Istri Buta Tuan Muda

Istri Buta Tuan Muda
Membuat kesalahan dan takut


__ADS_3

Setelah mengobrol sedikit panjang. Arga dan Ayla memilih pulang dan tidak bisa menginap.


"Ah Ayla... kenapa tidak menginap saja sayang," ucap ibunya dengan manis di depan Arga.


"Ehm.. engga mah lain kali aja maaf ya Soalnya Arga masih ada kerjaan besok pagi-pagi," alasan Ayla menolak dengan baik.


Mama sangat baik sekarang, batin Ayla sedih.


Setelah berpamitan Ayla langsung masuk kedalam mobil disusul Arga dan Dafa.


Mobil berjalan meninggalkan halaman rumah Rico.


"Yah apa ayah ngomong hal itu ke Arga."


"Engga lah mah.. mau jadi apa kalo sampe ngomong kayak gitu gak inget apa kamu waktu kita ke sana karena Rosa. Kita di ingetin kalo Arga itu suaminya dan tanggung jawabnya Arga adalah Ayla. Kita gak bsia se enaknya lagi ama tu anak."


"Nanti deh kita pikirin rencana lainnya," ucap Leni.


Di mobil yang melaju Ayla hanya diam dan diam sejak mobil berlalu pergi dari halaman Rico.


"Ayla..."


"Hem.. eh.. Arga.."


"Kamu kenapa? hem," ucap Arga.


"Ah engga aku cuman pengen diem aja," Ayla beralih menatap keluar jendela dan seketika tangan Arga merangkulnya dan mengusap lengan Ayla.


Di luar waktu hampir gelap setelah semurat jingga hilang perlahan.


Tak berapa lama Mobil sampai di Mansion Arga.


"Nah itu suara mobil Arga kamu tunggu aja sambut dia," ucap Ibu tiri Arga.


"Ok tante," dengan senang hati Calysta segera berdiri mengikuti pelayan lainnya yang selalu menyambut kedatangan Arga. Ibu tiri Arga langsung pergi berlalu meninggalkan Calysta yang sedang berusaha.


"Ayla..Ck." Calysta kesal tapi, tetap menunjukan wajah senangnya karena menyambut Arga.


Ayla turun dari mobil dengan wajah lesu tapi di tutupi dengan senyumnya yang cerah menyapa para pelayan.


"Calysta kamu disini," ucap Ayla.


Arga seketika berlalu menerima telepon, Dafa masih di belakang Ayla.


Melihat Arga berlalu, Calysta langsung menegakkan tubuhnya.


"Ya... jelas aku kan ingin bersama Pangeran tampan ku. Siap-siap lah kau di usir untuk kedua kalinya dari rumah ini," ucap Calysta dengan percaya diri.

__ADS_1


"Silakan Calysta aku tidak takut..." sahut Ayla dengan ramah dan tersenyum.


"Oya.. Yakin.. tidak masalah.." ucap Calysta lagi memancing emosi Ayla.


"Oh Tentu.. Begini aku jelaskan," ucap Ayla dengan ramah. Membawa Calysta untuk duduk seketika Calysta heran dengan sikap Ayla.


Dafa hanya memiringkan kepalanya dengan heran.


"Lepas! jangan sentuh aku dengan tangan buluk itu," ucap Calysta dengan kesal sambil mengibaskan sentuhan tangan Ayla di lengannya.


Ayla tersenyum dengan ramah dan tenang.


"Dulu Claudia mengatakan jika aku adalah orang lain di dalam hubungannya dengan Arga. Tapi, Aku adalah istrinya yang sah... jadi hubungan asing diantara aku dan Arga adalah Claudia dengan Arga.


Sekarang nona Calysta.. Aku tidak merasa takut dengan ancaman dan perkataanmu, hasutan itu tidak akan mempan pada orang yang selalu berpikir tenang."


Seketika Calysta gelagapan.


Ayla tersenyum dengan ramah.


"Tolong bawakan teh hangat dua cangkir, tidak tiga cangkir, mungkin," ucap Ayla dengan pelayan yang ada di dekatnya.


"Terimakasih Nena," ucap Ayla.


"Baik Nyonya, sama-sama," sahut pelayan tersebut langsung berlalu.


Nona adalah tamu kami, Nona juga teman masa kecil suami ku. Aku berkata seperti ini dengan pelan dan tidak bermaksud buruk karena semua masalah akan selesai dengan baik bila di selesaikan dengan cara baik pula, benarkan jadi, Anda nona Calysta.. tidak menyukai saya, menilai saya buruk dan juga perempuan lainnya yang pernah dekat dengan Arga dan kenal dengan Arga lalu mengenal saya sebagai perempuan buruk yang dekat dengan Arga sebagai istri atau sosok yang ada di sampingnya... saya tidak masalah. Itu hak mereka," jelas Ayla panjang lebar lalu tersenyum ramah.


