mengharapkan kelahiran saya. Jadi, ijinkan saya untuk bisa merawat mas Lingga. Hanya mas Lingga yang saya punya ! "
" Kamu yakin mau merawat saya?"
" Ia mas, saya yakin. Selagi saya sehat, saya mau merawat mas Lingga sampai mas sembuh,"
" Kamu serius ? kamu ga malu merawat orang seperti saya ?"
" Ga mas, ngapain saya malu. Mas Lingga pernah mengatakan, kalau mas mencintai saya kan?"
" Manda, kamu anak yang baik, cantik, kamu masih bisa menemukan laki - laki yang normal, tidak seperti saya. Kalau dulu saya pernah mengatakan saya mencintai kamu, saya akan menarik kata - kata itu lagi, saya takut mencintai kamu, Manda. Kamu akan menyesal menyukai laki - laki seperti saya, buta dan ga bisa jalan. Saya ga keberatan kalau kamu pergi mencari yang terbaik untuk kamu, kamu masih muda, Manda. Waktu mu masih panjang. Silahkan cari yang terbaik untuk kamu, yang bisa menyenangkan hati mu, membahagiakan mu. Maaf Manda, saya bukan Lingga yang dulu. Papa, Mama dan Lita masih ada, mereka masih bisa merawat saya. "
" Mas, Bapak dan Ibu pasti akan semakin tua. Lita, dia akan memikirkan masa depannya, ga mungkin dia hidup sendiri, mas. Pasti Lita akan punya banyak rencana, salah satunya menikah, dia akan menikah dengan pria yang dia cintai. Sedangkan mas? mas harus hidup sendiri. Mas, ijinkan saya selalu ada disamping mas Lingga. Semampu saya mas, saya akan merawat mas Lingga."
" Saya ga percaya. Kamu tahu, saya selamanya mungkin seperti ini. Trus, kamu mau hidup selamanya dengan laki - laki seperti saya? itu mustahil, Manda. Kamu cantik, diluar sana masih ada laki - laki yang mau sama kamu, "
" Mas Lingga kenapa jadi bisa sebodoh ini ? kenapa masss ? mas meragukan saya? mas pikir, saya adalah perempuan yang ga tahu balas budi ?"
" Jadi kamu merawat saya hanya mau balas budi?"
" Mas tahu, awal pertama kita bertemu, saya itu langsung suka sama mas Lingga, walaupun mas trus memarahi saya, bahkan di depan orang mas Lingga memarahi saya, memaki saya. Tapi mas tahu, karena kekuatan cinta saya, saya harus sabar menghadapi mas, saya nurut aja apa kata mas Lingga. Mas, saya itu dari dulu uda suka sama mas Lingga, tapi saya sadar, saya ini bukan wanita yang mas Lingga inginkan, tapi saya trus berdoa, kalau mas Lingga jodoh saya, pasti saya akan terus ada disampingnya. Bagaimana pun keadaannya, mas Lingga tetap orang yang saya cintai. "
Mendengar ucapan Amanda, air mata Lingga pun mengalir.
" Maafkan saya Manda, kalau saya dulu menyakiti kamu,"
" Kenapa saya juga mau hamil anak mas Lingga, karena saya begitu mencintai mas Lingga. Ijinkan saya merawat mas Lingga, semampu saya mas, sampai masa tua mas Lingga. "
" Terimakasih Manda, "
Amanda langsung memeluk Lingga. Keduanya pun menangis bersama.
__ADS_1