
Nadine terus menangis. Mama Lingga pun menghampirinya.
" Nadine, kamu kenapa sayang?"
Nadine tidak menjawab pertanyaan calon mertuanya itu.
" Nadine, jawab Tante dong sayang, kamu kenapa?"
Karena tangisan Nadine semakin pecah, semua keluarga pun menghampiri Nadine.
" Nadine, kamu kenapa nak?" tanya Ibu Sekar.
" Nadine, dimana Lingga ?" tanya Papa Lingga.
" Nadine, jangan buat kita khawatir, kamu kenapa sayang ?" tanya Pak Alvan.
" Nak, apa yang terjadi?" tanya Ibu Sekar.
" Mas Lingga ingin membatalkan tunangan ini,"
" Kenapa ? kenapa di batalkan ?" tanya Ibu Sekar.
" Itu semua karena pembantu ga tahu diri itu, "
" Amanda maksud kamu?" tanya Ibu Sekar.
Nadine menganggukkan kepalanya.
" Mau kamu apa sih Manda? mau balas dendam sama Ibu? ohhh..jadi ini balasan kamu, kamu mau menyakiti Nadine !" gumam Ibu Sekar.
" Emangnya Amanda ngomong apa sama kamu, sayang ?" tanya Mama Lingga.
" Manda ga ada ngomong, tapi mas Lingga sepertinya menyukai Amanda, Tante !''
" Apa? Lingga suka sama Amanda ? ga mungkin dong Nadine, Manda itu ga tipenya Lingga, tipenya Lingga itu ya kamu, sayang !" ucap Mama Lingga.
" Tapi buktinya mas Lingga lebih menyukai Amanda dari pada saya, Tante !"
" Uda...uda..uda...ga usah pada ribut. Lebih baik kita tanyakan sama Lingga. Oh ya, Amanda ada dimana?" tanya Papa Lingga.
" Ada dikamarnya !"
Papanya Lingga mengetuk pintu kamar Amanda.
Tok..tok..tok..
" Amanda, ini Pak Chandra, kamu bisa ga keluar sebentar ?"
Amanda mendengar kalau itu adalah suara Papa nya Lingga, Pak Chandra. Amanda pun membuka pintu kamarnya.
Cklekkk....
Amanda melihat ternyata di depan pintu kamarnya sudah berdiri keluarga Nadine dan keluarga Lingga. Amanda ketakutan, ia begitu gugup. Jantungnya berdetak sangat kencang sekali.
" Ehmm..a..a..ada apa ya, Pak ?" tanya Amanda sangat gugup sekali.
" Manda, saya ingin bicara sama kamu."
__ADS_1
" I..i..i..ia Pak. Ada apa ya, Pak ?"
" Dimana Lingga ?"
" Pak Lingga ? saya ga tahu Pak !"
" Bohong kamu Manda, kamu sembunyikan Lingga kan?" tanya Ibu Sekar.
" Ibu? saya ga tahu Pak Lingga ada dimana?"
" Trus kamu kenapa di dalam kamar terus? bukannya kamu saya suruh untuk stay terus di dapur ?" tanya Mama Lingga.
Amanda semakin ketakutan.
" Uda deh jeng, lebih baik kamu pecat aja diaaaa...!!!" titah Ibu Sekar.
" Ia, saya akan pecat kamu sekarang juga, sekarang pergi dari rumah anak saya !!!"
" Bu, tapi kan?"
" Ga ada tapi - tapi'an, sekarang kamu pergi dari sini dan jangan pernah lagi kamu datang kerumah ini, ngerti kamu?"
" Bu, tapi salah saya apa, Bu?"
" Kamu mau tahu salah kamu apa? kamu uda berani menggoda anak saya, Lingga. Kamu nyadar ga sih kamu itu siapa ? kamu itu hanya babu dirumah ini?"
" Ma, jaga omongan Mama, Mama ga boleh kasar gitu dong !" ucap Papa Lingga.
" Biarin aja Pa, zaman sekarang itu memang susah, pembantu itu pada ga tahu diri, suka sama majikannya, emang ga ngaca ya, layak ga ?"
" Ia tapi Mama tolong jaga sikapnya, ga boleh kasar, Ma. Manda juga punya perasaan."
" Lingga ada disini, Ma. Amanda itu ga salah, Ma. Saya lah yang salah !"
Semua pun langsung menoleh ke arah Lingga.
" Lingga ? kamu dari mana aja?" tanya Mama Lingga.
