
Pagi hari kembali menyapa hari Ayla.
Ayla yang sudah beberapa hari sedikit terbiasa dengan keadaan di rumah Arga, walaupun tidak baik saja tapi, Ayla bisa mengendalikan dirinya ketika bertegur sapa dengan Lita dan ibunya.
Hari ini juga Arga sudah berangkat keluar kota dan kemungkinan kembali malam, Ayla hanya di pamiti sebentar dan Arga langsung pergi berlalu begitu saja.
Sekarang Ayla dan Lisa sedang berada di taman dengan menikmati harumnya beberapa tanaman hias milik Bunda Arga yang masih terawat hingga sekarang.
"Hem.. maaf sebenarnya berapa umur anda, Saya bingung harus memanggil anda apa karena," ucap Ayla.
"Umur saya tiga puluh enam tahun Nyonya," ucap Lisa.
"Em.. Bi apa bibi sudah lama bekerja disini," ucap Ayla sembari terus berjalan merasakan bau harum bunga.
"Saya bekerja disini baru sepuluh tahun kurang lebih," ucap Lisa.
"Bi kita duduk aja gimana," ucap Ayla mengajak Lisa untuk duduk, Karena merasa kurang santai jika bicara sambil berdiri.
Lisa mengangguk dan ikut duduk di sebelah Ayla.
"Bibi bisa ceritakan apa saja padaku, yang penting tidak membicarakan orang," ucap Ayla sambil terkekeh.
Lisa mengangguk dengan tersenyum.
"Aku sedang bosan karena bibi sejak tadi hanya diam saja," ucap Ayla.
"Atau bibi ceritakan saja tentang semua bunga harum yang ada di taman ini?" ucap Ayla.
"Bunga-bunga ini hanya bunga biasa yang Nyonya besar sukai, ibu kandung dari Tuan Arga, Bunga disini termasuk bunga mahal karena Ibu kandung Tuan Arga menyukai bunga yang jarang orang temui dan langka, juga perawatannya yang ekstra hati-hati, jadi Tuan bisa mendapatkannya dengan harga mahal," ucap Lisa.
"Sepertinya Arga sangat menyayangi Bundanya ya Bi," ucap Ayla sambil tersenyum.
Baru Lisa ingin menjawab perkataan Ayla. Dari dalam Ibu tiri Arga berteriak memanggil Lisa.
"Ah... sepertinya beliau membutuhkanmu Bi," ucap Ayla, yang sudah mendengar teriakan itu dua kali.
"Tapi, Nyonya," ucap Lisa.
"Tidak apa-apa bi saya bisa sendiri, sekarang bibi masuk aja dulu, kasian nanti suaranya habis buat teriak terus," ucap Ayla sambil terkekeh pada Lisa.
Lisa mengangguk pergi dari taman meninggalkan Ayla sendirian.
__ADS_1
Lisa yang sudah pergi menjauh dan masuk kedalam dapur.
Tak berapa lama Lalita datang membawa dua mangkuk Bakso. Salah satunya sudah di isi banyak sambal.
"Kak Ayla... mau bakso gak aku abis beli di depan?" tanya Lalita dengan seringai liciknya tapi, nadanya bicara begitu ceria dan bersemangat.
"Eh Lita... boleh," ucap Ayla, Lita memberikannya tepat di tangan Ayla.
"Kok pedes banget ya baunya," ucap Ayla dengan tersenyum sambil menerima baksonya.
"Ah masa sih kak perasaan itu pas deh aku kasih sambelnya, coba sini aku cicipin," ucap Lita sembil menyendok sedikit kuahnya dan mencicipinya, bukan kuah di mangkuk Ayla tapi, di mangkuknya.
"Ah gak terlalu kok kak, ini cuman bau nya aja, apa kakak gak mau, padahal aku teraktir ini karena permintaan maaf semalam karena udah ngomong kasar," ucap Lita dengan nada berpura-pura sedih.
Lo harus makan tu bakso biar bolak balik kamar mandi, terus dehidrasi, kepleset, Duh.. gak sabar deh.. ayo makan... makan aja kenapa sih banyak tanya sama mikir aja lagi... ck lama-lama gue sirem tu bakso ke muka lo, batin Lita
Ayla masih ragu sebenarnya apa benar Lita ingin meminta maaf atas ucapannya semalam tapi, kenapa bau kuah baksonya sangat pedas. Dan tanpa di cicipi pun tahu kalo kuah ini tidak menggunakan kecap.
Ayla ragu untuk memakannya tapi, jika tidak ia makan Lita akan sedih. Ayla harus memakannya atau tidak, Ayla bingung.
