Istri Buta Tuan Muda

Istri Buta Tuan Muda
Rihana


__ADS_3

Baru memasuki ruang tengah dan di sambut para pelayan juga Lisa dan bibi pengasuh Ayla begitu tersenyum. Seketika mata Ayla menatap sosok perempuan yang sangat cantik dan terlihat Anggun berjalan mendekat.


"Sebaiknya bawa kakak kekamarkan kak," ucap Lalita mengambil alih kursi roda Ayla. Lalita sudah membaca situasi yang tudak nyaman ini.


Ayla masih sedikit lemah untuk berjalan karena baru beberapa hari dirawat dan Ayla memaksa pulang. Arga yang mengalah dan akhirnya menuruti kemauan sang istri.


Ayla menatap Rihana dengan tatapan ramah dan menyambut kedatangan Rihana dengan senang hati. Setelah Ayla hilanh di balik lift. Rihana melangkahkan kakinya mendekati Arga.


"Haay Arga.. bagaimana kabarmu aku yakin kau pasti sedikit muakkan dengan perempuan yang sekarang sedang... Eh.. Arga.. arga kamu mau kemana." Seketika Arga menepis tangan Rihana yang akan memeluk lengannya. Bergelayut manja. Rihana kesal dengan tangannya di tepis kasar Arga. Arga langsung pergi sebelum dirinya menyelesaikan kalimatnya.


Dafa langsung menghampiri Rihana dan berdiri di sampingnya.


Rihana langsung menoleh melihat dengan kesal.


"Maaf Nona Rihana Tuan sedang butuh istirahat dan Anda menganggu waktunya. Sekarang bawa barang anda untuk pergi ke hotel dan menginap disana. Tuan tidak ingin nona ada di rumahnya."


Rihana semakin kesal dengan ucapan Dafa yang seperti mengusirnya sekarang.


Jika tidak bisa aku mendekati Arga maka aku akan menyingkirkan Ayla dengan cara apa pun, batin Rihana.


Di dalam kamar kini Ayla sedang duduk sambil menonton televisi dan juga si kembar di sampingnya yang tengah tertidur.


Ada bekas Airmata dan juga hidung mereka yang memerah. Dari Bibi pengasuh yang bilang jika si kembar menangis sehari semalam sebelum ke pulangan Ayla. Dan terus meminta agar Ayla bisa tidaur bersama mereka. Pagi ini ketika Ayla kembali. Si kembar langsung menghampiri Ayla di kamar dan sekarang tertidur di samping Ayla.


Arga memang tidak mengizinkan anak-anak menginap di rumah sakit.


"Apa mereka habis menangis?"


Tanya Arga seketika melihat si kembar dari jarak dekat setelah masuk dan meninggalkan Rihana di bawah tadi. Ayla mengangguk mengusap kepala Erlangga.


"Apa dia..." ucap Ayla sedikit menggantung dengan wajah masih menatap televisi. Setelah menatap Si kembar. Tanpa mau menatap Arga.


Arga menatap Ayla lalu tersenyum kembali menatap Si kembar. Mencium kedua pipi gembulnya.


"Tidak dia hanya sepupuku, yang terobsesi denganku. Aku hanya mendiamkannya saja. Dia datang kemari karena keinginannya sendiri aku tahu jika kedua orang tua dan Nenek juga tidak tahu kedatangan dan tujuannya kemari."


Ayla mengangguk samar masih dengan tangan yang mengusap tubuh Zeline.


"Dafa sudah mengurusnya untuk di pindah."


"Apa dia akan menginap sini!" ucap Ayla sedikit menaikan nada bicara yang terdengar sama sekali tidak suka dengan keberadaan Rihana yang akan menginap. Seketika Angga terganggu dan Arga langsung mengusap Angga untuk tidur kembali.

__ADS_1


"Jika dia masih di sini aku tidak akan di kamar dan tidak akan mau bertemu denganmu. Aku lelah Arga.. kau tahu.. aku begitu tersiksa dengan mereka yang tidak pernah berpikir jika aku adalah istrimu dan aku berhak atasmu dan siapa mereka memintaku menjauh. Apa mereka juga menginginkan Angga dan Zeline. Mereka menginginkan Angga dan Zeline Hiks...." Ayla menangis dengan wajah yang begitu menyakitkan. menahan suaranya agar tidak menganggu tidur kedua anaknya. Bicara saja Ayla sepelan mungkin dengan tangisnya ini.


Seketika Arga membawa Ayla dalam pelukan posisi Arga yang berdiri di semping Ayla dan Ayla yang masih duduk berbalik ke sebelah memunggungi si kembar.


Tangisan ini... tidak akan kubiarkan, batin Arga.


"Istirahatlah. Dan panggil Lisa atau pelayan lainnya jika ingin memanggil Lalita panggilah aku harus keluar sebentar."


Ayla menarik wajahnya dari pelukan Arga.


"Kamu mau kemana."


"Arga jawab." Seketika Arga mengecup singkat kepala Ayla dan pergi dari sana. Pakaian yang sedikit basah karena air mata Ayla.


