
Suara alat medis dan juga cahaya mentari pagi menyinari ruangan Ayla dari jendela kaca dan tirai jendel yang terbuka sedikit untuk Ayla membuat sinar dan cahaya pagi masuk .
Seketika kelopak mata Ayla terbuka perlahan dan menatap ruangan sekitar tempatnya berada, terdengar suara pintu terbuka Ayla seketika menatap Arga yang baru saja keluar dengan tubuh bersih dan rambut basahnya dengan handuk yang ada di bahu kanannya, Arga habis membersihkan tubuhnya di kamar mandi, sepertinya.
Seketika itu juga air mata Ayla turun keluar membasahi pipinya tiba-tiba menangis langsung menutup mulut dan hidung agar tidak mengeluarkan suara.
"Ada yang sakit?" ucap Arga datar. Memeriksa ponsel di atas nakas dekat ranjang Ayla.
Suara isak Ayla terdengar begitu jelas oleh Arga. Ayla tidak pandai menyembunyikan apapun dari Arga. Walau Ayla merasa bisa menyembunyikan sesuatu dari Arga itu pun karena Arga yang mengalah dan berpura-pura tidak tahu.
Arga tahu Ayla sudah sadar dan menatapnya lalu membuang wajahnya.
"Ayla." Perlahan membalik tubuhnya dan menatap Arga.
"Arga aku buruk aku menjijikan aku malu Arga.. kamu hiks..hiks..."
Menghembuskan nafasnya kasar dan berjalan mendekat. Duduk disamping Ayla.
Mengambil kedua tangan Ayla dan mengusapnya.
"Dengar. Semua sudah selesai dan kamu juga sudah selamat jangan pernah berpikir macam-macam. Ingan kesehatan kamu dan..."
"Tapi, Arga aku menjijikan aku.. Farhan.. dia ..."
"Dia sudah tiada." Seketika Ayla menatap Arga ketakutan.
"Tenanglah ini semua tidak akan baik untuk kamu dan anak kita," ucap Arga. Menatap Ayla sangat lembut. Airmata Ayla kembali jatuh dan menangis.
Ayla menarik tangannya dari genggaman Arga dan meraba perutnya.
"Anakku.. Arga..Hiks..dia," ucap Ayla.
"Iya dia selamat hanya saja kamu harus istirahat total selama tiga bulan." Ayla sedikit lega karena kandungannya selamat.
Ayla menunduk mengusap perutnya.
"Aku istri perempuan dan ibu yang buruk aku buruk aku mengecewakan aku tidak bisa." Tangan Arga langsung mengusap air mata Ayla.
"Ssst.. dengar Ayla kamu tetap ibu terbaik dan istri terbaik hanya kondisi buruk yang membuatmu jadi seperti ini. Aku masih di sini aku bersamamu aku ada kamu akan selalu baik-baik saja," ucap Arga.
Memeluk Ayla dan menengkan Ayla.
"Maaf Arga maaf. Maafkan aku karena aku hampir membunuh anak kita."
"Maaf Arga..Hiks.." Usapan di kepala dan kecupan dikening tiba-tiba sedikit membuat Ayla tenang.
__ADS_1
"Iya Ayla... Tenang lah," ucap Arga.
Terdengar suara dering ponsel Arga. Hanya ditatapanya sambil memeluk Ayla.
Di tempat yang terlihat gelap juga berdebu di penuhi sarang laba-laba di sudutnya.
Seorang lelaki dengan wajah sudah babak belur dan lengan yang masih terluka. Farhan.
"Kenapa kau mencari masalah Tuan Farhan," ucap Dafa dengan wajah tanpa eskpresi.
"Harusnya anda hidup tenang tapa adanya masalah dan juga ke inginan anda untuk memiliki Nyonya kami harus anda hilangkan.
Seketika suara tembakan dari luar membuat Dafa seger mencari perlindungan. Segerombolan orang datang dan menghancurkan semua hal dengan tembakannya.Tak berapa lama adu tembakan itu berakhir Dafa memastika semua aman termasuk Farhan.
"Hilang, Sial.." Dafa mengamuk dan mengumpati dirinya.
Menelpon Arga.
"Tidak, tidak baik seperti ini," gumam Dafa.
Pergi dari tempat itu dan melaju dengan cepat.
Di rumah sakit Arga baru saja menyuapi makan pagi Ayla setelah pukul sembilan.
Sekarang Ayla sedang duduk sambil memakan buah.
