
Pesta yang meriah dengan acara yang sakral baru saja di lewati beberapa jam yang lalu. Arga dan ibunya si kembar datang bersama Ayah dan juga pelayan yang membantu Ayla, Nena.
"Waah akhirnya Kau datang untuk bersikap sopan yang pertama kali." Cibir Edward pada Arga.
"Kakak selamat ya.. aku hanya bisa memberikan ini," ucap Ayla memberikan kado untuk Rosa.
Tidak lama kedua orang tua Ayla datang dan tersenyum menyapa semuanya kecuali si kembar senyumnya langsung pudar ketika tatapan mereka jatuh pada Ayla.
"Ayla kamu sudah sembuh seharusnya..." Seketika senggolan di lengan Leni membuatnya diam dan tatapan Rico yang membuatnya langsung menatap Arga juga Luis.
"Ah... Ayla kamu memang istri yang baik lihatlah kedua cucuku sangat tampan dan cantik mereka pasti duplikat ayah mereka, Semoga saja sifat jelek Ayla tidak turun pada kedua anak ini." Cibir Leni menyindir Ayla.
"Mamah." Rosa menatap ibunya seketika Leni sadar siapa menantunya kini. Edward hanya tersenyum ramah menatap ibu mertuanya. Dan menganggukan kepalanya.
"Ehmm. Mereka baru pertama kali melihat mama dan Ayah.. Apa kabarnya Mama, Ayah." Ucapan Ayla mewakilkan tatapan heran Angga dan Zeline.
"Kami baik saja hehe.. Oh Ayla harus kami panggil siapa kedua cucu kami ini." Rico mengalihkan pembicaraannya karena sejak tadi Leni hanya bicara yang akan membuat Rosa, Rico dan Leni sendiri tesudut. Karena semuanya sedang membela Ayla ketiga Lelaki terpandang itu sangat menyayangi Ayla seperti anak, seorang adik dan istri tentunya.
"Lebih baik kita mencari tempat nyaman agar bisa bicara dengan leluasa dan juga santai," ucap Edward.
Semua berjalan lebih dulu dan Sikembar yang ada di kereta bayi bersama Nena mendorongnya sudah berjalan. Kini Ayla dan ibunya.
"Bagaimana kamu bisa sembuh aku yakin kamu tidak akan sembuh Rosa mengatakan jika obat itu bisa membuatmu buta permanen dan tidak akan ada penawarnya di dunia ini."
"Tapi, aku bisa sembuh bukan karena obat Mah." Lembuat Ayla menjawab ucapan ibunya yang begitu kesal dan tidak suka.
"Apa maksudmu semua orang yang sembuh itu karena usahanya mencari pengobatan yang terbaik ." Leni menyangkal dan tidak percaya dengan ucapan Ayla. Ayla tersenyum dan menggeleng.
__ADS_1
"Jika Mama tidak percaya. Aku juga sama. Tapi, ini memang benar-benar terjadi mah Semua yang aku rasakan ini adalah Tuhan yang berikan. Aku merasakan kembali melihat ketika jatuh dari tangga lalu Setelah melahirkan si kembar." Ibunya membuang wajahnya kelain arah dan memutar bola matanya berdecak malas.
"Dengar baik-baik.. terserah apapun mau mu yang penting jangan pernah membuat malu nama orang tua di keluarga Marvelino aku tidak mau bama baik keluargaku tercoreng karena ulah burukmu yang aneh dan tidak masuk akal itu," ucap Leni.
"Mana ada keajaiban, jika benar ada kenapa Rosa tidak merasakannya. Jika oprasi ujung-ujungnya juga akan meninggal," gumam ibunya berjalan lebih dulu dari Ayla yang masih terdengar jelas oleh Ayla gumaman ibunya.
Mama masih sama masih tidak menyukaiku sama sekali. Mamah kapan akan sayang dan perhatian padaku. Ayah saja masih menunjukan senyum palsu dan perhatiannya. Aku tidak bisa merasakan kasih sayang sungguhan dari mereka aku hanya merasakan jika kasih sayang mereka hanya tipuan dan kebohong, batin Ayla.
Sampai di tempat sajian untuk tamu khusus semua menikmatinya hingga waktunya kembali pulang Arga dan Ayla berpamitan pada kedua pengantin dan Arga juga memeluk Edward. Pelukan mereka bukan untuk berbahagia melainkan ancaman.
