
Ayla yang sedang duduk di bangku santai dekat balkon seketika terusik dengan teriakan ibu tiri Arga yang sedang marah, seketika itu juga membuat Air mata Ayla luruh, banjir membasahi kedua pipinya.
Pintu kamar yang terbuka sedikit itu membuat Ayla bisa mendengar dengan jelas semua perkataan kasar yang keluar dari ibu tiri Arga.
Apa sebegitu menyedihkannya kekuranganku, Aku sadar jika aku tidak bisa melihat, batin Ayla.
Teriakan Ibu tiri Arga berhenti, matanya menatap tidak suka, benci. Ayla berdiri di depan tangga, berdiri di hadapan Arga yang berhenti melangkah ketika Ayla menatapnya dengan tatapan sedih dan menangis.
"Arga," ucap lembut Ayla dengan tersenyum di bibirnya dan mata yang basah karena menangis.
Ibu tiri Arga langsung tersenyum meremehkan. Lita yang melihat itu seketika jengah, Lita melangkah naik ke tangga dengan perasaan kesal melewati Arga yang masih terpaku dengan kehadiran Ayla dan panggilan lembut Ayla. Tidak menyadari jika, Lita sudah di samping Ayla. Menjabak rambutnya hingga tertarik kepala Ayla ke belakang.
"Lo itu buat beban keluarga, Lo juga dah buat Mama gue di marahin sama Kak Arga, Lo jangan egois dong lo... apa... mau ngomong kalo lo emang seharusanya gitu... Sadar diri dong," ucap Lita mendorong Ayla hingga lutut dan sikutnya membentur Lantai.
"Dasar murahan... KAK ARGA!" ucapan Lita terhenti ketika tangan Arga melayang tepat di wajahnya hingga sudut bibir Lita mengeluarkan darah.
Ayla yang terjatuh segera bangkit dengan perlahan Ayla tidak ingin bicara apapun, ketika suara tamparan Arga, membuat Ayla semakin takut. Seketika tangan besar Arga membantu Ayla untuk bangkit.
Lita yang di tampar Arga, semakin kesal karena Arga lebih membela Ayla dari pada dirinya dan ibunya.
"Kalian bedua keluar dari rumahku... SEKARANG!" ucap Arga yang sudah tidak tahan dengan sikap ibu dan adiknya.
Ayla langsung memeluk Arga ketika suara lantang Arga menggema, seketika semua terasa sunyi, setelah suara lantang Arga memenuhi ruangan.
"Kalian berdua tidak pernah berubah, apa kalian tidak malu dengan sikap kalian yang seperti ini, Hah! Apa ayahku kurang mendidik kalian sebagai Anak dan istrinya, hingga kalian berbuat rendahan pada istriku, begitu!" ucap Arga yang sudah sangat emosi.
Ayla yang hanya diam, memeluk Arga dengan menangis, terus berusaha menghentikan Arga.
"Jangan Arga, jangan marah, mereka mungkin gak sengaja, gak apa-apa, aku gak masalah, kamu jangan marahin mereka," ucap Ayla sambil menangis dan memeluk Arga.
Seketika itu emosi Arga mereda ketika suara Ayla yang di barengi isak tangis itu membuat Arga luluh.
"Halah... sok cari muka, cari perhatian aja," ucap Lita yang masih berani bicara.
Arga yang sudah kembali stabil kini terpancing lagi dengan ucapan Lita yang sangat tidak bisa Arga terima. Sebenarnya Arga tidak akan mengampuni mereka karena berani menarik rambut Ayla di hadapan Arga secara langsung dan perbuatan Lita di belakang Arga yang sebenarnya sudah Arga tahu sejak lama.
Karena Ayla yang memintanya, agar Arga tidak marah pada ibu dan adik tirinya, Arga akan berusaha menahannya untuk tidak marah kepada ibu dan adiknya, sekarang.
"Lisa," panggil Arga. Seketika Lisa naik ke atas membawa Ayla untuk kembali masuk kedalam kamar.
Setelah Ayla dan Lisa masuk kedalam kamar.
__ADS_1
Arga beralih menghampiri Lita. Menatap Lita dengan tajam.
"Disini yang buta itu kamu, Apa kamu tidak lihat kalo dia membela kamu di depan aku padahal kamu sudah berbuat kasar padanya," ucap Arga dengan menekan semua perkataannya dan menunjuk wajah Lita.
Arga kembali menegakkan tubuhnya, tangannya menarik Lita untuk turun ke bawah, melemparnya hingga memeluk ibunya.
