
Berjalan sedikit jauh dari mamanya dan juga Ayla.
Calysta berjalan dengan kesal.
Kenapa dia pintar sekali. Sial.. aku kira bisa mengolok-ngoloknya dengan cara bicara bahasa asing tapi, dia sudah tahu, batin Calysta kesal.
"Kudengar dari ayahmu jika kalian sudah memiliki dua anak sekaligus." Petter menatap keduanya.
"Haah.. iya jika tidak salah mereka kembar bukan lelaki dan perempuan, sepasang," ucap Istri Petter.
"Iya," sahut Ayla dengan sedikit menunduk.
"Kapan-kapan kami akan pergi mengunjungi kalian. Rasanya aku sudah terlalu tua jika teman ku saja sudah memiliki cucu," ucap Petter tersenyum pada Arga dan Ayla.
Dalam perjalanan kembali dari pesta Arga dan Ayla hanya diam hingga tidak terasa mereka sampai di mansion sedikit malam.
Memasuki kamar dan melihat buah hatinya sedang tertidur. Ayla langsung pergi kekamar mandi untuk berganti pakaian.
Suara tangis bayi membuat Ayla segera berlari keluar dan melihat apa yang terjadi.
"Oh.. Arga."
Melihat Arga yang langsung menggendong Angga dan menimangnya.
"Ganti pakaianmu biar aku urus Angga," ucap Ayla. Seketika Arga mengecup dahi Ayla dan berlalu.
"Uh.. laper lagi sayang.. maaf ya mama kemaleman pulangnya."
Setelah memberikan secara bergantian karena baru saja Ayla meletakkan Angga kini Zeline yang menangis.
Melihat Zeline yang tertidur di pangkuan Ayla, Arga langsung membawa Zeline perlahan di pindahkan ke keranjang bayinya.
*****
"Jadi dia yang akan menggantikan Larissa untuk cuti menikah dan berbulan madu," ucap Dafa pada Aulia.
Perempuan berusia sebaya dengan Ayla namun, lebih tua setahun dari Ayla.
"Siapa namamu?" ucap Dafa.
"Ehm.. Saya Dila pak."
"Nanti kamu akan bekerja sama dengan Aulia menggantikan Larissa sementara tapi, jika kinerja kamu bagus saya akan peromosikan kamu."
"Baik pak Terimakasih."
__ADS_1
Aulia dan Dila pergi keluar ruangan Dafa. Sementara itu Arga baru saja datang ke kantor pukul Setengah sepuluh siang. Dan seketika itu memasuki ruangannya Arga sempat menoleh melihat meja sekertaris di depan ruangannya.
Meneruskan langkahnya tanpa berhenti dan melihat Dafa sedang bekerja di sofa ruang kerja dengan menatap beberapa dokumen.
"Apa dia sekertaris yang akan membantu dan menggantikan Larissa sementara." Sambil duduk di kursinya dan bersandar dengan menghembuskan nafas kasar.
Dafa menatap Arga dengan heran.
"Es kopi," ucap Arga tanpa melihat kearah Dafa.
Dafa langsung berlalu keluar untuk membelikan Arga es kopi di cafe bawah kantin kantornya.
Di mansion Ayla mengurus si kembar dan bermain bersama Lalita. Ayla juga sedang belajar menggambar desain pakaian karena suka dan sekarang Ayla memiliki kemajuan mulai bisa menjahit sedikit sedikit dan sekarang Ayla juga di berikan guru untuk mengajarinya belajar menjahit oleh Arga.
"Kak bagus sekali ini, lalu bagaimana dengan rajutan kakak yang setengah jadi itu?"
"Oh iya aku akan selesaikan nanti saja."
"Kenapa kakak tumben sekali berangkat ke kantor siang dan itu seperti seorang yang di kejar seseorang," ucap Lalita.
"Oh itu. Si kembar tidak ingin Papahnya berangkat bekerja dan meminta jika Papa untuk di rumah saja tapi, Arga sedang ada Rapat penting jadi dia harus segera berangkat."
"Tapi kak. Bukannya kakak juga terlambat jika berangkat di jam setengah sepuluh tadi."
"Tidak. Rapatnya itu jam sepuluh sampai jam makan siang jadi setelah itu ada rapat lagi."
"Tidak bisakah jika aku membuat kedua orang tuamu dalam genggamanku, yaa tentu saja sangatlah mudah Dila."
Thalita dan Dila bertemu ketika waktu istirahat di Restoran dekat dengan kantor.
"Tapi, aku hanya melakukan sedikit cara yang kau minta dan.. dan aku tidak mau sampai lebih kau saja yang melakukannya."
Seketika Thalita melempar ponselnya pada Dila.
