
"Makasih ya pak," ucap Ayla yang baru turun dari mobil.
Ayla melangkah masuk ke dalam lobi kantor Arga. Siang ini Ayla di minta Arga datang karena ingin makan siang dari masakan Ayla.
Sebenarnya mintanya tiap hari tapi, karena Arga tidak selalu makan siang di kantor dan kadang makan siang bersama Client jadi Hari ini Arga meminta Ayla datang dengan makan siangnya.
"Selamat Siang Nyonya," sapa resepsionis lalu di ikuti pegawai lainnya. Ayla tersenyum dan mengangguk ramah.
Tak berapa lama Ayla melangkah masuk kedalam Lift yang didalam Lift itu sudah ada Dafa menunggu Ayla sejak beberapa detik lalu. Kedatangan Lift tepat bersamaan dengan Ayla yang baru akan menghampiri Lift dan bersamaan pintu yang terbuka.
"Silakan Nyonya."
"Terimakasih Dafa."
Dafa mengangguk menekan tombol lift seketika Ayla menahan pintu lift agar tidak tertutup. Dafa menatap Ayla heran.
"Kenapa Nyonya?"
"Maaf Permisi, Dimana ruangan Arga ya.. aku ingin mengajaknya makan siang di luar," jelas perempuan itu.
"Maaf Nona Calysta.. anda.."
"Ah.. Nona ingin ke ruangan Arga mari bareng dengan saya," ucap Ayla dengan ramah.
Dafa menatap Ayla dengan ucapannya yang di potong tiba-tiba.
Kita lihat.. Apa yang akan menjadi makan siangnya Tuan.. entah bekalnya Nyonya Atau aku, batin Dafa.
"Oh iya.. boleh deh kalo gitu.." ucap Calysta berpura-pura tersenyum ramah.
Istri.. ini istrinya ah ya ampun Arga ini memang gak bener milih perempuan.. pantes mamanya bilang kalo Ayla itu Perempuan rendahan dan latar pendidikannya nihil.. Ck..ck.. Liat aja aku bakalan merebut pangeran tampanku kembali ke pelukanku, batin Calysta.
Ayla terlihat santai menikmati lift yang bergerak naik keatas begitu juga Dafa yang tetap tenang.
Sedangkan Calysta metap Ayla dari bawah sampai atas.
Pakaian gak mahal biasa aja.. apa ini yang katanya Arga sangat mencintainya.. kayaknya engga. Jelas banget kalo Arga akan memilihku lah lihat riasan dan pakaianku semuanya mahal, cantik lalu rambut istrinya.. iyuuh.. Ini istri seorang Ceo.. Tante.. tante anak tirimu ternyata seleranya rendahan.. lihat saja aku akan membuat Arga lebih menyukaiku dengan penampilanku. Aku tidak percaya jika Arga menyukai perempuan seperti dia, batin Calysta.
Pintu lift terbuka. Dafa keluar lebih dulu lalu di ikuti Ayla seketika Calysta merebut langkah Ayla. Ayla tiba-tiba terkejut dan berhenti.
"Eh.. silakan Calysta."
Calysta hanya acuh membuang wajahnya dengan gaya sombongnya. Calysta berjalan mendahului Ayla. Jadi Ayla yang ada di belakang mereka.
Melewati meja sekertaris Aulia dan Larisa.
"Selamat siang Nyonya."
Sapa mereka bersamaan. Ayla tersenyum dan mengangguk menghampiri meja Sekertaris.
__ADS_1
"Eh Nyonya .. kami tidak..."
"Sudah ini aku baru belajar membuatnya nanti jika kurang sesuatu kalian bisa bilang pada ku. Oiya.. anggap saja ini ucapan terimakasih yang waktu itu," ucap Ayla meletakan dua kantong yang ternyata isinya bolu coklat susu.
"Ah.. Nyonya maaf kami.."
"Tidak.. ini tulus ambilah atau aku akan melaporkannya," ucap Ayla.
"Eh.. Tidak Nyonya maaf.. Te-terimakasih Nyonya.. Pasti ini enak," ucap Larisa sambil melototi Aulia.
"Ingat jika ada yang kurang beri tahu ya," ucap Ayla berlalu masuk menyusul Calysta dan Dafa.
Ayla berlari kecil menyusul Dafa dan Calysta.
Sok baik.. cari muka.. haah.. murahan banget triknya, batin Calysta.
Sampai didepan ruangan Arga. Dafa membukakan pintu untuk Ayla tapi, dengan cepat Calysta mendahuli langkah Ayla.
Ayla hanya tersenyum dan mengangguk, tahu tatapan Dafa heran dan kesal pada ulah Calysta.
"Tidak apa-apa biarkan saja."
Dafa mengangguk.
Ayla melangkah ke sofa dan duduk di kursi sambil menyandarkan punggungnya. Ruangan Arga benar benar sepi. Calysta berjalan-jalan melihat keseluruhan isi ruangan. Sedangkan Ayla hanya diam duduk dengan tenang.
"Kamu Ayla kan?" ucap Calysta tiba-tiba. Berbalik menatap Ayla sambil melangkah mendekat.
"Kamu istrinya?"
"Hem.. iya kenapa?"
