
Menatap Ayla yang masih berbaring sejak di infus pertama kali. Sekarang infus sudah habis pukul dua dini hari dan Arga belum memejamkan matanya hingga sekarang pukul empat pagi.
Terdengar ketukan pintu.
"Masuk." Lisa masuk bersama dua pelayan.
Arga menyingkir keluar dari kamarnya membiarkan Lisa dan para pelayan menggantikan pakaian Ayla.
Arga melangkah masuk ke dalam ruang kerjanya.
"Bagaiama istrimu?" ucap Ayah Arga ketika melihat Arga masuk kedalam ruang kerja.
"Apa Dia di lecehkan pria lain di luar sana. Atau kau menemukannya hampir tidak bernyawa?"
Ayah Arga berucap sangat santai sambil menikmati kopinya dan membaca koran di sofa ruang kerja Arga.
"Kurasa aku belum terlambat untuk membuat Anda semakin miskin."
Ayah Arga tertawa kecil.
"Lakukanlah.. Aku yakin dewi keberuntungan akan datang dan lebih membelaku dari pada kamu yang membalasku dengan alasan istrimu di usir."
"Anda salah.. niatan saya memang sudah lama saya rencanakan dan Anda masih bisa menikmati segalanya itu karena saya membiarkan Anda."
Ayah Arga terkekeh kecil dan kembali melanjutkan minum kopinya.
"Semoga dia lekas sembuh.. Sepertinya udara segar pukul setengah lima pagi agar membuatku lebih baik aku akan keluar."
Berjalan keluar dan menutup pintu ruang kerja Arga.
Arga menyandarkan punggungnya kasar disandaran kursi kerjanya dan menghembuskan nafas kasarnya. Memijat pangkal hidungnya.
Di kamar Arga Ayla baru saja sadar dari tidurnya dan melihat kesekitar. Waktu sudah hampir siang. sinar mentari yang masuk dari horden tipis.
"Kamar..Arga!" gumamnya. Bangkit dari tidurnya duduk dan menggeser pelan tubuhnya berusaha berdiri dengan berpegangan pada benda sekitar. Keluar kamar Arga dengan tubuh yang masih lemas.
"Kamu..Kenapa..kamu kembali?" ibu Arga berteriak ketika melihat Ayla ada di tangga dan sedang berjalan turun.
"Hem.. suasananya bakalan gak enak.. Kabur ajalah." Lalita yang masih makan sarapan di dapur langsung terkejut menoleh melihat Mamanya memarahi seseorang. Ayla.
Berjalan keluar pintu samping untuk bersembunyi di taman.
"Pagi-pagi musibah datang," gumam Lalita.
Berjalan menghampiri kursi di taman.
Didalam Ibu Arga melangkah dengan kasar menaiki tangga dan menyeret Ayla.
Arga baru saja keluar dari ruang kerjanya dan melihat pemandangan tidak enak antara Ayla dan ibunya.
Sampai di depan teras Ibu Arga melempar Ayla hingga jatuh terduduk dan menangis.
__ADS_1
"Mengais saja.. berhentilah kamu itu saya suruh pergi bukan kembali pulang."
"Kalo begitu Anda saja yang harus angkat kaki dari rumah ini," ucap Arga .
Seketika suasananya berubah menjadi lebih sesak dan menakutkan.
Menoleh perlahan, ibu Arga melihat siapa yang bicara menjawab ucapannya.
"A-Arga.. kamu pulang kapan.. kenapa kami..aku..aku tidak tahu." Arga berjalan melewati ibunya yang menyapanya dengan lembut.
Menghampiri Ayla dan menggendongnya membawa masuk.
"Hem.. Arga..nak...kamu pasti senang kalo kamu menikah lagi.. aku kira kau sepertinya hanya merasa kasihan dengan Ayla. Maka dari itu aku sudah memilihkan Clysta untuk menjadi istrimu. Dia bahkan lebih baik dari Ayla. Lebih cerdas pintar dan cantik."
Menghentikan langkahnya berbalik menatap ibunya.
"Siapa anda berani mengatur kehidupan saya. Anda hanyalah ibu sambung bagi saya."
"Arga.." ucap Lemah Ayla membuat mata Arga dan ibunya memandang Ayla.
"Liat sendirikan.. manja dan tidak baik seperti itu kamu masih mau bersamanya," ucap ibu Arga mencibir Ayla.
"Sekarang sudah berani sekali Anda berkata-kata."
"Keputusanmu didukung Ayah sehingga anda langsung besar kepala."
Kembali berbalik meninggalkan ibunya yang masih kesal.
Di kamarnya Arga kembali membaringkan Ayla perlahan.
"Iya." wajah Arga menunduk, di depan Ayla Arga tidak berani menjawab nasehat Ayla.
"Arga kamu harus janji padaku untuk menikahi pilihan mamamu. Apa yang mamamu bilang kalo aku perempuan tidak berpendidikan.. dan masa depan suram itu benar... Maka perempuan baru itu pasti lebih cocok daripada aku." Seketika Arga menatap Ayla, menatap heran.
"Aku tahu kamu tidak ingin bercerai denganku. Aku menerima jika kamu menikah lagi dan memiliki istri lain yang lebih baik dari pada aku." Sambung Ayla mengingat hal yang Arga tidak akan lakukan.