Sampai di lantai bawah Arga masih melihat Rihana dengan santainya duduk dan memakan camilan.


"Siapa yang menyuruhmu untuk duduk dan berdiam disini." Suara tegas itu membuat Rihana terkekeh dan menoleh menatap lembut Arga.


"Oh.. Ayolah Argaku kamu pasti butuh teman sepertiku bukan aku siap melakukan apa mau mu tapi, kita harus lebih tenang."


"Tidak Waras."Suara datar Arga.


Menatap dengan tatapan tajamnya.


"Halo Arga.. apa kabarmu. Tante tenang karena Rihana sampai disana. Tante kira di enggak bakalan sampai. Tolong jaga Rihana ya."


Seketika pesan suara itu di hentikan Rihana.


"See.. bagaimana kamu masih..."


"Keluar dengan sendirinya atau aku akan mengatakan sesungguhnya pada kedua orang tuamu apa yang kamu lakukan disini. Menganggu ketenangan dan juga hal yang paling ibumu benci."


Seketika Rihana tersenyum dengan ucapan Arga.


"Aku tidak takut dengan ancamanmu. Aku akan..." Lagi-lagi terpotong dengan kehadirin Dafa dengan dua orang asing yang Dafa dan anak buahnya bawa.


"Mereka yeng memata-matai rumah dan mereka juga menargetkan jendela kamar Nyonya Tuan," jelas Dafa.


Seketika Rihana mengepalkan tangannya dengan erat hingga terlihat begitu merah.


"Jangan kira aku tidak menyadari ulahmu dan berani meninggalkan Istri dan anakku sekarang tanpa tahu apapun," jelas Arga memperlihatkan Dafa dan anak buahnya.

__ADS_1


Seketika Arga tersenyum melangkah sedikit maju.


"Sekarang menginaplah dirumah besok ibu dan ayahmu akan mendengar semuanya dari mulutmu sendiri tanpa aku yang bersusah payah menjelaskannya."


Meninggalkan Rihana sendirian di ruang tengah dengan terduduk lemas di sofa.


Ketika Ayla menangis dan mengeluarkan semua isi hatinya. Arga tidak terlalu fokus tapi, mendengar semua curhatan Ayla. Tatapan Arga menatap keluar jendela yang sangat aneh. Lalu Arga menjawab ucapan Ayla dan Arga mengecup singkat kepala Ayla.


Di luar sana dua orang asing seketika pingsan dengan serangan Anak buah Dafa.


Dan membawanya pergi dari sana.


Seketika Arga juga turun kebawah dan menghampiri Rihana.


Rihana belum sadar, dia sadar ketika Dafa datang dengan dua orang suruhannya.


Di kediaman orang tua Rihana kali ini. Luis ayah Arga. Sedang bicara dan juga terkekeh bersama-sama.


"Baiklah.. baik.. besok aku dan ayah Rihana akan datang menengok menantu dan juga cucu kembarmu." Sahut Ibu Rihana dengan santai.


Ayah Rihana begitu senang. Seketika raut wajahnya berubah datar dan tertawa terpaksa.


Luis memperhatikan raut wajah mereka seakan merasa sangat senang dan tersenyum tertahan di wajah kedua orang tua paruh baya tersebut.


Ayla turun perlahan menuruni tangga. Sampai Ayla di dapur Ayla langsung membuka kulkas dan membuka setoples eskrim untuknya. Seketika Ayla terkejut dengan bibi pengasuh sudah berdiri di belakangnya.


"Ngapain Nona."


"Bibi.. kaget. Ini lidahnya pait pengen makan manis-manis." Sambil mengusap dadanya pelan.


"Emh.. mau bibi ambilkan manisan non." Seketika Ayla mengurungkan niatnyaembuka tutup Eskrim.


"Emang ada bi." Menatap Apa yang Bibi pengasuh ambil.


"Ada nih bibi baru buat. Bibi kira mubazir buah yang kayak bisa buat manisan. Bibi buat deh. nih Non Cobain." Mengambil mangkok dan menuangkan sesendok sayur lalu memberikan semangkok dengan porsi sedang, manisan pada Ayla.


Mencicipinya baru sesendok lalu sesendok berikutnya. Sekarang tidak ada sendok berikutnya.


"Hay.. Ayla. Aku Rihana sepupu Arga dan yaa.. kamu kelihatan lemah banget mau aku kasih tahu sesuatu biar kamu enggak lemah lagi."


"Arga itu sebenernya orang yang suka bermain dengan bahaya. Suka sekali membuat orang tersudut. Kejam dan juga penuh masa lalu kelam kamu tahu Ayla. Arga adalah sosok yang paling di takuti di dunia gangster atau mafia. Arga juga orang suka sekali kasar setelah apa yang dia inginkannya sudah terpenuhi, yah... intinya jika dia tidak menginginkanmu lagi dia akan membuangmu."

__ADS_1


"Hem.. benarkah." Suara Ayla terdengar begitu sedih.


Berceritalah sepuasmu Rihana, batin Ayla menyahut dengan perasaan malas dan muak.


__ADS_2