Istri Buta Tuan Muda

Istri Buta Tuan Muda
Menginap


__ADS_3

"Kenapa Arga belain istrinya Tante... Kan ada Calysta.. Calysta gak di anggep tante.. Kata tante.. Calysta yang pantes buat Arga.. bukan istri pucetnya."


Ibu Arga langsung memeluk Calysta kembali dan menenangkannya.


"Sabar Sayang.. mungkin hari ini lagi keberuntungan Ayla. Besok atau segera pasti kamu bisa menyingkirkan Ayla."


"Eh.. Mendingan kamu nginep aja disini kebetulan ayahnya Arga lagi keluar dan sebulan waktunya biasa urusan bisnis. Kamu nginep disini gerakan kamu juga leluasa buat ngedeketin Arga. Nah sekarang kamu minta izin papa kamu dulu sama Mama kamu buat nginep Ok.. tante akan nyiapin kamar deket kamar Arga."


Calysta menarik dirinya dari pelukan ibu Arga dan menatap memelas.


"Bentar deh.. Tante aku telepon mama dulu sama Papa."


"Iya sayang," ucap ibu Arga.


Sejak dari kantor Calysta langsung pergi ke rumah Arga menghampiri ibu tiri Arga untuk mengadu tentang Arga yang memarahinya dan juga Ayla yang tidak mempan dengan hasutannya.


Tak berapa lama mobil lain datang.


"Nah.. itu kayaknya sopir kamu," ucap ibu Arga pada Calysta.


"Iya Tante." Melangkah kedepan bersama dan ternyata benar sopirnya datang membawakan pakaian ganti Calysta.


"Nona ini pakainnya dan juga pesan Nyonya dan Tuan untuk tidak merepotkan kedua orang tua Tuan Arga," jelas sopir.


"Iya-iya.. Bilang ke mama sama papa aku bakalan nginep sampe aku mau pulang," ucap Calysta sambil berlalu meninggalkan sopirnya.


Sopir itu pergi dari halaman setelah memberikan pesanan yang Tuannya perintahkan.


"Tante Calysta capek," ucapnya manja.


"Ok.. kita istirahat yuk didalem," sahut ibu Arga.


Melewati ruang tengah seketika Lalita yang baru duduk di sofa berpapasan dengan Calysta dan ibunya yang baru datang.


"Huuh.. Musuh baru.. Liat aja kali ini dobel kill," gumam Lalita. Sambil memainkan ponselnya, yang sebenarnya menyindiri ibunya dan Calysta.


Lalita sudah pensiun sementara dari mengejar Arga. Sebenarnya juga Lalita kapok dengan tamparan itu dan malas dengan Mamanya yang tidak mendukungnya sama sekali.


Papanya juga langsung memotong jatah kuota dan jajannya ketika Arga menamparnya.


Derita Lalita tidak parah sebenarnya, hanya saja itu membuat Lalita kapok. Walaupun di hatinya masih ada rasa untuk kakaknya. Tapi, nanti jika ada waktu Lalita akan melakukan rencananya lagi untuk mendekatinya setelah trauma kapoknya dan masa pensiunnya selesai, mungkin.


"Eh.. Lalita."


"Apa Mah.."


"Kamu ngatain mama ya.. gak sopan.. Mama kan mau yang terbaik buat kakak kamu."


"Iya.. bener itu sebaiknya anak kecil banyak belajar yang bener jangan berharap nanti kecewa ujung-ujungnya. Lagi pula kalian satu ayah," ucap Calysta hanya di cibir Lalita.


"Ter-se-rah.. Ma-sa-lah buat- Anda Haah!" ucap Lalita.

__ADS_1


Bangkit dari duduknya dan menghampiri Calysta.


"Inget ya... Anda itu bakalan kalah dari Ayla.. Liat aja.. nanti aku yang bakalan tertawa paling keras, huuu.. bye," jelas Lalita kembali duduk di tempatnya semula.


*****


Di dalam Resto yang saat ini Ayla dan Arga mampir untuk membawakan sesuatu untuk Rosa.


"Arga aku beli segini aja lah.. Gak usah banyak," ucap Ayla menunjukan bungkusannya ketika naik kedalam mobil lagi.


"Iya terserah kamu," ucap Arga.


Dafa kembali melajukan mobilnya meninggalkan Restoran.


"Maaf Kamu gak suka ya kalo aku beli di restoran itu, kamu gak mau turun tadi.. maaf ya aku pake uang kamu terus," ucap Ayla.


Arga menghela nafasnya berat.


"Tidak Ayla.. aku sedang menyelesaikan pekerjaanku jadi Dafa yang menemankanmu ke restoran itu.. bukan karena aku tidak suka. Lakukan apa yang kamu inginkan Ayla akukan sudah katakan," jelas Arga sambil mengelus pipi Ayla.


"Terimakasih Arga," sahut Ayla pelan.


"Mampir ke tempat Ayah yaa.. aku mau memberikan ini ke Kak Rosa. Pagi ini Aku kerumah sakit lagi mau jenguk tapi, kata perawat kakak sudah pulang," jelas Ayla takut-takut.


"Iya."


