I Need Your Love

I Need Your Love
Bab 18 " Minum Kopi Bos Sendiri "


__ADS_3

Di sepanjang jalan, Lingga selalu saja kepikiran akan keadaan Amanda. Lingga tahu kalau Amanda sedang sakit. Wajahnya begitu pucat.


Lingga menghentikan laju mobilnya. Ia pun menepikan mobil itu. Lingga semakin gelisah. Ia menarik nafas dalam - dalam.


Lingga mencoba melupakannya, tapi tetap saja Amanda selalu ada dalam ingatannya. Mesin mobil kembali dinyalakan. Lingga pun kembali ke kosan Amanda.


Kecepatan mobil pun di percepat. Lingga berhenti di sebuah toko roti. Ia membeli beberapa roti. Lalu pergi.


Ciitttt....


Tibalah Lingga di lokasi kosan Amanda. Ia segera turun. Dan berlari ke kosan itu.


Tok..tok...tok...


Tok...tok..tok..


Amanda langsung membuka pintu kosan itu tanpa melihat dari bilik jendela siapa yang datang.


Cklekkkk...pintu pun terbuka.


" Manda...!" panggil Lingga.


Sontak saja Amanda terkejut akan suara Lingga.


" Bapak ? Bapak ngapain ke sini lagi ?"


" Ini buat kamu, siapa tahu kamu lapar !" Lingga memberikan bungkusan roti itu.


" Maaf, Pak !"


" Maaf kenapa? kamu ga mau nerimanya? sombong banget sih kamu? mau kamu apa sih? orang uda capek - capek juga !"


" Bukannya ga mau nerima, tapi ?"


"Tapi apa?"


" Saya takut nanti gaji saya di potong !" jawab Amanda tampak sedih, dan ia menundukkan wajahnya.


Lingga pun terdiam.


" Saya kasih ini ke kamu, itu ikhlas kok ! jadi kamu ga usah takut kalau gaji kamu di potong. Lagian kamu baru masuk kerja, libur nya uda banyak !"


" Saya kan sakit, Pak !"


" Itu hanya kamu yang tahu, kamu beneran sakit atau ga. Ini ambil !"


Amanda pun menerima bungkusan itu. Lalu Lingga pun pergi meninggalkannya.


" Pak, makasih banyak ya !"


Lingga tidak memperdulikan ucapan Amanda. Ia terus saja pergi dan masuk kedalam mobilnya. Dari dalam mobil, Lingga menoleh ke arah Amanda. Ia mencoba tersenyum melihat wanita cantik itu.


Ntah mengapa, suara Amanda begitu merdu di telinganya. Dulu kalau ia dipanggil dengan sebutan Bapak, pastilah Lingga sangat marah dan langsung membentaknya. Tapi, kini panggilan itu begitu syahdu dan merdu di telinganya.


Lingga menyalakan mesin mobilnya dan pergi meninggalkan lokasi kosan itu.


Amanda melihat dan melambaikan tangannya. Hingga mobil mewah itu berlalu dari hadapannya.


Amanda buru - buru masuk, dan ia membuka isi kantongan plastik itu. Ada roti dan minuman mineral. Amanda tersenyum.


" Pak Lingga itu sebenarnya orang baik, makasih ya Pak Lingga !" ucap Amanda. Amanda langsung memakan roti itu.

__ADS_1


****


Pagi - pagi sekali Amanda sudah bersiap - siap mau pergi kerja. Bekal makan siang juga sudah di persiapkannya.


Pagi itu, ia menumpang pada kendaraan Rani. Rani yang sehari - harinya bekerja di salah satu hotel mewah di kawasan pusat kota J.


Karena tempat pekerjaan mereka searah, Rani pun mengantarkan Amanda terlebih dahulu.


" Manda, kamu yakin, kamu itu uda sehat? "


" Uda, Ran !"


" Kalau kamu merasa kurang enak badan lagi, kamu minta ijin ya sama bos kamu yang sableng itu !"


" Hahaha, Pak Lingga itu baik kok !"


" Baik apanya ? masa orang sakit dipaksa kerja ?"


" Ya uda deh Ran, saya masuk dulu ya !"


" Oke, hati - hati ya ! selamat bekerja !"


Rani pun pergi meninggalkan Amanda. Amanda pun segera masuk. Amanda langsung mengganti pakaiannya. Ia mulai mengerjakan semua tugas - tugasnya. Ia langsung membersihkan ruangan Lingga.


Tepat pukul 06.00 pagi, seluruh ruangan kantor itu sudah tampak bersih. Amanda pun mulai bersiap - siap menghidangkan minuman untuk Lingga dan pegawai.


Pukul 07.30, Lingga pun tiba dikantornya. Ia belum sama sekali melihat Amanda. Lingga langsung masuk ke ruangannya. Ia tercengang akan ruangannya itu.


Kemarin ia meninggalkan ruangannya dengan keadaan kotor. Berkas - berkas berserak dan banyak sampah di lantai. Tapi pagi ini, ia melihat pemandangan yang begitu indah. Semua tampak bersih dan rapi.


Ia melihat di atas meja kerjanya sudah ada secangkir kopi. Ia mencoba membuka penutup cangkir itu, dan benar saja sudah ada tersedia kopi panas.