"Yah gak mau ya kak, ya udah deh aku buang aja," ucap Lita sambil berdiri dan menarik kembali mangkok bakso dari tangan Ayla.
Perlahan Ayla mengaduk kuah baksonya dengan sendok lalu memakan baksonya yang kecil, awalnya benar-benar pedas hingga seterusnya, semakin terasa pedasnya, Ayla sudah berkeringan dan wajahnya memerah.
Akhirnya lo makan juga karena gak enak nolak kan Lo, Rasain tu bakso sambel, batin Lita.
Lita tersenyum sendiri rasanya ingin tertawa sekarang ini juga karena bisa mengerjai Ayla dengan puas.
"Aduh kak pedes banget ya, sebentar aku ambil air minum dulu ya," ucap Lita berekting, sambil melangkah meninggalkan taman, Ayla yang sudah tidak tahan pedas akhirnya menyelesaikan makannya dan bakso juga kuahnya habis dalam sekejap.
Lita sengaja berjalan santai dari dapur ke taman. Sambil tersenyum Lita melihat Ayla yang sudah setengah mati menahan pedas sambal baksonya.
Duh kok gue kasian, ya. Gue kasih air anget buat lo minum buat ngilangin efek pedesnya biar gak ketahuan sama yang lain, batin Lita.
Lita sampai pada Ayla dan memberikan segelas air hangat, Lita tersenyum melihat Ayla ke pedesan dan tersiksa seperti itu.
"Nih kak airnya minum dulu," ucap Lita.
Selesai meminum air yang di berikan Lita. Ayla merasakan terbakar di mulutnya.
"Kok panas ya," ucap Ayla. kembali menjauhkan gelasnya karena sekali tengguk rasanya sudah sangat panas di mulut dan tenggorokannya.
__ADS_1
"Gak papa kak biar pedesnya cepet ilang, di minum aja dulu," ucap Lita.
Ayla percaya begitu saja, lalu meminumnya kembali hingga habis dan sekarang rasa pedasnya perlahan menghilang.
"Makasih ya Lita," ucap Ayla dengan senyuman.
"Yaudah kalo gitu aku mulangin mangkok abangnya dulu," ucap Lita pergi begitu saja sembari membawa mangkok tadi dan gelas.
Beberapa menit kemudian Ayla merasakan kurang nyaman pada perutnya Ayla menjauh dari taman dan pergi masuk kekamarnya.
"Mau kemana kamu," ucap ibu tiri Arga yang melihat Ayla jalan sedikit terburu-buru.
"Mau kekamar Mah," ucap Ayla.
Kayakanya Lita berhasil, selamat bersenang-senang dengan sakit perutmu, batin Ibu tiri Arga.
"Ya udah sana," ucapnya lagi dengan nada sedikit tinggi mengusir Ayla dari hadapannya.
Ayla mengangguk dan pergi kekamarnya di lantai dua.
Masuk kedalam kamarnya Ayla merasakan perutnya serasa mules dan sakit.
Ayla langsung menutup pintu kamarnya dan melangkah masuk kedalam kamar mandi.
Beberapa menit kemudian Ayla keluar dari kamar mandi lalu merasakan hal yang sama lagi, Ayla kembali masuk ke kamar mandi lagi.
Lisa yang baru saja selesai kembali ke taman lagi untuk melihat Ayla tapi, ketika Lisa sampai Ayla tidak ada disana.
Lisa pergi masuk ke dalam, ke lantai atas kamar Arga. Mengetuk pintu tidak terdengar suara sahutan, Lisa masuk kedalam, melihat Ayla yang baru keluar kamar mandi.
Terlihat wajah Ayla sangat pucat dan berkeringat.
Lisa segera melangkah mendekat dan membantu Ayla berjalan.
"Nyonya kenapa?" tanya Lisa sambil membantu Ayla untuk duduk di tepi kasur tapi, baru Ayla duduk harus berdiri lagi dan pergi ke kamar mandi. Lisa sedikit menatap heran.
Tak berapa lama Ayla keluar lagi, berjalan dengan terhuyung-huyung hingga masih berpegangan erat pada pintu kamar mandi. Dengan cepat Lisa berlari dan membantu Ayla untuk duduk di kasur sebelum jatuh.
Ayla yang sudah berbaring di atas Kasur seketika merasakan sakit di perutnya. Keringat di dahi Ayla juga sangat banyak. Lisa melihat Ayla yang meringis sambil memegangi perutnya.
Lisa ikut panik, seketika Lisa menelpon Dokter untuk datang dan memeriksa Ayla. Juga menelpon asisten Dafa.
__ADS_1