" Ga usah pada nanya saya dari mana. Ma, Pa, Om, Tante dan Nadine kasih saya waktu, saya belum siap untuk tunangan dengan Nadine. Maaf, saya belum bisa. "
" Kenapa kamu belum bisa, Lingga ?" tanya Pak Alvan.
" Saya ga tahu, Om. Rasa ingin mencintai Nadine belum ada, maaf Nadine. Kasih saya waktu."
" Baiklah, saya ga mau basa basi, kita pulang sekarang !" ucap Pak Alvan dengan kesalnya.
Nadine pun menangis. Dengan berat hati ia dan keluarganya meninggalkan rumah itu.
" Lingga, kamu itu apa - apa'an sih? kamu itu ga bisa jaga perasaan orang !"
" Harus ya Ma, saya bisa menjaga perasaan orang ? trus kalian semua bisa ga menjaga perasaan saya? kalau saya ga cinta sama Nadine, apakah bisa dipaksa ? yang jalani itu Lingga Ma, bukan Papa dan Mama."
" Tapi umur kamu nak, uda matang untuk menikah !"
" Pa, jangan berpatokan pada umur. Kita itu harus berpatokan dengan kesiapan mental. Saya belum siap, saya takut kalau saya ngecewain Nadine."
" Bilang aja kamu ga siap karena Amanda. "
__ADS_1
Lingga langsung menatap Amanda.
" Ga Ma, bukan karena Amanda. Kalian semua salah paham,"
Air mata Amanda pun mengalir. Ntah apa maksudnya Lingga mengatakan itu. Tidak hanya sekali saja Lingga mencium dirinya. Dari perlakuan Lingga, Amanda pun diam - diam menyukai majikannya itu.
Mencintai Lingga mungkin adalah perbuatan dosa besar, karena mencintai pria yang mungkin saja tidak mencintai nya.
" Lingga, Papa tahu kamu itu laki - laki yang bertanggung jawab. Papa mau kamu dapat berpikir lebih jernih lagi untuk masa depan kamu. Papa yakin, pasti kamu akan bahagia dengan pilihan mu,"
" Kalau Mama sih inginnya kamu sama Nadine aja, Nadine itu baik, cantik dan sabar. "
" Ma, biar kan Lingga yang memilih. "
Lingga kembali menatap Amanda. Pak Chandra melihat keduanya , Lingga dan Amanda saling menatap. Pak Chandra tahu kalau anaknya itu menyukai wanita yang ada dihadapannya itu. Pak Chandra hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk Lingga.
" Lingga, Papa mau bicara berdua sama kamu, boleh ?" tanya Papanya.
" Ehhmm..boleh Pa !"
" Mama ga diajak ?" tanya Mama Lingga dengan rada manjanya.
" Mama budek ya? kan kata Papa hanya kita berdua, hahaha...!" ledek Lingga.
Merasa kesal, Mama nya pun pergi. Amanda masih berdiri mematung, air matanya mengalir perlahan - lahan.
" Papa tunggu di depan ya !" Papanya juga langsung pergi.
Tinggallah Amanda dan Lingga. Amanda masih saja diam. Air mata itu terus mengalir.
" Kenapa nangis?"
Amanda masih saja diam, ia tidak mau menjawab pertanyaan Lingga. Lingga langsung memeluknya. Amanda pun sangat terkejut.
" Lepaskan, Pak !" pinta Amanda.
" Kalau saya ga mau, gimana?"
Tangisan Amanda pun semakin pecah.
" Terus aja nangis, biar rumah ini banjir tangisan kamu !"
Amanda langsung memukul pundak Lingga.
" Manda, maaf kalau saya uda lancang sama kamu. Kamu mau tahu, kamu itu sebenarnya jahat, jahat bangetttt."
" Jahat kenapa?"
Lingga melepaskan pelukannya.
" Kamu itu uda berhasil mencuri, "
" Mencuri apa, Pak? saya ga ada mencuri !"
Lingga tersenyum. Diam - diam Pak Chandra melihat mereka berdua.
" Kamu uda berhasil mencuri ha..ti ku, " ucap Lingga sambil mencubit kedua pipi Amanda.
__ADS_1
Pak Chandra hanya bisa tersenyum.
" Lingga uda dewasa, dia tahu mana yang terbaik untuk dirinya, saya ga akan pernah melarang dia, biarlah dia yang menentukan calon hidup pendampingnya. Saya ga boleh egois, karena dia lah yang akan menjalaninya. Saya hanya bisa berdoa, semoga anak ku Lingga bisa selalu bahagia. " ucap Pak Chandra.