
Baru saja, setelah tiga hari menginap di tempat Nenek kini mereka sudah kembali ke tanah air.
"Aku akan bekerja dirumah. Dan kau ingin kemana?" ucap Arga pada Ayla yang pagi ini sudah rapi.
"Ini jadwal di kembar dan aku untuk periksa kesehatan dan biasa bayi kamu tidak akan mengerti." Ayla sambil merapikan pakaiannya dan juga merapikan rambutnya.
"Tidak bisa kubiarkan kamu sangat cantik." Arga menahan Ayla agar tidak keluar dari pintu.
"Arga minggir aku akan pergi untuk... et.. kamu tidak bisa melakukannya sekarang." Ayla menahan wajah Arga dengan kedua tangannya.
Seketika Arga berdecak malas dan mempersilahkan Ayla untuk lewat. Menghela nafasnya kasar. Tiba-tiba serangan Ayla di pipi Arga membuatnya menoleh cepat dan si pencuri kecupan pipi sudah lari terbirit-birit.
"Bagaimana sudah semua?" ucap Ayla pada Lisa dan Bibi pengasuh. Ketika sudah sampai di kamar si kembar.
"Sudah ini si kembar juga enggak rewel dari tadi."
"Rapinya, sini lihat Erlangga yang tampan dan Zeline anak mama yang cantik. Kalian anak mama yang paling manis." Ayla menoel pipi kedua anak kembar yang begitu gembul. Dan juga menatap Ayla dengan tertawa.
Sekerang mereka keluar dari mansion dan duduk di dalam mobil dengan tenang. Sepanjang perjalanan Erlangga juga tenang tidak menangis dan Zeline tertidur.
Setelah periksa dan juga si kembar. Ayla dan si kembar pergi ke taman hanya untuk berjalan-jalan sore berlima dengan Lina dan bibi pengasuh.
"Sampai kita di taman." Ayla mengambil alih kereta si kembar.
Berjalan santai dengan si kembar juga menikmati udara luar dengan duduk tenang di kereta dan di tutup dengan kain teransparan berwarna putih atau bening.
"Eh." Ayla yang terkejut karena bahunya di senggol seseorang. Menoleh melihat orang tersebut.
"Aw... Ihh biasa dong kalo jalan maen jalan enggak liat ada orang lagi lewat juga." Seketika tatapan mereka bertemu Syena menunjuk wajah Ayla.
"Eh Tunggu Ayla kamu, ehm.. ini anak kamu?" ucap Syena.
"Iya.." sahut Ayla santai dengan ramah.
Menyingkirlah Syena aku sedang malas berbicara dengan mu yang sudah membuatku kesal, batin Ayla.
__ADS_1
Ayla masih tersenyum menatap apa yang Syena lakukan.
Syena yang sengaja berjalan menghampiri kedua bayi kembar dan melihatnya dengan membuka kain penutup.
"Ehm keliatannya Anak mu ini lebih mirip Arga di bandingkan kamu, Jika mirip denganmu ck..ck.. jelek."
Ayla tersenyum. Melangkah maju ke depan Syena. Berdiri membelakangi kedua anaknya.
"Mau jelek atau tidak mereka anak-anakku apa urusanmu jika mereka lebih mirip denganku. Kau keberatan hem?" Ucap Ayla seketika dengan nada tegas dan sedikit ramah lalu tersenyum sesudahnya.
Syena memiringkan senyumnya.
"Yaah.. kalo kamu sudah tiada aku akan menggantikanmu dengan mudah lagi pula siapa yang tidak ingin dengan Arga yang duda beranak dua dan juga kaya raya."
"Kamu mengaharapkan tempatku ini, bekas..uh.. kasihan sekali Syena kamu tidak memiliki kekasih atau kamu memang tidak bisa memiliki kekasih hem.. Mengharapkan suami orang. Harusnya kamu lebih baik dari ku karena kamu lebih memiliki pandangan dan wawasan luas sebagai keluarga terpandang. Syena!"
Tersenyum remeh menatap syena yang sedikit kesal tersindiri dengan tanpa langsung Ayla mengatakan jika Syena adalah perempuan yang tidak laku atau seorang yang murahan.
Seketika Syena mengakat tangannya dan akan menampar Ayla. Gerakan cepat Ayla juga lebih cepat menahan tamparan yang hampir menyentuh pipinya.
"Syena, Perempuan terhormat sepertimu seharunya tidak melakukan hal ini kamu harus tahu jika kamu tidak bisa mendekati Arga bagaimanapun caranya. Karena Aku masih ada. Aku akan menjadi..." Seketika Syena terkekeh.
"Sombong sekali kamu Ayla.. ingat ya.. kamu itu lemah dan juga suka sekali menangis dan selalu menerima apa yang aku perbuat pada.. Akh.. sakit.. Ayla lepas.. Akh.. Hey kalian kenapa hanya melihatku.. tolong aku wanita ini wanita gila." Ucapan Syena seketika terpotong dengan tangan yang masih dalam cengkraman Ayla mengencang dan membuat tangan yang di cengkram terasa sangat sakit.
