
" Katanya Papa mau bicara, bicara apa ?"
" Kita ketaman yuk, Papa kangen pergi kesana !"
" Boleh, asyik juga tuh !"
Mereka berdua pergi ke sebuah taman dekat komplek rumah. Malam itu Papa dan Lingga duduk berdua di bangku taman, sambil menikmati malam yang indah.
" Bintang malam ini banyak ya !" ucap Papa Lingga.
" Ya, Pa. Bintangnya sangat banyak."
" Kamu merindukan Amanda ga?"
" Kenapa Papa tiba - tiba menanyakan tentang Amanda, Pa ?"
" Kamu tahu ga? kelak kalau Papa dan Mama tua, dan kami berdua itu ga bisa apa - apa lagi, kalian lah yang mengurus kami, nak. "
" Trus apa hubungannya dengan Amanda ?"
" Amanda itu anak yang sopan, anak yang tulus. Ntah kenapa disaat tua kami nanti, dialah yang merawat kami, memberikan kasih sayangnya pada kami,"
" Hahah..Pa, sekarang menantu Papa itu Nadine, bukan Amanda !"
" Ntahlah, nak. Papa melihatnya agak gimana, gitu !"
" Hahaha, doakan aja Pa, mudah-mudahan Nadine bisa menjadi mantu yang baik, sesuai harapan Papa dan Mama."
" Nak, tadi sore, Amanda itu datang kerumah !"
" Apa ? Manda datang kerumah ? kenapa Papa ga panggil Lingga ?"
" Kamu kan masih capek, nak ! lagian ada Nadine, ga enak aja sama dia !"
" Trus Papa nanya ga, kemana selama ini dia pergi ?"
" Kamu aja yang nanya dia, ini alamatnya, Papa tadi nanya dia, trus Papa catat alamatnya !"
Lingga menerima secarik kertas dari Papa nya. Lingga membaca alamat tersebut. Lingga dapat bernafas lega, akhirnya ia dapat kembali menemui Amanda.
" Besok temui dia. Akhiri lah masalah kalian baik - baik, agar tidak ada rasa dendam dan sakit hati, karena ga baik kalau kita punya dendam atau sakit hati sama seseorang. Papa yakin, Amanda dapat menerima semua ini,"
Lingga hanya menganggukkan kepalanya.
****
Pagi hari, Nadine telah menyediakan sarapan pagi dimeja makan. Lingga buru - buru pergi ke kantor, dengan alasan banyak pekerjaan.
" Mas, kenapa ga sarapan dulu ?"
" Saya buru - buru, ada kerjaan yang harus di selesaikan !"
Tanpa pamit Lingga pun langsung pergi.
" Sampai kapan aku harus sabar seperti ini? ga pernah dihargai, cuek banget, lagi !!" ucap Nadine.
Pak Chandra melihat kalau Nadine merasa kesal.
__ADS_1
****
Bukannya pergi ke kantor, Lingga malah pergi ke tempat dimana Amanda tinggal. Pagi itu Amanda lagi rebahan di kamar kosannya itu. Rasa malas untuk melakukan setiap kegiatan, dikarenakan kehamilannya.
Ntah sudah berapa kali, Amanda merasa mual dan muntah. Ia terlihat lemas, dan tidak ada selera untuk makan.
Lingga pun tiba di kosan baru Amanda. Ia pun menemukan kamar kosan itu. Kamar no 5, disanalah Amanda tinggal.
Tok..tok..tok..
Tok..tok..tok..
Lingga mengetuk pintu kamar kosan itu, tapi Amanda tidak membukanya. Perutnya semakin mual, ia terus muntah.
Huek...huek...huek..
Lingga mendengar suara orang yang sedang muntah. Lingga kembali melihat alamat itu, dan benar itu adalah alamat kosannya.
" Kenapa ada suara orang yang muntah - muntah ya? Papa beneran ga sih kasih alamat ini ?"
Lingga mencoba membuka pintu kosan itu.
Cklekkkkk...pintu kamar kosan itu tidaklah dikunci. Lingga perlahan - lahan masuk kedalam. Lagi - lagi ia mendengarkan suara orang yang sedang muntah. Suara itu ada di dalam kamar mandi. Perlahan - lahan , Lingga terus berjalan ke arah kamar mandi. Dan disana ia melihat wanita yang sedang cangkung sambil muntah. Lingga mengenali sosok wanita itu.
Betapa terkejutnya Lingga ketika melihat itu adalah Amanda, wanita selama ini yang dia cintai.
Amanda terus saja muntah, hingga ia terduduk di lantai karena ia merasa lemas. Melihat itu, Lingga merasa sangat kasihan. Ia sangat khawatir keadaan Amanda.
Lingga langsung memeluknya dari belakang. Ia memeluk tubuh wanita yang tak berdaya itu. Lingga menangis. Amanda pun terkejut karena tiba - tiba saja, ada yang memeluk erat tubuhnya.
