Istri Buta Tuan Muda

Istri Buta Tuan Muda
Jangan berani mencobanya


__ADS_3

Ayla terdiam tanpa ada gerakan apapun tapi di detik berikutnya suara hening tergantikan dengan suara mobil yang masuk ke dalam halaan rumah.


Ayla terdiam di tempatnya, menatap kedepan.


"Cla.. pergilah istirahat di kamar tamu aku harus menyelesaikan pekerjaanku." ucap Arga yang Ayla dengar di ruang tengah.


Ayla tudak terlihat Arga karena duduk di sofa single ruang tamu membelakani Arga dan Claudia.


Siapa Claudia. Pacar? Teman? Haah... calon istri yang di bilang mungkin.


Ayla berdiri dari duduknya berjalan melewati kursi sofa mengarah kedapur dan mengarah kekulkas seketika sesuatu menahan kulkas terbuka.


"Siapa kamu?" Suara dari seorang perempuan yang Ayla dengar sangat tegas seperti seorang yang ingin mengintimidasi lawan didepannya.


"Aku Ayla." Tersenyum kearah lain diamana Claudia ada di sampingnya.


Seketika Claudia melambaikan tangannya didepan wajah Ayla.


"Ha.. Buta!"


"Hem iya.. kenapa?" Ayla menjawab dengan santai.


Claudia menatap remeh tiba-tiba.


"Mau minta sumbangan main masuk rumah orang, ini rumah orang yang berpengaruh kenapa kamu asal masuk aja, gembel."


Ayla tersenyum.


"Tidak..."


"Nyonya.. maaf anda butuh apa saya pergi kebelakang tadi untuk mengambil bunga yang ingin Nyonya buat teh." Seketika Claudia menatap Ayla tajam.


Kedua matanya menyipit.


Ayla menegguk ludahnya kasar. Ia padahal ingin tahu siapa perempuan didepannya tapi, Bi Lilin cepat datang dan memanggilnya dengan sebutan nyonya.


"Nyonya? Whaaat? Siapa dia, bi?" Claudia menatap tajam bibi Lilin.


"Ehm.. itu Nona, Nyonya Ayla adalah istri Tuan Arga."


Tersentak.

__ADS_1


Claudia diam di posisi berdiri dengan wajah marah dan kedua tangan mengepal di samping badannya.


"Kenapa.. kamu.. mengertakkan gigi apa ada yang bibi salah katakan, kalo gitu minta maaf," ucap Ayla dengan tenang.


Seketika Ayla menatap kedepan dimana Claudia berada di samping Bi Lilin.


"Tidak... mungkin." Kekeh Claudia menatap Ayla marah menghentakkan kakinya pergi ke lantai atas tapi, di tengah tangga Arga sedang berjalan turun.


Ayla terdiam mendengar langkah kaki yang seperti orang marah.


"Nyonya..." Bi Lilin merasa ini tidak akan baik tapi, Ayla mengangguk mengangkat tangannya.


"Tidak apa-apa bi." Bi Lilin mengangguk tanpa Ayla tahu dan tetap disamping Ayla.


"Arga.. siapa dia?"


"Kenapa kamu udah nikah sama perempuan buta itu sih, kamukan sukanya sama aku, Dia itu jelas gak terlalu cantik pendek dan lihat badannya gak sebagus aku dia kayak mayat hidup pucet kurus kecil pula."


Arga diam mendengar semua ucapan Claudia.


Seketika Arga melewati Claudia begitu saja dan duduk di meja makan.


"Berapa hari kau akan tinggal?" Claudia berbalik menatap Arga dengan wajah penuh amarah.


Claudia tambah marah karena Arga malah mengalihkan topik pembicaraan di bandingkan menanggapi ucapannya.


Arga baru kali ini menganggap keluhan Claudia tak penting, sial.


"Mau makan atau mau berdiri disana?"


"Arga.. kamu gak denger apa yang aku bilang tadi?" Claudia mengeluarkan pertanyaan di dalam hatinya.


Seketika itu Arga menatap wajah Claudia.


"Aku tak masalah. Lagi pula itu hanya setatus." Datar dan dingin serta ucapan yang sangat mudah di katakan.


Caludi memincingkan matanya melirik Ayla yang duduk di meja pantry sekarang.


Mereka terpisah dan berjauhan. Claudia melihat peluang disini.


"Siapa yang masak?" Arga melihat makaman tersaji di atas meja makan terlihat dan bau harumnya masakan ini beda.

__ADS_1


"Aah anu Tuan.. Nyonya yang memasaknya," kata pelayan dengan gugup dan ragu. Arga menganggukkan kepalanya dan mulai makan setelah doanya.


Claudia yang sudah senang seketika menatap malas makanan didepannya dan pergi ke kamarnya.


Ayla yang duduk di kursi dekat meja pantri mencoba memakan bihun kuah soto.


Arga yang sedang memakan makanan Ayla merasakan sesuatu berbeda di lidahnya dan tak bisa Arga bohonhi ini enak.


Arga tetap memasang wajah datarnya dan memilih untuk menyelesaikan makanannya.


Malam tiba Arga masih sibuk dengan pekerjaan menumpuk di ruangannya sedangkan Ayla masih duduk di depan jendela menikmati semilir angin malam.


Arga melihat bayangan di depan pintu kamarnya tepat di selah bawah pintunya dimana orang mondar mandir berjalan disana.


Arga menghentika pekerjaannya dan membuka pintunya.


"Cla.. istirahatlah kau harus bekerja besok pagi." Claudia kaget saat Arga bicara disampingnya tiba-tiba.


"Ka-kau.. Aku ingin bicara." Arga mempersilakan Claudia masuk kedalam kamarnya dan saat Claudia masuk tiba-tiba Arga menutupnya.


Senyum simpul tercetak di wajah Claudia.


"Aku.."


Claudia tersenyum mendekat dan seketika Arga menatapnya tajam dengan kedua tangan salah satunya masuk kedalam saku jaket hoddienya dan satunya menyusul masuk.


Ayla masih di tempat yang sama duduk menatap keluar jendela hanya bisa merasakan udara saja tak ada yang bisa ia lihat.


"Berhenti menggoda seperti perempuan murhan dan pergilah kekamarmu," ucap Arga dingin.


Claudia terdiam kesal.


"Berikan dulu alasanmu kenapa kau menikai wanita buta dibanding wanita sempurna lihat Ga.. aku lebih baik dari istrimu bahkan dari segi manapun akulah yang cocok denganmu."


Arga bergeming pada posisinya.


Ketika tangan Claudia di kalungkan di leher Arga, Arga tetap bergeming.


Perlahan pasti Claudia mulai menyusuri wajah Arga hingga sampai di rahang tegasnya, Claudia tersenyum dan ingin merasakan ciuman yang sudah lama tak ia rasakan, tatapan mata penuh rasa ingin yang lebih.


Seketika Arga menutup mulut Claudia dan mendorongnya menjauh.

__ADS_1


"Hemmeueme." Claudi kesal bicara dalam bekapan tangan Arga.


Seketika Arga menarik tangan Caludia keluar kamarnya dan menutup pintu dengan keras membuat Claudia terpejam kaget karena perlakuan Arga.


__ADS_2