Istri Buta Tuan Muda

Istri Buta Tuan Muda
Bukan ulah Claudia


__ADS_3

Larissa berjalan keluar ruang istirahat Arga setelah selelsai mengerjakan tugas dan bersamaan Ayla yang menanyakan jam berapa sekarang.


"Saya pamit nyonya. Sebentar lagi Tuan akan datang." Pergi meninggalkan Ayla yang hanya tersenyum mengangguk.


Setelah beberapa menit Larissa keluar Ayla merasa bosan dan bergerak turun dari kasur mengambil tongkat dan ponselnya dengan tasnya.


Berjalan pelan dengan bantuan tongkat agar tidak menabrak. Sampai di depan pintu Ayla membuka pintu.


"Tuan Arga.. Nyonya Ayla kenapa?"


Suara Syena, batin Ayla.


"Ini berkasmu dan keluarlah." Arga memberikan berkas yang sudah ditanda tanganinya.


Setelah Syena keluar dari ruangan Arga. Ayla melangkah mendekat ke sofa dan duduk dengan perlahan.


"Apa dia lama disini kamu sudah datang sejak tadi?"


"Tidak Aku barusan datang bersama Syena aku metting dengan perusahaannya tadi dan kesini hanya hanya untuk meminta berkasnya di tanda tangani juga meminta stampelnya."


Ayla mengangguk. Suara Arga selalu tegas seperti biasanya Arga juga tidak pernah berbohong untuk semua hal padanya. Ayla sudah hafal jika suara Arga berbohong bagaimana.


"Kamu lapar? ingin makan sesuatu?" ucap Arga.


"Ah tidak aku hanya ingin duduk disini saja."


Apa yang di lakukakn Syena disini kenapa Syena seperti senang nada bicaranya. Ah.. ini hanya pikiran burukku saja, lupakan-lupakan, batin Ayla.


Di luar perusahaan Syena dan seorang wanita yang pernah di temui Arga di rumah sakit sedang bicara bersama Syena dengan wajah yang sangat senang.


"Aku bisa membuatnya lebih buruk, jika aku ingin tapi, sayang aku harus mengurus perut besar sialan ini."


"Kau yang salah kenapa kau melakukannya tanpa dia menyukaimu dasar aneh."


"Ya sudahlah lagi pula dengan cara ini aku bisa menyingkirkan Claudia tanpa aku turun tangan Aku juga bisa menyingkirkan Calysta tanpa harus mengotori tanganku. Dan memperalat Rosa jika aku ingin."


"Dasar aneh. Ingat Thalita jangan pernah bertindak bodoh ketika kau sedang ada di depan Arga atau semua rencanamu akan habis dan hancur."


Thalita mengedikkan bahunya dan mengangguk dengan mengedipkan kedua matanya perlahan.


Saling menatap dan menikmati secangkir minuman hangat di hadapan mereka.


Thalita bodoh, aku hanya memperalatmu lihat saja kau juga akan tersingkir dari jalan ini, jalang, batin Syena.


Ayla pergi keluar dari kantor Arga karena bosan dan Arga sengaja membiarkannya tapi, tetap dengan pengawalan yang ketat dan tidak mengganggu Ayla.


Sampai Ayla di sebuah pasar tradisional Ayla merasakan ramainya penjual dan juga suasana dan bau khas pasar tradisional yang ramai. Di temani Lisa tentunya.

__ADS_1


Lisa sengaja Arga panggil untuk membantu Ayla.


Sampai di tempat ikan Ayla tersenyum dan menoleh sedikit.


"Bi ini tempat ikan-ikan."


"Iya Nyonya."


"Beli saja ikan yang bagus untuk di panggang."


Lisa menganguk dan memanggil penjual itu membeli ikan yang bagus dengan daging yang lumayan tebal.


"Kita akan kemana lagi Nyonya." Stelah menerima ikan tersebut Ayla melangkah dengan menarik tangan Lisa.


Di tempat sayuran Ayla meminta Lisa membeli Sayur bagus dan murah.


Sampai di bagian lain penjual lainnya yang ada di pasar tradisional. Rosa sengaja mendekat ketika melihat Ayla tanpa sengaja.


"Apa yang kau lakukan dengan kebutaanmu Ayla. Kau membuat Arga malu dengan memperlihatkan kekuranganmu di depan umum."


"Kak Rosa." Ayla tersenyum dengan menyapa Rosa.


"Berhentilah berpura-pura bahagia aku tahu kau tersiksa bukan. Nikmatilah. Kau dulu begitu senang ketika aku buta sekarang rasakan itu... kau menglaminya lagi bukan."


Aku tidak bahagia kak.. aku juga sedih ketika kakak buta waktu itu, batin Ayla.


