Istri Buta Tuan Muda

Istri Buta Tuan Muda
Perhatiannya


__ADS_3

Dalam perjalanan. Mobil yang Ayla dan Arga kendarai, baru saja menjauh dari Mansionnya.


Sekarang mereka sudah berada di jalan raya dan merasakan ramainya ibu kota di siang hari yang lumanyan berawan dan tidak seterik yang tadi.


Didalam mobil yang sunyi. Tidak ada pembicaraan yang terjadi ketika mobil sudah berjalan di jalan raya yang ramai.


"Tuan," ucap Ayla takut-takut. Ayla berusaha mengeluarkan suara untuk mencairkan suasana di dalam mobil.


Arga menoleh lalu kembali lagi pada kemudinya.


"Apa?" ucap Arga.


"Tuan sebenarnya anda itu siapa?" ucap Ayla takut salah bicara.


"Maksudnya?" ucap Arga lagi.


"Hem... apa pekerjaan anda dan kenapa di rumah Anda banyak sekali suara orang?" ucap Ayla perlahan takut dirinya salah berucap.


Arga tersenyum mendengar Ayla menanyakan tentang pekerjaannya dan hal yang perlu Ayla tanyakan pada Arga.


"Untuk apa kamu menanyakannya Ayla?" ucap Aga lagi, balik bertanya.


"Tidak, tidak apa-apa hanya saja sepertinya saya merasa harus menanyakannya," ucap Ayla berusaha menahan gugupnya dan takutnya.


"Aku hanya pekerja kantoran dan yang ada di rumah itu pelayan, Aku hanya tinggal sendiri bersama pelayan," ucap Arga santai dan apa adanya.


"Maafkan saya, jika pertanyaan saya tadi menyinggung anda," ucap Ayla sambil tangan dan jarinya yang masih saling meremas dan bermain untuk menekan rasa gugupnya.


"Tidak aku tidak masalah, Istri yang bertanya apa pekerjaan suaminya itu tidak salah," ucap Arga.


Ayla hanya menatap terus lurus kedepan dan seketika mata Ayla memanas dan ingin menangis.


Ayla langsung menahannya agar tidak keluar dan memperlihatkan jika dirinya gampang sekali menangis.


Arga yang melihat Ayla diam saja seketika, berinisiatif untuk menyalakan musik.


Lagu yang santai terputar di radio mobil Arga.


Arga yang menggunakan topi hitam dan masker abu-abu lalu kaos dengan tangan panjang.


Arga juga mengenakan celana Jeans yang sedikit robek di lutut dan di bawah lutut.


"Ayla," ucap Arga santai.


Seketika Ayla menoleh.

__ADS_1


"I-ya tuan," ucap Ayla.


"Ah... tidak Tuan tapi, Arga... bagaimana? Jika Tuan aku terlihat seperti orang yang terlalu tua," ucap Arga.


"A-arga," ucap Ayla gugup.


Arga tersenyum lalu berdem dengan mengangguk.


Mengikuti alunan lagu-lagu yang sedang di putar.


"Apa kamu menyukai musik Ayla?" ucap Arga sembari fokus pada jalanan.


"Tidak juga, hanya saja saya senang menghibur diri dengan lagu atau hal lain yang bisa diputar di dalam Mp3 saya dulu," jelas Ayla masih sedikit kaku.


"Terbiasalah Ay, aku jadi tidak enak jika kamu terus-terusan gugup," ucap Arga, lalu menolah pada Ayla, melihat wajah Ayla yang murung, terlihat lucu bagi Arga.


"Iya," ucap Ayla berusaha untuk terbiasa.


"Lebih baik kedengarannya," ucap Arga dengan senyuman.


Akhirnya mobil Arga berhenti di toko ponsel.


Arga mengajak Ayla turun dari mobil. Ayla yang bingung hanya mengikutinya.


Setelah keluar dari mobil dan berjalan masuk kedalam toko. Ayla masih menggenggam tangan Arga dengan erat, Ayla merasa jika tempat yang mereka datangi sangat ramai. Seketika telinga Arga mendengar bisik-bisik tentang Ayla.


Ayla mengangguk dengan takut dan malu.


"Baiklah, jika kamu tidak nyaman lain kali saja kita kemari," ucap Arga segera menarik tangan Ayla untuk pergi keluar dari toko.


"Ar...Arga, jangan, tidak apa-apa aku tidak masalah. Lagi pula kamu pasti ada urusan di tempat yang ramai ini kan, a-aku gak papa," ucap Ayla.


Arga lagi-lagi tersenyum hanya mendengar Ayla berbicara seperti itu. Arga merasa jika Ayla bicara dengan gugup, ketakutan ataupun gerogi tidak jelas itu membuat Arga benar-benar terhibur.


"Ya sudah tapi, jangan lepaskan tanganmu, ok," Ucap Arga sembari melangkah dan menggenggam tangan Ayla yang seperti tak akan pernah Arga lepaskan kapan pun itu.


