Istri Buta Tuan Muda

Istri Buta Tuan Muda
Ingin datang dan menemui Ayla


__ADS_3

Perban yang membungkus mata seorang perempuan cantik setelah melakukan opradi donor mata setelah beberapa eaktu lalu.


"Akhirnya aku bisa melihat lagi," teriaknya dengan senang.


Dokter membuka perban itu perlahan di bantu perawat.


"Di buka perlahan matanya," ucap Dokter.


Kedua mata yang perlahan terbuka perlahan masuk cahaya, buram lalu sekatika fokus.


Dunia kembali terlihat dengan begitu jelas dan nyata pada mata barunya.


"Waah.. Mah Ayah.. aku bisa melihat lagi," ucap Perempuan itu, Rosa.


"Iya Sayang kamu bisa melihat lagi," ucap ibunya.


"Mah Ayah dimana?" Ucap Rosa dengan mencari ke beradaan Ayahnya.


"Ada ayah lagi ada urusan jadi mama yang hari ini menemani kamu," jelas ibunya.


"Mah aku mau balik lagi ke tanah air.. aku ingin ketemu Ayla." Leni tersenyum menghampiri anaknya dan mengusap kepala Rosa. Dokter pamit keluar dari ruangan tersebut bersama perwat yang bersamanya.


Setelah kepergian Dokter.


"Terserah kamu... yang penting sekarang kamu harus bantu ayah kamu buat bangkitin perusahan yang baru," ucap ibunya.


"Baru kenapa bisa baru.. perusahaan ayah," ucap Rosa.


"Ada sayang tapi, kita lagi di negara lain," ucap ibunya menatap Rosa.


"Rosa bantu mah kita harus punya sedikit kekuatan untuk bisa membuat Ayla tidak bahagia," ucap Rosa. Seketika seringai liciknya terlihat.


****


Senam khusus ibu hamil Ayla lakukan bersama ibu-ibu lain di temani Lisa.


Setelah beberapa menit Ayla selesai dengan senamnya.


"Bi.. kita langsung pulang," ucap Ayla.


Sambil melangkah keluar ruangan setelah dirasa cukup untuk kembali berjalan menuju parkiran.


Bersamaan dengan itu seorang pria dengan langkah tegasnya berjalan serah tanpa melihat Ayla yang berjalan di depannya seketika Ayla bersenggolan bahu dengan pria itu dan membuat Ayla sedikit berputar dan terhuyung. Dengan cepat dan sigap orang itu menangkap Ayla.


"Nyonya!" ucap Dhanu.


Seketika Ayla segera bangkit dan berdiri di samping Lisa.


"Selamat pagi. Senang bertemu anda di sini," ucap Dhanu.


"Ah iya.." Tak lama seorang Wanita keluar dan Ayla seketika menatap dengan tatapan tak asing.

__ADS_1


"Claudia," gumam Ayla. Seketika mengakat wajahnya dan melihat Ayla.


"Sedang apa kau disini?" tanya Claudia dengan malas.


"Ah.. Tidak aku hanya sedang senam kehamilan. Lalu," ucap Ayla menatap Dhanu dan Claudia.


"Ah.. kenalkan saya Dhanu saya suami Claudia," ucap Dhanu dengan ramah dan tersenyum.


"Ah.. iya.. salam kenal juga, Claudia kau beruntung mendapatkan suami sebaik Dhanu dan dia juga tampan seperti Arga. Seleramu cukup baik ya," ucap Ayla basa-basi.


Seketika Claudia sudah sangat malas melihat apa lagi mendengar Ayla bicara padanya.


"Ck.. Terserah. Ayo kita pulang, telingaku panas mendengarnya bicara," ucap Caludia.


"Kami pamit Nyonya Marvelino," ucap Dhanu seketika Ayla mengangguk dan tersenyum kecil.


"Mari nyonya kita kembali," ucap Lisa. Ayla mengangguk melangkah pergi ke mobilnya


Di dalam Mobilnya Claudia kesal karena Dhanu menatap Ayla seperti berbeda jika menatapnya.


"Kau kenapa, Cla," ucap Dhanu.


"Aku kesal kenapa kau melakukan itu pada Ayla, Aku tidak suka." Claudia melipat tangannya dan menatap keluar jendela. Kehamilan Claudia yang berjalan lebih dulu dari Ayla sudah terlihat sedikit membesar.


Dhanu terkekeh.


"Baiklah kau yang menang aku salah aku akan menuruti semua permintaanmu sekarang," ucap Dhanu.


"Ih.. bukan itu tapi itu.." tunjuk Claudia pada pedagang es lilin di depannya. Seketika Dhanu turun dari mobilnya dan melangkah mendekati pedagang tersebut.


