
Di ruang rawat Ayla setelah ke pergian Claudia.
Lisa membereskan ruangan tersebut. Dan membantu Ayla untuk kekamar mandi karena kakinya masih sedikit sakit.
Dari kamar mandi, Ayla kembali duduk di ranjang rumah sakitnya.
"Bi apa itu Claudia?" tanya Ayla.
"Iya Nyonya," jawab Lisa.
Claudia secantik itu bagaimana bisa Arga menikahi aku, harusnya aku tidak menjadi istrinya, kenapa dia mau menjadikan aku istrinya.... apa setelah aku menyukainya dia akan membuangku dan memilih kembali dengan Claudia, batin Ayla.
Seketika pintu terbuka dengan langkah tegasnya Arga masuk ruangan Ayla. Seketika langsung memeluk Ayla yang sedang duduk menatap keluar jendela di hadapanya.
"Ayla kamu udah sadar," ucap Arga dalam pelukannya.
"A-arga...nafas... A-arga," ucap Ayla dalam pelukan erat Arga.
"Maaf sayang," ucap Arga menarik kembali dirinya dari pelukan tersebut dan menatap wajah cantik Ayla yang bangun dari tidurnya yang cukup panjang, menurut Arga.
A-arga... kamu suamiku A-arga... apa kamu yang memelukku barusan dan mengkhawatirkan aku, Arga suamiku, dan kata Sayang secepat itu kamu memanggilku dengan kata sayang.. padaku, batin Ayla.
Seketika Air mata Ayla jatuh dan belum sempat membasahi pipi, Arga sudah menghapusnya dan mengecup kening Ayla lama hingga mata Ayla memejam untuk menikmati kecupan didahi dari Arga.
"Ayla kenapa kamu nangis apa kamu langsung merasa sesak sekali, maafkan Aku Ayla aku terlalu senang melihat kamu sudah siuman," ucap Arga menatap wajah Ayla.
Tatapan matanya tajam sekali, Oh Tuhan bantu aku untuk menjadikan sandiwara ini selesai di waktu yang tepat, jangan buat sandiwara ini langsung ketahuan, batin Ayla.
"Dafa panggil Dokter," ucap Arga.
"Jangan... tidak jangan panggil dokter aku sudah lebih merasa baikan," ucap Ayla memegangi dadanya.
"Ayla... kamu harus di periksa," ucap Arga.
"Dafa panggil Dokter," ucap Arga.
"Jangan!" sahut Ayla cepat.
"Bibi dan Dafa keluarlah dulu," ucap Ayla dengan tersenyum dan menatap kedepan.
"Arga," ucap Ayla.
Arga mensejajarkan tingginya dengan Ayla dan menaruh kedua tangannya di samping Ayla menyanggah tubuhnya.
Menatap wajah Ayla.
Aku harus bisa tahan, pesona wajah Arga benar-benar membuatku hampir gagal fokus, batin Ayla.
"Apa Ayla," sahut Arga.
"Arga apa aku tidur terlalu lama?" ucap Ayla.
"Iya," sahut Arga.
"Arga apa kau tidak bosan karena aku tidur hingga dua hari," ucap Ayla.
__ADS_1
"Tidak," sahut Arga.
"Arga Aku menyedihkan bukan, Aku gagal jadi istri yang baik, aku melalikan tugasku," ucap ayla dengan wajah sedihnya.
"Tidak Ayla aku tidak masalah Aku tidak mempermasalahkannya," ucap Arga.
Apa ini, Arga kenapa...kenapa kamu gak nyesel nikah sama aku, batin Ayla.
"Sekarang apa mau kamu, aku turutin tapi, jangan pernah tidur terlalu lama lagi. Aku gak bisa liat kamu kayak gitu," ucap Arga dengan wajah yang sangat memohon.
"Aku mau pulang," ucap Ayla.
"Ok kita pulang sekarang, sebentar di urus Dafa," ucap Arga.
Ayla mengangguk lalu turun dengan melangkah pelan menuju kursi dekat jendela.
Seketika tangan Arga membantu Ayla untuk duduk.
"Terimakasih," ucap Ayla.
Arga hanya tersenyum dan memberikan remot pada Ayla.
"Apa ini Remot, remot apa ini," ucap Ayla.
"Kamu mau menonton tv," ucap Arga lagi.
"Hem.. boleh emangnya," ucap Ayla.
"Ya bolehlah Ayla, Siapa yang berani larang," ucap Arga.
Ayla belum menggunakan remotnya karena bingung tombol menyalakannya yang mana.
