
"Kami pamit, sepertinya waktu istirahat untuk si kembar akan tiba," ucap Edward yang berdiri di ikuti Rosa dan Ayla yang juga menatap kakaknya senang. Edward juga menatap kedua bayi itu juga sudah hampir tertidur.
"Terimakasih Tuan, Kakak mau berkunjung menjenguk mereka." Ayla tersenyum hangat menatap keduanya.
"Ah.. tidak masalah Ayla aku justru senang. Dan jika kau memanggilku dengan sebutan kakak juga aku lebih senang kecuali, Arga aku tidak suka dengannya," ucap Edward. Tersenyum mengangguk pada Ayla. Arga hanya bisa diam membuang wajahnya memutar malas kedua matanya mendengar ucapan tidak berguna tentangnya dari Edward.
Tidak menyambut sikap Arga karena ucapannya menyindir Arga, Edward bersalaman pada Arga dan ayah Arga.
Setelah mengantar Edward dan Rosa sampai mobil dan mobil mereka meninggalkan halaman Mansion.
Kembali masuk kedalam dan benar saja sikembar sudah lelah lagi dan sekarang tertidur begitu pulas.
****
Baru saja Arga akan berangkat setelah sarapan tapi, tamu yang datang di awal pagi membuat Arga sedikit tidak suka pada perempuan tersebut.
"Selamat pagi Tuan Arga." Sapaan Dhanu pada penghuni utama.
"Claudia, Tuan Dhanu," ucap Ayla. Seketika Claudia datang bersama Bayinya dan juga meminta Asistennya memberikan dua kado pada Arga dan Ayla.
"Kami hanya ingin datang berkunjung dan memberikan sedikit Hadiah." Dhanu berucap dengan santai dengan senyumannya.
"Cla anakmu manis sekali ya," ucap Ayla lalu menghampirinya. Melihatnya dari dekat. Claudia dengan berat hati memberikannya untuk Ayka gendong. Lalu tak berapa lama Ayla memberikan lagi pada Claudia.
"Baiklah kita akan pergi," ucap Dhanu. Yang merasa jika Claudia sudah tidak betah dan juga tatapan Arga yang datar pada istrinya dan dirinya kecuali, Ayla yang menyambut mereka dengan ramah sejak tadi.
"Baiklah.. terimakasih." Ayla tersenyum pada Claudia dan Dhanu.
"Maaf kami langsung kembali Tuan Arga. Nyonya Ayla." Dhanu berucap dengan santai dan tenang.
Ayla mengangguk dengan tersenyum pada Claudia yang hanya memasang wajah datar padanya sejak awal.
Mengantarkan mereka keluar lalu memasuki mobilnya.
Sekarang Arga yang berangkat dan berpamitan pada Ayla.
*****
Waktu terus berjalan dengan begitu cepat.
Tidak terasa hingga waktu pulang Arga yang baru tiba di rumah seketika mendudukan dirinya di sofa kamarnya.
Melihat si kembar yang kini tiba-tiba bergerak dan tengkurap sendiri.
"Mereka sudah besar," ucap Arga pada dirinya.
Menatap keduanya dengan biasa saja dan wajah senang.
Tak lama Ayla masuk ke dalam kamar membawa air minum untuk di letakan di dalam kamar mereka. Memberikannya pada Arga segelas air putih.
__ADS_1
Baru Ayla menoleh seketika.
"Astaga.. Sudah biasa tengkurap ini cepat sekali... ya ampun," ucap Ayla senang dengan melihat keduanya. Arga menatap Ayla dan sikembar.
"Rasanya baru kemarin aku membuat mereka sekarang mereka sudah bisa tengkurap."
Ayla meneteskan air matanya terharu. Mencium dahi Zelin dan Angga.
"Berarti kita bisa membuat mereka adik lagi."
Seketika Ayla mencubit perut Arga yang keras.
"Aduh sakit," keluh Arga.
"Halah lebay.." sahut Ayla cepat. Pergi kekamar mandi dan menyiapkan keperluan Arga lalu menyiapkan Pakaian ganti Arga di ruang ganti. Arga tersenyum memandang kepergian Ayla.
Tak lama Ayla datang kembali.
"Baiklah Tuan suamiku silakan bersihkan tubuhmu baru bermain dengan mereka." Arga pergi kekamar mandi dan meninggalkan Ayla dengan si kembar.
Ayla pergi mengambil ponselnya dan mengutak-atik hasil desainnya yang baru saja setengah jadi.
Begitu selesai Ponsel langsung berpindah tangan.
"Eh.. Arga."
"Biarlah ini juga untuk bersenang-senang," ucap Ayla.
"Yaa sudah tadinya aku akan memberikan mu butik dan juga..."
"Hahah.. Apa ini Arga aku tidak ingin aku masih harus banyak belajar aku harus bisa melakukan hal lainnya jangan terus-terusan kamu membuatku menjadi seolah-olah aku ini ratunya."
"Loh kenapa kamu memang Ratuku."
