
"Apa katamu? Kau yakin dengan laporan mu atau aku harus membunuhmu," ucap Thalita dengan menempelkan ujung pistol pada kepala informannya.
"I-iya... iya nyonya.. saya yakin saya melihatnya sendiri jika Tuan Dafa datang ke sebuah kontarakan dan langsung pergi setelah memberikan uang pada seorang wanita tua."
"Awalnya istri Tuan Arga berjalan sendirian hingga seorang wanita tua yang sama yang Tuan Dafa berikan uang setelahnya datang. Dan sekarang istri Tuan Arga tinggal di kontrakan kumuh pinggir kota."
Menarik pistolnya kembali dan tersenyum. Seketika Thalita berdiri dengan santai berjalan menjauh. Informannya langsung tenang menghembuskan nafasnya.
"Berikan dia uang dan suruh dia pergi secepatnya."
"Sebelum aku berubah pikiran dan menghabisinya sekarang."
Bawahannya mengangguk dan menghampiri informan tersebut.
*****
Di kontrakan Bibi. Saat ini Ayla sedang berdiri di teras menikmati sinar mentari pagi yang sangat baik untuk dirinya dan calon anaknya.
Bibi keluar dengan menggunakan pakaian rapi dan juga membawa tas belajaan.
Ayla yang mendengar bibi seperti terburu-buru.
Langsung menghentikannya.
"Bibi mau kenama?"
"Oh mau kepasar Non, Nona mau ikut?" ucap Bibi.
"Boleh bi." Ayla menganggu dan bangkit berdiri. Bibi langsung menutup pintu dan pergi bersama Ayla dengan menuntun tangannya. Dan tangan Ayla lainnya membawa tongkat.
Arga tidak datang... berarti benar yang Thalita katakan, batin Ayla.
Tanpa Ayla tahu jika sejak pagi tadi dirinya keluar dan berjemur di teras. Dafa sudah mengawasinya bersama anak buahnya.
Sebenarnya Dafa bersama Arga. Sebelum berangkat ke kantor. Mampir dan kebetulan Ayla ada di teras.
"Apa anda tidak ingin mengajak Nyonya pulang."
"Aku ingin. Tapi, aku tahu jika Ayla mungkin membutuhkan waktu sendiri. Dia pasti merasa ragu padaku. Aku akan membiarkannya sebentar." Dafa kembali mejlajukan mobilnya setelah melihat Ayla menaiki taksi bersama Bibi.
Tak berapa lama Ayla sampai di pasar tradisional. Baru saja turun dari taksi yang di tumpanginya.
Ayla dan Bibi langsung di hadang beberapa pereman ketika akan masuk kedalam pasar.
"Wuuih.. montok banget dah bohay...Hamil gede lagi."
"Iya..ibu.. ibu.. boleh saya minjem mb nya sebentar. Kalo boleh semaleman deh."
"Maaf yaa kami mau belanja jangan ganggu kami." Ayla berucap tegas.
"Wahaha... buta dia.." salah satunya menyadari jika Ayla tidak bisa melihat.
"Udah sikat aja.. manfaatin." Seru salah satunya.
Seketika Ayla ditarik oleh preman tadi dan Bibi juga menarik tangan Ayla.
__ADS_1
"Tolong...tolong." Bibi berterik dan hanya di lihat orang-orang.
Bibi di dorong hingga terjatuh ke tanah.
Orang-orang di pasar hanya menatap dan tidak ada yang bisa berbuat apa-apa karena mereka preman yang paling di takuti di pasar.
"Tolong.. Lepas.. Hiks.. lepas." Ayla terus berusaha melepaskan tangannya dari cekalan dua orang.
Tendangan tiba-tiba oleh seseorang membuat pereman itu terjatuh.
Bibi langsung mengajak Ayla sedikit menjauh.
"Jangan mengganggu Nyonya kami."
"Hey.. kalian siapa.. kurang ajar."
Perkelahian pun terjadi tiga lawan empat.
Suara itu.. pak sopir.. mereka..batin Ayla.
Seketika semua pereman tergeletak tidak berdaya dan kesakitan.
"Terimakasih tuan." Bibi mengangguk ramah dengan suara masih sedikit bergetar takut.
"Tunggu." Mereka bertiga seketika berhenti ketika Ayla memanggil mereka.
Salah satu dari mereka maju dan berdiri tapat di hadapan Ayla.
"Kalian mengikutiku?"
"Maaf Nyonya."
"Benar," ucap Ayla seketika Ayla terkekeh kecil.
Di kantor Arga baru sampai melangkang keluar lif menuju ruangannya.
"Maaf Tuan, Nyonya meminta anda pulang." Seketika Arga berbalik menatap Dafa.
"Nyonya?"