"A-Arga..Gimana nyalahin tvnya," ucap Ayla.
Arga yang duduk di kursi belakang Ayla langsung mendekat dan mengambil Remot Ayla menyalakan tvnya.
"Saluran tvnya?" ucap Arga.
"Hem... bukan yang ini," sahut Ayla. Arga menggantinya
"Bukan," sahut Ayla. Arga melakukannya lagi, mengantinya lagi
"Bukan," sahut Ayla. Lagi Arga lakukan hal yang sama.
"Eh kucing tikus tadi aja," ucap Ayla seketika tangan Arga berhenti menekan tombol remot tersebut, menyimpan remot di kursi sebelahnya.
"Tapi, itu bukan Kucing tikus," ucap Arga.
"Lah terus apa, kok lagunya sama," ucap Ayla bingung.
"Itu Meong sama Curut," sahut Arga.
"Ha...h Arga kamu ya, dah serius-serius malah boongan," ucap Ayla yang kesal.
Seketika Arga tersenyum merasa terhibur dengan reaksi Ayla.
__ADS_1
Ayla aku lebih cepat menyukaimu atau ini hanya perasaan nyaman, batin Arga.
Arga yang sibuk mengutak atik ponselnya seketika pintu terketuk dengan perawat yang datang bersama Lisa dan Dafa.
"Tuan, Nyonya, Dokter sudah memperbolehkan nyonya untuk kembali pulang dan beristirahat di rumah," ucap Dafa.
Seorang perawat membatu melepas infus Ayla dan juga memeriksa tekan darah Ayla dan lainnya.
Terakhir perawat membereskan ranjang Ayla dan Lisa membantu Mengantikan pakaian Ayla di kamar mandi Arga masih memainkan ponselnya hingga Ayla keluar dari kamar mandi dengan rambut yang di kuncir kuda dan pakaian santai.
Seketika Arga terpanah dengan tampilan sederhana Ayla yang menarik Arga dari fokusnya di ponsel.
Arga langsung mengambil kursi roda dari Perawat.
"jalan...pelan saja," ucap Arga. Ayla yang mengikuti perintah Arga berjalan pelan dan Arga membantu Ayla untuk duduk di atas kursi roda.
Tuan begitu perhatian dengan Nyonya, batin Lisa.
"Arga kita pulang," ucap Ayla dengan senang dan senyum bahagian yang tidak luntur dari wajahnya ketika Dafa mengatakan jika Ayla sudah boleh pulang.
"Iya kita pulang," ucap Arga.
Keluar dari ruangan Ayla dan melangkah masuk kedalam lift dan turun ke lantai satu.
Di Mansion Arga.
Sedang ada Arisan ibu-ibu yang diadakan Ibu tiri Arga.
Seketika ponsel ibu tiri Arga berbunyi.
"Iya Halo... Haah.. cepet banget," ucap Ibu Arga.
Kembali menutup telponnya dan menatap teman-teman sosialitanya.
"Hem.. jeng... kayaknya sampai sini dulu ya anak aku mau pulang jadi dia itu gak suka rumahnya terlalu ramai, jadi kapan-kapan kita lanjut di luaran aja ya," ucap Ibi Arga.
"Loh kenapa jeng, Padahal kita mau liat anak tiri kamu yang katanya ganteng dan katanya udah nikah kan ya, sekali-sekali gak papa lah jeng... kasih tahu ke kita-kita," ucap pemimpin Arisan mereka.
"Nanti kapan-kapan aku bakalan kasih tahu," ucap Ibu Arga.
"Hem ya udah deh.. makasih ya jeng suguhannya," ucap Salah satunya.
Ibu-ibu sosialita itu langsung berpamitan pulang dan seketika merek keluar gerbang utama.
Saat itu juga Arga melihat dua mobil asing memasuki Mansionnya. Selain mobil Dafa dan Claudia atau ayahnya, Mobil lain tidak di izinkan masuk.
"Siapa mereka Daf," ucap Arga.
"Mereka teman-teman sosialita nyonya tuan," jelas Dafa.
Arga menatap kedepan lalu memejamkan matanya.
"Besok jangan perbolehkan lagi, aku tidak ingin kedatangan tamu seperti mereka lagi," ucap Arga.
"Baik Tuan," ucap Dafa.
__ADS_1
Di mansion Arga Ibu tiri Arga mengomeli pelayan yang belum juga membersihkan bekas acarannya.
"Minggir-minggir sana pergi," ucap Ibu Arga. Ketika pekerjaan pelayan selesai.