Istri Buta Tuan Muda

Istri Buta Tuan Muda
Gaun pertama yang indah


__ADS_3

"Lalita apa aku harus membuat pakaian dan menghasilkan uang sendiri? Tapi, aku bukan ingin uangnya aku hanya ingin melihat seberapa jauh aku mampu."


Lalita mengangguk dengan ucapan Ayla.


"Itu sih terserah kakak Lita mah.. kurang tahu tentang itu. Tapi, kalo menurut Lalita. Kalo kakak mau menjadi desainer. Kakak harus siap yang namanya usaha itu kadang mulus kadang enggak juga. Kakak coba aja... itu kan enggak ada salahnya buat nyoba."


"Hem bisa juga..." Ayla berpikir.


"Aku akan keluar sebentar kamu dan Bibi pengasuh jaga mereka ya." Ayla keluar di tatapan dari belakang oleh Lalita yang masih mencerna ucapan Ayla.


Sampai Ayla di Mall untuk membeli mesin jahit dan juga bahan untuknya mencoba membuat pakaian.


Setelah selesai dan dibayar ke kasir Ayla langsung kembali pulang kerumah dan mencoba semuanya di ruangan lain yang masih kosong.


Lisa dan Pelayan lainnya membereskan dan merapikan kamar tersebut lalu menyusun barang-barang keperluan nyonyanya.


"Sudah semua tapi, kenapa Anda hanya membeli ini kenapa tidak di lengkapi dengan barang lainnya," ucap Lisa pada Ayla yang melihat ruangan barunya.


"Ehm itu.. Ah tidak dulu akukan hanya mencoba jika sudah menjadi bagus dan juga hasilnya lumayan aku akan menambahkan barang-barang lainnya.


Di kantor.


Dila sengaja menggunakan pakaian yang sangat mini dan juga pakaian yang memperlihatkan beberapa lekuk tubuhnya yang sangat ramping dan seperti model.


"Besok gunakanlah pakaian yang lebih baik dan sopan jika sampai kamu lakukan ini lagi aku akan memecatmu," Ucap Arga dengan tegas. Tanpa menatap Dila.


Seketika Dila mengangguk takut. Dilla kira Arga akan terpengaruh dengan apa yang di perlihatkannya ternyata Arga malah mengeritiknya dan mengancam akan memecatnya jika menggunakan pakaian itu lagi.


Sialan kenapa wajahnya begitu sangar dan mengerikan, jika biasanya Tuan Arga terlihat ramah dan baik-baik saja, batin Dila.


Melangkah keluar ruangan Arga sambil membawa berkas yang sudah di tanda tangani.


Restoran dekat kantor tempat biasa Thalita memanggil Dila untuk bicara.


"Lama sekali apa kau tidak bisa melakukannya." Thalita sambil menyedot rokoknya.


"Tenanglah Thalita aku bukannya tidak bisa aku butuh waktu bukan hanya cepat-cepat saja." Kesal Dila.


"Hem... baiklah aku akan menunggumu melakukan hal itu tapi, jika sudah kau bisa membuat kesalahan itu sebagai kesalahan Rosa kakaknya. Dan besok aku akan pergi keluar menghadiri pernikahan suamiku." Seketika Dila menatap Thalita jengah.


"Apa peduliku pergilah sana aku akan segera menyelesaikan urusan dan pergi jauh darimu dasar tukang perintah." Dilla pergi dari sana dan segera memsuki kantor takut ada yang curiga padanya.


Sampai di kantor Aulia baru keluar dari Lift.


"Dilla kemana saja kau. Ayo aku mencarimu sejak tadi." Aulia segera menarik Dila masuk kedalam Lift.

__ADS_1


Mereka pergi menaiki lif dan memasuki ruangan Dafa.


Sampai di ruangan Dafa. Larissa Aulia dan Dila sekertaris baru duduk di sofa ruangan Dafa.


"Maaf sebelumnya Pak saya akan mengundurkan diri karena suami saya tidak bisa jika saya harus bekerja lagi. Dan ini surat pengunduran diri saya. Terimakasih pak." Jelas Larisaa.


"Hem baik.." Dafa menerimanya. Dila melirik melihat hal itu seperti kesempatannya.


"Dan Dila kamu bisa bekerja sama dengan Aulia. Masa percobaanmu akan segera berakhir gunakan dengan baik, pakaian yang sopan. Kinerja di tingkatkan jangan terlalu jauh untuk makan siang jika Aulia mencarimu tidak perlu repot-repot. Jika kamu ingin mencari tempat lainnya kalian bisa pergi bersama atau saling mengabari. Kita sangat sibuk dan jadwal Tuan Arga juga sangat padat. Kau mengerti Dilla."


"Baik Pak." Dilla mengangguk paham dan juga Aulia dan Larissa.


"Sekarang kalian bisa pergi dan Larissa kau bisa bereskan barangmu sekarang."


Mereka bertiga keluar ruangan Arga dan di ruangan Sekertaris depan ruangan Arga.


Larissa dan Aulia saling berpamitan dan Dilla juga meminta semangat untuk bisa bekerja lebih baik.


"Oya untukmu Dilla jangan pernah mengeluh lelah di depan pak Dafa atau Tuan Arga. Karena jika mereka mendengarnya kamu bisa (mengiris leher dengan satu jari) langsung di pecat dan di denda. Kamu sudah menandatangani surat perjanjiannya bukan."