"Kalian berdua selalu menilai seseorang dari luarnya," ucap Arga. Tak berapa lama Pelayan datang membawa semua barang-barang Lita dan ibunya.
"Sekarang keluar dari rumahku," ucap Arga.
"Kak, kakak gak bisa ngusir kita gitu aja. Papa pasti akan marah sama kakak dan mencabut semua bisnisnya yang udah Papa kasih ke kakak, LIAT itu pasti!" ucap Lita.
Arga terkekeh dengan ucapan Lita yang tidak tahu apa-apa dan asal bicara. Berjalan mendekati ibu dan adik tirinya.
"Aku tidak takut," ucap Arga. Tersenyum manis pada Lita.
Arga mengeluarkan ponselnya dan menelpon seseorang.
"Tunggu beberapa menit jemputan kalian pasti datang," ucapan Arga datar.
Beberapa menit kemudian Ayah Arga datang dengan wajah kesal.
"Tanya sendiri pada mereka berdua yang tidak pernah benar!" ucap Arga berlalu dengan begitu saja meninggalkan Ayah Arga, ibunya dan adiknya di lantai bawah.
Arga masuk ke dalam kamar dan melihat kondisi Ayla.
"Apa di baik-baik saja," tanya Arga pada Lisa.
"Iya Tuan Nyonya hanya terlalu lelah menangis, sekarang sedang tertidur," jelas Lisa.
"Kamu bisa keluar," ucap Arga
Lisa mengangguk dan pamit pergi keluar kamar Arga.
Setelah Lisa keluar dari kamar Arga menghampiri Ayla. Menatap Ayla dengan prihatin.
Di lantai bawah Ayah Arga mengusap wajahnya kasar.
"Papa lelah liat kalian berdua gak karuan kayak gini, bisa tidak jika, kalian diam saja dan jangan usik Arga, Apa lagi mengganggu, Ayla istrinya," ucap Ayah Arga.
"Tapi pa.." ucap Lita,
__ADS_1
"Cukup...cukup Lalita... Mama, sekarang kalian masuk kamar bawa lagi barang-barang kalian," ucap Ayah Arga.
Setelah kepergian Lita dengan Ibunya, sekarang Ayah Arga mendudukan dirinya di sofa dan melonggarkan dasinya.
Arga keluar dari kamarnya dan turun ke lantai bawah untuk mengambil dua minuman kaleng.
Arga melangkah masuk kedapur membuka kulkas dan keluar dari dapur menghampiri Ayahnya.
Menaruh sekaleng minuman tersebut didepan ayahnya, di atas meja.
Setelah meletakan sekaleng soda di hadapan Ayahnya.
Arga pergi lagi meninggalkan Ayahnya untuk kembali kekamarnya.
"Jangan minum racun, Aku tidak mau jadi anak durhaka," ucap Arga sambil melangkah naik keatas tangga.
Ayah Arga hanya menghela nafasnya dan membuka kaleng soda itu dan meminumnya.
Di kamar Arga baru saja masuk dan melangkah untuk membuka leptopnya di meja dekat sofa. Masih menggunakan setelan kerja tadi pagi yang belum di ganti pakaian santai.
Arga terus memantau pekerjaannya di leptopnya.
Dering ponsel yang tiba-tiba berbunyi membuat Aktivitas Arga terhenti.
Melihat nama panggilan tersebut adalah Claudia, Arga enggan untuk mengangkatnya hingga terus berbunyi, Arga mematikan panggilan tersebut dan memblokir nomor Claudia, menghapusnya langsung.
Di ruangannya, Claudia menggeram kesal.
"Kenapa tidak di angkat, Perempuan itu pasti menghalangi, Akh... sial... siapa dia, Awas jika bertemu, Aku akan coba telepon lagi," ucap Claudia yang kesal.
"Tidak di angkat, Apa jangan-jangan Di blokir nomorku," ucap Claudia pada dirinya sendiri.
Claudia menggunakan nomor ponselnya yang lain dan akhirnya masuk tapi, bukan suara Arjuna.
Di tempat lain Arga terkekeh dengan perbuatannya sendiri.
"Arga jangan, Aduh," ucap Ayla yang di usili Arga.
Arga sengaja mengangkat telepon dari nomor asing dan mengenal suara di sebrang sana seperti sapaan di awal ponsel tersambung.
Di tempatnya, Claudia mengepalkan tangannya dan menatap nomor ponsel Arga. Mematikan sambungannya dan melemparnya hingga hancur berkeping-keping.
__ADS_1