Amanda mengenali suara itu. Ia membasuh wajahnya, dan menoleh ke arah belakang.
" Mas Lingga ?"
" Ia sayang, kamu kenapa ? apa yang terjadi sama kamu ?" tanya Lingga panik.
Amanda mencoba bangkit berdiri, tapi ia tak berdaya untuk beranjak dari cangkungnya. Lingga langsung menolongnya dan memapahnya ke kamar.
Lingga terus memeluknya. Tak henti - hentinya Lingga menciumi kening Amanda. Air mata kedua nya pun mengalir. Karena merasa lelah, Amanda pun tidak sadarkan diri.
Melihat Amanda pingsan, Lingga sangat panik.
" Manda ? bangun Manda...bangun...kamu kenapa sayang ? Mandaaaa ???" teriak Lingga sambil memeluk tubuh Amanda.
Lingga langsung membawa Amanda ke rumah sakit. Kendaraan itu pun berlaju sangat cepat sekali. Ia tidak perduli dengan kendaraan milik orang lain.
Amanda langsung dibawa keruang IGD untuk mendapatkan perawatan .
" Bapak silahkan tunggu diluar, kami akan memeriksa keadaan pasien !" ucap salah sari perawat yang ikut menangani Amanda.
Lingga hanya mengangguk dan dia sangat khawatir keadaan Amanda. Ponselnya berdering, ternyata dari sekretarisnya.
" Mitha, hari ini saya ga bisa datang kekantor, tolong kamu handle semuanya. Semua meeting hari ini, tolong kamu batalkan !"
" Pak, tapi ini ada jadwal meeting dengan Pak Alvan, mertua Bapak sendiri !"
" Saya ga perduli mertua saya atau siapa, yang penting kamu batalin semuanya,"
__ADS_1
" Bapak lagi dimana sih?"
" Saya lagi sibuk, jadi tolong jangan kamu ganggu, ngerti ? atau kamu mau saya pecat ?"
Mendengar kata pecat, Mitha pun takut. " Baiklah, Pak !" Mitha mematikan telponnya.
Tak berapa lama, dokter itu pun keluar. Dokter yang menangani Amanda tersenyum manis. Melihat mimik wajah dokter cantik itu, Lingga sangat heran.
" Dok, bagaimana keadaan Amanda ?"
Bukannya menjawab pertanyaan Lingga, dokter cantik itu malah memberikan ucapan selamat.
" Selamat ya Pak, istri Bapak positif hamil !"
Mendengar penjelasan dokter itu, Lingga sangat terkejut sekali, kedua matanya terbelalak, ia tak dapat berkata - kata. Antara percaya atau tidak itulah yang dirasakan Lingga.
" Hallo Pak Lingga...Bapak kenapa?" tanya dokter itu.
" I..i..istri..istri saya? istri saya hamil ?"
" Ia, Pak. Kehamilannya sudah memasuki usia 3 minggu, kehamilan istri Bapak sangat lemah sekali, itu karena istri Bapak mengalami tekanan darah yang sangat rendah. Saya minta , istri Bapak jangan terlalu banyak kerjaan atau pikiran dulu ya, karena itu akan mempengaruhi kehamilannya. Saya akan berikan vitamin dan penguat rahimnya, nanti tolong di minum vitaminnya supaya janinnya sehat dan dapat berkembang dengan sehat. "
Lingga hanya mengangguk. Ia masih tidak percaya kalau Amanda hamil. Itu artinya Ayah dari anak itu adalah dirinya. Lingga tidak tahu harus bahagia atau tidak dengan kabar ini. Di satu sisi, ia telah menikah dengan Nadine. Sementara Ayah dari anak yang dikandung Amanda adalah dirinya sendiri.
" Dok, apa boleh saya melihat istri saya ?"
" Ya, Pak. Silahkan !"
Lingga langsung melihat keadaan Amanda. Amanda terbaring lemas tak berdaya. Wajah itu sangat pucat sekali.
Lingga duduk di sampingnya. Ia memegang perut Amanda. Lingga masih belum percaya, di dalam sana ada sosok janin hasil cinta mereka.
Amanda pun terbangun, ia melihat kalau Lingga duduk disampingnya.
" Mas Lingga ?"
" Ia sayang, kamu dan anak kita sehat ,"
" Mas Lingga uda tahu ?"
Lingga menganggukkan kepalanya.
" Saya uda tahu, kalau kamu itu hamil,"
Amanda pun menangis.
" Ga mas, ini bukan anak mas Lingga !"
" Manda, maksud kamu apa? kenapa kamu bilang ini bukan anak saya ?"
" Pergi lah mas, saya ga mau mas Lingga ada disini !"
" Kamu kenapa ?"
" Saya ga mau mas Lingga ada disini, pergi massss...!!!" teriak Amanda.
Amanda menangis, ia mencoba melepaskan selang infus itu. Tapi Lingga mencoba menenangkannya, ia mendekap tubuh Amanda.
__ADS_1