"Silakan tehnya nona Calysta," ucap Ayla. Ketika pelayan meletakan tiga cangkir itu di atas meja.


"Liat saja semua perkataanmu itu akan kosong dan tidak berguna," ucap Calysta sambil berdiri.


"Orang yang tidak pandai baca dan tulis bukan berarti tidak memiliki otak yang cerdas," ucap Ayla dengan mengetuk lututnya lalu kepalanya seketika tersenyum ramah.


"Dasar lemah..." ucap Calysata sebelum melangkah.


"Lemah bukan berarti itu sebenarnya kata lemah, biasanya kata itu di gunakan dalam sampul kekuatan untuk menutupi hal yang sengaja ingin orang itu ingin sembunyikan," jelas Ayla dengan tersenyum. Calysta yang mendengar ucapan Ayla seketika berdecih dan berlalu begitu saja.


Seketika Ayla murung.


Maaf maaf... itu semua dari hatiku.. maaf Calysta.. aku tidak bermaksud.. Uh.. ini kenapa lagi bisa gini.. tapi, gak apalah gak terlalu buruk juga, batin Ayla.


Di ruang kerja Arga.


"Tuan," sapa Dafa pada Arga yang baru masuk setelah membersihkan tubuh dan Dafa juga yang sudah bersih dengan pakaian barunya.


Arga hanya mengangguk.

__ADS_1


"Tuan ," ucap Dafa sambil memberikan ponselnya.


"Ini adalah hal yang aneh terjadi pada Nyonya," jelas Dafa.


Arga langsung menatap tajam Dafa dan seperti ingin menguliti Dafa hidup-hidup.


"Di lihat saja dulu Tuan baru menilai saya," gumam Dafa.


Arga membuka vidio di ponsel Dafa. Seketika wajah Arga terlihat begitu senang.


"Aku akan keluar selesaikan sisa pekerjaan di kantor tadi, malam ini," ucap Arga lalu keluar dari ruang kerjanya.


Baru Arga keluar dari ruang kerjanya Calysta baru turun dari tangga.


"Arga.. kamu mau makan malam yuk aku udah masakin sesuatu yang sepesial buat kamu."


Arga tak bersuara hanya melewati Calysta saja.


"Arga.. Kamu gak bisa acuhin aku gitu aja," ucap Calysta.


"Hem." Arga tetap meneruskan langkahnya tanpa menghentikannya hanya karena mendengarkan Calysta bicara.


Sampai di dalam kamar Arga melihat Ayla sedang berdiri dibalkon kamar.


"Ayla," panggil Arga. Seketika Ayla terkejut dengan tangan kekar Arga yang memeluknya dari belakang. Seketika juga mencium bahu Ayla.


Terasa meremang bagi Ayla, merasakan sensasi tersebut.


"Arga." Seketika Ayla melepaskan pelukan tangan Arga dan berputar menatap Arga.


"Arga aku merasa aneh.. Aku takut menyakiti hati Calysta.. dan Claudia waktu itu tapi, jika Claudia aku tidak terlalu karena aku selalu berkomunikasi dan kadang menyambutnya baik karena selalu bertemu tapi, Calysta... Dia baru saja datang dan aku sudah bicara dan menjelaskan hal buruk Arga apa aku harus minta maaf sekarang aku benar-benar tidak nyaman dengan apa yang aku ucapkan tadi pada Calysta."


Arga tersenyum dan mengecup kening Ayla lama.


"Yang kamu katakan mungkin saja adalah hal terbaik yang bisa saja membuat Calysta sadar bahwa mengganggu rumah tangga orang lain itu tidak baik."


"Tapi Aku tadi menjelaskannya seperti.."


Ayla menjelaskan pada Arga sama persis seperti yang Ayla ucapakan panjang lebar pada Calysta tadi.


Seketika Arga terkekeh.


"Arga aku tidak nyaman takut Calysta sakit hati bagaimana? Kalo sampai dia menangis seperti di kantor tadi bagaimana?" Ayla panik. Arga langsung memeluknya dan mengecup kepalanya.


"Ayla. Kamu tidak salah. Kamu selalu menjadi seseorang paling baik, murah hati, dan selalu memikirkan perasaan orang lain. Sedangkan Kamu... selalu tersakiti dan orang menyakiti kamu tidak pernah memikirkan perasaanmu... sekarang kamu menyakiti seseorang dengan ucapan yang aku rasa itu nasehat dan ucapan baik tapi, kamu mengatakannya itu buruk, dan sampai memikirkannya, Ayla .. Ayla.. kamu istri terbaik ku," ucap Arga sambil terkekeh.


Seketika Ayla terkekeh di barengi tangis di dalam pelukan Arga, Ayla mengeratkan pelukannya.

__ADS_1


Hanya Arga yang menilaiku berbeda, batin Ayla.


__ADS_2