
Di ruang kerja.
"Maaf Petter.. mungkin ini hal buruk yang bisa membuat istrimu kecewa."
"Katakanlah Luis aku tahu kau selalu melakukan apapun tanpa di duga, aku sudah berteman denganmu lebih dari lima belas tahun."
"Sebenarnya Putraku sudah memiliki istri.. Awalnya memang seorang istri pengganti.. dan tidak bisa melihat. Arga juga sangat menyayanginya. Setelah aku selidiki latar belakang keluarganya dan perempuan itu. Aku lalu mengerti kenapa Arga sangat membela perempuan itu. Mungkin bagi Arga perempuan itu adalah Dewi kebaikan yang berubah menjadi manusia dan sengaja di pertemukan dengannya dan yang paling menunjol adalah mitip dengan mendiang Bundanya."
"Lalu.. bagaimana Luis?" tanya Petter.
"Aku minta padamu untuk memberi pengertian pada istrimu yang sudah terlanjur mengharapkan sesuatu yang sulit untuk di wujudkan. Aku tahu kau juga kecewa mendengarnya. Aku semakin percaya jika Arga sangat menyayangi istrinya setelah kejadian semalam."
"Maksudmu perempuan yang waktu lalu aku lihat menyeret koper keluar dari rumah ini?"
"Iya.. dia adalah Ayla.. Istri Arga. Putraku tidak mungkin menyukai seseorang dan menjaganya dengan begitu baik jika bukan karena alasannya sendiri."
"Claudia.. ku dengar putramu pernah bersamanya."
"Perempuan itu.. Dia.. Dia yang selalu mengejar Arga karena dua bulan mereka bersama Arga langsung memintanya menikah... perempuan itu langsung memutuskan Arga karena tidak bisa menikah dengan Arga.. Mereka berpisah.. hingga beberapa waktu lalu dia datang lagi dan meminta Arga untuk menikahinya."
"Putramu terlalu Tampan dan pesonanya terlalu kuat bahkan sejak lahir pun dia sudah sangat tampan."
"Kau ini selalu.. saja aneh.." ucap Ayah Arga lalu tertawa bersama Ayah Calysta.
"Iya.. baiklah akan aku pertimbangkan hal itu." Seketika Ayah Arga terkejut dengan keputusan Ayah Calysta yang cepat menjawab tentang penjelasannya.
"Hey.. hey.. kau ini seperti dengan siapa.. lagi pula aku tahu ini bukan maksudmu menjodohkannya tapi, membuat istrimu itu terlihat sedikit sombong bukan karena keputusannya di dukung olehmu." Ayah Calysta tahu siapa sebenarnya istri kedua ayah Arga.
"Yaa.. kau selalu tahu apa rencananya.. Ck.. kau ini."
"Sudahlah sementara aku akan mengikuti permainanmu dan memberikan pengertian pada Istriku perlahan." kedua pria paruh baya itu saling mengangguk.
Di taman.
"Arga kau diam sejak tadi, kau tidak ingin mengatakan sesuatu padaku.. ayolah Arga.. Arga! kau tahu aku sangat merindukanmu.. terakhir kita bertemu waktu kau akan pergi dari rumahmu aku melihatmu dari jendela kamarku. Beberapa hari aku tidak melihatmu dan aku pertanya pada asisten dirumahmu ternyata kamu pindah lalu menetap."
Arga tidak menjawabnya hanya memainkan ponselnya memeriksa beberapa pekerjaannya lewat ponselnya.
"Arga kita pasti akan bahagia jika kita sudah menikah nanti." Arga bengkit dari duduknya dan melepas pelukan tangan Calysta yang sejak tadi menempel pada lengannya.
Berbalik melangkah pergi dari taman di ikuti Calysta.
"Bibi apa ini cukup untuk menjenguk kak Rosa?" ucap Ayla. Arga menatap Ayla yang merapikan buah dan roti untuk dibawa menjenguk seseorang.
Melangkah memasuki pintu dapur menghampiri Ayla lebih dekat.
"Kemana?" ucap Arga sambil mengambil minuman di kulkas. Calysta yang melihat ada perempuan lain selain pelayan di rumah ini merasa aneh dan cara berpakaian yang terlihat bukan seperti pelayan juga.
"Sudah cukup Nyonya.." ucap Lisa berjalan membantu membawa barang Ayla.
Pertanyaan Arga tidak dijawab Ayla sama sekali dan malah menghampiri Arga mencium tangannya, berpamitan.
"Kerumah sakit," ucap Ayla seperlunya sambil berjalan tapi, tangannya ditahan Arga tiba-tiba .
Calysta juga melihat genggaman tangan itu.
__ADS_1
"Lepas," desis Ayla.
Melepaskan pelan pegangan tangan Arga. Berlalu pergi menyusul Lisa.
Calysta melangkah maju dan menatap bingung.
"Arga.. Dia siapa?"
Arga tidak menjawab pertanyaan Calysta dan berjalan meninggalkan Calysta sendirian di dapur yang masih terlihat bingung.
Seketika Ayla berpapasan dengan Ayah Arga dan tamunya seorang pria paruh baya, Petter.
"Papa," ucap Ayla pelan ketika tak sengaja melihat Ayah Arga menoleh padanya. Dengan langkah ragu Ayla melajukan langkahnya dengan takut. Menghampiri Ayah Arga dan tamunya.
