
Bermain bersama anak panti menghilangkan kebosanan Ayla.
"Hay.."
Ayla menoleh melihat siapa yang datang.
Menatap tak asing kearah perempuan tersebut.
"Ka-kakak... kak Rosa." Rosa mendekat dan duduk di sebelah Ayla.
"Kakak sudah bisa melihat dan .. ayah mama. Kalian tinggal dimana. Bagaimana keadaan ayah mama Aku rindu dengan mereka."
Rosa tersenyum.
Kita lihat..batin Rosa.
"Oh.. itu aku kemari hanya sekedar lewat dan melihat kamu di sini. Ayah mama baik mereka ada di negara lain aku kemari hanya untuk menyelesaikan urusanku. Bagaimana kehamilanmu?" Berpura-pura ramah.
"Iya baguslah jika Ayah mama sehat. Kandungan ku juga sudah berjalan hampir tidak terasa sudah sebesar ini. Kemarin periksa semua sehat, sudah tujuh bulan sekarang." Rosa mengangguk menatap Ayla dengan tersenyum dan menatap perut Ayla.
Lihat aku akan menghabisimu dan bayi mu. Kamu tidak boleh senang ataupun tersenyum kamu harus menangis dan merasa buruk kamu harus tertekan Ayla, batin Rosa.
"Oh gitu kalo gitu aku pergi dulu dan juga hati-hati kembali nanti jangan terlalu lelah ya." Rosa pergi meninggalkan Ayla yang duduk di taman melihat anak panti bermain di halaman dengan permainan luar ruangannya.
Apa maksud kak Rosa datang aku merasa ada sesuatu yang Kak Rosa sembunyikan. Tapi, kak Rosa terlihat baik dan juga ingin duduk dan menyapa ku, batin Ayla. Berpikir.
"Nyonya ini kueh yang saya sediakan untuk anda dan anak-anak."
"Hah.. Terimakasih Bi. Taruh saja di meja."
"Maaf Nyonya.. apa perlu Nona Rosa datang mengunjungi anda."
"Hem.. Entah lah Bi aku tidak mengerti. Aku senang saja jika dia mau menanyakan kabarku menjawab pertanyaanku dengan santai."
"Maaf Nyonya saya akan mengambil minum untuk anda."
"Untuk anak-anak Bi."
Lisa mengangguk pergi mengambil minuman.
"Anak-anak.. kemari ayo cuci tangannya dan kita makan kueh."
Ucapan Ayla yang sedikit keras membuat beberapa anak-anak langsjng menghentikan permainannya berbaris rapih mencuci tangan dan juga bagian yang kotor. Lalu duduk di kursi dekat meja yang tersedia di bawah pohon.
Tak lama Lisa datang membawa minuman es teh yang tidak terlalu manis.
"Terimakasih Mommy Ayla."
"Haah.. Sama-sama Sayang." Ayla tersenyum dengan ucapan anak laki-laki berumur lima tahun.
"Mommy.. aku enggak pernah liat Daddy ganteng lagi."
"Haah.. Deddy ganteng siapa." Ayla bingung menatap semua anak panti yang mengangguk.
__ADS_1
"Itu loh Mommy.. Yang kemarin beli in kita boneka dan juga bakar ayam bareng kita."
Seketika Ayla teringat.
"Kenapa kalian memanggilnya Daddy ganteng."
Semua anak perempuan tertawa malu. Ayla rasanya gemas sekali dengan mereka.
"Mommy... Kan Mommy Ayla.. Daddynya Daddy ganteng waktu itu."
Ini ulah Arga.. Arga terlalu percaya diri dengan ketampanannya. Anak kecil saya sudah menilainya tampan, jujur, batin Ayla.
"Iya Mommy. Daddy bilang panggil aja Daddy ganteng kerana Deddy suaminya Mommy Ayla." anak lelaki yang asik memakan kueh menjelaskan dengan caranya yang menggemaskan sambil memakan kueh.
"Oh.. gitu.. Lalu gantengnya." Ayla menggoda anak kecil perempuan yang malu.
"Malu Mommy," ucap salah satunya membuat Ayla langsung tertawa gemas dan menutup wajah mereka yang terlihat memerah malu.
Di dalam mobil Rosa sedang duduk berbicara dengan Farhan setelah menghampiri Ayla tadi.
"Kau lakukan tugasmu nanti setelah dia keluar dari panti ini."
"Hem."
Rosa melangkah keluar meninggalkan Farhan.
Sialan dia bisa tahu semua identitasku.. siapa yang berada belakangnya. Aku hanya tahu jika dia perempuan biasa. batin Farhan.
