
"Ayla.." ucap Seorang wanita dengan gaun putih di padang ilalang.
"Ayla.." ucapnya lagi.
Ayla yang menatap langit berwan seketika menoleh pada panggilan lembut untuk kedua kalinya.
"Hah."
"Anda siapa?"
Wanita cantik itu tersenyum.
"Aku.. Aku, kau akan tahu siapa aku."
"Aku titip Arga padamu. Aku tidak bisa bersamanya sejak lama dan sekarang kamu adalah orang yang sangat spesial baginya," ucap Wanita itu lalu pergi.
Seketika Ayla terbangun dan menoleh kesamping kasurnya, melihat Arga tidak ada Ayla turun dari kasurnya dan melangkah memeriksa kamar mandi dan ruang ganti.
Berjalan lagi keluar kamar dengan tongkatnya. Ayla melangkah menuruni tangga. Seketika Arga datang bersama Claudia dan tatapan matanya dan Arga bertemu.
"Hay Ayla... kamu liatkan Arga itu masih mencintaiku dan bukan kamu lihat aku juga hamil," ucap Claudia dengan bangga sambil mengusap perutnya yang buncit. Claudia tidak tahu jika Ayla bisa melihat.
Di sana Ayla langsung terduduk di atas lantai dan menangis.
Seketika sebuah tangan menyentuh Bahunya.
"Ayla kamu kenapa sedih?" ucap Rosa yang berjongkok di sampingnya.
"Kakak," ucap Ayla sengaja menoleh.
"Kamu bisa melihat?" ucap Rosa dengan lembut.
Seketika Rosa tersenyum dan menusuk perut Ayla dan menarik kembali pisau yang menusuk perut Ayla.
"Kaak.." Ucap Ayla ketika tangannya penuh dengan darah dan perutnya yang juga berdarah.
Ayla menatap Rosa yang berdiri dan tersenyum aneh padanya. Ayla berusaha bangkit sendiri seketika ambruk lagi dan terjatuh begitu saja.
Sebelum mata Ayla menutup rapat sebuah sepatu hitam mendekat kearahnya dan terasa jika tubuhnya terangkat seperti melayang.
****
Samar-samar Ayla mendengar namanya di panggil seketika Ayla bangun dengan terkejut dan mengambil nafas begitu banyak.
"Ayla, kamu gak apa-apa, AYLA!"
Seketika Ayla terkejut dan meraba perutnya.
"Kamu kenapa?" ucap Arga.
" Aku-Aku ... Aku mimpi buruk."
"Baiklah kembali tidur, Dan jangan lupa berdoa."
Ayla mengangguk dan kembali tertidur membelakangi Arga.
Arga juga ikut bergabung tidur dengan memeluk Ayla dari belakang. Seketika Ayla terkejut dan membalik tubuhnya menghadap Arga.
"Kenapa belum tidur." Seketika Ayla terkejut karena Arga belum tidur ternyata.
"A-arga kamu memelukku."
Arga terkekeh.
"Iya apa kamu ingin yang keperti ini," ucap Arga sambil merapatkan tubuh mereka berdua dan mendekatkan hidung dan bibir Arga pada dahi Ayla.
__ADS_1
"A-Arga... apa kamu akan pergi setelah aku menyerahkan diriku padamu sepenuhnya," ucap Ayla dengan takut.
Seketika Arga terbangun dan menatap wajah Ayla masih denga posisi saling berhadapan.
"Aku tidak akan meminta dengan memaksa aku ingin kamu menyerahkannya dengan tulus," ucap Arga.
"Tapi, Aku merasa aku istri buruk yang jika ..."
"Tidak Ayla kamu yang terbaik, Sudahlah tidur saja."
"Kamu boleh memiliki ku," ucap Ayla.
Seketika Arga membuka matanya dan menatap Ayla lama.
"Jika aku sudah melakukannya aku tidak akan berhenti," ucap Arga menatap wajah Ayla.
Ayla mengangguk dengan samar.
Malam yang sunyi dan dingin itu tidak membuat kedua pasangan yang sedang melakukan kebersamaannya tidak akan berhenti walau salah satunya merasa lelah.
Pukul empat pagi Ayla baru saja terlelap dalam tidurnya karena Arga yang membuat tenanganya terkuras habis.
Arga menatap wajah manis dan leher putih Ayla yang menunjukan tanda kepemilikan darinya yang begitu banyak dan terlihat masih sangat merah.
Aku tidak bisa melepaskanmu Ayla... kamu begitu berharga.. Kamu milikku dan akan selalu jadi milikk**u selamanya, batin Arga.