"Tidak." Arga melepas genggamna Ayla.
"Aku tidak bisa melepaskanmu dan menikahi perempuan lain. Kamu adalah wanita istimewa Ayla. Percuma jika dia cantik berpendidikan tinggi jika nilai tata krama dan kerendahan hatinya masil lebih baik dari pada kamu yang tidak memiliki latar belakang pendidikan yang baik," ucap Arga lembut.
"Ayla.. Aku yakin kau bicara seperti ini karena kau sudah tahu tentang nama belakangku." Arga menatap Ayla yang menunduk ketakutan.
Ayla mengangguk.
"Baiklah Nyonya Marvelino." Seketika Ayla mengangkat wajahnya dan menatap Arga bingung.
"Aku..Tidak akan pernah memberikan gelar atau hatiku pada perempuan lain selain dirimu sekalipun dia istri lain yang aku nikahi secara sah," ucapan Arga dengan wajah tenang tanpa ekspresi.
Ayla membualatkan matanya menatap tajam Arga.
"Arga.. kamu jahat.. kamu tidak.. tidak bisa seperti itu itu namanya tidak adil."
__ADS_1
"Tidak adil siapa.. Ayla.. Kamu harus tahu aku tidak bisa memberikan apa yang selama ini aku berikan ke kamu pada perempuan lainnya. Hanya kamu Ayla... hanya kamu yang bisa mendapatkannya. Mereka tidak bisa," sahut Arga dengan wajah biasa nada suara yang yang masih normal. Sebenarnya jika bukan Ayla. Arga akan membentaknya habis-habisan
"Maaf Arga.. Maafkan aku.." Ayla langsung merasa bersalah karena bicara seperti itu.
"Terserah.." ucap Arga pelan lalu pergi dengan perasaan kesal dari kamarnya karena ucapan Ayla.
Tak berapa lama Lisa datang membawakan sarapan untuk Ayla.
"Nyonya anda sudah lebih baik?" ucap Lisa sembari meletakan sarapan diatas nakas dan mengambilkan sepiring bubur nasi tanpa kecaptapi, lengkap dengan toping bubur nasi lainnya.
"Iya Bibi .. Terimakasih."
Di lantai bawah.
Arga yang baru menuruni tangga dan berpapasan Lisa, seketika melihat seseorang yang sedang bicara dengan ayahnya dan ibunya di ruang tengah.
"Nah itu dia.. Silakan duduk dulu atau Arga ajak Calysta berkeliling," ucap Ibunya.
Arga hanya acuh melangkah melewati orang-orang itu. Seketika cekalan tangan Calysta membuat Arga menghentikan langkahnya. Menatap tangan yang di pegang oleh Calysta. Menepisnya pelan tanpa menatap Calysta.
"Kamu Arga kan kamu lupa sama aku.. aku Calysta kita sering main dulu di taman kincir angin.. Kamu sering kasih aku payung walaupun gak hujan dan gak panas kamu bilang.. Calysta kulit kamu jadi merah kalo kamu duduk di tempat terbuka dan kena cahaya matahari langsung."
Arga menghembuskan nafasnya dan berbalik.
"Haay.. Gimana aku sudah dewasakan.. Oiya kamu lama gak kelihatan.. Makin tampan ya. Dan sebentar lagi aku akan menjadi istrimu." Calysta bersorak senang ketika bisa melihat Arga yang dulu masih kecil sekarang sudah begitu dewasa dan sangat tampan.
"Maaf Calysta.. Aku..."
"Hem.. Arga ajak Calysta ke taman dan bicaralah disana dengan santai," cegah ibu Arga sebelum Arga menyelesaikan ucapannya.
"Ternyata Calysta masih mengingat Arga ya.. kurasa dia tidak pernah melupakan teman masa kecilnya di padang ilalang dekat peternakan."
Ayah Arga terkekeh.
"Baik lah Petter mari kita bicarakan hal ini dengan santai di ruang kerja ku." Sambungnya
"Kalo begitu aku akan mengantarkan munimannya ke sana." Ibu Arga bangkit dari duduknya dan melangkah kedapur.
"Kau tahu Ibu Calysta sangat mengharapkan Calysta menikah dengan putramu," ucap Petter.
Di ruang kerja
Ayah Arga meminta Petter duduk di sofa lalu dirinya menyusul untuk duduk tak lama Ibu Arga masuk dan meminta pelayan meletakan minuman hangat di atas meja.
Di luar di taman samping, Arga hanya diam saja sedangangkan Calysta menempelinya memeluk lengannya dan bermanja-manja.
Di dalam kamar Ayla termenung dengan televisi menyala.
Lisa yang baru membuka Horden dan jendela membiarkan udara ruangan berganti.
"Tuan.. Nona Calysta."
__ADS_1
"Biarkan saja bi Aku sudah merelakannya.. percuma untuk mempertahankannya. Aku tidak memiliki kekuatan apapun untuk bisa membatah perintah ibu Arga," ucap Ayla yang mendengar gumaman Lisa.
Lisa mengangguk kembali masuk dan duduk di kursi samping ranjang Ayla.