"Belum," Sahut Dilla. Larussa dan Aulia mengangguk.


"Ah baiklah mungkin belum karena kamu masih menggantikanku mungkin besok kamu akan menerimanya. Semangat Dilla. Aulia aku pergi yaa.. daah!" ucap Larissa sambil membawa sekardus barang-barangnya dan meninggalkan. Mereka berdua.


Sampai Larissa di luar seorang wanita dengan pakaian rapi dan formal datang memasuki kantor.


Sampai di ruangan Arga dan Dafa membukakan pintu ketika di ketuk. Kebetulan Arga sedang bersama Dafa di ruangannya.


"Selamat siang Tuan, saya sekertaris Tuan Edward menyampaikan undangan pernikahan pada anda." Memberikan undangan supermewah yang terbungkus amplop yang terbuat dari bahan kain busa dan undangan yang di buat dati kaca.


"Hem.."


"Kalo begitu saya pamit undur diri." Setelah Arga mengangguk dan membuka undangan tersebut Sekertaris Edward keluar bersama para pengawalnya.


"Anda akan datang Tuan?"


Arga diam dan memasukan kembali undangan tersebut ke wadahnya.


Di rumah Ayla baru saja menyelesaikan karyanya yang begitu cantik.


"Wow.. kak ini cantik sekali.. aku mau dibuatkan ya kak." Lalita tiba-tiba ketika tidak sengaja melihat Ayla menatap hasil karyanya.


"Masa ini bagus.. aku tidak percaya diri dengan karya yang aku buat Lalita."


"Kemarikan biar aku buat kakak terlihat menarik." Lalita membawa Ayla untuk di dandani dan seketika selesai menggunakan gaun yang dibuatnya sendiri.

__ADS_1


Terlihat di cermin besar ruangan Ayla. Ayla terlihat begitu cantik dan juga terlihat sangat manis. Warna abu-abu dengan beberapa hiasan kecil dan juga terlihat sangat simpel dan membuatnya hanya perlu waktu Lima sampai empat jam lebih sambil memeriksa dan mengurus si kembar.


"Cantik sekali." Seketika Ayla dan Lalita menoleh ke arah suara.


Arga sedang berdiri dengan melipat tangannya menatap Ayla yang menggunakan gaun buatannya sendiri.


"A-aku akan menggantinya.. " Ayla segera berlari pergi tapi, tangan Lalita lebih cepat menghentikannya. Arga berjalan mendekat dan Lalita langsung pergi ketika Arga sudah mendekat.


"Kamu benar-benar sangat cantik, Apa kamu belanja hari ini." Arga menatap Ayla dengan lembut.


Ayla menarik nafas menghembuskannya perlahan dan memutar badannya menghadap Arga.


"A-aku jelek bukan.. sebaiknya aku mengganti pakaiannya saja."


"Siapa yang bilang.. aku kan mengatakan jika kamu sangat cantik tidak jelek.


Gunakan gaun itu untuk pergi ke pesta Edward. Nanti malam kita berangkat. Sekalian kita pergi ke tempat nenek."


"Tapi, ini gaun yang jelek." Teriak Ayla ketika Arga pergi keluar dari pintu dan tidak menghiraukannya lagi.


Malam ini setelah semuanya beres Ayla dan si kembar juga mengajak Nena pergi. Karena Lisa tidak bisa dan Lalita yang harus ujian. Jadi hanya si kembar, Ayla, Arga dan Ayahnya.


Perjalanan malam yang membuat mereka harus bisa tenang. Jika sewaktu-waktu si kembar rewel. Arga juga tidak bisa menyentuh barang-barangnya karena Zeline ingin bermain dengan Arga.


Sampai di bandara Pesawat pribadi yang sudah Dafa siapkan kini tinggal menunggu Arga dan keluarga menaikinya.


Setelah di dalam pesawat Ayla pergi ke tempat istirahat bersama Arga dan si kembar.


Tidak terasa pesawat sudah mengudara.


"Huh.. Lapar sekali ternyata." Menyusui Erlangga saat ini dan Zeline dalam gendongan Nena.


"Apa kamu tidak mau jika mereka meminum susu dari dot saja." Arga yang melihat Ayla sering kelehan karena sikembar selalu memiliki nafsu meminum Asi yang kuat.


"Tidak Arga mereka lebih bagus menggunakan Milik ibunya dari pada harus menggunakan Dot. Aku juga sudah bertanya pada Dokter Hanum." Ayla tersenyum.


"Baiklah.. jika Gigi mereka sudah tumbuh kamu hati-hati." Arga mengusap kepala Ayla lembut dan pergi dari ruang istirahat meninggalkan Nena dan juga Ayla bersama si kembar.


Tak berapa lama mereka sampai di tempat Nenek Arga dan lainnya langsung di sambut pelayan dan langsung bertemu dengan Nenek Arga.


"Maaf ya sayang Eyang selalu sakit pinggang. Maklum sudah sangat berumur." Menjelaskan pada Ayla dan si kembar.


Mereka di antar pelayan lain untuk pergi kekamarnya. Arga dan Luis sekarang duduk di ruang tenagh bersama Nenek Arga.


"Kalian datang kesini tidak bermaksud apa-apa bukan jika sampai kalian melakukan hal ceroboh pada ketiga orang kesayanganku aku akan membuat kalian jadi dendeng manusia ingat itu baik-baik." Nenek kembali berdiri dengan tongkatnya di bantu Asistennya.

__ADS_1


__ADS_2