
"Selesaikan sandiwara ini," ucap Arga menatap Lalita dan ibunya. Sedikit melirik ayahnya.
Ayah Arga mengambil nafas dan menghembuskannya kasar.
Menatap Lalita dan ibunya.
"Sebenarnya Lalita bukanlah putri kandungku, Ibu mu datang padaku dan mengatakan aku telah membuatnya mengandungmu,Lalita," menatap Lalita
" ibumu mengancam akan bunuh diri jika sampai aku tidak mengakuinya," jelas Ayah Arga.
"Istri pertamaku menyuruhku untuk menikahi ibumu tak lama setelah itu dia meninggalkan aku dan Arga untuk selamanya." Lalita memandang ibunya dan juga Arga.
"Aku sebenarnya curiga tapi, rahasia yang ibumu miliki tentang mu sangat sulit aku dapatkan, dan akhirnya aku bisa mengetahuinya ketika kamu berusia remaja. Aku sengaja menahannya dan terus berpura-pura tertipu oleh ibumu karena aku kasihan padamu."
Ayah Arga menatap Lalita yang menggeleng lalu tertawa menatap Ayah Arga.
"Maah ini semua gak benerkan.. Mah," ucap Lalita tidak bisa menerima kenyataan.
"Sekarang pilih lah Ingin tinggal dengan ibumu Atau kau tinggal dengan Kami," ucap Arga dengan wajah datar dan suara yang tegas menatap Lalita yang masih menuntut ibunya untuk bicara.
"Hehe.. ini semua bohong.. kalian sengaja melakukan inikan..."
"Kak Arga sengaja melakukan ini karena kakak gak suka dengan aku yang dekat dengan Ayla bukan."
"Lalita...Adik ku sayang," ucap Arga di buat lembut tapi, terdengar mengerikan di telinga Lalita. Seketika Lilat ketakutan dengan ekspresi datar yang tidak pernah Lalita lihat sebelumnya.
"Ini semua kenyataan yang ada. Tanya saja pada wanita yang melahirkanmu," ucap Arga lembut di selingi smirk aneh juga mengerikan.
Lalita menatap Ibunya meninta penjelasan.
"Bagaimana bisa?" ucap Utami ibu tiri Arga dengan ekspresi berpikir keras lalu menatap Ayah Arga.
"Heh... kau kira aku sebodoh itu menerima mu hingga sekarang."
"Ini semua aku lakukan karena aku hanya mengasihani anakmu yang baru berusia tujuh belas tahun. Sekarang sudah hampir dewasa," ucap Ayah Arga dengan suara tegas dan tidak bisa di jawab ibunya Lalita.
Seketika Lalita terkejut tubuhnya bergetar hebat dan hampir menangis.
"Sekarang keluar dari rumah putraku dan kalian berdua jangan pernah menganggu Menantu dan Putraku," ucap Ayah Arga tegas dan wajah datar.
"Tidak, AKU TIDAK BISA...Aku sudah mengurus Arga sejak kecil dan sekarang ini balasannya.
Arga dan Ayahnya tersenyum lalu mengangguk bersama.
Menggeleng menatap ayah dan anak lelaki itu.
"Apartemen kecil yang sengaja aku berikan hanyalah untuk tempat kalian berteduh dan... Aku tidak bisa tinggal disana," ucap Ayah Arga dengan sombongnya.
"Apa.. Luis.. Apa-apaan yang kau lakukan aku terpaksa tinggal ditempat sempit dan kau tinggal di istanamu kukira kau ... "
"Haha... kenapa kau terkejut itu pembalasan untukmu yang memanfaat segala cara untuk mendapatkan tempat sebagai istriku, bukan."
"CUKUP.. CUKUP.... MAH PAH... KENAPA KENAPA KALIAN.. Kenapa mama sama papah dan siapa.. siapa ayah aku sebenarnya Mah... " Menatap ketiga orang yang juga menatapnya.
__ADS_1
"Mah...jawab Lalita mah... kenapa ini tiba-tiba gini bukannya selama ini mama sayang sama lalita kan mah."
"Kamu anak haram yang sengaja aku manfaatkan suapaya aku bisa tinggal dengan Luis dan kamu juga hidupnya dengan kemewahan ini bukan." Lalita menggeleng entah kenapa rasanya hatinya tercabik dengan perkataan anak haram yang ibunya katakan secara langsung.
Lalita berdiri dan menatap kedepan, akhirnya Lalita menangis juga.
"Haah.. Haram.. Aku anak haram.. Berati Mama Wanita Jalang," ucap Lalita menatap ibunya.
Seketika tamparan mendarat di wajah Lalita.
Terkejut, menerima tamparan itu dan memegangi pipinya yang panas, Lalita terkekeh.
"Kenapa iya bener.. Lalita ngomong itu benar adanya iyaa.."
Kedua kalinya tamparan itu membuat kedua wajah Lalita memerah.
Ingin ketiga kalinya Tamparan itu melayang di wajah Lalita tapi, di tahan Arga.
"Ck..ck.. tidak berperasaan. Kau ini seorang ibu atau bukan?"
Menarik tangannya kasar dari cengkraman Arga. Menatap Lalita menunjuk wajahnya.
"Dasar Anak haram tidak tahu di untung... sudah enak hidup mewah ini balasannya, Percuma aku membesarkanmu, kalo tahu seperti ini lebih baik aku bunuh sejak lama," ucapnya menatap Lalita, menatap Arga dan Ayahnya. Pergi begitu saja dengan perasaan malu dan marah karena rahasianya sudah terbongkar sejak lama.