Masih fokus dengan televisinya seketika Ayla menatap lehernya dari bayangan yang terpantul pada cermin.
"Arga!" Menoleh dan berjalan menghampiri Ayla sebelum benar-benar keluar dari ruangan Ayla.
"Ini kenapa ini tidak hilang.. ini bukan seperti milikmu," ucap Ayla tanpa sadar.
Seketika Arga menyerang Ayla tiba-tiba.
Terkejut kerena lehernya. Ayla menoleh pada Arga yang menatapnya lembut.
"Aku sudah menghapusnya dengan milikku. Bekas serangga yang menggigitmu sudah hilang dengan obat lalu aku perjalas dengan milkku." Ayla seketika gugup dan menatap lain arah agar tidak bertatapan dengan Arga.
"Ah.. iya.. kalo begitu.. hm." Serangan di bibir Ayla membuat Ayla langsung diam seperti patung.
Arga tersenyum.
"Aku akan keluar sebentar lagi Lisa akan datang mungkin dia sudah ada di depan." Mengecuk kening Ayla dan pergi begitu saja. Ayla memakan apelnya den wajah merah seperti tomat.
Ya ampunn.. apa yang dia lakukan di rumah Sakit ini Arga.. ini memalukan.. Akh.. aku malu, batin Ayla.
__ADS_1
Walaupun hanya Arga dan Ayla di ruangan itu tapi Ayla tetap merasa malu.
****
Seorang dokter tengah memeriksa keadaan Farhan dan Syena, terlihat melipat tangannya menatap aktivitas Dokter dan perawat yang melakukan sesuatu pada Farhan.
"Lama sekali," ucap Farhan. Mencibir Syena yang menatapnya.
"Kau payah.. Kau tidak bisa melawan mereka,"Ucap Syena mencibir kembali Farhan.
"Sengaja aku melakukannya," ucap Farhan acuh.
Sialan tembakan itu membuatku harus menerima darah lain dalam tubuh.. Sakit sekali lengan ini, Hem.. tapi, tak masalah aku berhasil membuat Ayla sedikit tertekan jika Ayla dan bayinya selamat itu tidak akan bertahan lama jika Ayla merasa lebih tertekan lagi... Ayla akan ke hilangan bayinya selamanya, batin Farhan.
Setelah Dokter pergi terlihat dua kantung darah dan juga luka pada Farhan yang sudah di perban dan di bersihkan.
"Keluarlah aku ingin istirahat."
"Terserah.. semoga saja kau tidak hidup aku lebih senang," Syena berlalu meninggalkan Farhan di kamarnya.
Walaupun luka sangat parah Farhan tidak bisa mati begitu saja. Dan darah dua kantung juga luka tembakan di bahu lengan dan dada kirinya yang di tembak oleh Arga tidak membuatnya mati.
Arga sengaja menembakan ke semua bagian tersebut untuk membuat Farhan ke hilangan banyak darah dan menyiksanya.
"Segar sekali jus ini," ucap Rosa pada dirinya.
Tak lama Rosa menerima pesan singkat jika Ayla sudah sadar dan selamat dari kehilangan bayinya.
Rosa menyeringai.
Ternyata Syena terlulu bodoh dan juga saudaranya hanya untuk membuat Ayla tersiksa. Ayla selamat berarti mereka gagal, batin Rosa.
Hem.. menunggu permainan selanjut nya saja apa yang akan Syena lakukan pada Ayla hingga Arga bisa jatuh kepelukannya, Hm..kurasa itu mustahil, batin Rosa.
Pintu yang di buka dengan keras oleh Arga di ruangan Dafa membuat Dafa sedikit terlonjak kaget.
"Bagaimana dia bisa pergi?" melangkah masuk dan duduk di ruangan Dafa.
"Maaf Tuan kami diserang dan beberapa orang juga terluka," ucap Dafa.
"Hem." Arga mengangguk.
"Berhati-hatilah. Mereka bukan orang bisa, Syena juga bukan gadis biasa ku yakin Ten juga bukan orang sembarangan dan dia juga tidak tahu tentang perbuatan kedua anaknya," ucap Arga.
"Tuan," ucap Dafa.
__ADS_1
"Aku tahu sejak dulu dan kau.. bukannya sudah pernah mengetahuinya, kau lupa," ucap Arga tanpa menatap Dafa.
"Maaf Tuan saya akan berhati-hati." Arga melangkah keluar meninggalakan ruangan Dafa.