
Seketika suara tembakan membuat jendela kaca Edward pecah dengan sengaja.
Arga sudah pura-pura menghindar dan menunduk ketika tembakan itu di lepaskan Edward tiba-tiba. Jelas Arga mengumpati Edward yang malah mengedikan bahu dan memberi perlawan pada tembakan yang membalas tembakannya itu.
Mengambil senjata yang Edward berikan padanya Membantu Edwad melawan mereka.
"Kenapa kau selalu mengejutkan." Arga kesal dengan ulah Edward yang selalu seenaknya tanpa aba-aba.
"Untuk apa," ucap Edward kembali membalas tembakan bersama Arga dan membuat tiga orang tumbang sekaligus.
Seketika dua orang lainnya menyerah. Ketika semua anak buah Arga yang berada di luar membawa penyusup atau mata-mata lainnya.
Arga melangkah mendekati Edward yang meringis tanpa rasa bersalah.
"Lagi pula kau juga sudah mengetahuinya. Kau kan cerdas dan waspada," ucap Edward.
Arga melangkah meninggalkan Erdward yang bicara padanya.
"Siapa mereka?" ucap Arga memeriksa ketiga mayat tersebut.
"Mereka orang-orang yang di perintahkan Lelaki payah itu," ucap Edward sambil melangkah mendekat.
"Sekarang aku ingin meminta informasi lebih banyak darimu," ucap Arga langsung di angguki Edward.
Mengajak Arga masuk kedalam ruangannya. Semua anak buah Arga dan Edward membereskan kekacauan yang ada.
Emilio menembak satu orang informannya yang baru saja datang karena Emilio sudah tahu apa yang terjadi.
"Sialan aku tidak bisa membunuhnya. Bocah tengik itu kukira bisa ku hasut ternyata aku yang di bodohinya."
"Tuan lebih baik kita menyerang istrinya itu lebih bisa membuat putra Luis hancur dan juga Luis." Seketika Emilio menghentikan amukan dan meredam emosinya. Membalik tubuhnya perlahan menatap anak buahnya dengan wajah berpikir.
"Bisa.. itu bisa terjadi. Mari kita lakukan rencana itu aku yakin Luis sedang tidak ada."
Beberapa anak buah Emilio keluar dari ruangannya dan Emilio tersenyum ketika menatap keluar jendelannya.
"Aku akan menggancurkan keluarga bahagia itu," ucap Emilio pada dirinya.
Suara tembakan di ruangan khusus latihan itu terdengar sangat berisik.
Memasang kembali peluru dan menembak lagi hingga mengisi ulang peluru untuk ketiga kalinya.
"Lakukan usahamu sekarang. Harusnya kau bisa membuatnya menjadi milikmu. Kurasa Arga sedang tidak ada."
"Dari mana kau tahu?"
"Hey aku tidak begitu polos dan bodoh. Aku ini memiliki hubungan kerja dengan Arga dan hari ini aku hanya rapat dengan asistennya. Dan juga terlihat jika semua pembahasan bukan berasal dari Arga tapi, asistennya semua."
"Pergilah."
"Farhan payah.. pergilah sekarang ini waktu yang tepat," ucap Syena kesal.
Berlalu pergi meninggalkan Farhan dan seketika peluru di pistolnya habis tak tersisa.
Seringai aneh membuat Farhan begitu mengerikan. Berlalu keluar dari ruangan itu.
Di pusat perbelanjaan Ayla dan Lalita juga Lisa sibuk membeli dan mengambil beberapa barang yang di perlukan.
"Sepertinya sudah," ucap Lalita.
"Ehmm ya sudah pulang saja sekarang." Ajak Ayla. Mereka pergi ke kasir untuk mengitung semua barang yang mereka ambil.
__ADS_1
Di parkiran saat ini Ayla dan Lisa juga Lalita menaiki mobil setelah sopir dan Lisa membereskan barang dan membawanya masuk ke dalam bagasi belakang.
"Bi kenapa Arga belum kembali, urusan apa yang Arga harus selesaikan di malam hari dan ini hampir sore lagi," ucap Ayla mengusap perutnya dan memeriksa ponselnya. Jika terdapat panggilan atau pesan Arga.
Lalita berdehem dan tertawa renyah tiba-tiba.
"Kak Ayla mau apa.. mau eskrim atau kakak ingin buah atau salad sayuran atau ingin jajan lainnya," ucap Lalita berusaha mengalihkan pikiran dan pertanyaan Ayla yang membutuhkan jawaban.
"Tidak.. Aku tidak ingin semuanya aku ingin Arga pulang.. Hiks.. Arga.. maaf aku ingin Arga kembali." Ayla menangis menatap luar jendela.
Manteb juga ibu hamil kayak Kak Ayla dari pagi bawaanya Kak Arga mulua.. istrinya kak Arga huuh. Ayolah kak Ayla jangan sedih ya.. kak Arga juga bakalan pulang kok.. batin Lalita.
Lalita mengetik sesuatu di ponselnya dan mengirimnya. Lalita teringat Ayla seketika menoleh kebelanga.
Bernafas dengan gugup dan khawatir. Menoleh ke belakang sedikit. Ternyata Ayla sudah sedikit lebih tenang dengan Lisa.
"Untung ada Bibi," gumam Lalita.