"Buka dan lihat baik-baik vidio keluarga bahagia itu dan aku akan membuatnya lebih bahagia jika kau mau hem."
Seketika Dila membuang ponsel Thalita keluar jendela dan setelah melihat vidio tersebut.
"Heh.. kau bermain ancaman bukan?" ucap Dila menatap Thalita remeh.
Seketika Thalita menelpon seseorang dengan ponselnya yang lain.
"Lakukan tugas kalian buat mereka semua hangus seperti danging pangga.. jika bisa ambil organ tubuh mereka dan jual sebelum kalian memanggang keluarga bahagia itu hingga..."
"Baik.. BAIK. Aku akan melakukan apa yang kau minta aku akan lakukan. Tapi, aku minta syarat padamu untuk tidak memata-mataiku aku risih. Jika kau percaya maka aku akan melakukannya dengan baik."
__ADS_1
Thalita menatap Dila dengan tatapan yang sulit di artikan membentur-benturkan ponsel di dagunya pelan lalu tersenyum.
"Terserah padamu. Yang penting kau melakukannya dengan baik. Sehari sebelum Sekertaris Larissa masuk kau bisa memberikan surat pengunduran dirimu."
Dila bangkit dari duduknya dan melangkah pergi dari Restoran tersebut.
Pergi ke dalam cafe untuk membeli capucinno dingin dan kembali keluar, segera melangkahkan kakinya menuju kantor.
Dari kejauhan mobil hitam yang Rosa kendarai sendirian itu mengikuti Dila dan tanpa di sangka perkiraannya benar jika Thalita dan Dila kerja sama.
"Thalita dan perempuan bernama Dila. Sepertinya Dila sangat bisa aku jadikan alat.. ehm. tapi, aku tidak akan memulainya sekarang. Entah kenapa aku sedikit ragu tapi, aku akan menikmati rencana Thalita yang akan gagal lagi," gumam Rosa.
Kembali melajukan mobilnya meninggalkan tempatnya berhenti.
Di Resto tempat Arga dan Clientnya selesai makan siang tanpa sengaja Rosa melihat dan menghampiri Arga ketika Client sudah pergi.
"Selamat siang teman." Rosa menghampiri Arga dan Dafa dengan santai dan senyum cerahnya.
"Ada apa!" ucap Arga datar dan Dafa yang menatap Rosa dengan tatapan membunuh.
"Ck...ck.. adik ipar yang kurang sopan harus aku apakan ya sebelum aku memberikan informasi penting." Membuka kacamatanya dan tersenyum hangat.
"Kau membuang waktu Tuan Nona Rosa pergilah sekarang sebelum..." ucapan Dafa yang terpotong sebelum selesai.
"Sebelum apa Tuan Dafa.. Aku hanya ingin memberi tahu jika Dila..." Rosa melanjutkannya dengan menatap Dafa lalu menatap Arga dengan tatapan lembut. Seketika kata-kqtanya terpotong juga dengan ucapan cepat Arga.
"Berhentilah bicara omong kosong aku masih memiliki banyak urusan," ucap Arga dengan Datar pergi meninggalkan Rosa begitu saja.
Bukan kesal, Rosa justru menyeringai melipat tangannya di atas perut dan kembali memakai kacamatanya. Membalik badannya dan pergi dari Restoran tersebut.
"Terserah padamu aku akan menunggu Drama itu kembali menimpa Ayla.. " Rosa merasa sangat senang ternyata Arga tidak mau menerima informasi penting itu. tapi, tidak masalah jika tidak mau mendengar berarti Ayla akan celaka. Rosa dengan simpelnya berpikiran seperti itu.
Baru Arga sampai di Kantor dan memasuki ruangannya ternyata ada tamu tidak di undang datang dan duduk di kursi kebesarannya.
"Jika masuk ketuklah pintu.. kurang sopan memasuki ruangan seseorang tanpa salam dan mengetuk pintu." Menatap Arga dengan tatapan lembut tersenyum dan dagung yang di topang kedua tangannya.
"Kau yang harusnya bercermin lihat bagaimana dirimu bertindak." Wajah tanpa ekspresi Arga terlihat begitu menyeramkan dan juga semakin tampan.
"Aku melakukannya sesuka hati.. Bagaimana?" ucap Edward dengan menangkat kedua tangan dan bahu. Seketika kakinya di luruskan diatas meja kerja Arga.
"Apa perlumu datang kemari?" ucap Arga mendudukan dirinya di sofa dengan kasar dan membuka dasinya.
"Entah Aku melupakannya.. tapi, biarkan aku mengingatnya sebentar."
"Tapi, aku akan istirahat di ruangan istirahatmu lebih dulu."
__ADS_1
Arga hanya menatap Edward yang bertingkah seenaknya.