
Di sebuah Cafe Farhan menghampiri meja Utami dan Emilio.
"Baiklah aku akan mengikuti rencana kalian tapi, dengan caraku rencana milik kalian," ucap Farhan.
"Terserahmu yang penting kau hancurkan kebahagiaan mereka dulu."
Utami dan Emilio berdiri dari duduknya dan pergi meninggalkan Farhan sendirian.
Seketika seringai aneh terlihat di wajah Farhan.
Bermain dengan Anak panti yang mulai Aktif. Ayla juga sudah akrab dengan semua pengelola panti.
"Sepertinya waktu bermain sampai disini dulu, Mommy Ayla akan kembali pulang," seketika salah satu anak tidak ingin lepas dari Ayla.
Dan ketika Lisa memisahkannya dan menggendongnya dia menangis.
Ayla terkekeh dan mengambilnya lagi menggendongnya hingga tertidur.
"Terimakasih Nyonya. Anda rajin sekali berkujung kemari," ucap pengelola panti tersebut.
"Tidak masalah. Maaf ya aku harus pamit dulu," ucap Ayla berpamitan pada semuanya dan kembali menaiki mobilnya.
Mobil yang sudah berjalan menjauh seketika berhenti di pinggir jalan ketika melihat buah jeruk dan buah naga berwarna kuning yang besar dan segar.
Lisa dan Ayla turun. Karena letaknya menyebrang dan Ayla meminta Sopirnya berhenti di pinggir jalan sebrang toko buah pinggir jalan.
Setelah sampai Ayla melihat-lihat dan memilih buahnya.
" Itu mahal. Kalo enggak mampu, engga usah beli," ucap perempuan dengan usia tiga puluan.
Ayla tersenyum dan diam saja memilih buah bersama Lisa.
"Apaan nih bang masa pisang busuk di jual," ucap Perempuan yang mengatai Ayla tadi.
"Itu pisang baru kok bu," jelas lelaki penjual buah tersebut.
"Males deh.. udah itu semangkanya aja satu," ucap perempuan tersebut.
"Ini semua berapa om," ucap Ayla.
Terlihat dua kantong plastik buah naga kuning dan juga sekantong jeruk mandarin dengan Salak dua kantong plastik. Lalu pisang empat sisir.
"Wah Belanjanya banyak sekali bu, bisa enggak ini bayarnya," ucap perempuan yang mengatai Ayla.
Semua buah di timbang dan di hitung oleh penjual tadi.
"Semua habis Lima ratus depan puluh sembilan ribu," ucap penjual tersebut.
Tak berapa lama mobil Ayla datang. Sopir langsung turun dan membawa belanjaan Ayla masuk ke mobil.
"Ini om di hitung," ucap Ayla menyerahkan uang.
"Loh ini lebih bu," ucap Penjual buah setelah menghitungnya.
"Ya udah buat Om nya aja. Sama kasih ibu itu apelnya sekilo kayaknya ibu itu juga ingin apel hijau," ucap Ayla.
Seketika Perempuan itu menunduk malu.
"Eh.. tunggu-tunggu.. Makasih ya.. saya minta maaf tadi bilang aneh-aneh ke kamu," ucap perempuan tadi.
__ADS_1
"Enggak masalah bu, Oiya saya duluan ya," ucap Ayla.
Pergi berlalu meninggalkan penjual dan pembeli itu.
"Makanya bu kalo nilai orang jangan dari luarnya, Kayaknya tu orang. Orang kaya deh... Liat deh uangnya baru semua enggak ada yang lecek, tadi dia mau bayar pake kartu tapi, kerena ngeliat saja enggak ada alatnya di pake tunai," ucap Penjual buah tersebut.
"Iya-ya.. Heh.. malu saya," ucap perempuan itu.
Baru sampai kantor Arga.
Ayla melihat Calysta sedang berdebat dengan resepsionis.
"Maaf Ini kenapa ya," ucap Ayla.
"Oh Hay.. kita bertemu lagi. Ingatkan perkataanku untuk membuatmu menangis darah jadi sekarang itu akan terjadi." Seketika Calysta menyiram air cabai yang berwarna hitam di wajah Ayla hingga membuat semua orang yang melihat itu terkejut.
"Ahk.. panas," Teriak Ayla. Ayla menangis tidak bisa menyentuh wajahhnya dan membuka matanya sedikit demi sedikit hidung dan bibirnya terasa panas terbakar.
Berjalan dengan sengaja menyenggol bahu Ayla. Sedikt terhuyung kebelakang.
Tak lama Larisa datang membawa Ayla pergi ke toilet.
Tak berapa lama Aulia juga datang masuk Toilet membawa kotak obat dan pakaian ganti untuk Ayla.
Terlihat wajah Ayla yang memerah dan seperti terbakar sinar matahari yang sangat panas.
"Tahan Nyonya ini salep pendingin dan ini bekerja sangat cepat mungkin tiga-dua jam merahnya diwajah Nyonya, tidak terlalu terlihat."
"Huuh.. beruntung Nyonya tidak memakai make up apapun, jika menggunakannya ini akan membutuhkan waktu menghilangkannya."
Seketika Larissa menatap Aulia yang berucap aneh. Jika Nyonya nya tambah sedih besok mereka akan di pecat Arga.