Biasanya ibunya Lalita selalu tahu jika Ayahnya Arga melakukan sesuatu di belakangnya kecuali, hal yang tak pernah ibunya Lalita pikirkan.
Lalita berusaha menghentikan tangisnnya.
Berjalan pelan mengambil kopernya. Mengejar langkah ibunya yang hampir tidak terlihat.
"Dia tidak bisa tinggal," jawab Arga cepat.
"Iya.. benar aku hanya anak haram yang tidak di ingin kan siapapun aku akan tinggalkan tempat ini malam ini," ucap Lalita pelan sambil melangkah menyeret kopernya, mengusap Air mata yang terus keluar.
Seketika hujan turun dan gemuruh dimana-mana.
"Jika kau ingin merubah sifatmu dan menghilangkan rasa sukamu padaku aku akan berusaha menerimamu di tempatku," ucap Arga lagi dengan datar tanpa menatap Lalita.
"Hehe.. Jangan terpaksa menerima seorang pengacau sepertiku.. aku tahu kakak lebih membenciku dari apapun karena ulahku pada Ayla."
"Aku melupakan tentang itu," ucap Arga. Lalita menghentikan langkahnya sekatika.
" Ayla tidak akan suka jika Aku membalas perbuatanmu dan ibumu padanya," ucap Arga lagi.
"Bohong!.. mana Ada orang yang tidak marah jika kehidupannya terusik," ucap Lalita lalu terkekeh.
"Kau ingat sambal yang sengaja kau berikan,
kau ingat hampir membunuh Ayla di tangga hingga koma dua hari," ucap Arga datar. Berbalik menatap Lalita dari
"Dan hal lainnya yang kau perbuat padanya?"
"Ayla tidak mau aku membalasnya karena kasihan denganmu, Ayla sangat menyayangimu karena kau adik iparnya."
__ADS_1
"Jika aku tidak memikirkan Ayla dan lebih memilih menghukummu pada saat itu juga."
"Jangan kira kau tidak tegas, Aku sengaja mendiami kalian karena aku punya alasan, Jika aku mengatakan alasannya apa mungkin Kalian malah lebih berbuat atau malah lebih berbuat nekat pada Ayla."
"Aku tahu Kau, Claudia, ibumu, Calysta."
"Kalian sengaja terus mencari kelemahan dan kesalahan orang lain untuk menjatuhkannya."
"Sekarang pilihanmu ingin tinggal dan merubah sifatmu lalu meminta maaf pada Ayla. Atau.. angkat kaki dari rumah ini dan berjalan tak tentu arah," ucap Arga menatap Lalita tajam.
Seketika Lalita meletakan kopernya dan perlahan dengan gemetar memutar arah langkahnya berjalan pelan, sedikit cepat, dan berlari menaiki tangga. Membuka kamar Ayla dan menubruk Ayla.
"Kakak... Hiks.. Kakak. Aku minta maaf kak.. Aku salah.. Kakak.. aku minta maaf.. aku salah... aku salah kak.. Mama gak mau ngakuin aku anaknya sekarang Lita gak punya siapa-siapa.. maaf kak.. Hiks.. hiks.. kakak... Kak Ayla Hiks."
Di lantai bawah Arga menatap Ayahnya yang santai seperti tidak terjadi apa pun.
"Minumlah air hangat agar urat tuamu tidak tegang."
Arga berlalu menaiki tangga meninggalkan Ayahnya yang menonton Televisi setelah Arga berlalu.
Arga berdiri di depan kamarnya menatap Ayla dan Lalita yang masih berpelukan. Seketika menyadari Arga yang berdiri di depan pintu.
Apa yang Kamu lakukan, batin Ayla.
Aku tidak melakukan apapun, batin Arga.
Mengedikkan bahunya dan melipat tangannya di atas perut, bersandar miring pada kusen pintu.
"Kakak... Hiks." Suara tangis Lalita terdengar begitu pilu di telinga Ayla sejak kedatangannya dan hingga sekarang.
Ayla menarik dirinya dari pelukan Lalita. menatapnya.
"Ya ampun wajah kamu merah banget Lita,"
"Bibi Tolong es untuk Lalita," ucap Ayla seketika Lisa mengangguk dan keluar dari kamar Arga.
Ayla mengajak Lalita untuk duduk di kursi dekat pintu balkon.
"Cerita, ada apa sebenarnya," ucap Ayla lembut.
"Maaf.. Hiks.. maaf kakak.. Lalita salah.. Maaf kak.. Hiks.." Ayla bangkit dari duduknya melangkah mengambil air untuk Lalita.
"Minum," ucap Ayla.
Lalita masih sesegukan dan menunduk memandang gelas tersebut malu menatap Ayla. Seketika Ayla merebutnya pelan dan kembali memeluknya.
Tak lama Lisa datang membawa sekantong es untuk kompres.
"Terimakasih bi.. Bibi istirahat saja."
Lisa mengangguk dan berpamitan pergi.
"Maaf Kak.. Maaf..." ucap Lalita masih terus meminta maaf.
__ADS_1
Walaupun Aku hampir membunuhnya dan membuatnya tersiksa dia masih mau bersikap lembuat seperti ini, batin Lalita.
Kak Ayla memang perempuan baik, batin Lalita.