
Ayla berjalan dengan tongkatnya tanpa tahu tujuan dan terus melangkah di atas terotoar.
Sudah dua jam lebih aku di luar rumah sekarang aku lelah, batin Ayla.
Seketika terdengar suara orang asing memanggil Ayla.
"Nona.. nona.." Ayla menghentikan langkahnya dan menoleh menatap ke segala arah.
Seketika tepukan di bahu Ayla terasa.
"Nona ini Bibi.." ucap Art Ayla yang dulu.
"Maaf Pak saya sampai disini ya.. ini uangnya terimakasih." Bibi Art memberikan uang ongkos pada tukang ojek.
Setelah tukang ojek pergi Bibi mengajak Ayla untuk duduk di halte terdekat karena Ayla terlihat sangat lelah.
"Bibi.. Bibi disini."
"Iya Non.. Bibi tadi abis pulang dari tempat tetangga yang rumahnya habis pindahan dan Bibi di suruh bantu masak untuk acara selametan."
"Non.. Non.. sakit lagi?" ucap Bibi Art yang melihat jika Mata Ayla kembali tidak bisa melihat lagi.
"Maaf Non bibi enggak bermaksud." Seketika Ayla menggenggam tangan bibi dan menggeleng.
"Ayla sakit lagi bi, mungkin Ayla hanya di beri kesempatan sekali hanya untuk melihat dunia. Setelah itu Tuhan mengambilnya lagi. Ayla juga senang karena Tuhan masih menyayangi Ayla. Dengan tidak membiarkan Ayla melihat wajah semua orang yang selalu berbuat jahat pada Ayla."
"Nona kita kerumah bibi aja nanti biar bibi hubungi Tuan Arga untuk jemput."
Seketika Ayla menggeleng. Bibi menatap Ayla aneh.
"Kenapa non. Apa Nona tidak ingin kembali nanti Tuan akan khawatir mencari keberadaan Nona!"
"Biarkan saja Bi Aku tidak masalah.. aku tahu tanpa di beritahu pun Arga bisa menemukanku. Aku ingin menjauh sebentar."
"Tapi, Non ini enggak baik buat hubungan nona dan Tuan Arga. Nanti jika Nona kenapa-kenapa Bibi harus bagaimana. Tuan Arga nanti akan sangat marah ..."
"Enggak bi Ayla akan pastikan Bibi baik-baik saja.. Bibi kan sayang sama Ayla. Ayla mohon bi... Ayla juga akan menjaga kesehatan supaya tidak akan menyusahkan bibi."
Bibi Art Ayla berpikir keras.
"Ehm.. Ya udah deh Non boleh deh tapi, Kita jalan kaki ya.. Nona bisakan. Bibi enggak bisa bayar kalo naik taksi, ongkos bibi kurang."
"Iya enggak apa-apa.. sekalian jalan-jalan olahraga.. kan bagus buat ibu hamil."
Ayla dan Bibi Art meneruskan langkahnya dan menikmati setiap langkah mereka dengan saling bicara sepanjang perjalanan mereka.
Di Mansionnya Arga terus memarahi anak buahnya dan Dafa yang tidak kunjung menemukan Ayla.
Setelah lelah marah Arga pergi untuk mendinginkan kepalanya.
Arga sekarang berdiri di bawah guyuran air sower dengan tangan menyanggah pada dinding.
Menyugarkan rambutnya dan membuang nafasnya kasar. Arga menatap dinding di depannya dan terdiam seketika.
Keluar dari kamar mandi dengan jubah handuk dan celana panjang dan atasan yang terbuka memperlihatkan tubuh yang begitu bagus karena Arga rajin berolahraga dan bersih, sekilas hanya bekas luka samar terlihat sedikit jika di lihat dari jarak dekat.
Membuka Leptopnya dan memeriksa semua hal yang di ketahui tentang beberapa alat yang pernah di berikan dan di pasang pada barang-barang Ayla.
"Tongkat..." Gumam Arga. Seketika beralih mendekat ke meja nakas dan mengambil tongkat Ayla yang pernah Arga berikan.
"Ini Tongkat yang tidak ada alat pelacak berarti tongkat satunya ada pada Ayla." Guaman Arga dengan tersenyum aneh.
Seketika Arga mengambil Air minum dan membawanya, meletakannya di atas nakas. Memeriksa Leptipnya di atas kasur. Terlihat titik merah itu berapa di tempat yang terlihat sangat tidak asing bagi Arga.
__ADS_1
"Pemukiman... Kontrakan.. Bibi art.. mungkin?" gumam Arga.
Mengambil ponselnya. Dan menelpon Dafa.
"Iya Tuan." Sahut Dafa.
"Periksa kontarakan yang di tinggali mantan Art Ayla.
"Baik Tuan."
"Jangan bertindak apapun jika Ayla berada di sana biarkan saja dan tetap awasi," ucap Arga.
Seketika ponsel tertutup Dafa langsung keluar dan melajukan motornya menjauh dari Mansion Arga.
Di Kontrakan yang begitu sederhana Ayla sekarang berada.
"Ehm.. non bibi adanya baju bibi dulu yang belum jelek-jelek banget sih tapi ini mendingan, lumayan. Tapi, kalo non enggak mau bibi bisa kasih baju lainnya yang lebih baik.."
"Ah.. enggak bi.. enggak usah repot-repot yang penting baju dan bisa di pakai Ayla enggak keberatan kok Bi."