"Hem.. Arga.. Apa-apa Ayah meminta uang untuk membayarkan biaya kakak di rumah sakit?" tanya Ayla ragu.


Arga menghentikan aktivitasnya menutup leptopnya dan menyimpannya kembali lalu membuka ponselnya.


"Hem.. tidak masalah.. hanya saja kemarin Mama dan Ayah memintaku untuk melunasi biaya perawatan kak Rosa yang mahal."


"Dafa ada tagihan dari rumah sakit?" tanya Arga datar pada Dafa.


"Tidak ada Tuan," sahut Dafa. Ayla langsung menghembuskan nafasnya kasar.


"Hem.. sekarang bagaimana?" tanya Arga. Sambil medekatkan wajahnya dan tangan Arga mengelus pipi Ayal lembut.


"Ah.. Tidak apa-apa ya sudah kalo tidak ada... Eh. udah sampe ternyata," sahut Ayla cepat dan bersiap turun menghindari Arga yang akan berbuat sesuatu aneh.


Seketika Arga terkekeh ketika mobil berhenti dan Ayla yang menoleh kelain arah tidak menatap wajahnya lagi.


"Turun lah duluan," ucap Arga. Ayla mengangguk dengan wajah yang tidak menatap Arga.


"A-aku duluan." Melangkah keluar dari mobil sebelum Arga dan sekarang Ayla sudah mengetuk pintu. Di buka oleh Bibi Artnya Ayla langsung berpelukan. Awalnya terkejut seketika.


Arga menatap pemandangan itu dari mobilnya.


"Apa Claudia tidak akan kembali lagi bukan, kau sudah pastikan?" tanya Arga datar, masih menatap Ayla dan Artnya.


"Iya Tuan. Saya sudah menerima ucapan terimakasih dari Tuan Dhanu karena memberitahukan tentang keberadaan nona Claudia. Tuan Dhanu juga mengatakan terimakasih karena Tuan tetap bisa mengendalikan diri walau didepan Wanitanya, yang sama sekali tidak di sukai anda Tuan," jelas Dafa.

__ADS_1


"Hem.."


Arga turun dari mobilnya di susul Dafa yang juga turun.


*Tuan... M*emang selalu menjadi pria yang memiliki Harga diri, Walau dia tidak sadar telah melakukan wasiat Nyonya besar sampai sekarang hingga Tuan Dhanu yang seperti itu saja masih tidak lupa dengan sifa Tuan Arga yang tidak bermain kasar pada perempuan walau perkataannya kadang kasar, batin Dafa.


Seketika Ayla menoleh kebelakang mendengar langkah Arga.


"Ah.. bibi Ini Arga suami ku," jelas Ayla.


"Selamat datang Tuan, silakan," sambut Bibi Art.


Arga masuk kedalam rumah bersma dengan Dafa dan Ayla juga Art.


Art Ayla pergi ke dapur untuk membuatkan minum.


"Aku ke dapur dulu ya," ucap Ayla seketika Rico dan Leni melihat Ayla.


"Mama.. Ayah.." Ayla langsung menghampiri Ayah dan ibunya dan mengacungkan tangan untuk mencium tangan kedua orang tuanya.


Tangan Ayla hanya menggantung dan tidak disambut.


Suara pecahan kaca seketika terdengar dari dapur.


"Kakak," ucap Ayla. Segera Rico dan Leni berlari mengikuti suara itu.


Ayla membantu Rosa bangkit dan mendudukannya.


"Kakak jangan lakuin sendiri kalo butuh apa-apa kan ada Bibi," jelas Ayla dengan lembut.


"HALAH.. DIEM.. GAK BUTUH PERHATIAN LO.. MAH... MAMAH," teriak Rosa.


"Iya sayang mama disini." Rosa dan Leni saling meraih tangan dan Ayla hanya bisa menatap perlakuan ibunya dan Ayahnya yang selalu berbeda bila dengan Ayla hingga sekarang Rosa yang sakit pun lebih banyak kasih sayang.


"Kamu datang dengan siapa?" tanya Ayahnya.


"Arga Yah.. Ayla juga bawa Rendang padang kesukaan Ayah sama Kakak dan Ini juga ada bakso tumpeng yang mama pengen udah lama," ucapnya.


Sambil memberikan bungkusan di meja makan.


Arga... kebetulan banget mereka dateng, batin Rosa.


"Mah Aku mau ke kamar.. Oiya Ayla kamu nginep Aja kalo mau karena sama Arga, kalo sendirian mending kamu langsung pulang, Makaseeh.. tentengannya," ucap Rosa.


"Iya Kamu nginep aja nanti kita di kira gak peduli banget sama kamu, ini karena kamu sama Tuan Arga," tambah ibunya.


Seketika Ayla mengangguk senang. Dalam hati Ayla sungguh sangat sedih. Kakaknya begitu terus terang membecinya.


"Di mana?" ucap Ayahnya.


"Ada di depan ruang tamu Yah."

__ADS_1


Rico melangkah meninggalkan Ayla dan Artnya untuk membersihkan kekacauan.


Entah kenapa perasaanku gak enak, nginep apa engga ya.. ini rumah Ayah.. Nginep engga yaa, batin Ayla.


__ADS_2