"Engga aku heran aja Perempuan kayak kamu istrinya. Aku rasa.. Arga cuman mau mempermainkan kamu."
Ayla tersenyum menanggapi ucapan Calysta.
"Kamu itu Perempuan yang bodoh aku yakin kamu pasti gak bisa baca tuliskan atau jangan-jangan kamu sengaja mau jadi istrinya karena Arga kaya, iya.."
"Engga Calysta," Ayla tetap tenang.
Sebenarnya sejak aku bisa melihat aku sudah belajar baca tulis dengan Bibi Lisa dan juga melihat dari vidio belajar yang Bibi Lisa berikan, batin Ayla.
****
"Halah pengantin pengganti. Orang tua yang matre Kakak yang gak betanggung jawab sama pernikahan.. ups maaf.. pernikahan kamu itu sebenarnya pernikahan kakak kamu kan lalu orang tua kamu terpaksa ganti posisi itu dan jadi kamulah pengantinnya, Ck..ck.. Ayla.. Ayla."
"Kamu tahu hal itu..." Ayla menatap Calysta dengan tersenyum.
" Iyalah.. Mama Arga yang cerita.. Malahan kalo kamu tahu Katanya mama Arga, Claudia itu hampir bisa memiliki Arga tapi malah kamu singkirin kan.. uh... licik," ucap Calysta dengan melipat tangannya di atas perutnya menatap Ayla.
__ADS_1
Semoga aku kuat ngadepin semua ini.. Huuh.. tarik nafas hembuskan.. anggap saja dia hanya bicara keluar kuping kiri masuk kuping kanan. Sabar Ayla.. nanti akan ada saatnya kamu tidak mendengar semua ocehan ini, batin Ayla.
"Sok kuat sok senyum.. Liat aja besok kamu pasti nangis darah karena aku bisa sama Arga lagi... Perempuan Lemah," ucap Calysta sambil mencibir lalu mendudukan dirinya di sofa yang sedikit jauh dari Ayla.
Suara pintu terbuka dan orang yang sedang bicara. Arga memasuki ruangan. Seketika Arga menoleh melihat Ayla dan mengecup kepala Ayla singkat. Ayla langsung mengambil tangan Arga dan menciumnya. Arga juga membalasnya lagi mengusap kepala Ayla.
Mematikan sambungan teleponnya, tersenyum menatap Ayla tanpa tahu jika ada seseorang yang kesal karena tidak disadari kehadirannya sejak tadi.
"Hay.. Arga.. Ayo kita makan siang di luar." Calysta berbinar menatap Arga segera bergerak cepat menyadarkan Arga kalo dirinya ada di ruangan itu juga.
Arga yang sibuk menatap bekal yang sedang Ayla susun di atas meja hanya diam saja mendengar panggilan Calysta.
"Dari pada makan di luar mari makan bersama Calysta." Ajak Ayla dengan ramah.
"Arga.. Ayolah!" ucap Calysta memohon dengan manja pada Arga, tidak menganggap ajakan Ayla.
Arga menghentikan gerakan tangannya ketika menyuap.
"Pulang lah jika lapar makan lah sendiri di luar aku juga makan siang sekarang."
"Arga.. Dia itu perempuan bodoh yang lemah yang buluk yang ck.. pakaian kusut kumel kayak gitu kamu mau sama dia, Arga liat aku.. aku Calysta aku perempuan yang pantes ada di samping kamu bukan dia."
Seketika Arga membuka jasnya dan melemparnya di sandaran sofa. Menarik dasinya. Gerah itu yang Arga rasakan. Ayla hanya diam saja sambil menyiapkan makan siangnya.
Jika Ayla tenang, Arga tidak.
Rasanya Arga ingin menghabisi mulut perempuan yang ada di hadapannya karena berani mengumpati dan mengatakan jika Ayla tidak pantas dengannya.
"Calysta.. Dengar aku.. Sekali saja aku mengatakan hal ini. Ayla Marvelino dia istriku bukan orang asing. Kebahagiannya adalah kebahagianku.. kamu menghinanya berarti menghinaku. Disini yang bodoh itu kamu karena hanya bisa menilai seseorang dari penampilannya."
Calysta kesal menghentakan kakinya dan menatap Arga marah. Calysta keluar ruangan Arga dengan menangis.
Setelah kepergian Calysta. Ayla segera berdiri untuk mengejarnya. Baru membuka pintu.
"Kamu keluar dari ruangan ini Aku buat kamu tidak bisa keluar kamar selama dua hari," ucap Arga seketika.
Ayla langsung meneguk ludahnya kasar.
"Tapi, Arga Calysta kasian.. di-dia nangis tadi.. Biar aku keluar sebentar pastiin di baik-baik aja ya."
"Duduk."
"Sebentar... aja.. Please!" ucap Ayla.
"Duduk Ayla."
Akhirnya menurut untuk duduk kembali di tempatnya semula.
Calysta baru saja sampai di lantai satu dan langsung menelpon sopirnya untuk menyiapkan mobil.
__ADS_1
Tak lama Mobilnya sampai Calysta naik tanpa di bukakan pintu mobil. Sopirnya bingung tapi langsung segera menjalankan mobilnya sebelum terlalu marah nonanya.