Memasuki mobilnya yang terlihat begitu mewah dan membuka tabelt yang ada di sebelah kursinya.
Membuka pesan yang di kirimkan lagi.
tentang Farhan.
Di tempatnya Arga baru saja menerima pesan dari Edward kelanjutan informasi sebelumnya.
"Lelaki dewasa berumur dua puluh lima tahun lebih." Membaca informasi yang terlihat.
"Wajahnya bisa menipu ternyata." Arga menyeringai.
Ayla berpamitan pada Anak panti untuk kembali pulang.
Dalam perjalanan mobil Ayla melaju tenang hingga ancaman di mobilnya membuat Ayla terkejut.
"Maaf Nyonya saya akan melaju kencang jadi pasang sabuk pengaman."
Ayla dan Lisa segera menggunakannya.
Seketika mobil Ayla di tabrak dari arah samping terus hingga membuat bagian samping mobil penyok dan juga rusak.
Memelankan lajunya dan membiarkan ada di depan. Seketika berhenti mendadak Ayla dan Lisa masih dalam ketakutan. Hingga bantuan dari Arga membuat Mobil Ayla di lindungi dengan aman.
"Kalian membuatku harus mempertaruhkan tiga nyawa."
__ADS_1
"Diamlah dan turun dari mobil. Minta nyonya berganti mobil."
Sopir Ayla yang bicara di radionya lalu menolah kebelakang dan menatap Ayla.
"Maaf Nyonya Anda harus berganti mobil. Sekarang."
Ayla menurut mengangguk mengikuti apa yang sopirnya katakan.
Sudah berpindah di mobil lainnya bersama Lisa. Ayla dan Lisa sudah pergi berlalu dengan mobil lain setelah duduk tenang di dalam mobil.
"Berhenti atau." Dua tembakan di lepaskan dan membuat mobil berhenti. Salah satunya membuka mobil tersebut tapi belum sempat membuka mereka menyadari ada bom di mobil tersebut.
Semua segera berlari berlindung dan seketika ledakan membuat Ayla menoleh ke belakang melihat sebuah ledakan dan juga suara yang sangat besar.
Seketika Ayla langsung berubah sedih. Ketika semua ucapan Rosa yang santai yang sebenarnya membuat Ayla harus berhati-hati karena ada sesuatu yang terjadi. Dan ini lah sesuatu itu.
Tak berapa lama Ayla dan Lisa sampai di Mansion dan Arga sudah menunggu dengan cemas.
Ayla langsung turun berlari memeluk Arga tidak memikirkan perutnya lagi.
Ayla menangis terus hingga pingsan. Arga segera membawa Ayla masuk.
Sampi di kamarnya Ayla di letakan perlahan oleh Arga.
Keluar kamar Arga meninggalakan Ayla pada Lisa dan Lalita.
Setelah ledakan tadi semuanya segera melihat apa yang terjadi.
Farhan menatap rencananya dengan seringai aneh.
"Kali ini berhasil dan aku akan membuatmu datang sendiri."
Tak lama suara gaduh di luar membuat Mansion Farhan terdengar ramai.
"Cepat sekali."
"Aku tidak bisa menunggumu membuat Ayla celaka."
"Oiya.. kau itu suami payah yang tidak berguna."
"Bukan tidak berguna dan payah tapi, aku salah memberikan kesempatan baik untuk orang yang salah sepertimu." Arga menghajar Farhan dengan membuat Farhan menjadi tidak berdaya dalam sekejap.
"Ingat satu hal Farhan. Kau itu berhadapan dengan orang yang kau tidak tahu siapa dia. Jangan sampai kau menyesalinya."
"Siapa.. Siapa kau." Farhan geram dalam posisi terlentang dan tidak berdaya untuk bangkit. Arga menatapnya dengan posisi berjongkok disamping tubuh Farhan.
"Aku malas menjelaskannya untuk orang sepertimu."Arga berlalu pergi setelah membuat Farhan tidak berdaya dan akhirnya pingsan.
Tidak berapa lama Syena datang dan mengarahkan senjatanya di depan wajah Arga yang baru saja melangkah keluar dari dalam Mansion Farhan.
"Kau tidak bisa pergi begitu saja. Tuan Arga Marvelino. Selangkah saja kau maju aku akan melubangi kepalamu."
Arga menatap Syena dengan tajam dan melangkah mendekat tanpa takut menempelkan ujung pistolnya dengan dahinya.
__ADS_1
"Lakukan."
"Baik.. aku akan menghabisimu."