"Tidak kak Aku akan menjaga Anak ini dengan baik Kakak juga harus segera menikah sebelum kakak menjadi perawan tua dan kakak akan merasakan apa itu kehamilan dan jadi ibu."


"Oiya.. Aku.. kau meminta ku menikah.. jangan pernah memperhatikan aku... aku tidak ingin kau perhatikan. Kau tahu kehamilanmu selalu dalam bahaya jika ibunya sepertimu. Wanita buta."


"Terimakasih kak karena kakak selalu mengkhawatirkan aku."


"Yah terserah." Rosa berlalu pergi karena Ayla tidak merasa sedih ataupun tertekan di wajahnya. Tapi, Rosa tahu jika adik kandungnya itu pasti sudah memiliki banyak pikiran dan angan-angan buruk di kepalanya.


Aku hanya tinggal menunggu waktu melihatmu terlantar di jalanan. Huhh aku tidak sabar, batin Rosa seketika seringai di wajahnya muncul. Sambil berjalan menjauh dari Ayla.


Setelah selesai Ayla meminta Lisa untuk membawa semuanya pulang dan nanti akan Ayla memasaknya karena Ayla sedang ingin.


Ayla kembali lagi ke kantor Arga. Di antar Lisa.


Bersama Sopir dan pengawal lainnya.


****


Sampai Ayla di ruangan Arga Ayla memikirkan apa yang Rosa katakan padanya tadi.


Aku harus bisa menjaga kandungan ini(mengusap perutnya)

__ADS_1


Aku akan berusaha. Bukan hanya keturunan dari Arga tapi, dia juga anak ku... aku akan berusaha.


Semua perkataan Kak Rosa akan aku ingat sebagai persiapan jika semua perkataannya mengarah tentang aku harus waspada pada rencana jahatnya. Mama Dan Ayah... mereka hanya memikirkan malu dan harga diri mereka. Aku sudah lama tidak mereka hubungi mereka tapi, mereka sering menghubungi Kak Rosa, batin Ayla.


Sore ini Ayla kembali pulang bersama Arga dengan Dafa yang mengemudikan mobilnya.


"Kamu bertemu Rosa di pasar tradisional?"


"I-iya."


Arga mengetahuinya aku belum mengatakan apapun padanya sejak tadi, batin Ayla.


"Jangan dengarkan apa yang Rosa katakan padamu. Semua itu hanya perkaan iri. Aku akan tetap bersamamu apapun yang terjadi aku tidak akan meninggalkanmu hanya karena Kau menghilangkan bayi ini jika itu terjadi, lagi pula kamu melakukannya tidak sengaja dan itu kecelakaan."


"Hem.. Arga maaf Aku tidak begitu sempurna."


Arga menoleh dan tersenyum lalu mengusap kepala Ayla.


Kembali menatap kedepan.


"Aku juga manusia biasa hanya Tuhan yang sempurna. Kau tahu aku menyukaimu karena kamu juga manusia kita bersama untuk saling melengkapi. Sekali lagi. Jangan pernah merasa rendah."


Ayla tersenyum seketika mengangguk paham.


"Sabarlah untuk sementara waktu, aku sedang berusaha mencari penawar dari obat tersebut."


"Arga. Tidak perlu. Aku tidak ingin merepotkanmu. Tapi, terimakasih karena kamu menyayangiku sampai seperti ini nya." Arga tersenyum dan mencium punggung tangan Ayla.


Di tempatnya Dhanu sedang mencari sesuatu tentang masalah ini. Sejujurnya Dhanu juga tidak mengetahui apa yang terjadi. Dhanu tahu jika Claudia selalu dalam pengawasannya.Jadi hal seperti ini tidak mungkin Claudia bisal lakukan.


"Aku akan berusaha memberi tahu Arga tentang ini tapi, tidak sekarang," gumam Dhanu. Menatap layar leptopnya dan bawahannya yang baru saja pergi setelah menyerahkan laporannya beberapa lembar foto asli.


Thalita dan Syena asik memainkan bilyar.


"Apa rencamu selanjut untuk bisa mendekati Ayla."


"Tentunya dengan bantuanmu Syena. Kau bisa membuat Arga sibuk dan aku akan membuat Ayla pergi jauh dari Arga."


"Kurasa tidak semudah itu kau tahu." Syena berhasil memasukan dua bola sekalikus dengan perantara bola putih. Thalita melihat itu hanya menyeringai.


"Jika belum mencoba kita tidak akan tahu. Aku akan membuat wanita itu jauh dari Arga hingga dirinya melahirkan."


"Huu... kau sangat jahat kau tahu, Thalita."


"Itulah aku." Kini giliran Thalita yang memaikan permainannya.


Tanpa sadar Syena menatap Thalita yang sedang bermain dengan tatapan yang sangat meremehkan.

__ADS_1


__ADS_2