"Iya Tuan, Nyonya kembali kerumah saat ini dan ingin bicara dengan anda."
Seketika Arga langsung pergi berlalu meninggalkan Dafa di belakangnya.
Beberapa menit kemudian Arga dan Dafa sampai dirumah.
Mereka langsung masuk dan melihat Ayla duduk bersama Bibi Art di sofa ruang tengah.
"Ayla."
"Hem.. Sudah kembali suamiku, dari mana?" ucap Ayla ketika mendengar suara Arga memanggil namanya.
"Bibi Lisa tolong berikan kamar pada Bibiku... Biarkan beliau tinggal dan bekerja disini."
Lisa mengangguk dan pergi bersama Bibi Art Ayla.
__ADS_1
Seketika Arga mengulurkan tangan untuk membantu menuntun Ayla.
"Tidak apa aku bisa sendiri aku akan berhati-hati," ucap Ayla dengan bangkit dari duduknya dan berjalan pelan dengan bantuan tongkatnya.
Sampai di Kamar mereka. Ayla berdiri berhadapan dengan Arga.
"Apa kau berbohong padaku?"
"Apa Thalita mengucapkan hal yang sesungguhnya."
"Dan kalian sering pergi ke hotel. Apa.. JAWAB ARGA. JAWAB.. HIKS..."
"Tenang Ayla duduk lah dan minum air ini."
"Ayla." Seketika Ayla menerima gelas itu dan meminumnya perlahan.
"Dengar! Aku tidak pernah melakukan itu semua dan hotel... dulu sebelum kita menikah dan aku mengenal Claudia. Aku pernah mengenal Thalita dia teman SMA dan kuliah dia memang menyukaiku di terobsesi. Dia juga pernah menjebakku untuk tidur bersamanya di hotel tapi, yakinlah aku tidak menyentuh perempuan manapun selain istriku sendiri."
"Maaf Arga.. Maaf.." Ayla menangis.
"Aku cacat aku buruk maaf Arga.. aku tidak bisa bersikap lebih baik aku terbawa perasaan aku. Apa aku harus berubah ..." Ayla sudah frustasi dengan semua hal yang tiba-tiba datang dan membuat dirinya dan Arga harus berjauhan.
Suara Arga sangat tenang dan lembut Arga selalu bisa jujur dan kali ini aku yakin jika Arga memang benar-benar tidak membohongiku, Thalita yang berbohong, batin Ayla.
"Tidak Ayla, aku yang harusnya berterimakasih aku yang harusnya meminta maaf."
"Aku sudah pernah bilang padamu apa pun yang terjadi aku tetap milikmu dan aku juga akan selalu mencintaimu."
"Iya.. Arga aku percaya tapi, Thalita mengatakannya seperti sungguhan dan aku tidak tega dengan bayinya."
"Kau sangat polos Ayla. Thalita hanyalah wanita yang mengejar keinginannya dengan cara apapun."
"Tapi kamu kenapa tidak menjemputku.. aku merindukanmu.. aku rindu.. aku tidak bisa jauh darimu. Aku tidak rela kamu bersama Thalita.."
"Baik.. baik.. aku sengaja tidak menjemputmu karena ku pikir kamu ingin waktu sendiri. Dari semalam Dafa sudah datang dan mengawasimu."
" Aku tahu kamu sedikit meragukanku. Thalita memang pandai bicara bohong. Aku ingin kamu tetap menjadi Ayla.. bukan orang lain. Sebentar lagi kamu akan melahirkan bukan, jadi jangan banyak pikiran sayang."
Ayla mengangguk dan memejamkan matanya ketika Arga mengecup singkat dahinya.
Di tempat yang begitu berantakan dan juga banyak pecahan kaca. Thalita mengamuk karena Arga lebih mudah menemukan Ayla.
"Apa yang kurang.. apa!.. kurang ajar. Kenapa Ayla cepat di temukan Arga.. Akh.. perut sialan kenapa dia tidak mati saja."
Thalita kesal karena gerkannya terbatas dengan perut buncitnya.
Seketika Thalita mengalami sakit yang luar biasa karena Thalita terus memukul perutnya dengan kasar.
Di rumah sakit saat ini Thalita langsung memasuki ruang persalinan dan tim Dokter perawat segera melakukan tugasnya.
Semenit dua menit. Seorang bayi perempuan keluar, lahir dengab cara yang normal.
"Selamat bu bayi anda perempuan silakan anda..."
"Jangan berikan pada saya... buang saja bayi itu atau berikan pada orang lainnya.. aku tidak menginginkan bayi itu. Dan jangan mengganggu saya jika bayi itu memerlukan asi."
__ADS_1
Seketika semua perawat dan Dokter hanya terkejut dan menatap bayi merah yang baru lahir tersebut.