" Tumben Liana cepat datang ke kantor !" gumam Lingga.


" Kopi ini ? kok enak ya ? perasaan Liana itu ga tahu buat kopi kesukaan saya, hanya Manda yang bisa. Hebat Liana belajar banyak dari Manda, " ucap Lingga.


Pagi itu Amanda telah menyelesaikan seluruh pekerjaannya. Ia melihat kelender diruangan pantry itu.


" Seharusnya saya uda nerima gaji, tapi ini kok ga ada kabarnya ya? mana uang saya uda ga ada lagi !"ucap Amanda, Amanda kembali duduk. Ia menangis.


Lingga keluar dari ruangannya.


" Liana, tolong kamu ketik ini ya ! harus selesai sekarang !" titah Lingga.


" Baik, Pak !"


" Oh ya, sekarang kamu hebat ya !"


" Hebat apa, Pak ?"


" Uda pinter buat kopi."


" Kopi ?"


" Ia. Kopi diruangan saya, kamu yang buat kan?"


" Hahaha, ga Pak !"


" Lah, jadi siapa ?"


" Manda, Pak . Manda uda masuk kerja. "

__ADS_1


" Manda uda masuk kerja ?"


" Uda , Pak Lingga."


Mendengar Manda sudah kembali masuk kerja, Lingga merasa senang sekali. Akhirnya ia kembali dapat melihat anak itu.


" Hhhmm..ya uda , kamu selesaikan ini ya !"


" Pak, cari dong sekretaris Bapak? masa saya bagian HRD harus ngerjain ini sih ?"


" Ga usah ngebantah, kamu kerjain aja apa yang saya suruh. Hhhmm..tapi kalau ada yang ngelamar pekerjaan, kamu bisa coba deh !"


Lingga langsung pergi meninggalkan Liana. Karena Amanda sudah masuk kerja, diam - diam Lingga pergi keruang pantry. Ia ingin memastikan apakah benar Amanda sudah masuk kerja.


Pintu ruangan pantry tidak tertutup rapat. Lingga mencoba melihat nya. Lingga memperlambat langkahnya. Dan benar saja , Amanda ada di dalam ruangan itu. Ia mendengar suara Amanda yang sedang menangis.


Lingga pun penasaran apa yang sebenarnya terjadi. Tanpa mengetuk pintu, Lingga langsung masuk keruangan itu.


" Kamu lagi ngapain ?" tanya Lingga sok tegas.


Amanda terkejut akan kehadiran Lingga. Dan ia langsung menghapus air matanya. Lingga melihat di tangan Amanda sebuah dompet kecil kosong. Lingga pun tahu alasan Amanda menangis, tidak lain masalah uang.


Amanda langsung memasukkan dompet kecil itu ke saku celananya.


" Bapak ? Bapak mau minum ?" tanya Amanda.


" Kamu enak ya hanya duduk - duduk disini, mau makan gaji buta ? kamu ga lihat minuman saya itu habis ?"


" Maaf, Pak. Saya ga tahu kalau minuman Bapak habis. Bapak mau minum apa? kopi ? teh ? saya akan buatin lagi Pak !"


" Kopi. Kamu antar keruangan saya, ga pake lama. Ngerti ?"


Lingga langsung pergi meninggalkan ruangan pantry itu. Amanda pun langsung membuatkan kopi.


Tanpa menunggu lama, kopi pun siap. Ia langsung membawanya keruangan Lingga. Tanpa mengetuk pintu , Amanda langsung masuk kedalam.


" Manda, kan uda saya bilang, kalau masuk itu pintu harus diketuk dulu !" bentak Lingga.


" Maaf, Pak. Saya kelupaan !" Amanda meletakkan kopi itu di atas meja kerja Lingga. Amanda mengambil gelas yang pertama. Ia membuka penutup gelas itu, dan ia melihat kalau kopi nya masih utuh.


" Pak, tadi Bapak bilang kalau kopi Bapak uda habis. Ini kopi Bapak masih banyak !"


Lingga pun terdiam.


" Ini kantor saya, jadi suka - suka saya. Kamu ngerti ?"


" Ia Pak, saya tahu ini kantor Bapak, tapi kan kalau gini caranya, ini namanya pemborosan. Mubajir to, Pak !"


" Kamu itu ngebantah saya terus ya ?"


" Bukan ngebantah Pak, tapi kata nenek saya, itu ga baik buang - buang makanan, minuman. Pantang. Bapak tahu ga, diluar sana masih banyak orang yang membutuhkan makanan, minuman. Sementara Bapak, Bapak seenaknya aja buang - buang minuman. Apa salahnya kopi ini dihabiskan dulu. Kalau kayak gini kan sayang to Pak !"


" Kamu ga usah ceramah di depan saya. "


" Ia Pak, maaf Pak. Pak tapi kalau bisa ini kopinya di minum dulu, masih hangat kok !"


" Kamu aja yang minum !"


" Kok saya ?"


" Ia, kamu."

__ADS_1


" Pak, kebetulan saya juga haus hehehe..!"


Amanda pun meminum kopi itu. Lingga pun terkejut kalau Amanda beneran meminumnya. Padahal Lingga sudah meminumnya terlebih dahulu. Tapi Amanda tidak perduli , ia meminumnya sampai habis tidak bersisa.


__ADS_2