Ayla yang masih memejamkan matanya itu seketika merasakan sakit yang sangat pada miliknya.
Desisan Ayla membuat Arga menatap tajam. Mengusap pipi mulus Ayla. Mengecup dahi Ayla. Entah sudah berapa kali Arga mengecupnya. Setelah mengecup dahi Ayla, Arga tersenyum.
"Ah..Arga," ucap Ayla yang risih kerena pelukan Arga.
Ayla membuka matanya.
Ayla mengangguk.
Didalam kamar mandi kejadian yang sama kembali terulang lagi. Arga memanfaatkan kesempatan. Sejam kemudian mereka baru keluar.
*****
Ayla baru saja selesai mandi dan kini duduk diatas kasur dengan jubah handuknya yang ia tutupi rapat.
Kenapa aku jadi, kedinginana seperti ini... Dia benar-benar Lelaki sejati, batin Ayla.
Arga yang sudah memakai pakaian lengkapnya langsung menelpon Lisa untuk membantu Ayla bersiap karena Arga harus segera berangkat.
"Aku berangkat sayang," ucap Arga.
"I-iya.." ucap Ayla.
"Apa masih terasa sakit," tanya Arga.
Melihat tingkah Ayla yang menahan sesuatu.
Ayla mengangguk.
"Maaf," ucap Arga.
Tak berapa lama pintu terketuk dan Lisa masuk.
"Lisa apa ada obat untuk meringankan nyeri," ucap Arga menatap Lisa.
"Nyeri," ucap Lisa heran
Melihat Ayla yang masih menggunakan jubah handuk dan Arga yang berjongkok di depan Ayla.
__ADS_1
"Hah.. Nyeri untuk Nyonya, Tuan?" ucap Lisa.
Arga mengangguk.
"Sebentar Tuan sepertinya saya pernah meletakannya di sini," ucap Lisa melangkah ke meja rias Ayla dan membuka laci.
Mengambil obat yang bentuknya seperti salep.
"Bisa kamu keluar," ucap Arga pada Lisa.
"Baik Tuan," ucap Lisa berjalan keluar dan menutup pintu.
Sampai di depan kamar Arga. Lita melihat Lisa yang baru saja keluar dan berdiri samping pintu.
"Lisa," ucap Lita.
"Nona."
Lisa mengangguk.
Melewati Lisa begitu saja dan tidak mengucapkan apa-apa lagi.
Seketika pintu terbuka. Arga sudah rapi dengan jasnya dan dasinya.
Lisa masuk setelah Arga keluar kamarnya.
"Nyonya Anda sudah lebih baikkan sekarang," ucap Lisa.
"Lumayan bi," ucap Ayla hendak berdiri.
"Biar saya ambilkan pakaiannya," ucap Lisa.
"Iya Bi Boleh," ucap Ayla sambil melangkah pelan menuju ruang ganti.
Di lantai bawah ibu Arga sedang sarapan bersama Claudia.Arga yang tadinya akan sarapan tidak jadi dan meneruskan langkahnya keluar dapur setelah mengambil Air mineral dingin di kulkas.
"Arga kamu mau sarapan biar aku siapin," ucap Claudia dengan senang.
Arga masih meneruskan langkahnya dan menganggap tidak mendengar apapun hingga Dafa datang dan langsung membukakan pintu mobil.
"Tunggu Arga aku bawain bekal ya."
Setelah pertanyaannya tidak di jawab Claudia mengambil kotak bekal yang sudah dia siapkan.
Dan membawanya tapi, Arga sudah lebih dulu pergi sebelum Claudia sampai di mobilnya.
"Udahlah kamu jemput aja dia," ucap Ibu Arga.
Claudia mengangguk tersenyum dan berpamitan untuk pergi. Di lantai atas. Lalita menatap Claudia dan ibunya dengan terkekeh lucu.
"Payah sekali, Ck.. harga diri perempuan hebat tidak terlihat padanya," gumam Lalita menatap Claudia dari tempatnya berdiri. Lalu tersenyum remeh.
Di mobil Arga yang baru sampai perusahan dan kini melangkah turun dan Dafa yang berjalan selalu di sampinya.
"Apa sudah ada orang yang mau mendonorkan matanya," ucap Arga.
"Sudah Tuan kemungkinan Dua bulan lagi dia siap," ucap Dafa.
"Lama sekali, tidak bisa di percepat."
"Karena itu ke inginannya Tuan," jelas Dafa.
"Baiklah. Dimana?" ucap arga sambil melangkah masuk kedalam Lifnya.
"Swis Tuan Dan saya juga sudah menempatkan dokter terbaik untuk oprasi Nyonya," Jelas Dafa.
__ADS_1