"Teriak saja Syena dengan lantang dan keras." Ayla menatap Syena dengan tatapan lembut dan tersenyum dengan manis. Aslinya cengkraman Ayla lebih kencang dan erat membuat Syena hampir menangis di tambah tangannya yang hampir memerah karena cengkraman tangan Ayla.
"Eh.. lepasin itu." Salah satu orang yang melihat langsung berteriak karena semuanya hanya bisa menonton. Ayla menyeringai dengan wajah yang tidak pernah di perlihatkannya pada semua orang raut wajah seperti seorang yang sangat kejam.
Syena menghentikan berontaknya dan menatap Ayla yang terlihat menyeramkan dengan seringai diwajahnya.
"Tunggu apalagi. Tutup taman ini, bawa mereka kemobil." Seketika ucapan Ayla langsung terjadi. Seorang berpakaian rapi langsung berdatangan dan menutup taman juga dengan semua orang pengunjung yang di perintahkan untuk keluar dari tempat itu.
Lisa dan Bibi pengasuh membawa Erlangga dan Zeline menjauh di temankan pengawal mereka.
Semua orang dengan pakaian rapi membalik badannya memunggungi Ayla dan juga pengawal Syena yang tidak bisa berbuat apa-apa di balik barisan pengawal Ayla.
__ADS_1
"Sebenarnya aku tidak suka melakukan ini tapi ucapanmu yang tadi sedikit terdengar oleh anak-anakku. Aku sedikit membuat perhitungan denganmu," ucap Ayla berjalan memutari Syena dan menarik rambutnya dengan kencang. Melempar Syena ke pinggir danau lalu Syena ter pleset sendiri dan jatuh ke pinggir danau yang berlumpur.
"Aaa... Ayla.. kurang ajar. Kalian bantu aku." Teriak Syena pada pengawalnya yang tidak bisa melewati barisan pengawal Ayla. Menatap Ayla dengan tatapan kesal. Ayla berjongkok seketika menatap Syena.
"Ini hanya hukuman karena kamu tidak bisa bicara dengan baik di depan anak-anak yang masih sangat polos dan tidak mengerti apapun."
Ayla pergi dari sana. Seketika semua pengawal Ayla pergi bersama Ayla dan juga pengawal Syena yang langsung membantu Syena untuk bangun dari atas lumpur.
Syena menatap kepergian Ayla yang langsung menaiki mobilnya dan berlalu pergi. Dengan perasaan kesal dan marah.
Di rumahnya Syena baru saja tiba dengan rupa yang berantakan.
"Ya ampun Syena kamu kenapa.. Astaga.. papa lihat," ucap Mamanya menahan tawa melihat rupa dan bentuk wajah Syena yang terlihat seperti gembel.
"Mandi sana," ucap Papanya dengan menatap heran kearah Syena sambil mencium bau tak sedap yang keluar dari bau lumpur yang ada di pakaian Syena.
Setelah selesai Syena kembali turun kebawah untuk makan malam dengan keluarganya.
"Makanya kamu enggak usah ganggu Ayla lagi." Seketika Syena menatap ayahnya dengan tatapan heran dan juga mamanya yang menatap Syena dengan menganggukan kepala.
"Papa kenapa bela Ayla.. kan aku yang di buat jadi korban disini sama Ayla."
"Ehm.. kamu yakin. Bagaimana dengan rekaman ini," ucap mamanya menyerahkan ponselnya yang memperlihatkan perlakuan Syena pada Ayla sejak awal.
"Kamu tahu Arga itu sangat memperhatikan istrinya dan kamu malah terus-terusan mencari gara-gara. Atau kamu merindukan hukuman mama. Besok mama akan memberikan hukuman kamu untuk memasak, bagaimana?" ucapan mama Syena seketika membuat Farhan bangkit dan menatap Syena lalu membalikan jempolnya ke arah bawah di depan wajah Syena.
"Jangan pernah memintanya untuk memasak makan malam atau makan untuk keluarga." Setelah mengucapkan itu dan makan malam Farhan yang baru saja selesai langsung pergi.
"Engga mau mamah.. Syena besok ada eh.. Jangan telpon menager Syena mah.. Yah.. Papah... Mah." Seketika Mamanya mematik sambungan telepon dan tersenyum pada Syena.
Ketika Syena sibuk menatap Farhan dan mendengarkan serta memperhatika Farhan yang berlalu pergi sejak itulah Mamanya menelpon Manager atau asisten Syena untuk mengosongkan jadwal Syena karena alasan Mamanya.
Ayla.. liat aja yaa awas!.. sering banget deh di hukum gini.. oh aku kan bukan anak-anak lagi mah, batin Syena.
Mengaduk-aduk nasinya dan memakannya dengan kesal.
__ADS_1