Di perjalanannya Arga menatap kedepan dengan tatapan tajam. Arga memang baru sampai sore ini dan sekarang sedang dalam perjalanan kembali dari bandara.
Mobil Ayla seketika di hentikan sebuah mobil yang terlihat asing oleh Lalita.
"Maaf nona, nyonya. Saya akan keluar untuk memastikannya." Sopir itu keluar dari mobil. Sebelumnya menghubungi Dafa lewat ponselnya sambil melangkah keluar dari mobil.
"Maaf kami ingin lewat."
"Jika kami bilang tidak bisa ya tidak."
Ayla dan Lalita menatap itu dengan perasaan sedikit takut.
"Lalita mereka?"
"Ah.. tidak masalahkan lebih baik kakak jangan berpikir aneh-aneh."
Arga...batin Ayla.
Perkelahian yang tidak seimbang dan juga menakutkan bagi Ayla.
Semuanya tergeletak tak berdaya kecuali seseorang yang bangkit lagi dan menidongkan pistol di kepala Sopir.
Seketika tembakan membuat orang yang akan menembak kepala si sopir langsung jatuh.
"Kalian tidak cukup tepat waktu."
Menatap orang-orang yang Dafa kirimkan. Tidak lama Dafa datang dengan mobilnya dan meminta semua anak buahnya untuk mengawal Ayla kembali pulang.
Melihat beberapa orang itu jatuh tergelatak tidak berdaya di aspal. Salah satunya tergeletak tidak sadarkan diri karena tembakan yang anak buahnya berikan.
Kembali melaju meninggalkan tempat itu.
"Pak.. tadi itu mereka siapa?"
"Tidak masalah Nyonya mereka semua tidak penting." Sopir itu menjelaskan dengan ramah.
"Apa luka mu tidak masalah?" ucap Ayla.
"Tenang saja Nyonya saya baik."
"Eh.. Kakak gimana kalo kita buat masakan enak malam ini?" ucapa Lalita. Mengambil alih pembicaraan tersebut. Ketika sopir melirik Lalita seperti meminta bantuan.
Ayla mengangguk dengan tersenyum.
__ADS_1
Di tempatnya Dafa menelpon seseorang dan tak lama Dafa pergi dari sana.
Dalam perjalannya Dafa mendapat pesan dari Arga.
"Siapa dia mirip sekali dengan Tuan besar."
Di rumah saat ini dapur yang luas dan mewah sekarang dan seterusnya akan selalu di kuasai Ayla ketika sudah menjadi istri Arga.
"Ini Cumi yang tadi kak.. wah keren jadi gini," ucap Lalita.
Seketika mata Lalita menatap oven yang menyala memanggang sesuatu.
"Kak... ini?"
"Iya aku sengaja masak itu aku lagi pengen." Lalita mengangguk.
"Ya udah.. aku mandi dulu. Tolong siapin diatas meja ya.."
"Iya kak."
Ayla pergi dari dapur meninggalakan Lalita dan pelayan Lainnya.
Ayla yang sudah sejak beberapa menit lalu di dalam kamarnya dan belum turun.
Tak lama sebuah mobil dengan suara mesin yang di kenal Lalita.
"Ini dia," ucap Lalita pelan.
Seketika semua pelayan keluar menyambut Arga seperti biasanya.
Berjalan dengan langkah tegasnya seketika melewati dapur Arga melihat Lalita menatapnya.
"Hem."
"Menyebalkan. Dia sedang di kamarnya dan sekarang belum turun. Cepat sekali." Lalita langsung bicara yang ingin di katakannya ketika Arga datang.
Arga kembali berjalan meninggalkan Lalita yang kesal.
"Tuan ini adalah Tuan besar Emilio suadara tiri Tuan besar." Pesan Dafa yang baru saja di terima Arga. dari Dafa.
Menghentikan langkahnya menaiki tangga.
Aku sudah mendugannya... pak tua ini tidak menyerah dengan mudah, batin Arga.
Kembali melanjutkan langkahnya. Menaiki tangga untuk masuk kedalam kamarnya. Seketika tatapan mata mereka bertemu di depan pintu kamar yang terbuka.
Ayla tanpa sengaja membuka pintu ketika Arga baru saja sampai dan menghadap pintu kamar.
"Arga kamu...kamu pulang.. kamu? Hiks.. malas jangan dekat-dekat aku.. pergi aja lagi sana enggak usah pulang sekalian aku marah saana," Ayla kembali menutup pintunya dengan keras dan mesuk kembali ke dalam.
"Ayla." Panggilan dan ketukan seketika membuat pintu terbuka. Terlihat Ayla berjalan menuju ruang ganti untuk menyiapkan pakaian Arga sepertinya.
"Ayla dengarkan aku dulu. Ayla... Ayla.. Cintaku," ucap Arga dengan kata terakhir yang membuat Ayla menghentikan gerakannya.
"Menggelikan buang jauh-jauh kata itu..." Kesal Ayla.
Seketika cekalan tangan Arga membuat Ayla berhenti.
"Ayla.."
"Hiks.. kamu jahat kamu enggak bilang, kamu jahat kamu pergi, kamu semalem pergi gitu aja."
__ADS_1
Seketika Arga memeluknya dan mengecup kepala Ayla.
Menenangkan Ayla.