Aku terlalu banyak berubah karena kehamilan sialan ini aku jadi merasa ingin dekat dengannya dan selalu ingin bersikap manja padanya, batin Claudia.


Aku ingin Arga yang melayani ku seperti ini tapi, semuanya tidak bisa kulakukan karena dia yang mengendalikanku sekarang, batin Claudia.


Dhanu kembali masuk ke mobil dengan membawa dua es lilin dan memberikannya pada Claudia.


Dia cukup baik tapi, aku tidak suka dia psikopat.. dia pembunuh aku tidak bisa mencintainya...batin Claudia.


"Aku akan melakukan apa pun ke inginanmu asal kau jangan sampai setres aku tidak bisa kehilangan kalian dan kau istri terbaikku," ucap Dahu mengusap kepala Claudia lembut. Tersenyum dengan begitu manis.


Seketika dada Claudia berdetak tak karuan dan pipinya terlalu panas.


Tidak mungkin aku baru saja mengatakan aku tidak ingin mencintainya tapi, kenapa aku merasa gugup menatapnya sekarang, aahk sialan... batin Claudia.


Baru sampai di Mansion, Ayla dan Lisa melangkah masuk kedalam dan melihat orang asing tengah bertamu di rumahnya dan juga ada, Arga.


"Kau sudah pulang," ucap Arga dengan tersenyum senang menghampiri Ayla dan mengecup keningnya.


"Selamat nyonya Marvelino atas kehamilan anda," ucap Syena dan juga kedua orang tua Syena menatap Ayla.


"Haah... iya terimakasih."

__ADS_1


Ayla berpamitan untuk pergi ke kamarnya membersihkan tubuhnya dari keringat.


Di lantai bawah Syena memandang Ayla yang berjalan melangkah meninggalkan ruang tamu.


Lemah... tidak bisa bertindak cepat... mudah untuk di geser dan di lenyapkan secepatnya. batin Syena.


"Maaf kami merepotkan anda untuk urusan ini," ucap Teen.


"Tidak masalah," Sahut Arga datar.


"Jika Ayahmu ada kami akan mendatanginya tapi, karena beliau sedang ada di swiss kami tidak bisa menemuinya," ucapnya lagi.


"Baiklah kami akan pamit, Selamat menikmati akhir pekan anda, dan terimakasih tentang Dokumen ini," ucap Teen lagi.


Teen dan istrinya bersama Syena datang ke tempat Arga sebenarnya untuk menemui ayahnya Arga tapi, karena sedang ada urusan jadi Arga yang menyambut mereka dan memberikan tanda tangan pada berkas yang memang harus segera di tanda tangani segera. Teen biasa memintanya pada Luis ayah dari Arga tapi, karena tidak ada jadilah Arga yang mewakilkan, sahnya dokumen tetap sama karena Luis memberikan wewenang tersebut.


Setelah ke pergian Syena dan kedua orang tuanya. Arga kembali melangkah masuk kedalam ruang kerjanya dan bersamaan dengan itu Ayla baru turun dari tangga.


"Kemana mereka?" ucap Ayla.


"Sudah pulang," ucap Arga.


"Ingin kopi," ucap Ayla pada Arga.


"Tanpa gula dan ampas," sahut Arga. Ayla mengangguk berjalan ke dapur untuk membuatkan kopi Arga dengan mesin kopi otomatis di dapur.


Beberapa menit kemudian Ayla masuk membawakan kopi untuk Arga.


"Kenapa kau masih ingin melakukannya pelayan banyak di rumah ini," ucap Arga menatap Ayl yang meletakan secangkir kopi didepannya.


"Untuk suami harus aku sendiri yang melakukannya," ucap Ayla.


"Arga. Aku bertemu Claudia dan suaminya," ucap Ayla sambil mendudukan dirinya di sebelah Arga, di sofa dengan pelan.


"Lalu," sahutnya.


"Apa dia masih ingin.."


"Tidak akan terjadi, Claudia sudah memiliki suami yang sangat menyayanginya. Jika berani berbuat suaminya akan langsung tegas padanya," ucap Arga sambil fokus pada layar leptop nya.


"Kau masih mencintai Claudia." Seketika Arga menghentikan aktivitasnya dan menatap Ayla.


"Mungkin."


"Mungkin aku ... masih menyimpan perasaan dengannya," ucapan Arga membuat raut wajah Ayla sedikit kecewa.


"Sebelum aku menikah denganmu dan sebelum memiliki dia," ucap Arga dengan menatap Ayla.


Mengusap perut Ayla.


Seketika wajah Ayla langsung berubah dan menatap Arga malu.

__ADS_1


__ADS_2