"Terimakasih ya.. ini sudah lebih baik," ucap Ayla tenang tapi, sangat terlihat jika dirinya menahan sakit.
"Nyonya itu terlalu cantik makanya perempuan gila tadi menumpahkan air cabai ke wajah Nyonya," ucap Larissa kesal.
"Kamu ini," ucap Ayla. Seketika mereka terkekeh bersama.
"Nyonya, Nanti langsung periksa dengan Tuan ke dokter," ucap Aulia.
Ayla mengangguk tersenyum seketika bibirnya terasa perih.
Wajah Aulia dan Larisa juga langsung berekspresi ngilu seperti mereka juga merasakan sakitnya.
"Air cabainya sangat mengerikan," ucap Ayla. melihat wajahnya di cermin.
"Ini cabai terpedas di dunia." Larissa menjawab ucapan Ayla.
Keluar dari Toilet, ternyata Arga sudah menunggu mereka.
"A-arga." ucap Ayla ketakutan.
Seketika Arga menggendong Ayla dan membawanya untuk segera di bawa kerumah sakit.
"Aku heran kenapa mereka selalu menyiram wajahku," gumam Ayla.
"Karena mereka tidak bisa secantik dirimu dan mereka iri," ucap Arga.
Ayla hanya diam tidak berani bicara karena wajah Arga seoerti
__ADS_1
Mobil berjalan meninggalkan Area kantor.
Tek berapa lama sampai di rumah sakit dan Ayla langsung di periksa Dokter sepesialis kulit.
Setelah Dokter mengatakan tidak ada amsalah dan pertolongan pertamanya juga cukup baik. Jadi sekarang Ayla langsung pulang bersama Arga.
Di kantor.
Sekertaris Aulia dan Larissa bersama dengan Dafa.
Menghabiskan waktu untuk lembur karena Dokumen harus selesai hari ini dan besok akan di gunakan untuk rapat. Berbarengan dengan Dokumen hari esok yang masih menumpuk. Arga pergi begitu saja ketika urusan istrinya lebih menghawatirkan dari pada perusahaan.
Di apartemennya Calysta duduk tenang dengan tertawa.
"Mungkin dia sudah tidak bisa melihat lagi srmentara waktu dan aku akan langsung mengambil Arga."
Terdengar suara bel. Calysta berjalan menuju pintu.
Betapa terkejutnya jika yang datang adalah Ayah dan ibunya.
"Mama.. Papa."
"Pulang sekarang! Kamu buat malu papah dan mama. Kamu berbuat buruk pada Ayla. Calysta!" suara ibunya terdengar begitu sedih.
"Sekarang Papa akan membawamu kembali ke rumah Omma dan Omma sendiri yang akan mengurusmu dan menikahkanmu dengan Lelaki pilihannya. Bisnismu biarkan menjadi urusan Mama," tegas Ayahnya.
Tak lama perempuan dengan pakaian rapih dan jas hitam datang dan membawa Calysta pergi dari apartemennya. Perempuan lainnya membereskan barang Calysta.
"Pah... Calysta enggak mau tinggal sama Omma. Mah.. Tolong Calysta mah.. Calysta enggak bisa jauh dari mama," ucapnya. Ibunya berpura-pura tidak mendengar teriakan Calysta.
Nenek Calysta sangat tegas dan juga disiplin. Petter meminta Calysta di bawa oleh para bawahan Ibunya agar langsung segera bertemu ibunya.
Petter dan istrinya langsung pergi ke kediaman Arga.
Di Mansion.
Ayla dan Lalita sedang asik mengobrol seketika Petter dan istrinya datang dan Arga juga keluar dari ruang kerjanya bersamaan.
"Silakan duduk." Petter dan istrinya langsung duduk berdampingan.
Ayla menatap Arga bingung.
"Ayla. Kami minta maaf atas perbuatan Calysta dan aku juga akan membantu merawat luka mu," ucap Ibu Calysta.
"Haah.. Apa ini Tante.. Enggak apa-apa Ayla enggak masalah Tante. Calysta itu juga sebenarnya baik hanya saja.. Maaf tante tidak perlu sampai membantu mengurus luka ini," ucap Ayla tidak enak hati.
"Arga. Istrimu sangat baik. Terimakasih karena kamu mengabari kami, sebelumnya kami hanya tahu jika Calysta akan mengurus pekerjaan ternyata malah membuat hal memalukan dan itu pada istrimu," jelas Petter.
"Tidak masalah Tuan Petter.. aku memakmuli perbuatan Calysta, karena istriku meminta untuk tidak berbuat kasar pada putrimu yang sedikit keterlaluan."
"Hem..Baiklah Kalo begitu kami akan pamit," ucap Petter.
"Eh.. kenapa langsung pamit. Tidak menginap dulu ini sudah malam," ucap Ayla.
"Tidak Ayla kami masih ada urusan, dan untuk Calysta aku jamin dia tidak akan datang karena Ommanya sangat keras jadi didikan ommanya pada Calysta akan membuat anak itu sedikit berpikir."
Arga mengangguk.
Mengantar Petter dan istrinya sampai depan.
__ADS_1
Ayla dan Arga kembali masuk.