
"Katakan pada Lisa dan Lalita untuk terus mengalihkan pikiran Ayla ketika dia mulai membicarakanku," ucap Arga di telponnya.
"Baik Tuan," ucap Dafa menyahuti suara Arga di telpon.
Mereka saling menelpon untuk mengatakan sesuatu yang ingin disampaikan oleh Arga pada Dafa.
Arga akan pergi ke Italia, Perancis, Swiss atau negara manapun untuk bisa menemui kawannya. Arga akan membuat perhitungan pada kawan lamanya atas tindakan yang dibuatnya dengan membatu Rosa.
Dunia mengetahui jika Arga adalah seorang yang selalu sibuk bekerja dan seorang yang kaku tapi, Dunia tidak tahu jika di balik itu semua Arga adalah sosok lain yang paling di segani para kenalananya dan juga para teman penguasa yang bekerja dengan bisnis baik dan tidak berbahaya atau bisnis membahayakan dan dunia gelap. Tapi, Arga tetaplah Arga tidak bisa disamakan dengan lainnya dia sulit di tebak dan juga di nilai walaupun itu Ayla istrinya.
Ayla saja hanya tahu Arga sebatas Arga menunjukan dirinya dan juga sisi lain pekerjaannya yang Ayla baru ketahui beberapa waktu lalu.
Masih melajukan mobilnya dengan cepat di ikuti dua mobil sport hitam lainnya bersama Arga. Sampai di bandara Arga dan sepuluh orang lainnya langsung menaiki jet pribadinya yang sudah sejak tadi di siapkan Dafa.
Kali ini juga Dafa tidak bisa ikut dengan Arga karena semua tanggung jawab Arga menjaga Ayla ada pada Dafa. Walaupun Ayahnya berada dirumah.
Di Mansion Ayla terbangun dan seketika itu juga Lalita merasa jika ranjang sebelahnya bergerak.
"Kamu disini Lalita?" ucap Ayla.
"Iya kak. Tidur lagi aja masih malem banget. Atau kakak butuh sesuatu?" ucap Lalita.
"Ah.. Arga dimana bukannya dia," ucap Ayla menatap Lalita dan bergerak turun seketika Lalita langsung bangkit dan menghentikan Ayla.
"Ehm Kak.. tunggu jangan turun.. Kak Arga lagi ada urusan jadi Kakak minta aku buat jagain dan tidur sama Kak Ayla sampai Kak Arga dateng," ucap Lalita.
"Dateng? memangnya berapa lama dia keluar," ucap Ayla.
"Ah.. Bukan itu. Maksudnya Kak Ayla harus dijaga sama Aku dan Lisa biar aman karena Kak Arga lagi sibuk banget dan hari ini tiba-tiba ada urusan sekarang Kakak jangan mikirin Kak Arga dulu ya!" jelas Lalita dengan tersenyum lebar dan mengangguk ketika Ayla menatapnya dengan ragu dan tidak percaya.
"Baiklah Aku ingin minum Air putih saja." Ayla bangkit seketika Lalita yang melompat turun lebih dulu dan berlari mengambikan minum untuk Ayla.
Sedangkan Ayla hanya menatap aneh. Sebenarnya gerakan Ayla masih sedikit lamban. Maka dari itu Lalita bisa bergerak lebih cepat.
"Ini Kak Minum dulu yang tenang." Lalita mengatur nafasnya ketika Ayla sedang minum.
"Terimakasih."
"Ah.. Ah iya. Sama-sama kakak."
Kembali berbaring dan Lalita kembali meletakan gelas di tempatnya.
Huuh.. Hampir aja ketahuan.. semoga aja mudah di tipu biar enggak mikirin Kak Arga, batin Lalita.
Lagian Dafa ngasih info dadakan enggak dari tadi , batin Lalita.
"Lalita ayo tidur kamu ngapain disana?"
__ADS_1
"Oh Tidur kok kak.. eh.. bukan Maksudnya Aku minum sedikit aku lagi haus dan sekarang mari kita tidur cantik," ucap Lalita panik.
Setelah berbaring dan tidur saling berhadapan lalu terdengar dengkuran halus Ayla. Lalita berbalik menatap langit-langit kamar.
Membuka ponselnya dan membaca komik web di ponselnya.
Aku harus kuat engga ngantuk. Kalo sampai aku tidur Aku bisa enggak tahu apa yang kak Ayla ingin, batin Lalita.
"Jam tiga pagi," gumam Lalita dengan suara berbisik.
Di tempatnya kini Arga baru sampai di negara tujuan pertamanya. Arga sampai di jam yang berbeda dari tahan air. Negara yang di pijakinya masih gelap dan malam. Jika di tanah air sekarang sudah pagi.