***
Thalita yang sedang ada di Club malam dan dengan teman-teman wanitanya. Sedang asik menikmati suasana Club. Dari kejauhan seorang wanita paruh baya mendekati Thalita.
"Apa usahamu berhasil untuk menghancurkan mereka." Seketika Thalita menoleh dan melihat siapa yang bicara dengannya.
"Hey.. Mantan Nyonya besar." Seketika wanita paruh baya itu tersenyum. Ketika Thalita berucapa dengan santainya.
"Bukannya seharusnya seorang ibu itu tinggal di rumah ketika memiliki bayi." Cibir Utami pada Thalita. Thalita meletakan gelasnya dan menatap tajam Utami.
Meletakan gelasnya dengan kasar dan menatap wanita paruh baya itu dengan tatapan kesal.
"Hey Nyonya Utami.. anda itu sudah tidak memiliki urusan dengan Keluarga Marvelino. Jadi apa perlu anda, mendatangi saya? Dan saya ulangi lagi Anda membuang waktu saja hanya untuk mendatangi saya," ucap Thalita dengan menatap tajam.
"Aku hanya ingin menawarkan kerja sama pada mu untuk bisa membuat kebahagian keluarga Marvelino hancur."
__ADS_1
"Heh.. kerja sama.. Kerjaa sama kau bilang, Heh aku tidak sudi bekerja sama dengan kalian yang lemah dan aneh. Melakukannya sendiri lebih baik."
Seketika Thalita menuangkan sebotol wine pada Utami dari atas kepalanya. Semua yang duduk di dekat Thalita terkejut. Utami hanya diam saja menerima perlakuan Thalita. tapi, sebenarnya dirinya ingin rencananya berjalan mala harus sabar.
"Rasakan itu. Jangan pernah bermimpi untuk mengajakku bekerja sama dengan kalian karena aku tidak akan pernah mau dan ingin melakukannya. Rencana kalian payah." Pergi dari sana meninggalkan Utami yang masih terdiam dengan tubuh yang masih bau alkohol.
Orang yang melihat hal itu masih melongo terkejut.
"Kau tidak usah memarahinya, sebotol tadi biar aku yang bayar." Bicara Thalita pada salah satu pegawai dan memberikan uang padanya.
Lihat saja kau juga akan pergi dan memintaku untuk bisa membantumu, batin Utami. Melihat punggung Thalita yang berlalu.
*****
Matahari kembali terbit dengan cahaya mentari yang begitu hangat memperlihatkan ke indahan tumbuhan yang tertutupi embun tebal.
Ayla yang sedang berada di ruangan fitnes setelah selesai dengan sikembar.
"Apa ini.. Jika ingin memukul pukul tanpa ragu," ucap Arga dengan lembut. Ayla yang sudah terengah-engah. Menatap Arga tajam seketika menarik nafas dan menghembuskan nafasnya lagi dan kembali fokus.
Ayla menatap tajam Arga.
Seketika Ayla memukul dengan kekuatan yang begitu besar.
Terus menangkis dan mengindar, dengan tersenyum Arga melihat kemampuan Ayla.
Belajar dimana dia beladiri ini. Ayla penuh kejutan, batin Arga.
Tersenyum.
Ayla terus berlatih memukul dan menangkis pukulan dan serangan bagian atas, hingga serangan Ayla hampir mengenai wajah Arga.
"Cukup." Suara Arga yang tegas membuat Ayla menatap Arga tajam. Mengangguk menyudahi latihan mereka dengan mengambil nafas sebentar.
"Ini hari pertama kamu berlatih denganku dan kemampuan sudah hampir setengah dari aku. Apa yang kamu lakukan selama aku bekerja. Kamu berkelahi dengan para pelayan." Mengejek Ayla dengan seringainya.
"Kamu bicara apa Arga.. aku tidak seperti itu." Sambil memberikan sebotol Air dingin untuk Arga. Menjawab dengan wajah menatap Arga aneh dan terkekeh ketika Arga menerima sebotol air dingin tersebut.
"Hem.. Kamu tahu aku seperti berkelahi sungguhan dan kamu tidak tahu jika pukulanmu semuanya seperti orang yang sedang marah." Arga langsung meletakan kepalanya diatas pangkuan Ayla.
"Sekarang manjakan aku, ini hari minggu." Ayla langsung melakukan apa yang Arga minta. Memijat kepalanya.
"Aku tidak memintamu untuk membantuku tapi, Kamu sendiri yang baru masuk dan menyuruhku untuk berlatih denganmu." Kesal Ayla karena bantuan Arga tidak murah melainkan mahal.
Seketika Arga menarik tangan Ayla.
"Ini hasilnya jika kamu sedikit saja menaikan emosi mu ketika memukul. Salah sedikit kulit tangan yang di gunakan untuk memukul memerah." Arga mencium tangan Ayla. Dan seketika Ayla menarik tangannya.
"Sudahlah ini tidak apa-apa." Arga mengangguk dan memejamkan matanya.
__ADS_1