"Jangan sampai istrimu membuat celaka istriku. jika aku tega aku akan membuatmu menjadi duda dua kali," ucap Arga di samping telinga Edward.
"Hahah.. tentu saja setelah aku menduda dua kali akau akan melenyapkanmu dan menikahi istrimu.. bagaimana mudah bukan aku tidak perlu pusing-pusing."
Ayla dan lainnya menatap Arga dan Edward yang berpelukan sangat lama.
Tatapan semuanya hanya bisa bingung dan heran dengan tingkah Arga dan Edward.
"Baiklah ayo semuanya." Arga mengajak semuanya untuk lebih dulu berjalan.
Tatapan Arga pada Edward sangat tajam dan seperti bicara. Edward hanya tersenyum dan melambai.
Ingat ucapanku, tatapan Arga.
Aku akan mengingat untuk menghabisimu dan menikahi janda Ayla, tatapan Edward.
Tak lama setelah kepergian Arga dan lainnya kini Thalita yang datang dan menyapa Rosa dengan wajah sombongnya.
__ADS_1
"Selamat untuk kalian semoga kamu sabar menghadapi Edward yang sangat kejam ini, ck..ck.."
ucap Thalita dengan melepas kaca matanya. Menatap remeh Edward yang menatapnya malas dan terkadang menatap Thalita tajam.
"Dan kau mantan suami ku yang paling tampan.. selamat kamu mendapatkan putri yang kamu kira adalah anak dari pria lain. Dan ini hasil tes DNa.. Kau bisa mengambilnya dirumah sebelum dia mati karena aku ingin membunuhnya." Melempar sebuah amplop putih di wajah Edward yang Thalita dapatkan langsung dari rumah sakit.
"Terserah apa yang mau kau katakan aku akan mencari tahunya sendiri. Tapi, terimakasih karena sudah datang dan menyambut istriku dengan baik," ucap Edward dengan baik tapi, tatapannya seperti menusuk Thalita begitu juga Thalita menatap Edward. Menerima Amplop itu dan memberikannya pada asistennya.
"Hem.. baiklah aku akan pergi kalo begitu.. maaf aku tidak bisa memberikan hal berkesan tapi, saran ku... Nikmatilah neraka dan jurang kematian dengan cara bersamaan dan juga dengan La-pa-ng ha-ti," ucap Thalita sebelum pergi. Tersenyum pada Rosa sambil menggunakan kacamatanya dengan benar.
Aku sudah memiliki firasat itu jika aku akan mendapatkan hal buruk bersamanya tapi Mama Ayah tudak peduli yang penting mereka bisa hiduo dengan nyaman dan indah dengan Harta mereka, Mereka juga tidak mendapatkan ketakutan dari Arga lagi, sekarang mereka malah bisa hidup baik karena menantu mereka, batin Rosa. Menatap Edward dari samping.
Rosa sangat kesal setelah sembuh dari kebutaan karena donor mata. Kini sengsara sudah masa depannya dengan Edward yang akan membuatnya menderita. Rencana awal Rosa adalah memaanfaatkan Edward tapi, malah dirinya sendiri yang masuk kedalam jebakan Edward.
Sampai di Mansion Nenek semua langsung beristirahat di kamar masing masing untuk melanjutkan hari esok.
"Arga aku ingin melihat toko kain disini bisa?" ucap Ayla sambil menatap Arga dari posisi sampingnya berbaring.
"Hem."
"Baiklah terimakasih banyak," seketika Ayla mencium pipi Arga dan memeluknya.
Arga juga membalas pelukan Ayla dengan berbalik menatap Ayla dan memeluknya. Sekarang mereka tidur sambil berpelukan dengan nyaman satu sama lain.
Di Club yang sangat keras dengan suara dentuman musik yang begitu meriah dengan pengunjung club.
"Sialan kenapa aku tidak rela melihat Edward bahagia dengan Rosa.. aku juga tidak bisa melepaskan Arga. Kenapa mereka menyiksaku dengan muncul di dalam ingatanku. Kurang ajar lelaki memang selalu mengandalkan Logika." Kesal Thalita melempar botol Winenya dan seketika tertawa.
__ADS_1
"Tidak.. aku tidak akan membuat mereka bahagia aku akan HANCURKAN KEBAHAGIAN MEREKA."