"Periksa kasinonya dan tempat yang di miliki di negara ini dan juga tempat yang sering dia kunjungi ," ucapnya pada anak buahnya.
"Kau ikut denganku." Semua menyebar ketempat dimana Arga perintahkan.
Di Kasino terkenal di negara itu, Anak buah Arga langsung memeriksanya dan juga mendatangi ruangannya.
Di mansion pertama miliknya sudah di periksa juga tidak ada.
Arga kini mendatangi salah satu griya tawang termewah yang hanya di miliki kawan lamanya.
Seketika Arga mendapatkan sambutan.
"Kau hubungi yang lain untuk berjaga di luar gedung ini, menyamar," ucap Arga dengan suara pelan dan hanya di mengerti dirinya dan seorang anak buahnya yang biasa diandalkan Arga.
"Silakan Tuan Marvelino Lewat sini," ucapnya.
"Kau datang Arga."
"Aku tidak butuh sapamu. Katakan untuk apa kau membantu Rosa."
"Haha.. ternyata sulit menyembunyikan sesuatu itu dari mu ya."
"Aku tak punya waktu banyak. Cepat katakan." Arga menatapnya dengan tajam.
Melangkah mendekat ke Arga dan bersandar pada meja kerjanya.
"Edward anthony katakan cepat." Menatap dengan tatapan tajam.
Terkekeh dengan sikap Arga.
"Kau berbeda Arga. Apa dia begitu berharga?"
"Ingat Edward aku tidak akan pernah menganggapmu saudara lagi jika kamu berani melukai Ayla lewat Rosa."
"Perempuan buta yang kau nikahi dengan paksaan ibunya yang bahkan tidak menyayanginya dan sepertinya dia sangat cantik. Pernah celaka karena Farhan Putra Ten."
__ADS_1
"Edward."
"Iya."
"Kau menyelidikinya?" ucap Arga mengepalkan tangannya menatap Edward dengan perasaan marah.
"Haha.. dengar Arga aku bukan Edward dulu tapi, aku tetap sudara seperjalananmu hingga sekarang aku tidak mungkin membuatmu menderita kawan," ucap Edward.
Berjalan memutari meja kerjanya dan memberikan layar Leptop yang memperlihatkan seseorang yang sangat di kenalnya.
"Dia adalah orangnya dia juga orang yang sangat sombong, sejak dulu bukan, cih."
"Seharusnya Kau tidak melupakannya Arga."
"Kau bisa melakukan ini padaku karena jebakannya. Ingat salah satu bawahanmu memberikan informasi salah dan jangan langsung percaya jika kau sendiri belum mengeceknya."
"Apa maksudmu?" ucap Arga metap Edward.
"Arga kau sangat cerdas kau di bodohi rasa sayangmu yang sangat dalam terhadap istrimu. Biasanya kau selalu mencari tahunya sendiri untuk menyamakan informasimu dengan bawahanmu."
"Tapi, selagi kau kemari maka aku akan menghabisimu," ucap Edward semetika menodongkan pistolnya di kepala Arga dan menarik pelatupnya di samping pelipis Arga.
Arga seketika membeku di tempatnya mengangkat kedua tangannya ke atas. Tatapan Edward masih tajam menatap Arga.
"Apa yang kau lakukan," ucap Arga. Dengan menatap Edward lebih tajam.
"Menghabisimu dasar lemah!" teriak Edward dengan sedikit keras.
Di mansionnya Ayla merasakan perasaan tidak nyaman dan seketika jatuh berlutut dan pingsan.
Lisa yang melihat itu segera membawa Ayla dengan bantuan Ayah Arga dan Lalita.
"Aduh pingsan lagi?" ucap Lalita panik.
Tak lama Ayla sadar dan langsung di bantu duduk dan di berikan air minum.
" Bau makanan itu membuatku pusing." Seketika Lalita memandang Lisa membulatkan matanya.
"Ah.. yaa akan aku jauhkan eh bukan kami," ucap Lalita membawa Lisa pergi.
"Bi Aku kaget..." Ucap lalita memegang dadanya. Menoleh kebelakang Ayla sedang di ajak bicara ayahnya.
"Iya Nona sama Saya juga hampir ketakutan."
"Emang masakan apa sih bi," ucap Lalita.
"Ah.. ini gulai tadi nyonya minta gulai kambing eh pas saya baru buka tutup nya buat liat sudah matang belum enggak tahunya Nyonya langsung pingsan karena baunya."
__ADS_1
"Oh.. ya udah bi kita simpen atau bibi kasih ke pelayan aja buat makan siang mereka dan baunya cepet di keluarin dari dapur." Lisa mengangguk mengerti.
Mereka berdua bersama pelayan lainnya membereskan dapur. Dan menggantinya dengan makanan lainnya atau masakan lainnya.