"Ayla kamu mau kemana?" Seketika Ayla kaget tapi, berusaha biasa saja.
Papa biasa saja.. aku kira papa akan kembali marah seperti mama.. batin Ayla.
Mengambil tangan Ayah Arga dan menciumnya dan menayapa tamunya.
"Aku ingin menjenguk kakak," ucap Ayla takut-takut.
"Hati-hati nak." ucap Lelaki paruh baya di samping ayah Arga.
"I-iya.."
Setelah berpamitan Ayla dan Lisa kembali melangkah mendekat ke mobil dan menaikinya. Mobil berjalan menjauh meninggalkan halaman.
"Kurasa dia perempuan baik.. Calysta tidak mungkin bisa seperti menantu mu, Jika Calysta ada di posisi Ayla.. mungkin Calysta akan pergi dan tidak akan kembali. Jika kembali Calysta akan menutup dirinya dari keluarga suaminya dan acuh. Aku merasa kau harus memperhatikan menantumu ini.." jelas Petter.
Calysta yang tidak sengaja mendengar pembicaraan ayahnya dengan Ayah Arga tersenyum aneh, seketika.
Sampai Ayla di rumah sakit tempat Rosa dirawat.
Melangkah bersama Lisa dan Sopir yang mengantarkan dimana letak ruangan Rosa.
Di depan pintu ruangan Rawat Rosa, Ayla berdiri mematung.
Seketika pintu di buka oleh Rico.
"Ayla kamu,"
"Siapa yah.." tanya Leni dari dalam.
"Ayah.. Apa Ayla boleh masuk."
Ayahnya mengangguk menggeser tubuhnya untuk Ayla lewat.
Seketika Leni terkejut.
"Ayla kamu datang."
"I-Iya mah.. Aku mau jenguk kakak.. Gimana keadaannya.. kakak kenapa masih tidur?"
"Kakak kamu koma. Tunggu Ayla." Seketika Leni dan Ayla saling berpandangan.
__ADS_1
"Kamu...Kamu bisa liat lagi.. Ayla," ucap Ibunya sambil melambai didepan Ayla.
"Iya mah.. Iyaa yah Ayla udah bisa ngeliat lagi."
"Syukurlah.. " ucap Ibu Ayla tampak tak senang dan ayahnya justru lemas mendengar kesembuhan ayla.
"Terus sekarang kamu mau apa.."Ayla terkejut dengan ucapan ibunya. Ayla kira ibunya akan senang dan Ayah nya juga akan langsung memeluknya dan bahagia melihat kesembuhan Ayla tapi, malah semuanya murung.
"Oiya kamu bayarin uang perawatan kakak kamu ya.. pasti kamu abis di obatin sama Tuan Arga makannya kamu bisa ngeliat lagi.. dan sekarang gantian kamu balas budi ke kami."
"Tapi Mah Ayla gak bisa. Arga ..." Seketika Rosa menunjukan reaksinya, semua panik dan langsung memanggil Dokter.
Ayla keluar dan menunggu diluar ruangan Rosa yang sedang di periksa.
Di dalam Leni dan Rico.
Melihat Rosa yang histeris karena matanya tidak bisa melihat.
"Dokter kenapa.. kenapa semuanya gelap..AAKH... KENAPA.. AKU JADI BUTA.. DOKTER.." Dokter menggeleng lagi setelah memeriksa Rosa untuk kedua kalinya pada mata.
"Maaf pak Bu sepertinya kecelakaan itu membuat pasien kehilangan penglihatannya."
"Engga .. gak boleh Rosa gak boleh buta.. Ayah.. ayah harus cari pendonor buat Rosa.. mama gak mau.. kalo sampe Rosa.. buta."
"Mama Gak mau.. gak mau punya putri Buta, ayah..." Leni juga histeris mengetahui keadaan Rosa. Dokter pamit keluar ruangan dan di angguki Rico.
"Mah... Mama Ayah..." ucap Rosa sambil meraba di udara.
"Sayang ini mama, mama gak akan biarin kamu buta."
Leni langsung memeluk Rosa dan Menangis keduanya bersamaan.
Seketika Ayla masuk dan menghampiri Rosa.
"Kakak.."
Rosa menghentikan tangisnya.
"Kakak yang kuat ya.. Ayla sayang kok sama Kakak.. Ayla bakalan di samping kakak."
"APA..APA KAMU BILANG.. KAMU SENANG KAN KAMU BISA MELIHAT LAGI DAN SEKARANG ROSA BARU SAJA SADAR.. DAN LANGSUNG BUTA."
Ayla tidak takut dengan bentakan ibunya dan tatapan benci Ayahnya
tetap melangkah mendekat.
Seketika Ayla melangkah maju dan mengambil tangan Rosa seketika itu tangannya langsung di tepis.
"Kakak.." ucap Ayla lembut
"LO SENENGKAN .. SENENG LIAT GUE BUTA.. SEDANGKAN LO.. Lo udah sembuh..PERGI LO.. PERGI GUE BILANG.. KELUAR."
Leni mengusap lengan Rosa untuk meredam emosinya.
Di depan ruang rawat Rosa Ayla langsung memeluk Lisa.
__ADS_1
"Kita pulang Nyonya." Ayla mengangguk didalam pelukan Lisa.