Sampai Arga dan Ayla di bagan Mp3. Arga memilih warna yang cukup menarik dengan warna yang tidak terlalu mencolok.


"Coba yang warna silver, biru, dan hitam itu," ucap Arga pada penjual. Penjual itu mengambilkan semua warna Mp3 yang Arga tunjuk tadi.


"Ar-Arga kamu mau beli apa?" ucap Ayla yang penasaran.


Seketika Arga mengnagkat wajahnya dan tersenyum lalu mengambil warna hitam dan meminta penjual membungkusnya. Arga langsung membayarnya dengan uang tunai.


"Membelikanmu Mp3," ucap Arga santai sembari memberikan bungkus itu pada tangan Ayla.

__ADS_1


Ayla yang terkejut langsung meraba benda yang di berikan Arga pada tangannya.


"Tapi, apa," ucap Ayla yang ragu.


"Sekarang bukan waktunya bertanya, Ayo ikut aku lagi, bukannya kamu ingin pergi ke taman yang ada di dekat danau?" ucap Arga.


Ayla mengangguk dan mengikuti langkah Arga yang terus menariknya perlahan dan kadang berjalan di samping Ayla dengan merangkulnya, ketika toko ramai. Kondisi Ayla yang sedikit pincang membuat Arga harus berjalan perlahan.


Sampai di mobil Ayla langsung naik dengan perlahan dan Arga yang juga ikut naik.


Mobil kembali berjalan meninggalkan parkiran depan toko.


Ayla masih meraba bungkus yang ada di tangannya. Ayla merasa sangat tidak enak, apakah Arga bermaksud baik atau hanya membuat Ayla supaya tidak keluar rumah dan menyadari jika Ayla yang tidak bisa melihat ini lebih baik dirumah.


"Hey, kamu sedih Ayla, Ayla baru saja di toko tadi kamu bicara santai dan sekarang langsung murung apa kamu tidak suka? Apa barang itu murah makannya kamu tidak suka?" ucap Arga sembari fokus menyetir.


"Hem... ti-tidak kok aku suka, aku hanya... Ah sudahlah, aku menyukainya tapi, apa ini bisa langsung di gunakan?" tanya Ayla yang gugup dan berusaha mengalihkan pembicaraan.


Arga membelokan stir mobilnya perlahan menuju restoran cepat saji yang menyediakan makan siang yang sehat. Arga memesan lewat jendela samping yang biasa di gunakan untuk pelanggang yang tidak bisa turun atau masuk kedalam jadi mereka memesannya tetap di dalam mobil.


"Sepertinya belum bisa," ucap Arga.


Arga membuka jendela mobilnya dan memesan dua porsi makan siang dan dua botol sedang air mineral.


Menunggu pesanannya datang Arga kembali memperhatikan wajah Ayla, rasanya Arga tak pernah lelah memandang wajah manis Ayla.


Seketika pelayan memberikan pesan Arga lalu Arga membayarnya dan memberikan lebih kembalian uangnya pada pelayan tersebut.


Melajukan kembali mobilnya meninggalkan restoran tersebut.


"Lalu apa kau mau menunggunya untuk di isikan lagu atau semacamnya yang kamu inginkan Ay," ucap Arga .


"Iya, Ar-ga tolong ya," ucap Ayla sopan.


"Sopan sekali kamu Ayla, Aku kira kamu akan langsung berteriak atau kesal tidak jelas," ucap Arga sedikit terkekeh.


Ayla langsung tersenyum lebar, Arga langsung bersorak gembira dalam hatinya. Arga sebenarnya menunggu saat ini senyuman Ayla itu sangat manis untuknya.


Ayla putri, kamu adalah istriku. Aku akan berusaha membuat mu tersenyum seperti itu ketika bersamaku. Senyuman yang sama seperti milik Bunda, batin Arga.


"Terimakasih Arga," ucap Ayla sembari memegang Mp3 yang Arga belikan untuknya. Ukurannya juga sepertinya sedikit persigi panjang dan berat walau masih didalam kotaknya.


"Untuk apa?" ucap Arga berpura-pura polos.


"Untuk semua perhatianmu. Aku tidak pernah merasakan perhatian sebesar ini sebelumnya terimaksih," ucap Ayla dengan tersenyum dan memegang kotak Mp3 itu dengan sedikit erat karena saking senangnya.

__ADS_1


Ayla yang hanya di berikan perhatian kecil oleh Arga, menganggapnya perhatian yang sangat besar. Ayla memang tidak pernah merasakan jenis perhatian ketika sakit, ketika ingin mendapat teman bicara, ketika membutuhkan sesuatu.


Ayla selalu menyimpan perasaan itu sendiri sejak lama hingga sekarang Ayla yang statusnya sudah menjadi istri orang. Ayla saja, tidak mengerti dengan jalan takdirnya hingga bisa bertemu Arga dan merasakan perhatian dari seorang Arga yang berstatus suaminya.


__ADS_2