"Ehm kalo gitu bibi ke luar kedapur dulu ya siapin air hangat untuk nona mandi."
"Eh.. bi enggak usah Ayla mandi dengan air biasa aja.. jangan repot-repot gini Bi. Ayla jadi enggak enak."
Bibi tersenyum dan mengangguk.
"Ya sudah kalo gitu bibi mau buang sampah di depan dulu."
Ayla pergi membersihkan dirinya dan Bibi pergi keluar untuk membuang sampah.
Seketika seseorang dengan pakaian santai dan rapi mendekati Bibi.
"Selamat malam. Saya Dafa asisten Tuan Arga." Dafa langsung memperkenalkan dirinya ketika Bibi menatapnya dengan mengangguk sekali.
"Asisten Tuan Arga."
" Apa Nyonya Ayla ada bersama Anda?" ucap Dafa dengan sopan.
"I-iya.. Non Ayla ada di dalam apa perlu bibi panggilkan."
"Bagus.. Hem.. tidak.. Bi.. bibi cukup jaga Nyonya saja dan juga sebentar bi saya angkat telpon," ucap Dafa ketika ponselnya bergetar di sakunya.
Bibi Mengangguk.
Dafa mengangkat telpone dari Arga.
"Iya Tuan."
"Benar Nyonya ada di sini."
"Berikan uang pada Bibi untuk kebutuhan Ayla." Arga di sebarang sana.
"Baik Tuan."
"Bilang pada bibi untuk tidak memberi tahu Ayla." Ucap Arga lagi.
Seketika telpepon terputus dan Dafa kembali menatap Bibi.
"Tuan mengatakan jika Nyonya akan tinggal sedikit lebih lama atau sampai Tuan atau Nyonya sendiri yang meminta pulang."
Bibi mengangguk.
Seketika bibi melihat Dafa mengeluarkan dompet dan uang tunai.
__ADS_1
"Tuan yang meminta saya untuk memberikan ini pada Bibi untuk Nyonya jika sewaktu-waktu membutuhkan atau menginginkan sesuatu Bibi tidak bingung."
Bibi menerimanya dengan tidak enak hati.
"Terimakasih Tuan Asisten saya akan merahasiakannya. Dan maaf Tuan saya tadi menemukan nona Ayla sedang berjalan kaki sendirian dari taman dekat danau kebetulan saya melewati jalan itu jika saya tidak melewati jalan itu, mungkin. Eh.. maaf Tuan."
"Tidak masalah bi.. Sekarang Bibi temani saja nyonya.
Dari jauh juga saya sudah menaruh bawahan saya untuk mengawasi Bibi dan Nyonya jadi jangan khawatir."
"Ah.. Baik Tuan.. Terimakasih."
"Baik bi.. sama-sama saya pergi dulu." Dafa pergi dan Bibi kembali berjalan masuk dan menutup pintu.
Seketika Bibi mendengar Ayla baru keluar dari kamar mandi dengan suara pintunya.
Menghampiri Ayla.
"Bibi Masak apa?" ucap Ayla. Ketika tanpa sadar bibi sudah di dekatnya.
"Eh.. Nona sudah selesai. Nona lapar?"
"Hem.. iya bi."
"Bibi masah sayur lodeh sama tempe goreng pake sambel terasi tapi, apa nona mau... ini sudah dingin?"
Seketika Ayla mengangguk.
"Ah mari Nona bibi akan siapkan." Ayla menunggu di depan meja kompor dan merasakan jika Bibi sedang mondar mandir.
"Ehm bi.. langsung jadi satu saja biar enggak ngotorin banyak piring."
"Ah.. gitu ya.."
"Kayak biasanya ya bi." Bibi mengangguk dengan tersenyum.
"Siap Non bibi inget kok. Ini udah.. Kita makan di depan tv aja ya bibi ada kerupuk kalo Nona mau."
Sekarang Ayla makan dengan nyaman dan makanan yang sederhana di depan tv sambil memakan kerupuk dari toples.
Nona Ayla.. Bibi jadi sedih melihat nona Ayla selalu terlihat begitu baik-baik aja. Tuan Arga pasti akan menangis melihat Nona makan-makanan seperti ini menggunakan pakaian dari pelayan. Batin Bibi
Di Mansionnya Arga tidak bisa tidur Arga menyibukkan dirinya dengan pekerjaan dan Lalita sudah berulang kali meminta Arga untuk beristirahat itupun di perintah ayahnya.
"Tidurlah.. Kesekian kali lagi kau masuk keruang kerjaku aku tidakan memberikanmu uang jajan."
"Haah.. iya...iya," Lalita menyerah.
Lalita pergi dari depan pintu ruang kerja Arga dan manaiki tangga menuju kamarnya.
Seketika di tangga kedua dari bawah. Ayah datang.
"Bagaimana?"
"Tidak mau.. Aku tidak mendapat uang jajan jika menghampirinya lagi."
"Hem ya sudah istirahat lah."
"Pah.. kakak diamana memangnya."
"Aku juga tidak tahu. Tapi, untuk sekarang kau ikutilah keinginan kak Arga. Haah.. ayah mengantuk aku akan tidur lebih dulu jika kau tidak ingin tidur."
Dimana kak Ayla sebenarnya kenapa kak Arga.. batin Lalita.
__ADS_1
Seketika Arga keluar dari ruang kerjanya menatap Lalita dengan tatapan tajam.
Lalita langsung berlari menaiki tangga untuk segera masuk kedalam kamarnya.